NovelToon NovelToon
CINTA SI TUAN BUCIN

CINTA SI TUAN BUCIN

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:165.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: V Lestari

Camelia dan Sbastian dipertemukan dalam situasi yang sangat tidak menyenangkan. Berawal dari niat baik Camelia yang ingin mengembalikan ponsel yang ia temukan di tepi jalan, tapi niat tersebut malah membuatnya harus menanggung banyak kesulitan.

Hingga akhirnya ia membuat sang pemilik ponsel, Sbastian putus dengan tunangannya dan dirinya harus menjadi tunangan sementara.

Siapa sangka benih-benih cinta akhirnya tumbuh di antara mereka. Perjalanan cinta mereka tidak mudah. Semua karena Isabel, mantan tunangan Sbastian. Ia melakukan segala cara untuk memisahkan Camelia dan Sbastian.

Apakah Isabel berhasil?

Apakah Sbastian akan berhenti memperjuangkan cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN YANG TERTUNDA

Sbastian melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh, senyum mengembang dari wajah tampannya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa kali ini ia akan bertemu dengan Camelia lagi.

Ia tersenyum sambil membayangkan apa yang akan dilakukannya saat bertemu Camelia nanti. Ah, ia akan memeluknya erat-erat, tidak peduli dengan si laki-laki sialan yang beberapa hari lalu ia lihat sedang memeluk Camelianya di pinggir pantai. Walaupun laki-laki itu adalah pacar Camelia.

Ia harus menghapus jejak tubuh laki-laki itu pada tubuh Camelianya. Jika saat itu ia mengalah dan mundur karena Camelia sudah memiliki pacar. Sekarang semangatnya sudah berubah, ia akan menjadikan Camelia sebagai miliknya yang sah. Toh Camelia dan si Al itu cuma pacaran, selama janur kuning belum melengkung ia akan berjuang demi cintanya.

'Itu baru lelaki sejati!' batinnya sambil memasang kaca mata hitamnya.

Drrt ....

Drrt ....

Ponselnya bergetar, ia hanya melirik ponsel yang baru kemarin dibelinya itu. Ia tahu jika ponsel itu sudah bergetar, itu artinya Arman-lah yang menghubunginya dan jika Arman yang menghubunginya maka tidak ada hal lain, pasti urusan pekerjaan yang mendesak lagi.

Ponselnya kembali bergetar, tetapi Sbastian tetap bergeming, berusaha tidak memedulikan ponsel yang sedaritadi tidak berhenti bergetar itu.

Drrt ....

Drrt ....

"Argh, apalagi sekarang!" Sbastian mengambil ponselnya dan melihat pada layar ponsel itu. Benar dugaannya, Arman-lah yang mengubunginya.

"Ya, halo, ada apa?"

"Bapak di mana sekarang?"

"Di jalan, mau di mana lagi! 'Kan saya sudah bilang tadi, saya mau menemui istri saya."

"Istri bapak bisa menunggu, Pak, tapi sekarang ada masalah yang lebih penting!" Seru Arman dari seberang telpon.

"Tidak bisa! Tidak ada yang lebih penting dari istri saya."

"Tapi, Pak, ini tentang pak Setyo yang berusaha mengambil alih anak perusahaan yang bapak kembangkan di Samarinda. Saya dengar terjadi keributan antara pemegang saham, Bapak harus ke sana sekarang."

"Apa gak bisa kamu saja yang selesaikan? Saya--"

"Tidak bisa, Pak, harus bapak yang hadir di sana. Bapaklah yang memiliki wewenang penuh atas perusahaan itu. Mari kita bertemu di jalan tol pak, kita ke Samarinda bersama-sama."

tuut ....

Arman langsung menutup teleponnya setelah mengucapkan kalimat panjang yang membuat Sbastian merasa kesal.

"Ah, lihat saja, setelah aku menikah dengan Camelia aku akan mencetak dua belas anak. Sulit sekali menjadi satu-satunya yang harus mengurus ini dan itu," ujarnya kesal, lalu memutar balik kendaraannya menuju jalan tol, tempat Arman akan menunggunya.

***

Pagi-pagi sekali Camelia sudah sibuk di dapur dibantu dengan Ola. Mereka akan mengunjungi Alvian siang ini.

