NovelToon NovelToon
Beyond Blessed

Beyond Blessed

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:970.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Upi1612

-TAMAT-

Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.


Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.

Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.

Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BB 25 - Tentang yang Pergi dan yang Datang

Setelah membaca surat yang begitu indah milik Akbar untuk Yuni. Gus Faiz menahan nafas. Dia benar-benar tidak kuasa menahan air matanya. Masih tersisa satu surat lagi. Gus Faizpun membuka surat selanjutnya.

Namun, belum sempat Gus Faiz membaca tiba-tiba beberapa perawat datang masuk. Perawat ini bertugas untuk membawa Akbar ke ruang jenazah. Karena ruangan akan dibersihkan untuk pasien selanjutnya yang akan masuk.

Gus Faiz memasukkan surat itu ke dalam kantong celananya.

Setelah Akbar berada di ruang jenazah, Gus Faiz menunggu di luar ruangan. Tidak sadar dia duduk di samping seorang gadis berkuncir kuda yang sedang duduk diam dengan mata merah karena habis menangis. Dia sama seperti Gus Faiz, telah kehilangan seseorang yang sangat penting dalam hidupnya.

Merasakan ada pergerakan, gadis itu menoleh pada Gus Faiz, lalu mengamati Gus Faiz yang kini memegang sebuah surat. Diam-diam, Gadis itu ikut memperhatikan surat itu. Lalu beralih ke ruangan tempat Gus Faiz keluar. Melihat Gus Faiz keluar dari ruang jenazah, tanpa mengenal siapa Gus Faiz, Gadis itupun mengerti apa yang tengah terjadi. Gadis itu menatap bunga yang ada di tangannya. Dia tidak bisa memberikan bunga itu pada sahabatnya, dia ingin sekali memberikan bunga itu untuk laki-laki di sampingnya.

Sepertinya dia telah mengalami hal yang sama denganku. –batin Gadis itu.

Gus Faiz pun mulai membaca surat Akbar selanjutnya. Setelah memisahkan surat untuk Yuni di sakunya.

Untuk Papa..

Gus Faiz merasa tidak pantas membuka surat Akbar untuk Papanya. Dia tidak jadi membacanya. Karena surat itu memang ditujukan untuk Robby bukan dirinya.

Surat untuk Papa? Jangan-jangan, yang meninggal kedua orang tuanya tidak datang? –batin Gadis itu sambil matanya mencari sosok ibu-ibu atau bapak-bapak. Namun, dia tidak menemukan siapapun.

Gus Faiz membuka surat demi surat memastikan kalau-kalau ada surat untuknya, namun dia tidak mendapati surat untuknya, setelah memastikan tidak ada surat untuknya, Gus Faiz pun melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam kantong celananya.

Dia benar-benar sendiri kali ini, sedih, kalut, dan marah kini berkumpul jadi satu.

Ya Allah, kasihan sekali dia mengurus sendiri. –batin Gadis itu. Matanya sendu menatap Gus Faiz.

Kejadian hari ini benar-benar mengguncang jiwanya. Menyaksikan kedua sahabatnya menghembuskan nafas terakhir membuatnya sangat sedih. Dia terus beristighfar dalam hati, mencoba menenangkan dirinya. Yuni maupun Robby belum datang. Ntah belum, ntah juga tidak akan datang. Gus Faiz benar-benar sedih dan marah memikirkannya.

Gus Faiz mengepalkan tangan saat ingatannya kembali pada saat dia datang ke rumah Robby dan Yuni. Air matanya kembali mengalir. Gus Faiz mengusap wajahnya untuk menenangkan dirinya sendiri. Namun, lama-lama tangannya gemetar.

Gus Faiz juga mulai menyalahkan dirinya sendiri karena tidak berhasil meyakinkan kedua orang tua Akbar untuk datang sebelum Akbar pergi. Diapun menatap tembok di depannya dengan kosong. Dia benar-benar bingung harus membawa Akbar ke mana. Namun, dia berniat membawa Akbar ke pondok, dan memakamkan di daerah pondoknya.

