Istriku terlalu boros, sementara selingkuhan ku sangat cantik dan pandai menabung, tapi ku tak sangka istriku berubah sangat drastis tanpa uang dariku. apakah dia memiliki simpanan yang menopang hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanaxu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 25
Sania sibuk dengan ponselnya, banyak permintaan ketring bulan ini, banyak pesta pernikahan menghunakan jasanya sebagai pelengkap menu utama di acara tersebut.
"Sayang aku lagi bicara dengan mu." tegur Arya.
"Silakan, kamu mau bicara apa?" tanya Sania cuek.
"Sayang dengkulmu." Maki Sania dalam hati.
"Kenapa menu kesukaan ku sudah berubah rasanya sayang, kan aku tidak suka gurih." ucapnya sambil sesekali menatap Sania yang tidak begitu peduli.
"Iya soalnya pembeli suka yang gurih, bosan juga yang asin." ucap Sania tanpa basa basi.
Arya tidak percaya dengan jawaban Sania.
"Kamu cemburu ya?" tanya Arya sambil mencubit pipi Sania.
"Apa sih Ar, kamu tidak sopan ya jadi manusia." maki Sania.
Entah kenapa Sania refleks memaki Arya, hilang sudah rasanya dengan manusia menjengkelkan di depannya ini.
"Janganlah cemburu sayang, aku tau kamu cinta sama aku." ucap Arya dengan pedehnya.
Sania menatap Arya tak suka, dia bahkan enggan menatap pria itu terlalu lama, Sania berdiri dan meninggal kan Arya tanpa kata.
"Hmm, janda satu ini susah juga." batin Arya sambil tersenyum.
Dia hendak mengikuti Sania tapi di hadang Ana di sana. " Pak Arya anda mau kemana?"
"Saya mau ke kamar bosmu?" jawab Arya.
"Pak Arya, ibu Sania tidak pernah tinggal di sini, di dalam adalah tempat istrahat kami karyawan." bohong Ana.
Arya terdiam, "dimana bosmu tinggal?" tanya Arya memastikan.
Dia sungguh tidak tau jika Sania tidak pernah tinggal di ruko ini, "apakah Sania sudah kembali dengan mantan suaminya." tanya nya dalam hati.
"Dia pulang setelah tutup, di jemput calon suami beliau, ganteng, putih, hidung mancung, kaya raya, pokoknya sangat serasi dengan ibu Sania." jawab Ana dengan asal.
Arya antara percaya dengan tidak, selama ini Sania tidak pernah dekat dengan siapa pun, tapi setelah melihat perubahan Sania mungkin saja benar.
"Sejak kapan?" tanya Arya.
"Sudah lama pak, tapi menurutku sih bapak jangan ganggu ibu Sania lagi." ucap Ana ketus.
Arya mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya, wajahnya merah padam menahan amarah yang siap meledak, ekspresi itu di nikmati Ana sambil tertawa dalam hati.
"Rasain kamu! Emang kau bisa seenaknya permainkan bosku." Gumam Ana dalam hati.
Ana yang dulunya sopan kini juga berubah, semua karyawan tidak ada lagi yang menyapanya seperti biasa, Ana yang biasa bermulut manis kini berubah jadi menjengkelkan di mata Arya.
Sementara Sania senyum-senyum sendiri mendengar jawaban Ana dari balik dinding. "Astaghfirullah memiliki karyawan yang seperti Ana ini kayaknya kena mental orang." Gumam Sania.
Tapi Sania merasa terbantu dengan begitu Arya berfikir untuk mendekatinya lagi, tapi tak lama kemudian Sumarni datang dengan wajah yang Rama.
"Hai, dimana bos mu." tanya Sumarni.
"Bos ku sedang liburan bu, dia tidak ada di sini." jawab Ana.
Lagi-lagi Ana berbohong, dia sudah mengetahui siapa yang menyakiti bosnya dahulu, dia diam tapi dia juga mengamati.
"Ohh, liburan ya, walah menantuku sekarang banyak uang ya." ucapnya.
"Bu, bukannya anak anda dengan bu Sania sudah bercerai." Jawab Ana lagi.
"Apa yang kau tahu tetang keluarga ku, kau ini hanya karyawan rendahan." hina Sumarni.
"Ibu ada perlu apa?" tanya Ana lagi. Tanpa membalas hinaan itu.
Sumarni hanya tersenyum, "tolong layani saya ya, saya bosmu juga." jawab Sumarni.
"Mohon maaf Bu, kalau mau makan ambil sendiri, di sana tersedia berbagai menu," ucap Ana tidak peduli.
Hei, kamu ini karyawan saya, mau saya pecat." ancam Sumarni.
Tapi Ana hanya tertawa melihat tingkah Sumarni seperti orang gila. Apa lagi mengatakan memecatnya, itu mustahil akan terjadi.