"Harusnya kamu ke kampus, La. Gak usah sibuk bantuin aku, nanti nilai kamu jelek loh. Siang ini kan ada mata kuliahnya Pak Nono."

"Aah biarin, si bapak lagi kasmaran. Pasti lagi baik hati sekarang. Lagian aku pengen ikut jengukin Al. Boleh, 'kan? Boleh dong, ya 'kan, ya dong," ujarnya dengan mulut penuh makanan.

"Iya, sih, boleh, tapi apa yang mau kita bawakan untuk Al kalau kamu daritadi nyomot terus. Siniin itu yang kamu pegang," ujar Camelia tegas sabil mengambil potongan ayam goreng yang ada di tangan Ola.

"Yah, Amel, pelit banget."

"Kalau aku pelit, gak mungkin aku biarin kamu makan lima potong ayam goreng!" ujarnya, lalu tiba-tiba merasa sedih atas ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya.

Ia ingat Sbastian juga pernah berkata seperti itu kepadanya, saat mereka sedang makan es krim di restoran yang terdapat di lobi apartemennya.

"Hei, Miss Pelit, kenapa jadi melamun?" tanya Ola yang melihat perubahan suasana hati sahabatnya itu. "Jangan tiba tiba melow ah pagi-pagi gini, ntar cepat tua."

Camelia hanya tersenyum lalu kembali melakukan aktifitasnya. Menyusun makanan ke dalam kotak makan yang akan dibawa untuk Al nanti.

"Ngomong-ngomong kapan hp Sbastian bisa bagus?" Camelia bertanya pada Ola, karena Ola lah yang membawa ponsel itu ke konter untuk di perbaiki, ia mana punya uang sebanyak itu untuk memperbaiki ponsel mahal milik Sbastian.

"Gak pasti juga kapan Mel, karena hp Tian itu hp mahal. Katanya sih harus nunggu beberapa alatnya yang harus dipesan dulu. Aneh, deh, konter besar tapi kok peralatannya terbatas," ujar Ola sewot.

"Oh," gumam Camelia pelan, sebenarnya selain ingin Al cepat bebas, ia juga sangat ingin bertemu dengan Sbastian. Itulah kenapa dirinya merasa sedikit kecewa karena ponsel Sbastian belum ada tanda-tanda telah membaik.

Ibarat melempar dua burung dengan satu batu, ia bisa meminta bantuan Sbastian untuk membebaskan Alvian sekaligus meminta bantuan Sbastian untuk melepas rindunya.

Ia sangat merindukan si Tuan Bucin itu.

"Oke, finish." Ola membuyarkan lamunannya. "Sekarang apa lagi?" tanya Ola dengan raut wajah bahagia karena telah berhasil membuat bento untuk Alvian.

Camelia tersenyum melihat hasil karya temannya."Wah jago juga kamu bikin bento, tapi kenapa harus hello kitty, sih, bentuknya, Al mana mau. Al itu sukanya bento bentuk cewek montok," ujar Camelia sambil tertawa melihat wajah Ola yang tiba-tiba cemberut.

"Aah, kamu, Mel, ngerusak moodh-ku aja." Ola mendelik kesal kepada Camelia.

"Sudah selesai, Nduk masaknya?" Bu Lastri memasuki dapur dengan pakaian rapi dan membawa tas jinjing di tangannya.

"Udah, Bu, tinggal bikinin Milo dingin kesukaan Al. Loh ibu mau ke mana?" tanya Camelia melihat Bu Lastri tampil serapi itu.

"Ya mau ikut toh, Nduk, mau kemana lagi. Ibu kangen sama Al," jawabnya sambil merapikan gamisnya yang terlihat kusut.

"Ibu gak usah ikut. Ibu di rumah aja istirahat. Gak baik Bu datang ke tempat seperti itu. Lagian kata Ibu, rematiknya Ibu lagi kumat." Camelia berusaha membujuk Bu Lastri agar tetap di rumah, ia takut nanti Bu Lastri merasa sedih melihat keadaan Al.