Gadis itu merasa sangat kasihan pada Gus Faiz. Dia yang memang memakai jaket berwarna hitam langsung memakai kupluk. Menyembunyikan wajahnya. Dia ingin menenangkan Gus Faiz, laki-laki yang tidak dikenalanya. Namun, dia tidak mau laki-laki itu melihat wajahnya, dia hanya berharap bisa menenangkan bukan melanjut pada hubungan.

Aku harus menenangkannya. –batin Gadis itu.

Gadis itu mengusap punggung tangan Gus Faiz. Refleks, Gus Faiz menoleh. Dia mendapati seseorang berjaket hitam duduk di sampingnya. Dia tak bisa melihat wajah gadis itu, hanya bibirnya saja yang terlihat.

Ntah setan mana yang merasuki Gus Faiz. Dia tidak menepis tangan itu. Gus Faiz mengamati tangan yang kini jadi menggenggam tangannya. Dia benar-benar membutuhkan teman saat ini.

Melihat Gus Faiz yang tidak menolak ditenangkan, Gadis itu pun memeluk Gus Faiz. Lagi-lagi Gus Faiz diam. Hanya air mata Gus Faiz yang mengalir di pipinya. Gadis itu menepuk punggung Gus Faiz menenangkan. Dia merasa saat ini dia sedang bermimpi. Kini dia tidak bisa membedakan alam nyata dan alam imajinasinya

“Siapa kau?” tanya Gus Faiz dalam pelukannya.

Gadis itu hanya menggeleng dan melepaskan pelukan. Dia berdiri di depan Gus Faiz yang masih duduk dan memberikan bunga itu pada Gus Faiz. Gus Faiz mendongak mencoba mencari tahu wajah Gadis itu, namun dia hanya bisa melihat leher Gadis itu saja.

“Bidadari.” kata Gadis itu asal bicara. Dia meletakkan bunga itu dipangkuan Gus Faiz. Menepuk bahu Gus Faiz tiga kali, lalu pergi.

Gus Faiz terdiam dan terkejut dengan apa yang dilakukannya. Dia kini benar-benar sadar.

“Tunggu!” serunya pada gadis itu. Gadis itu masih ada jadi Gus Faiz bisa menyimpulkan kalau yang memeluknya tadi adalah seorang manusia.

Menyadari kalau dia telah memeluk seorang gadis dan bersentuhan dengan seseorang yang bukan mahramnya membuat dirinya sedikit merasa bersalah namun dia juga sedikit lebih tenang. Benar-benar perasaan yang bertolak belakang namun berkumpul jadi satu. Mungkin karena dia sendirian sejak awal, jadi kedatangan seseorang yang menenangkan dirinya sangat dibutuhkannya.

Gadis itu tidak terlihat lagi.

Gus Faiz menatap tembok di depannya dengan tatapan kosong.

Tak lama kemudian, Rizki teman pondok Gus Faiz datang. Rizki yang melihat Gus Faiz duduk lemas dengan tatapan kosong langsung menghampiri Gus Faiz dan mengguncang tubuh Gus Faiz.

“Faiz!” seru Rizki.

Gus Faiz tidak merespons.

“Faiz!” seru Rizki sambil menampar pipi Gus Faiz.

Akhirnya Gus Faiz sadar. Dia merasakan pipinya begitu perih merasakan hasil tamparan Rizki.

“Istighfar, Iz!” seru Rizki.

“Astaghfirullah al azim!” kata Gus Faiz.

Gus Faiz mengusap wajahnya untuk menanangkan diri. Lalu dia menatap Rizki.

“Terima kasih, Riz. Di mana dompet saya?” tanya Gus Faiz.

Gus Faizpun mengambil dompet dan ponsel yang diberikan Rizki padanya. “Terima kasih. Tolong kamu di sini dulu ya. Saya harus mengurus administrasi.” kata Gus Faiz.

“Siapa nama temanmu?” tanya Rizki.

“Akbar. Muhammad Akbar Fadilah.” kata Gus Faiz.

“Baiklah.” jawab Rizki.

Saat hendak pergi, tepat saat melewati kamar mawar, Akbar melihat Yuni, ibu Akbar. Yuni yang melihat Gus Faiz langsung mendekat.

“Untuk apa anda datang?” kata Gus Faiz.

