Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Aku Tidak Peduli
Setelah menghabiskan waktu di rumah orang tua Emeery, Gerry kembali memboyong anak dan istrinya untuk pulang. Sejak itu wajahnya tampak selalu berseri-seri, bahkan di kantor saja dia suka senyum-senyum sendiri, seperti telah mendapat jackpot besar. Bagaimana tidak? Dia baru saja buka puasa setelah beberapa tahun lamanya.
Drt ... Drt ... Drt ...
Ponsel yang ada di samping Gerry bergetar, senyum pria itu surut berganti dengan kerutan di dahi.
"Anjas," gumamnya pelan membaca nama si penelpon. Tanpa pikir panjang dia mengangkatnya. "Halo kenapa, Njas?" tanya Gerry.
"Halo, Kak. Bisa bantu aku nggak ya? Aku ada masalah sedikit di luar," papar Anjas dengan nada dibuat cemas, hingga menyisakan tanda tanya di benak Gerry.
"Masalah apa tuh? Lagian bukannya kamu kuliah ya? Kok tiba-tiba ada di luar?"
"Itu dia, Kak. Aku nggak berani telepon Om Jerry. Jadi Kakak aja yang ke sini ya, please bantuin aku. Aku sharelok sekarang," ujar Anjas merengek. Sebelum Gerry menjawab telepon sudah dimatikan, Gerry mendesahkan napas, tapi setelahnya terdengar bunyi pesan masuk, Anjas mengirim lokasinya saat ini.
Mau tak mau dan tanpa merasa curiga sedikit pun Gerry langsung beranjak dari duduknya. Dia menitipkan beberapa pekerjaan pada sang sekretaris dan langsung tancap gas.
Sementara itu di belahan bumi lain, Mona sudah tersenyum lebar, karena hari ini dia akan bertemu dengan Gerry. Awalnya dia sudah sangat frustasi, karena Gerry tak kunjung menghubunginya, tapi dalam hati kecilnya dia masih yakin dan terlalu percaya diri, sampai kapan pun Gerry takkan bisa melupakannya.
"Kerja bagus," pungkas Mona pada Anjas yang ia ajak kerja sama.
"Kirim uangnya sekarang ke rekeningku. Aku ingin membelikan hadiah untuk pacarku," balas Anjas, tak ingin pekerjaannya sia-sia. Tanpa sadar dia telah mempertaruhkan nasibnya.
"Tenang saja, Anjas, setelah pertemuan ini selesai, aku akan langsung kirim uangnya. Aku tambah 5 persen dari yang aku janjikan!" kata Mona dengan sungguh-sungguh. Anjas pun percaya.
Hingga tak lama kemudian mobil milik Gerry menepi di sebuah taman, sesuai titik yang dikirim. Dia turun dari kendaraan roda empatnya dan celingukan untuk mencari keberadaan Anjas, belum sempat ketemu ponselnya kembali bergetar.
"Di mana?" tanya Gerry sambil terus mencari.
"Kak, maaf. Aku sudah pulang sekarang, tadi aku dibantu oleh orang baik, makanya aku bisa kabur," jawab Anjas melanjutkan dramanya dengan Mona.
"Sebenarnya kamu urusan dengan siapa sih? Preman?"
Brugh!
Tiba-tiba Gerry merasakan sebuah pelukan dari belakang. Lehernya memutar untuk melihat siapa pelakunya, pria itu langsung melotot tak percaya, karena Mona sudah ada di sana.
"Aku kangen banget sama kamu, Sayang," ucap Mona dengan manja, suara yang belum sepenuhnya Gerry lupakan, tapi berusaha dia hindari. Dengan cepat Gerry melepas pelukan itu dan melupakan telepon Anjas.
"Apa yang kamu lakuin di sini? Kamu sengaja menjebakku supaya datang?" cetus Gerry dengan marah. Wajahnya merah padam, wajah yang sebelumnya tak pernah Mona lihat. Wanita itu sedikit terhuyung, tapi dengan cepat menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Hatinya sakit lagi menerima perlakuan ini.
"Kamu salah, Kak, mungkin ini yang namanya jodoh. Aku cuma lagi jalan-jalan aja di sekitar sini, terus aku lihat kamu," papar Mona bohong.
Gerry tertawa sumbang sambil berkacak pinggang.
"Kebetulan? Mana ada seorang dokter keluyuran siang-siang, tempatmu tidak di sini, Mona, jadi berhenti membohongiku. Dan perlu kamu ingat, aku suami dari wanita lain, jangan sampai orang mengecapmu sebagai wanita tidak benar!" tandas Gerry secara menohok.
Mata Mona langsung berkaca-kaca, tapi kali ini dia tidak menangis, dia justru mengepalkan tangan dengan sangat kuat.
"Aku tidak peduli!" katanya.
"Tapi istriku sedang hamil sekarang!"
Deg!
Jantung Mona seakan terjun dari tempatnya. Dia menatap Gerry dengan tak percaya. Hamil? Secepat ini? Tidak mungkin.
"Kamu yang bohong! Kamu juga menyusun drama sekarang," ucap Mona menyudutkan.
"Tidak, Emeery memang sedang hamil anakku. Jadi berhentilah," jawab Gerry dengan mata meyakinkan. Padahal dia lagi ngarang.
***
Hai, I'm come back 👋
Anjas tuh pengecut dan mokondo
Skrg aja dia gak punya tempat tinggal
Udah tinggalin Anjas 😄
Kutunggu updatenya lagi kak 😊