"Gak apa-apa, Amel, ibu kuat kok jalan. Lagi pula ibu bener-bener pengen ketemu Al, Al anak ibu. Bagaimana keadaannya sekarang. Ibu pengen liat," ujar Bu Lastri dengan mata berkaca-kaca, membuat Camelia tidak tega untuk melarangnya.

"Ya, sudah kalau gitu ibu gak apa-apa ikut, tapi di sana ibu gak boleh nangis, ya. Amel tau ibu sedih, tapi Al pasti lebih sedih kalau ngeliat ibu nangis, Oke!" ujar Camelia sambil memeluk Bu Lastri.

Bu lastri mengangguk sambil mengusap air matanya.

"Amel selesaikan dulu bikin Milo-nya, habis itu Amel ganti baju. Ibu tunggu di depan aja, ya."

Bu Lastri kembali mengangguk kemudian berjalan meninggalkan dapur.

Ola membantu Camelia memasukan semua bekal ke dalam tas. Setelah semua beres, Camelia lalu pergi ke kamar untuk berganti pakaian.

***

"Argh, gerah ternyata naik angkot, Mel."

"Hei, Tuan Putri diam aja deh, daritadi ngeluh terus."

"Iish!"

Mereka bertiga tengah berada di dalam sebuah angkot, menuju ke kantor polisi tempat Al beberapa hari ini di tahan di dalam sebuah sel kecil.

"Ya, kalau gak tahan naik angkot gimana mau jadi pacar Al?" ujar Camelia yang sedaritadi mendengarkan dengan sabar ocehan sahabatnya itu.

"Ya beda, Mel, kalau naik angkot sama abang Al pasti adem deh. Karena dia tuh penyejuk hatiku banget," ujar Ola dengan pipi bersemu merah.

"Jadi kalau naik angkotnya sama ibu tetap gerah, ya? Padahal ibu 'kan ibunya Al." Bu Lastri ikut nimbrung di antara percakapan Amel dan Ola.

"Ah, enggak dong Bu, justru karena ada Ibu di sini makanya gak terlalu gerah, cuma gerah doang. Kalau gak ada Ibu, pasti jadinya gerah banget," ujar Ola sambil tersenyum ramah kepada Bu Lastri.

"Aaah kamu bisa aja, La." Bu Lastri tertawa mendengar jawaban Ola.

Setelah hampir satu jam perjalanan dikarenakan macet yang lumayan parah, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Ola buru-buru turun dari angkutan kota tersebut dan berlari menuju tempat yang teduh.

Camelia tertawa melihat tingkah sahabatnya itu. Ola memang tidak terbiasa naik angkot, biasanya ia selalu diantar dan dijemput oleh sopir pribadinya saat akan ke suatu tempat.

Namun, kali ini Bu Lastri menolak saat Ola berniat meminta sopirnya untuk mengantar mereka, dengan alasan Bu Lastri tidak bisa naik kendaraan tertutup seperti kendaraan pribadi milik Ola, Bu Lastri gampang mual. Maka mau tidak mau Ola harus rela naik angkot untuk pertama kalinya dan sepanjang perjalanan ia selalu mengatakan, 'untuk terakhir kalinya' juga.

Setelah meminta izin dan diperiksa barang bawaan mereka dengan petugas jaga akhirnya mereka bertiga diizinkan untuk bertemu dengan Al.

"Al." Camelia menghambur ke pelukan Alvian. Alvian terkejut, tapi dengan cepat Ia mengatasi keterkejutannya lalu balas memeluk Camelia dengan erat.

"Kangen, ya? Aku juga kangen." Alvian berbisik di telinga Camelia.

"Hei, hei, kalian berdua, kalau sudah barengan, ibu pasti dilupakan." Bu Lastri menarik Camelia dari dalam pelukan Alvian lalu ia yang ganti memeluk Alvian dengan erat. Alvian membalas pelukan Bu Lastri, tapi matanya masih memandang lurus ke arah Camelia yang tertunduk sambil mengusap mata. Sepertinya ia menangis.

"Gimana kabarmu, Le? Baik baik aja, 'kan?"

"Iya alhamdulillah baik, Bu. Ibu gak usah khawatir." Jawab Alvian berusaha menenangkan Bu Lastri yang terlihat terlalu cemas.

