Alya Putri menjalani pernikahan kontrak empat tahun dengan miliarder Rizky Aditya, hanya karena wajahnya yang mirip dengan Kezia Angelica, cahaya bulan putih yang dicintai Rizky. Ketika Kezia kembali, Rizky segera menyiapkan perjanjian perceraian dan menawarkan kompensasi besar, menganggap hubungan mereka hanya transaksi uang dan tubuh.
Namun, Alya yang awalnya hanya mengejar uang telah jatuh cinta mendalam pada suaminya. Lebih buruk lagi, dia menemukan dirinya hamil, tetapi Rizky dengan kejam memerintahkannya untuk menggugurkan anak itu. Di tengah tekanan ipar yang membenci dan skandal wanita lain, Alya harus memilih antara menyerahkan segalanya atau berjuang untuk cinta dan anaknya, sementara Rizky mulai menyadari bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Alya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Rapat yang dijadwalkan satu jam akhirnya memakan waktu lebih dari dua.
Alya mengetahuinya dari cara Lisa masuk dua kali ke ruangan untuk menanyakan apakah dia membutuhkan sesuatu lagi — kopi kedua yang Alya terima, kue kering tambahan yang dia tolak dengan sopan — dan dari suara sayup-sayup di balik dinding ruang rapat di ujung koridor yang tidak sepenuhnya kedap suara. Suara Rizky sesekali terdengar, bukan kata-katanya, hanya nada dan ritmenya — cara suaranya naik ketika menetapkan sesuatu dan turun ketika sudah selesai.
Alya menghabiskan setengah jam pertama dengan teleponnya, membalas beberapa pesan, kemudian meletakkannya di atas tasnya dan beralih ke rak buku kecil di sudut ruangan. Koleksinya campuran — laporan tahunan dalam ordner, beberapa buku bisnis dengan punggung yang masih kaku karena jarang dibuka, dan di sudut paling bawah, satu bingkai foto yang menghadap ke dinding.
Alya mengeluarkannya.
Foto lama — dari ukuran dan warnanya yang sedikit memudar, mungkin sudah lima atau enam tahun. Rizky yang lebih muda beberapa tahun, berdiri bersama tiga pria lain di depan sesuatu yang terlihat seperti pantai, semua dengan ekspresi yang jauh lebih tidak terjaga dari wajah yang biasa Alya lihat. Seseorang di foto itu sedang tertawa keras ke arah kamera, dan Rizky di sebelahnya — dengan cara yang tidak biasa — juga sedang tertawa, bukan senyum yang terukur melainkan tertawa yang tidak sempat dikendalikan sebelum kamera menekan tombol.
Alya menatap foto itu sebentar.
Dia membawa bingkai itu kembali ke sofa, duduk, dan tanpa sepenuhnya menyadari alasannya, meletakkan bingkai itu di atas perutnya sambil berbaring miring. Bantal sofa lebih lembut dari yang dia kira. Pendingin ruangan mengeluarkan suara dengungan yang rendah dan teratur. Di koridor, suara langkah kaki dan percakapan karyawan yang lalu-lalang perlahan mengambil konsistensi seperti suara latar yang tidak perlu diperhatikan.
Matanya berat.
Alya tidak berniat tidur. Dia hanya menutup matanya sebentar, membiarkan pikirannya tidak ke mana-mana untuk beberapa menit.
Beberapa menit itu ternyata lebih panjang dari yang direncanakan.
Sesuatu bergerak dekat wajahnya.
Bukan gerakan yang mengagetkan — lebih seperti pergeseran udara, kehangatan yang mendekati, bayangan di balik kelopak mata yang mendeteksi perubahan cahaya. Alya tidak langsung membuka matanya. Pikirannya masih berada di lapisan antara tidur dan terjaga, di tempat di mana segala sesuatu terasa lunak dan tidak memiliki tepi yang tajam.
Kemudian dia merasakan sesuatu diangkat dari atas perutnya — perlahan, dengan hati-hati, dengan cara seseorang yang tidak ingin menimbulkan suara.
Matanya terbuka.
Rizky berdiri di sampingnya, memegang bingkai foto dengan satu tangan, memandanginya dengan ekspresi yang tidak sempat dia rapikan sebelum Alya terbangun. Ekspresi itu bukan sesuatu yang mudah dinamai — ada kelunakan di sana, di garis-garis wajahnya yang biasanya terjaga ketat, sesuatu yang terlihat seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang tidak dia antisipasi dan belum memutuskan harus merasa apa tentangnya.
