Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.
Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.
Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.
Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.
Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Partner Duet? Atau... Partner in Love?
Aroma semester baru telah menguar ke seluruh pelosok kampus. Para mahasiswa mengantri untuk bertemu dosen pembimbing akademik untuk berkonsultasi masalah pengambilan mata kuliah dan beban SKS yang harus dipenuhi selama satu semester.
Melodi, Lala, dan Panji sudah duduk antri di depan ruang dosen sejak tiga puluh menit yang lalu. Lala terlihat mulai tak sabar. Panji selalu terlihat cool dan santai, membuat beberapa mahasiswi —yang tampaknya baru— sesekali mencuri pandang ke arahnya. Melodi, selalu menunggu dengan sabar bersama gitar yang selalu dipetiknya tiap kali ada kesempatan.
"Mereka tuh di dalem pada konsul KRS atau konsul masalah hidup sih? Lama bener," kata Lala dengan nada kesal. Melodi menahan tawa.
"Lagian kamu kenapa nggak sabar banget sih? Santai aja. Kayak Panji tuh," kata Melodi sambil memetik gitarnya dan tersenyum.
"Panji mah tebar-tebar pesona. Lihat aja tuh! Dari tadi di senyumin MABA terooosss," kata Lala. Panji menoleh ke arah Lala.
"Kamu juga mau disenyumin MABA, La?" tanya Panji sambil menahan tawa. Lala mendengus kesal.
"Heran. Udah kuliah seni musik biar peluang ketemu cowok cakep banyak. Eeee... nggak ada satupun yang kayak Jung Kook," kata Lala. Melodi tertawa kecil.
"Siapa, La? Jongkok?" tanya Panji dengan nada meledek.
"Hih! Panjiii!"
Lala memukul-mukul lengan Panji, gemas. Panji meringis, cukup kesakitan menerima timpukan dari Lala. Melodi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dua sahabatnya.
Pintu ruang dosen dibuka. Seorang mahasiswa menoleh ke kiri dan ke kanan, tampak bingung. Dia lalu berjalan ke arah Melodi.
"Kak Melodi, diminta Pak Herman masuk," kata mahasiswa itu.
"Oh? Makasih ya," kata Melodi lalu berdiri dan menyerahkan gitarnya pada Panji.
"Aku masuk duluan," bisik Melodi pada Lala dan Panji kemudian berjalan memasuki ruang dosen.
"Jadi," kata Lala. Panji yang akan memetik gitar Melodi menoleh.
"Kalian dapet job reguleran di kafe baru?" lanjut Lala.
"Melodi yang dapet. Aku cuma diajakin," jawab Panji.
"Tuh anak beneran nggak sadar kalau dia itu master ya?" komentar Lala. Panji hanya tersenyum lalu mulai memetik gitar Melodi.
"Gitarnya selalu pas," komentar Panji sambil masih memetik gitar Melodi.
"Telinganya udah ada equalizer otomatisnya, Pan," kata Lala. Panji mengangguk setuju sambil tersenyum.
"Heran aja. Masih suka ngajakin aku kalau manggung di luar kampus," kata Panji. Lala menatap Panji.
"Kamu masih suka sama Melodi?" tanya Lala. Tangan Panji yang semula sibuk memetik dawai gitar seketika berhenti. Panji tertunduk beberapa saat. Pandangannya jatuh ke lantai gedung administrasi Fakultas Seni Pertunjukan.
"Aku rasa..." kata Panji sambil kembali menatap kepala gitar Melodi.
"Aku akan membiarkannya tetap seperti ini saja," lanjutnya sambil kembali memetik gitar Melodi, memainkan bagian chorus Senja Dalam Diam.
Lala menatap Panji yang sedang memainkan lagu ciptaan Melodi itu. Selama dua tahun ini dia selalu memperhatikan Panji dan Melodi. Lala sempat berpikir mereka bisa jadi pasangan yang ideal. Lala menghela napas panjang.
'Satunya nggak peka. Satunya terlalu hati-hati. Udahlah. Nggak bakal jadi,'
***
"Mas Bara!" seru Pak Rendi, saat melihat Bara memasuki Ruang Kopi.
"Pak Rendi, selamat atas dibukanya Ruang Kopi. Semoga sukses selalu," kata Bara, terdengar profesional.
