Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
...----------------...
Cahaya matahari pagi mulai menembus celah gorden kamar hotel yang tebal, namun kesadaranku masih tertahan di alam mimpi. Tiba-tiba, suara nyaring Handphone yang bergetar di atas meja, diikuti dengan dentuman bel pintu yang ditekan berkali-kali tanpa ampun, memaksaku membuka mata dengan berat.
Aku mengerang, meraih ponsel dengan tangan yang masih gemetar karena kantuk. Nama "Astrid" terpampang di layar. Aku menggeser tombol jawab dengan malas.
"Halo?" suaraku serak, nyaris seperti gumaman.
"Arka! Bangun, kebo! Ini sudah jam tujuh pagi, lu mau lanjut hibernasi sampe tahun depan apa gimana?" Suara Astrid terdengar ceria, nyaris terlalu ceria untuk jam sepagi ini.
"Strid... ini masih pagi banget. Gue baru tidur empat jam," keluhku.
"Bodo amat! Gue udah laper, dedek bayi juga udah nendang-nendang minta makan. Kalau lima menit lagi lu gak buka pintu, gue panggil petugas keamanan hotel gue suruh dobrak pintunya!" ancamnya.
Klik. Sambungan telepon terputus. Bel pintu kembali berbunyi, ting-tung-ting-tung, ritmenya sangat menyebalkan. Aku bangkit dengan ling lung, mengacak rambut yang berantakan, lalu berjalan menuju pintu dengan langkah terseret. Begitu kunci kuputar, pintu terbuka, dan Astrid sudah berdiri di sana dengan wajah segar, sangat kontras dengan penampilanku yang seperti zombie.
Tanpa permisi, dia langsung melenggang masuk ke dalam kamarku. "Gila, lu berantakan banget, Ka. Kayak orang habis dikejar hantu," ejeknya sambil menatapku dari ujung kepala sampai kaki.
"Gue emang dikejar hantu pikiran gue sendiri semalam," balasku ketus. Aku kembali membaringkan diri di kasur, mencoba menarik selimut lagi.
"Heh, bangun!" Astrid menarik selimutku paksa. "Gue gak mau tau, lima menit lagi lu harus sudah di depan pintu kamar gue dengan kondisi manusiawi. Kalau nggak, gue bakal siram lu pake air es!"
...****************...
Setengah jam kemudian, kami sudah duduk di restoran hotel. Suasana pagi itu sangat cerah, namun bagiku, itu tidak membantu suasana hatiku yang masih sangat canggung setelah kejadian semalam.
Astrid, di sisi lain, tampak sangat menikmati sarapannya. Dia menatapku dengan senyum miring yang khas, tatapan yang selalu membuatku salah tingkah.
"Kenapa lu natap gue kayak gitu?" tanyaku sambil meminum kopi hitamku, mencoba terlihat tidak peduli.
"Nggak apa-apa," Astrid tertawa kecil. "Cuma lagi mikir, ternyata si Arka yang sok dingin dan malu-malu kalau lagi natap gue itu, semalam mukanya merah banget ya?"
Aku hampir tersedak kopi. Aku buru-buru meletakkan cangkir itu, merasa wajahku memanas dengan cepat. "Udah gue bilang, itu lu yang aneh. Gak usah dibahas lagi."
"Wih, baper ya?" Astrid makin menjadi. "Apa jangan-jangan lu takut kalau tidur bareng gue, lu gak bakal bisa nahan diri buat gak ngapa-ngapain gue?"
Aku menatapnya tajam, mencoba mengabaikan godaannya dengan fokus pada sarapanku. "Lu tuh ya, omongannya makin ngaco. Makan aja yang bener, gak usah bahas yang aneh aneh."
"Ih, kok marah? Beneran takut ya, Pak Arka?" Astrid tertawa renyah, menopang dagunya dengan tangan, menatapku seolah aku adalah tontonan paling lucu di dunia.
Aku tetap bungkam, lebih memilih menikmati sarapan yang mulai terasa hambar karena rasa malu yang mendalam. Astrid tidak berhenti menggodaku sampai piring kami benar-benar kosong, membuat pagiku penuh dengan sensasi panas di wajah yang tak kunjung hilang.
...****************...
Setelah sarapan, kami berdua kembali ke kamar untuk bersiap. Dua jam kemudian, aku sudah menunggu di lobi hotel. Karena bosan menunggu Astrid yang tak kunjung turun, aku memutuskan untuk keluar sejenak ke area terbuka. Tanpa sadar, aku mengeluarkan bungkus rokok dari saku celanaku. lalu menyalakan sebatang rokok. Asap tipis mengepul ke udara dingin pagi itu, memberikan ketenangan yang sempat hilang dari pikiranku.
Beberapa menit kemudian, pintu lobi terbuka. Astrid muncul dengan pakaian rapi. Dia melihatku dari kejauhan, lalu melangkah ke arahku.
"Arka," panggilnya saat dia sudah sampai di lobi.
"Loh, udah siap ya?" ucapku, segera mematikan puntung rokokku dengan terburu-buru, lalu menghampirinya.
Namun, saat jarak kami tersisa dua langkah, Astrid tiba-tiba berhenti dan mundur selangkah. Tatapannya berubah menjadi tajam, tidak lagi jenaka seperti saat sarapan tadi.
"Jangan deket-deket," ucapnya dingin.
Aku bingung. "Kenapa?"