Dalam sepersekian detik itu, sebelum Rizky menyadari bahwa dia sudah terbangun, Alya melihatnya.
Kemudian detik itu berlalu.
Tapi tubuh Alya bergerak sebelum pikirannya sempat mengaturnya — tangannya terangkat dan menemukan leher Rizky, dan dia menarik dirinya ke atas sambil menempelkan pipinya ke pipinya dalam gerakan yang sepenuhnya berasal dari tempat di mana kebiasaan dan keinginan tidak bisa lagi dibedakan satu sama lain. Seperti kucing yang bangun dari tidur dan langsung mencari kehangatan terdekat tanpa mempertanyakan apakah kehangatan itu akan selalu ada.
"Kapan balik?" gumamnya, suaranya masih penuh dengan sisa tidur.
Rizky tidak mundur. Tangannya yang bebas — yang tidak memegang bingkai foto — bergerak sebentar ke arahnya, kemudian berhenti di posisi yang tidak sepenuhnya memeluk tapi juga tidak mendorong.
"Baru." Ada sesuatu di nada suaranya yang berbeda dari kantor dan berbeda dari rumah, sesuatu yang lebih ringan. "Tidurnya seperti babi. Hampir digendong masuk ke dalam."
Alya tertawa — tawa yang pendek dan manja, yang keluar tanpa direncanakan. Pelukannya di leher Rizky sedikit mengencang.
"Kapan kamu belajar menyayangi orang?"
"Siapa yang menyayangi." Tapi nada protesnya tidak memiliki ketajaman yang biasanya, dan dia tidak melepaskan dirinya.
Mereka bertahan dalam posisi itu selama beberapa detik lebih dari yang biasanya terjadi — Alya yang masih setengah menggantung di lehernya, Rizky yang berdiri dengan bingkai foto di satu tangan dan tangan lain yang tidak tahu harus pergi ke mana. Di luar jendela ruang kerja, matahari sudah bergeser ke barat, cahayanya menjadi lebih oranye dan lebih panjang bayangannya.
Rizky meletakkan bingkai foto di meja di sampingnya.
"Nanti kita makan," katanya.
Alya melepaskan pelukannya dan duduk tegak, merapikan rambutnya dengan tangan. "Makan?"
"Keluar. Kamu ikut."
Dia mengatakannya dengan cara yang tidak memberikan konteks lebih dari itu — pernyataan yang disampaikan seperti jadwal yang sudah ditetapkan dan tinggal dijalankan. Alya menatapnya.
"Kamu tidak pernah mengajakku makan malam di luar." Bukan tuduhan — lebih ke pernyataan dari seseorang yang sedang memverifikasi apakah pendengarannya berfungsi dengan benar. "Tidak pernah, sejak—"
"Tidak bisa makan berdua saja?" Rizky memotongnya dengan nada yang terdengar seperti pertanyaan tapi berfungsi seperti pernyataan. Kemudian, seolah-olah dia mendengar kata-katanya sendiri dan memutuskan untuk memberikan sedikit lebih banyak, dia menambahkan, "Kita suami istri."
Tiga kata terakhir itu jatuh ke ruangan dengan berat yang tidak proporsional dengan cara mereka diucapkan.
Hati Alya bergerak — bukan sedikit, melainkan dengan cara yang mengejutkan bahkan dirinya sendiri, seperti sesuatu yang sudah lama dikunci bergeser di dalam kuncinya tanpa diputar. Dia menatap Rizky dengan cara yang berbeda dari beberapa detik sebelumnya.
"Kamu benar-benar menganggapku istrimu?" Pertanyaan itu keluar sebelum dia sempat menahannya, dan di dalamnya ada sesuatu yang terlalu jujur untuk sepenuhnya disembunyikan.
Rizky menatapnya balik. "Belum cerai."
Satu jeda.
"Meskipun memang akan segera."
Alya mendengar kalimat pertama dan kalimat kedua, dan merasakan jarak di antara keduanya seperti orang merasakan bagian jembatan yang berbeda teksturnya di bawah kaki. Dia menelan sesuatu yang naik ke tenggorokannya dan menggantinya dengan senyum yang lebih ringan dari yang dia rasakan.
"Jadi kamu memanggil aku ke sini untuk tanda tangan?"