Gus Faiz benar-benar merasakan kemarahan yang begitu besar pada Yuni yang tidak memperdulikan Akbar, dan baru datang di saat anaknya sudah tidak bernyawa pergi. Rizki mendekati Gus Faiz, saat melihat wajah tegang Yuni.

Meski Rizki tidak mengenal Yuni, namun ntah mengapa dia merasa ada sesuatu yang terjadi antara temannya dengan wanita 35tahun itu.

“Di mana anak saya?” tanya Yuni. Perasaan Yuni terasa dangat tidak enak.

“Untuk apa anda menemui anak yang telah anda telantarkan?” tanya Gus Faiz. Kata-katanya begitu menusuk.

“Di mana anak saya?” suara Yuni naik beberapa oktaf. Kakinya mulai gemetar.

Tiba-tiba Robby datang. Kali ini dia datang sendiri tanpa wanita cantik yang ditemui Gus Faiz saat di rumah Robby.

“Di mana Akbar?” tanya Robby.

“Ck. Untuk apa kalian mencari Akbar? Untuk apaaaa?” tiba-tiba Gus Faiz berteriak histeris.

“Faiz! Kamu tidak boleh seperti ini!” seru Rizki. “Istighfar, Iz!” seru Rizki.

“Untuk apa mereka datang, Riz? Setelah sahabat saya berjuang meregang nyawa sendirian di rumah sakit, padahal dia terus memanggil Mama dan Papanya. Saya jemput orangtuanya sambil mengemis meminta mereka datang, tapi mereka mengusir saya dan membiarkan sahabat saya melewati sakitnya sendirian, sampai dia tidak bisa merasa sakit lagi.” kata Gus Faiz. Dadanya sakit sekali.

“Tidak, tidak mungkin!” seru Yuni.

Dia limbung hingga jatuh. Robby buru-buru menahan Yuni.

“Saya mohon, beritahu kami, di mana Akbar.” kata Robby.

“Ada di Ruang Anggrek Om, Tante, lurus ada di sebelah kanan.” jawab Rizki.

“Tidak! Setelah apa yang kalian lakukan pada Akbar, kalian tidak pantas menemuinya lagi!” seru Gus Faiz.

“Pergilah, Om, Tante!” seru Rizki.

Rizki menahan Gus Faiz. Gus Faiz kini mulai meronta-ronta. Rizki kembali menampar Faiz. Dia benar-benar tidak tega melihat keadaan Gus Faiz.

“Iz, lo harus sadar! Lo gak boleh begini! Bukan cuma lo yang kehilangan!” kata Rizki.

Gus Faiz terdiam.

“Istighfar, Is. Lo tenangin diri lo. Akbar gak akan mau liat lo kayak gini.” kata Rizki.

Gus Faiz beristighfar dalam hati. Dia kembali mengusap wajahnya gusar.

“Mereka tidak perduli pada Akbar. Meraka tidak menyayangi Akbar.” kata Gus Faiz.

“Ayo, gue kasih liat bagaimanapun juga, mereka tetaplah orang tua yang menyayangi anaknya.” kata Rizki. “Ikut Gue!” serunya. Sambil membalik badan.

Gus Faizpun mulai mengekori Rizki. Diapun masuk ke Ruang Anggrek.

“Akbar! Tidak Nak. Kamu tidak boleh tidur di sini. Mari pulang, Nak.” kata Yuni.

Dia terus meraung tidak terima dengan keadaan yang kini dialami anaknya. Melihat anaknya yang tidak lagi bernyawa membuat Yuni merasa sangat menyesal dengan apa yang telah di lakukannya pada anaknya itu.

“Iya, Nak. Ini Papa. Bangunlah, Nak. Papa datang jenguk kamu.” kata Robby.

Keadaan Robby tidak jauh berbeda dengan Yuni. Mereka berdua menangis sejadi-jadinya dan mulai menyalahkan diri sendiri.

“Maafkan Mama, Nakkk! Maafkan Mama!” seru Yuni sambil menciumi Akbar.

Melihat bagaimana Yuni dan Robby, Gus Faizpun tersadar. Setelah puas meraung-raung, Robby membawa Yuni untuk duduk. Di sana Yuni masih menangis di dalam pelukan Robby sambil memukul-mukul dada suaminya.