"Hei, Ola, kamu datang juga." Al mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ola. Tapi Ola menolak, Al menaikan sebelah alisnya, terlihat bingung. "Gak mau salaman sama aku?"

"Iya gak mau salaman. Aku maunya dipeluk." Lalu Ola secara tiba-tiba memeluk Alvian. Alvian terlihat terkejut sehingga ia tidak mambalas pelukan Ola sampai Camelia memberi Isyarat kepada dirinya agar membalas pelukan Ola, barulah Al mulai meletakan tangannya di tubuh Ola.

Setelah adegan berpelukan bak telletubies tersebut, barulah mereka duduk bersama-sama. Camelia dengan cekatan mengeluarkan semua makanan hasil buatannya dengan Ola pagi tadi.

"Makan yang banyak, Al, aku masak khusus buat kamu, di sini pasti makanannya gak enak, kamu kelihatan kurus, " ujar Camelia.

"Trims. Boleh minta sesuatu, Mel?" tanya Alvian.

"Boleh, mau minta apa?"

"Suapin aku," jawab Alvian singkat.

Ola dan bu Lastri berdehem mendengar permintaan Al, tapi Camelia tidak, ia segera menyendokan makanan ke mulut Al.

"Enak," ujar Alvian, lalu mengambil sendok dari tangan Camelia dan sekarang ganti dirinyalah yang menyuapkan makanan ke mulut Camelia, "Kamu juga harus rasain, Mel. Aaa, buka mulut kamu."

Camelia tersenyum lalu membuka mulutnya. "Hem, iya, beneran enak, padahal pas di rumah tadi biasa aja loh, kok sekarang jadi enak banget, ya."

"Itu karena aku yang suapin," kata Al bangga.

"Ooh, iya, betul. The power of tangan, Al. Naah yang ini the power of tangan Amel." Camelia kembali menyuapkan makanan ke mulut Alvian.

Mereka memang selalu seperti itu, sejak mereka kecil mereka tak terpisahkan.

Bu Lastri tertawa melihat tingkah kedua anak asuhnya yang sudah beranjak dewasa. Al dan Amel masuk di tahun dan bulan yang sama di panti asuhan yang ia kelola.

Walaupun dari usia saat itu di perkirakan Al lebih tua beberapa bulan dari Amel.

Alvian dibawa warga ke pantinya hanya menggunakan kain sarung yang kumal dan kotor. Ia menangis kencang di pelukan seorang warga saat itu, yang menemukannya di sebuah pos ronda pada tengah malam. Tidak ada petunjuk apapun yang melekat pada tubuhnya. Saat itu di perkirakan Al berusia sekitar enam bulan.

Beberapa hari kemudian di teras panti terdengar suara bayi menangis. Bu Lastri keluar untuk melihatnya dan ternyata ada yang meletakan seorang bayi perempuan di kursi teras panti. Bayi itu sangat cantik, barang yang melekat pada tubuhnya terlihat mewah, pakaiannya, kaus tangan dan kaus kakinya, topinya, semua terlihat bagus , bahkan ada sebuah gelang kecil di tangan kanannya yang bertuliskan "Camelia", bayi kecil itu menggenggam sebuah kertas kecil, kertas itu adalah surat dari ibunya atau dari siapa, entahlah.

"Eh, sudah-sudah, sekarang gantian aku dong yang disuapin," jerit Ola gemas melihat tingkah Amel dan Al. Bu Lastri terkejut mendengar jeritan Ola, ia kemudian tersadar dari lamunannya.

"Sini, kalau Ola biar Ibu yang suapin." Bu Lastri menyendok makanan lalu menyuapkannya kepada Ola. Mereka semua tertawa.

Camelia senang di antara mereka tidak ada yang menangis, karena tujuan mereka datang mengunjungi Alvian adalah untuk menyemangati Alvian.

Setelah mereka kehabisan jam besuk, akhirnya mereka bertiga pamit pulang.

"Al tunggu beberapa hari lagi, aku pasti akan keluarkan kamu dari sini," ucap Camelia.

"Iya, Al, sabar, ya. Mereka gak punya bukti cukup untuk terus menahan kamu di sini, aku dan Amel juga akan terus cari cara supaya kamu bisa cepat keluar." Ola menambahkan.