"Minggu depan pengacara yang hubungi." Rizky sudah bergerak ke arah mejanya, mengambil jasnya dari gantungan di belakang kursi. "Hari ini makan saja."
Alya berdiri dari sofa, mengambil tasnya. "Dengan siapa?"
"Beberapa teman." Dia memakai jasnya, mengancingkan satu kancing tengah, memeriksa sesuatu di mejanya sebentar. "Mereka minta ketemu kamu."
Alya berhenti mengambil tasnya. "Teman-temanmu minta ketemu aku?"
"Sudah lama mereka tanya." Rizky mengambil teleponnya dari meja. "Bilang istriku tidak pernah kelihatan."
Ada kalimat yang Alya siapkan sebagai respons — sesuatu yang ringan dan agak sinis, tentang betapa dia tidak perlu kelihatan selama ini karena tidak pernah diperlihatkan — tapi kalimat itu tidak jadi keluar. Sebaliknya, sesuatu yang kecil dan hangat menyalakan dirinya sendiri di suatu tempat di dalam dadanya tanpa izin.
Mereka minta ketemu kamu.
Dia merapikan tasnya di bahunya dan mengikuti Rizky ke arah pintu.
Rizky membuka pintu ruang kerjanya, dan di luar Lisa sudah berdiri dari mejanya dengan cara yang menunjukkan bahwa dia mendengar suara pergerakan di dalam.
"Bapak langsung turun?"
"Ya. Tidak kembali ke kantor malam ini."
Lisa mengangguk, kemudian menatap Alya dengan senyum yang kali ini terasa sedikit lebih personal dari senyum profesionalnya yang biasa. "Selamat malam, Nyonya Aditya."
Mereka berdua masuk ke lift, dan pintunya menutup.
Di dalam mobil, Alya duduk di kursi penumpang dengan tasnya di pangkuannya, memandangi kota yang bergerak di luar jendela. Lampu-lampu jalan sudah mulai menyala meskipun langit belum sepenuhnya gelap — jam-jam transisi ketika siang dan malam berbagi kota dengan cara yang tidak sepenuhnya bersepakat.
"Siapa saja yang ikut?" tanyanya.
Rizky mengemudi dengan satu tangan di setir, matanya di jalan. "Hendra, Bayu, sama Dio." Jeda sebentar. "Dan mungkin pasangan mereka."
Nama-nama itu bukan nama yang asing — Alya pernah mendengarnya dalam percakapan yang tidak ditujukan langsung kepadanya, dalam telepon yang Rizky terima di ruang tamu, dalam referensi yang lewat di sela-sela percakapan lain. Teman-teman lama. Teman sebelum perusahaan dan sebelum semua yang datang bersamanya.
"Mereka tahu soal perceraian?" tanya Alya.
Rizky tidak langsung menjawab. Jarinya memindahkan posisi di setir.
"Belum tentu urusan mereka."
Alya menatap profilnya dari samping — rahang yang lurus, mata yang mengikuti jalan, garis bahu yang tidak berubah dari empat tahun yang lalu kecuali mungkin sedikit lebih tegak sekarang, setelah bertahun-tahun tanggung jawab yang lebih besar.
"Tapi kamu akan cerita ke mereka, akhirnya."
"Mungkin."
Di luar, lampu merah menghentikan mereka di persimpangan. Rizky mengerem dengan halus, dan keheningan di dalam mobil mengambil tekstur yang sedikit berbeda — bukan keheningan yang tidak nyaman, melainkan keheningan yang ada di antara orang-orang yang sudah cukup lama bersama untuk bisa diam tanpa harus mengisinya.
Alya memandangi lampu merah di depan.
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi di makan malam itu — nama siapa yang akan disebut, pertanyaan apa yang akan diajukan teman-teman Rizky kepada istrinya yang selama ini tidak pernah kelihatan, bagaimana cara Rizky memperkenalkannya atau tidak memperkenalkannya atau menjelaskan atau tidak menjelaskan hal-hal yang tidak perlu dijelaskan.
Tapi di dalam dadanya, di tempat yang tadi menyalakan sesuatu ketika Rizky mengatakan bahwa mereka minta bertemu kamu — api kecil itu masih menyala.
Tipis. Tidak minta banyak. Tidak menjanjikan apapun kepada dirinya sendiri tentang artinya.
Tapi menyala.
Lampu berganti hijau, dan mobil kembali bergerak ke dalam kota yang sudah sepenuhnya memasuki malamnya.