Mau tidak mau Sumarni langsung mengambil nasi serta lauk pauk yang banyak, dia bahkan mengambil lauk yang mahal.
"Ibu mau kemana?" tegur Ana lagi.
"Saya mau makan, kamu kenapa sih, seperti bos saja." sembur Sumarni.
"Mohon maaf ya bu, di sini sesuai SOP makanan di bayar terlebih dahulu." ucap Ana kembali sopan walaupun jengkel.
Sumarni mendengkus kesal, "nanti menantuku yang bayar, kamu tidak tau ya, anak ku dengan bosmu sebentar lagi juga rujuk."
Semua orang hanya jadi penonton, bahkan ada yang tertawa, "bu sebaiknya makanan sebanyak itu di bayar." tegur salah satu ibu-ibu yang baru datang.
"Kamu siapa ikut campur." teriak Sumarni.
"Ibu silakan sesuai aturan anda harus membayar terlebih dahulu." tegas Ana.
Akhirnya Sumarni mau membayar makannya, setelah di cap miskin, dia anti di cap miskin.
"Awas ya kalian, menantuku itu bos di sini, saya akan laporkan agar kalian di usir." sungutnya.
"Ternyata ada ya manusia yang tidak tau malu seperti ini." Monolog Ana dalam hati sambil bergidik ngeri.
Sania sengaja tidak keluar kebetulan ketring sudah selesai ia masuk dalam kamarnya, Sania sibuk dengan rumah impiannya, beli tanah atau beli rumah.
"Bagus beli apa ya tanah atau rumah?"
Sania bingung dengan apa yang dia pilih, Sania searching di google yang menguntungkan beli rumah atau tanah, tapi keduanya sama-sama menguntungkan.
Tapi Sania tertarik dengan sebuah mobil warna silver dari brand terkenal di Indonesia, mobil keluaran terbaru cukup menyita perhatian Sania.
"Ini mobil impian ku, tapi mana yang harus di beli mobil atau rumah dulu ya?" ucapnya bicara sendiri.
Sania mengintip tabungannya di rekening lain, di sana tertera angka yang lumayan, Sania tersenyum sambil mengucap syukur.
"Alhamdulillah, Tabunganku ternyata sebanyak ini?" ucapnya dalam hati.
Sania akhirnya melupakan sejenak, ia mandi dan bersiap untuk sholat, selesai menunaikan sholat ternyata ada Ana yang menunggunya di kamar.
"Loh Ana belum tutup." tanya Sania.
"Maaf ya bu, saya lancang masuk di sini, karena ada ibu yang menunggu anda di bawah." ucap Ana sambil menunduk.
"Ibu siapa?" tanya Sania.
"Katanya ibu mengganggu pacar anaknya, dia... "
"Baiklah sini ikut saya." Sania tidak lagi melepas mukenanya
"Ibu ada perlu apa mencariku?" tanya Sania tanpa basa basi di sana ada Ratu bersama ibunya.
"Jauhi calon mantuku, saya harap kamu sadar diri." ketus Mega ibunya Ratu.
Sania tersenyum tipis, "bu Mega yang terhormat, apakah anda tau apa yang terjadi?" tanya Sania.
Sania membuka aplikasinya dan memperlihatkan tubuh polos Aruan serta Arya, "kalau kalian bikin gaduh di sini nama anak anda ini akan tercoreng." ancam Sania.
Mega bungkam, menatap anaknya dengan tatapan yang sulit diartikan, "emang kenapa kalau melakukan hal itu sama pasangan sendiri." ketus Ratu.
Dia merasa menang karena melihat Sania sepertinya terpuruk, "aku sama Arya itu pengen punya anak gak apa kali." Sambungnya lagi.
"Iya sih, tapi kelihatan banget kau gampang ngakang demi sebuah pengakuan." hina Sania.
"Kau berani menghina anak ku?" Mega tidak terima.
"Bukannya anak anda sudah terhina?" tanya Sania balik.
Mega bungkam, entah kenapa aura Sania tidak bisa di taklukan, di hina balas menghina, tidak ada air mata walaupun foto itu sudah ada di tangannya.
tp makasih buat ceritanya kak ,, dtggu karya terbarunya
selalu ngerasa pasangan nya akan tetap memuja mereka apapun kesalahan mereka
wah...Manh rada rada sakit si😅
emnk situ ok ,, 😏😏😏😏
sesuatu untuk puyuh mu...
ngeles aja...dasar Casanova
kok genre nya jadi horor yaa 🥹🥹🫣
km bkal ketemu dg jodoh mu yg pas Dan di waktu yg pas juga ,,
masa jeruk makan jeruuuk 🤭🤭🤭🤣🤣🤣,,
makiin seruuu cerita ny😁😁