"Iya, Le, yang sabar, ya. Semoga kasus ini cepat selesai. Ibu pamit dulu, ya, besok ibu kemari lagi." Bu Lastri memeluk Alvian dengan erat, terdengar isakan halus keluar dari mulutya.

Al meremas pundak Bu Lastri. "Ibu jangan nangis dong, Al ikutan sedih. Al baik-baik aja kok di sini," ujar Al sambil tersenyum.

Ola kemudian berpamitan pada Al dan menggandeng Bu Lastri keluar dari ruangan itu.

"Jaga diri, Al, bye." Camelia berkata pada Alvian lalu berbalik hendak pergi, tapi kemudian Al menarik tangannya dan mengecup lembut bibirnya.

Camelia terkejut, lalu melepaskan diri dari sahabatnya itu.

"Al!"

"Kan aku sudah pernah bilang I love you. Dasar gak peka." Alvian lalu memukul kepala camelia dan berbalik pergi, meninggalkan Camelia yang masih diam mematung sambil menyentuh bibirnya.

***

"Berapa lama lagi kita sampai?" Sbastian bertanya malas kepada Arman.

"Sebentar lagi, Pak."

"Apa kira-kira bisa selesai malam ini?"

"Entahlah, Pak, sepertinya pertemuan kali ini akan sampai tengah malam dan besok bapak harus berangkat ke Dubai."

"Ah sial, saya tarik janji saya yang tadi."

"Yang mana, Pak?"

"Jaket itu, saya gak akan belikan kamu jaket dengan dua belas warna itu," ujar Sbastian kesal.

Arman terkejut dan tiba-tiba saja menginjak rem dengan mendadak.

"Tapi, Pak, kan bapak sudah janji," protesnya sambil menoleh kepada bos mudanya tersebut.

"Saya tarik janji saya!" ucap Sbastian lalu bersandar dan memejamkan matanya.

Moodnya rusak maksimal karena pertemuannya dengan Camelia harus tertunda.

💕💕💕

bersambung....

1
Lee Je hoon
sukaaaaa.
Lee Je hoon
langsung putus 😅😂
Lee Je hoon
cuma seles doag yg bisa pakai jas sama dasi 😂
Lee Je hoon
au bayangin si sbasti ini kok kayaknya cool banget ya 😍
Lee Je hoon
ya ampun ngakak di akhir😂
™febri@n.*
ini beneran tian g ad ...sia" thor baca dri awal klo ending nya begini 😭😭😭haddeehhh ...
™febri@n.*
Kecewa
™febri@n.*
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
™febri@n.*
baru baca sdh kepicut thor😘
Novia Lestari: hehe he, maka sih, Kak 😊
total 1 replies
Jamilah MiuShop Samarinda
baru mulai baca yang ini 😁
Nelly Katanya
kalo udah ke Samarinda knpa GK sklian ke Tenggarong aj pak..
Nelly Katanya
jujur aja dgn keadaan Camelia. biar enak urusan nya. jgn bohong, nanti akan ada kebohongan lagi demi menutupi kebohongan yg lain👌
Nelly Katanya
sweet banget dua ank manusia itu.
Nelly Katanya
saran yg bijak Amel. dan Sebastian keputusan nya tepat👍
Nelly Katanya
apa kah yg terjadi. akan kah lonceng memaaf kan Amel. atau malah sebalik nya memanfaat kan
Nelly Katanya
seegitu nya GK mau kah Bastian SMA Amel. kusumoahin Lo kena penyakit bucin
Nelly Katanya
yeye enak donk Camelia otw ke Jakarta, sekalian aj jalan² ke Monas🤣🤣
Nelly Katanya
si Amel ada² saja rencana nya🤣🤣 iya kali kmu tga ngdorong Rian sebastian. klo GK baper nanti🤣🤣
Nelly Katanya
salah sendiri si penlefon nya nyerocos trus kyk mercon ukuran jumbo
EN_aqkeru
ini mah plaza Balikpapan 😁
Novia Lestari: hehehe bener banget, Mba. 🤭🤭
makasih sudah membaca CINTA SI TUAN BUCIN. 🙏
karena ini tulisan pertama saya, jadinya agak berantakan. Mau revisi belum sempat pun 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!