“Ini salah kita, Mas. Ini salah kita.” katanya.

“Tidak, Yun. Ini hanya salah saya. Sayalah yang menyebabkan ini semua terjadi. Saya kepala keluarga yang tidak becus menjaga keluargaku sendiri.” kata Robby.

Kini Gus Faiz bisa melihat bagaimana rasa penyesalan yang begitu Yuni dan Robby rasakan melihat Akbar yang tidak bisa tertolong. Gus Faiz yang sudah berhasil mengendalikan dirinya pun langsung menghampiri Yuni dan Robby.

Yuni dan Robby menatap, Gus Faiz. Gus Faiz mengeluarkan surat milik untuk Yuni dan memberikannya.

“Dari Akbar.” terang Gus Faiz.

Yuni langsung mengambilnya. Gus Faizpun mengeluarkan surat untuk Robby. Tanpa menunggu penjelasan lagi, Robby langsung mengambilnya. Merekapun mulai membaca surat yang di tulis oleh Akbar.

Gus Faizpun keluar ruangan.

“Lo yang sabar ya, Iz. Gue tau, lo pasti bingung karena sendirian ngurus temen lo.” kata Rizki di luar ruangan.

“Terima kasih telah membantu saya sampai ke sini, Riz.” kata Gus Faiz.

Rizki mengangguk.

Tak lama kemudian, terdengar teriakan histeris Yuni dari dalam ruangan. Gus Faiz tidak terkejut karena dia telah membaca surat Yuni. Yuni dan Robby mulai meraung-raung meminta maaf pada Akbar.

1
bunda syifa
bukan nya Nindy udah berdamai sama semua orang termasuk juga ayah nya pas masih d rumah sakit y Thor, kn waktu Nindy minta maaf sama ayah nya, ayahnya lagi d musholla rumah sakit
Ati Rohati: cuma aku baca yang terakhir
total 2 replies
bunda syifa
bukan nya yg bawa Nindy jalan" itu Ulfa y Thor
bunda syifa
bener sih, ibarat kata yg kecelakaan lagi sakarat tapi harus nunggu ambulans dulu yg masih d telfon trus berjalan k TKP, yg ada bukan tertolong malah meninggal duluan yg kecelakaan sebelum sampai rumah sakit karena udah kehabisan darah
bunda syifa
penulis kn ngetik Gus, bukan nulis d buka satu" kayak jaman dulu🤦🤦
bunda syifa
dan yg lebih d sayangkan lagi adalah qm Ulfa, padahal melihat dengan mata kepalanya sendiri segimana cinta nya Gus Faiz sama Nindy tetap aja rasa irinya membuat dia menginginkan Gus Faiz bahkan sampai Gus Faiz dn Nindy menikah
bunda syifa
lah banyak banget rasa iri mu mbak, kasih sayang orang tua udah qm kuasai sendiri, sekarang ada orang lain peduli sama Nindy pengen qm ambil jg😒😒
bunda syifa
bukan nya klo sandal emang ada pasangan nya y Bu, kiri sama kanan, masak iya mau d pakai cuma sebelah aja 😅😅😅
bunda syifa
ternyata emang dari awal si Ulfa tetap ular y Thor, aq pikir sempat berubah gt meskipun sebentar
Momy Haikal
segitu panik nya faiz ketika Nindy pergi sampai tidur yak nyenyak makan tak enak
Momy Haikal
aduh padahal nanggung itu
Momy Haikal
umi anakmu di aniaya😂
Momy Haikal
dari sini abah tau seberapa besar dua orang insan ini saling mencintai
Momy Haikal
lah kok takut 🤣🤣🤣😂
Momy Haikal
🤣😂🤣😂😂😂😂😂😂
Momy Haikal
ihh gemezzzzin
Momy Haikal
berarti faiz sebenarnya sudah suka sama Nindy sebagai gadis tirai sebelum faiz tau kalaw gadis yg dijodohkan Ilham adalah orang yang sama
Momy Haikal
🤣😂🤣 Nindy lucu bgd ya
Momy Haikal
o jadi ini mula nya arum takut liat mata faiz
Momy Haikal
gak aku baca surat nya.gakk kuattt😭😭😭😭😭
Momy Haikal
😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!