"Sana check out dulu. Gue tunggu di mobil," perintahnya tanpa menoleh, lalu dia berjalan pergi meninggalkanku sendirian di lobi yang mulai ramai.
Aku berdiri mematung, bertanya-tanya apa kesalahan fatal yang baru saja kuperbuat. Namun, aku memilih mengabaikannya dan segera menyelesaikan urusan administrasi hotel.
Begitu sampai di parkiran, aku mendapati Astrid sedang berdiri di dekat pintu mobil dengan wajah ditekuk. Baru saja aku hendak membuka pintu, dia tiba-tiba mendekat dan menyemprotkan parfum ke arahku. parfum itu membasahi baju dan rambutku. Aroma parfum yang sangat kuat menusuk hidung.
"Loh, loh, kenapa?!" teriakku kaget.
"Lu bau rokok! Gue nggak suka!" Astrid berseru, matanya berkilat marah. "Lagian, gue lagi hamil, Arka! Lu tahu kan asap rokok itu racun buat janin? Kenapa sih lu masih ngerokok? Masa hal sepele gitu harus dibilangin? Lu mau anak gue kenapa-napa?!"
Aku terdiam, mematung. Aku benar-benar lupa soal itu. "Strid, maaf... gue gak mikir sampai sana," ucapku lirih, menundukkan kepala.
"Lu emang gak pernah mikir! Lu cuma mikirin diri sendiri. Gue berusaha jaga kesehatan biar bayi ini selamat, tapi lu dengan santainya ngerusak paru paru dia!, gue gak suka sama cowok perokok yaa Arka!!" Astrid memarahi ku habis-habisan, suaranya naik, menarik perhatian beberapa orang di parkiran. Aku hanya bisa berdiam diri, menerima semua omelannya sebagai konsekuensi atas kecerobohanku.
Perjalanan pulang terasa sangat sunyi. Tidak ada obrolan, tidak ada ledekan. Hanya suara mesin mobil dan musik instrumental yang samar. Astrid menatap ke luar jendela dengan tangan bersedekap, marah besar.
Aku tahu aku harus melakukan sesuatu. "Strid?" panggilku pelan.
Tidak ada jawaban.
"Liburan ini... seru ya, walaupun sempet ada kendala yang ada, heheheh heheh" tanyaku, mencoba memancingnya.
Astrid terdiam sejenak, lalu bahunya sedikit mengendur. "Ya, lumayan. Cibodas itu cantik, gue suka udaranya."
"Gue juga ngerasa gitu. Gue seneng bisa ada di sana sama lu," ucapku jujur.
Astrid menoleh sedikit ke arahku, lalu mengembuskan napas panjang. "Lain kali, kalau mau ngerokok, jauh-jauh. Jangan sampai kecium baunya sama gue, apalagi pas gue lagi hamil begini. Gue sensitif, Ka."
"Iya, gue janji. Gak bakal lagi," jawabku mantap.
Obrolan mulai mengalir kembali. Kami membicarakan hal-hal kecil, dari tugas kuliah hingga rencana apa yang akan kami lakukan minggu depan seolah-olah kami melupakan fakta bahwa suatu saat nanti badai yang sebenarnya akan datang menghantam.
...****************...
Satu setengah jam kemudian, mobilku berhenti tepat di depan rumah Astrid. Suasana menjadi kembali canggung. Aku menoleh ke arahnya, ingin mengatakan sesuatu, namun lidahku terasa kaku. Astrid pun turun dari mobil, berdiri di trotoar sambil menatapku lewat jendela yang terbuka.
Aku mematikan mesin, lalu turun dari mobil. Kami berdiri berhadapan untuk terakhir kalinya sebelum dia masuk.
"Makasih banyak buat hari ini sama kemarin ya, Arka," ucapnya dengan nada tulus yang jarang sekali kudengar. "Gue bahagia banget. Gue harap hari-hari lu akan selalu bahagia, kayak apa yang gue rasain sekarang."
Senyum manis terlihat di bibirnya senyum yang begitu tulus, begitu murni, dan begitu indah hingga membuat dadaku terasa sesak. Senyum itu seolah-olah mengatakan bahwa meskipun apa yang terjadi nanti akan menghancurkan kami, momen ini adalah miliknya sepenuhnya.
"Sama-sama, Astrid," balasku singkat, hanya bisa membalas dengan senyuman tipis.
Aku berbalik, melangkah menuju pintu kemudi. Namun, saat aku baru saja membuka pintu, sebuah suara menghentikan langkahku.
"Arka!"
Aku menoleh. Astrid masih berdiri di sana, di bawah sinar matahari siang yang mulai terik, menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan campuran antara harapan dan perpisahan.
"Kenapa, Strid?"
"Gak... nggak apa-apa. Cuma mau mastiin lu beneran pulang dengan selamat," katanya pelan, lalu dia berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Aku terdiam cukup lama di depan mobil, menatap punggungnya yang perlahan menghilang di balik pintu. Perasaanku berkecamuk. Ada rasa takut yang luar biasa akan apa yang akan terjadi di hari nanti, namun di saat yang sama, ada rasa tenang yang aneh karena setidaknya hari ini, kami masih punya waktu untuk tersenyum. Aku masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan perlahan menjauh, membawa aroma parfum Astrid yang masih tertinggal di bajuku, menutupi aroma rokok yang tadi dia benci.
...----------------...