Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Kenikmatan
Warning..!!
Memberi ijin Kean untuk menyentuhnya lebih membuat Jeviza merasa kewalahan sendiri. Kean tidak main-main, setelah mendapat kesempatan dari Jeviza sendiri, ia langsung menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin.
Sayangnya
Jeviza yang tadi dengan lantang menawarinya kini dilanda gelisah.
Jeviza belum siap, tetapi ingin lebih dari kecupan-kecupan yang Kean berikan di sekitar ceruk lehernya.
Suara kenikmatan itu pada akhirnya tidak bisa lagi Jeviza tahan, ia meloloskan suara desahan begitu saja saat tangan Kean meraba pada salah satu puncaknya yang masih terbalut baju tidur. Ada gelenyar aneh dan asing yang sulit untuk Jeviza tolak, bahkan saat tangan Kean berpindah tempat kembali pada lengannya, Jeviza kecewa, ia ingin Kean melakukannya lagi atau bahkan lebih.
"Kak," lirihnya disela-sela kenikmatan yang masih Kean berikan pada sekitar area leher.
Kean menghentikan aktifitasnya, ia menatap Jeviza dengan jarak wajah keduanya hanya sejengkal saja, tidak menjawab sampai Jeviza mengatakan sendiri apa yang diinginkan gadis itu. Kean tidak bodoh, ia tahu bagaimana reaksi tubuh Jeviza tadi ketika ia dengan sengaja meraba salah satu bagian puncaknya.
"Lagi," cicit Jeviza menahan malu mati-matian.
Setelah mengatakan itu, wajahnya sudah sangat merah, antara malu dan juga menahan gairah.
"Lo yakin? Lo ijini gue buat pegang, itu?"
Jeviza sempat terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menganggukan kepalanya.
"Bilang iya, Je."
Jeviza kesal, Kean sengaja sekali mempermainkannya, tetapi kepalang tanggung ia sangat penasaran dengan rasa asing yang begitu memabukannya tadi, meski singkat tetapi sangat membuat Jeviza merasakan ingin disentuh lebih.
"Iya."
Seringai terlihat di wajah Kean. "I'll be gentle, promise," bisiknya serak, liar oleh beratnya gairah yang selama ini ia tahan.
Jeviza tidak lagi menjawab, perasaannya mulai melayang seiring dengan sentuhan halus pada salah satu puncaknya yang masih tertutup, Kean sengaja bermain-main di sana untuk membuat Jeviza merasa menginginkan lebih, dan saat melihat wajah Jeviza yang sudah kembali dipenuhi gairah. Kean sengaja meremasnya, memberi sentuhan yang lebih kasar dari tadi, tetapi efeknya membuat Jeviza sampai mendongakan tubuhnya. Ini pertama kalinya untuk Jeviza, begitu juga untuk Kean.
Dulu, kedunya ketika masih berpacaran hanya sebatas peluk, dan lebih intim dari bertukar saliva, kenakalan masa remaja yang masih bisa dikatakan wajar untuk remaja berpacaran. Tetapi sekarang, keduanya melakukan yang lebih dari sekedar apa yang pernah mereka lakukan dulu. Status mereka saat ini pun bisa saja membawa mereka merasakan kenikmatan yang lebih dari saat ini.
Sengaja Kean memainkan dengan sangat lama, bergantian dari sisi kiri ke kanan, dan perlakuannya membuat Jeviza tidak bisa lagi menahan desahan yang sedari tadi Jeviza tahan dengan menggigit bibir bagian bawahnya.
"Kak, ih."
Perlahan Jeviza membuka matanya lagi, menatap nanar langit-langit kamar, sebelum akhirnya ia menatap Kean yang juga sedang menatapnya, keduanya sama-sama saling menatap satu sama lain, cukup lama sampai akhirnya suara Kean membuat detak jantung Jeviza berpacu dengan sangat brutal.
"Boleh, gue buka, Je?"
Sekali lagi, Jeviza mengangguk, entah keputusannya itu benar atau salah, yang jelas ia juga ingin merasakan sentuhan secara langsung dari Kean.
Setelah mendapat ijin, Kean mencium kening Jeviza dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang, lalu pandangannya semakin menunduk ke arah bibir, bermain di sana cukup dalam dan lama, bibir Jeviza terabsen dengan sempurna, sebelum akhirnya ciuman itu turun ke leher dan terus sampai bagian atas puncak Jeviza, tangan Kean terampil mulai menanggalkan kancing baju Jeviza satu persatu, sampai akhirnya kulit mulus Jeviza yang selama ini disembunyikan dari balik baju terpampang dengan nyata di depan matanya. Aroma tubuh Jeviza yang bercampur dengan stroberi memabukan Keandra.