"Terimakasih, Mas. Jangan terlalu formal lah, kan nggak lagi kerja," kata Pak Rendi sambil menepuk lengan Bara. Bara tertawa kecil.
"Bapak bisa aja,"
Pak Rendi terkekeh.
"Mari, mari, Mas. Kemarin kenapa nggak dateng sama Mas Abas sekalian?" tanya Pak Rendi sambil mengantar Bara ke pantri kafe.
"Oh... kemarin saya masih di kantor, Pak. Ngerjain proyek panti asuhan," kata Bara. Pak Rendi manggut-manggut.
"Agak lama Mas Abas kemarin. Sampe acara mau selesai baru pulang," kata Pak Rendi. Bara menaikkan kedua alisnya.
"Oh ya? Wow! Berarti Ruang Kopi bener-bener nyaman sampe bisa buat kakak saya betah disini," kata Bara sambil menyapukan pandangan ke seluruh kafe. Pandangan Bara terkunci pada sosok yang sedang duduk memangku gitar di panggung. Sudut bibir Bara sedikit terangkat saat melihat gadis bergitar yang duduk di panggung sambil memetik gitarnya.
"Mas Bara bisa aja. Kan yang desain Ruang Kopi ini Mas Abas. Masa' nggak nyaman sama ruangan hasil desainnya sendiri?" kata Pak Rendi sambil menepuk lengan Bara membuat Bara kembali fokus pada Pak Rendi.
"Eh, iya, Pak. Maksud saya, tumben aja Kak Abas bisa lama gitu di acara pembukaan tempat yang dia desain. Biasanya sampe acara inti peresmian aja trus pulang," kata Bara. Sekarang giliran Pak Rendi yang menaikkan alis, tak percaya.
"Berarti Ruang Kopi memang beda dari tempat-tempat lain ya, Mas," kata Pak Rendi sambil terkekeh. Bara ikut tertawa kecil sambil menatap panggung.
'Kayaknya saya tahu apa yang bikin Kak Abas betah, Pak,'
***
Bara masih duduk di pantri kafe setelah Pak Rendi pergi. Dia menatap lurus ke arah panggung. Melodi sudah membawakan beberapa lagu. Lagu apapun terdengar berbeda dari versi aslinya ketika Melodi menyanyikannya.
"Lagu selanjutnya, request dari salah satu pengunjung Ruang Kopi, Ten to Five - I Will Fly," kata Melodi lalu memetik gitarnya dan mulai menyanyikan lagu.
Bara tersenyum melihat Melodi dari jauh sambil menikmati lagu yang dibawakan Melodi.
"I will fly into your arms
to be with you
till the end of time
why are you so far away?
you know it's very hard for me
to get myself close to you..."
Bara melihat Melodi tersenyum pada pria yang memainkan gitar di sampingnya. Pria itu membalas senyuman Melodi. Saat Melodi sudah kembali fokus pada gitar, pria itu masih menatap Melodi dan tersenyum. Bara mengerutkan kedua alisnya.
"Tunggu," gumam Bara sambil terus mengamati Melodi dan pria di sampingnya.
Pak Rendi yang semula menyapa pengunjung lain kembali ke Bara.
"Gimana, Mas Bara? Keren kan penyanyinya?" tanya Pak Rendi sambil duduk di kursi sebelah Bara.
"Keren, Pak. Dapet darimana?" tanya Bara basa-basi.
"Oh, saya punya kenalan dosen musik. Saya minta tolong dia buat cariin mahasiswa yang oke buat ngisi acara pembukaan kemarin. Ternyata beneran dicariin mahasiswa yang paling keren di kampusnya," kata Pak Rendi sambil menatap Melodi yang masih bernyanyi. Bara manggut-manggut.
"Kalau cowok di sebelahnya itu?" tanya Bara.
"Oh... Itu temennya Melodi, yang lagi nyanyi. Mereka kayaknya sering manggung berdua deh. Chemistry-nya kelihatan banget," kata Pak Rendi. Bara menaikkan kedua alisnya.
Bara kembali menatap ke arah panggung. Dia kembali melihat Melodi dan teman prianya saling melempar senyum. Bara menutup mulut dengan tangan kanannya.
'Nggak. Jangan bilang... yang itu cowoknya?'
***
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Hafal bagian reffnya🤭
eaaa....🤭
bener2 plot twist nya..
jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