Bahkan, saat masih ada satu penghalang yang menutupinya pun masih terlihat begitu indah. Kean berani bersumpah, milik Jeviza adalah keindahan yang akan segera ia rasakan.
Saat jemari Kean mulai mencari celah untuk masuk, dan bersentuhan langsung dengan gundukan mulus dan empuk milik Jeviza, seketika Kean dapat merasakan getaran pada tubuh Jeviza.
"Kak," lirihnya terdengar seperti desahan.
Sengaja Kean menekannya pada bagian yang mulai mencuat, ia memainkannya, memutarinya dan kembali meremas yang membuat Jeviza tanpa sadar menekan lengan Kean.
"Gue, buka ya?" bisik Kean tidak mendapat balasan Jeviza.
Jeviza terlalu sibuk dengan rasa nikmat yang baru ia rasakan. Ini kali pertama bagian tubuhnya disentuh oleh laki-laki, terlebih itu Keandra. Rasanya Jeviza tidak mau berakhir begitu saja, terlalu sayang jika Jeviza tidak benar-benar menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Keandra.
Dengan sekali tarikan, satu-satunya penghalang pada gundukan Jeviza kini terlepas. Sebuah pemandangan yang membuat Kean tertegun beberapa saat, seakan tatapan Kean pada setiap lekuk tubuh Jeviza sedang ia rekam untuk dikenang di memori otaknya. Terlalu indah, dan sungguh Kean tidak bisa untuk melepaskan begitu saja.
Melihat diamnya Kean di atasnya membuat Jeviza merasa seperti sedang diamati dengan sorot mata tidak biasa Kean. Masih ada rasa malu yang mulai melingkupi dirinya, saat tangannya ingin menutup bagian miliknya, dengan cepat tetapi masih sangat halus Kean tahan.
"No, i feel lost, this is too beautiful."
Pipi Jeviza seketika semakin merona.
Kean memujinya? Memuji aset miliknya.
Oh, Tuhan, apa yang harus Jeviza lakukan sekarang, membalas setiap kenikmatan yang ia berikan padanya, atau membiarkan Kean puas dengan segala yang akan dilakukan pada tubuhnya.
Saat salah satu gundukan miliknya terasa hangat karena tindakan tiba-tiba Kean yang memasukannya ke dalam mulutnya, Jeviza kembali mengeluarkan suara kenikmatan, tidak hanya itu, satu tangan Kean juga memanjakan salah satu gundukan miliknya yang tidak mendapat sentuhan bibir dari cowok itu. Kenikmatan itu berkali lipat, Jeviza tidak bisa lagi untuk berdiam diri, ia bahkan mulai mengacak rambut Kean, dari mulai menjambaknya, dan mengelus saat Kean memainkan lidahnya pada salah satu titik rangsang gundukannya.
Tidak ada lagi perasaan malu, canggung, atau tegang seperti biasanya, yang ada kenikmatan yang terus Kean berikan, sampai Jeviza merasa sesuatu asing dalam tubuhnya, perasaan yang membuat Jeviza malu untuk mengakuinya, tetapi ia tahu jika hampir mencapai puncak kenikmatan.
Sadar jika tangan Jeviza yang tidak bisa diam di atas rambutnya, Kean semakin memperdalam rangsangan pada gundukan Jeviza secara bergantian. Memilinnya, meremas dan terakhir menghisap sampai membuat Jeviza melenguh hebat. Sebelum akhirnya jambakan di rambut Kean terasa melemas.
Jeviza telah sampai pada puncak kenikmatannya untuk yang pertama kalinya.
Kean melepasnya, memberi Jeviza waktu untuk istirahat, meski ia belum ingin melepas dua gundukan yang membuatnya gemas dan ingin terus memainkannya, tetapi kesan pertama yang harus Kean berikan pada Jeviza selain kepuasan ialah, kelembutan.
Diamati oleh Kean dengan jarak yang begitu dekat membuat Jeviza merasa malu, apa lagi ia baru saja mencapai titik kenikmatannya.
"Je," lirih Kean membuat Jeviza mengerjap beberapa kali.
"Punya gue bangun."
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