Arsi harus menghidupi kedua anaknya setelah di tinggal suaminya bekerja di luar Kota, Suaminya tak pernah pulang dan tidak mengirimkan uang, hingga membuatnya harus membanting tulang untuk menghidupi kedua anaknya. Saat ia bertekad menyusul sang suami ia harus mendapatkan kenyataan pahit suaminya sudah menikah lagi, ia bahkan tak mau menolongnya saat ia terserang asma hingga meninggal.
Arsi berjanji di kehidupan yang akan datang dia akan membalas suaminya, dan Tuhan pun mendengar doanya, ia pun di berikan kesempatan kedua. Lalu bagaimana pembalasan Arsi kepada suaminya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan pertama
Semua karyawan langsung berhenti bekerja dan memberikan salam kepada Clarisa saat wanita itu memasuki klinik. Wajah cantik dan senyumnya yang menawan memancarkan aura elegan yang membuat siapa pun terpesona melihatnya. Sepatu hak tinggi berwarna nude yang ia kenakan menimbulkan bunyi khas setiap kali menapak lantai marmer, tegas dan berwibawa.
Winda tak berkedip menatap wajah ayu di depannya. Ia tak mengira jika Clarisa Idris benar-benar seorang model papan atas. Di samping parasnya yang mempesona body nya pun terlihat begitu ramping seperti artis korea. Kulitnya mulus, rambut panjangnya bergelombang lembut, bibirnya merah alami tanpa terlihat berlebihan.
"Cantik, kaya, body goal, kurang apalagi dia… kok bisa-bisanya James berselingkuh dengan seorang pelac*r miskin seperti Arsi," gumam Winda lirih, tapi jelas.
*Deg!
Jantungnya serasa melompat ketika Clarisa tiba-tiba menatap ke arahnya dengan senyum ramah.
"Selamat siang," sapa Clarisa dengan suara lembut tapi berwibawa.
"Siang," jawab Winda kikuk, suaranya nyaris tak terdengar.
Ini kesempatan emas. Ia harus memanfaatkan momen langka ini. Kapan lagi bisa bertemu langsung dengan Clarisa Idris, model, pengusaha sukses, sekaligus istri dari James, pria yang membuatnya kesal karena membantu musuhnya Arsi.
Tapi sebelum sempat membuka mulut, Clarisa sudah melangkah menjauh.
"Selamat menikmati pelayanan kami, semoga memuaskan," ucapnya sopan sebelum berbalik menuju ruang kerjanya.
Winda hanya bisa menatap punggung anggunnya yang menjauh, seraya menggigit bibir. Ia harus mencari cara lain untuk mendekati wanita itu, tentunya untuk membocorkan semua rahasia yang selama ini ia pendam tentang Arsi dan James.
Sementara itu, di sisi lain kota, Arsi duduk gugup di ruang wawancara sebuah perusahaan kecil. Tangannya berkeringat, namun matanya berbinar penuh harapan. Setelah melalui masa-masa sulit, akhirnya ada peluang untuk memulai hidup baru.
Ia tersenyum lega ketika pewawancara mengulurkan tangan dan berkata,
"Selamat ya, kamu kami terima. Mulai besok bisa langsung bekerja."
"Alhamdulillah, terimakasih banyak pak?" Arsi menahan napas, ia benar-benar senang hingga tak bisa berkata-kata.
Begitu keluar dari ruangan, Arsi hampir melompat kegirangan.
"Syukurlah, akhirnya aku bisa mulai bekerja besok. Dengan begitu aku bisa punya penghasilan sendiri," ucapnya lirih sambil menatap langit cerah.
Hidupnya mulai terasa punya arah lagi. Ia bisa membiayai sekolah Arya, anak kecil yang selama ini menjadi satu-satunya semangat hidupnya.
Selesai wawancara, Arsi langsung menuju sekolah Arya. Ia ingin menjemputnya lebih awal. Sekolah itu masih sepi. Tak banyak wali murid yang datang. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma dedaunan kering yang jatuh di halaman.
Arsi melirik jam tangannya.
"Lima belas menit lagi," bisiknya pelan.
Bel panjang berbunyi, menandakan waktu pulang telah tiba. Arsi segera berdiri di sisi gerbang, menatap ke arah bangunan kelas. Tak lama, satu per satu anak-anak keluar sambil tertawa riang. Mobil-mobil mewah mulai berhenti di parkiran. Suara orang tua memanggil anak-anaknya memenuhi udara.
"Mamah!"
Arsi menoleh spontan. Tapi wajahnya menegang sesaat setelah tahu suara itu bukan milik Arya. Ia tersenyum kecil, lalu kembali menunduk menatap ponselnya.
Namun tiba-tiba suasana menjadi hening. Seolah seluruh udara di sekitar menegang. Tak ada lagi suara gosip dari para ibu-ibu. Tak ada tawa anak-anak. Semua pandangan mengarah ke satu titik.
Arsi mendongak.
Seorang wanita berjalan anggun melewati kerumunan. Rambutnya disasak rapi, gaun putih gadingnya berkilau di bawah sinar matahari sore. Tas branded tergantung di lengannya. Tatapan matanya tajam dan percaya diri.
Arsi menelan ludah. Jantungnya berdentum kencang, seolah hendak menembus dadanya.
"Siapa dia, kayaknya aku belum pernah melihatnya?"
Clarisa berhenti tepat di depannya. Wangi parfumnya menyeruak, lembut tapi menusuk.
Arsi mencoba tersenyum, mengangguk sopan dan menyapanya.
"Selamat siang."
Tapi Clarisa hanya meliriknya sekilas, tanpa membalas senyum itu. Tatapannya datar, dingin, tapi menyiratkan sesuatu, seperti sedang menilai, mengukur, dan memeriksa.
“Mamah!”
Suara kecil membuat keduanya menoleh bersamaan.
Vio berlari kecil ke arah mereka, diikuti oleh Arya di belakangnya.
"Sayang?" Clarisa membuka lengannya lebar, bersiap memeluk putrinya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Vio justru berlari dan memeluk pinggang Arsi dengan erat.
"Momy??" suara Arsi tercekat. Ia menatap bingung pada Vio, lalu ke arah Clarisa yang berdiri beberapa langkah darinya.
Jika dia memanggilnya Momy berarti wanita itu adalah ibunya dan dia adalah istri Mas James??.
Mata Clarisa membulat tipis, lalu sebuah senyum merekah di wajahnya, senyum yang terlalu manis untuk disebut tulus.
"Kejutan!" ucapnya lembut tapi dengan nada menggoda.
"Momy sengaja datang hari ini buat jemput Vio. Spesial banget, kejutan kecil dari momy untuk anak kesayangan momy. Gimana... Vio suka ti6 kejutan dari momy?"
Suara Clarisa lembut, tapi ada sesuatu di baliknya, seperti belati yang disembunyikan di balik bunga mawar.
Vio menatapnya tajam. Matanya berkaca-kaca.
"No, I dislike it, I hate you, Aku benci momy, Momy jahat!” teriaknya keras.
Semua orang terdiam. Beberapa wali murid menutup mulut menahan kaget.
Clarisa berdiri kaku. Tapi sesaat kemudian, ia tersenyum lagi, kali ini lebih halus, seperti berusaha menutupi luka yang dalam.
"Sorry, Vio. Momy tahu kamu masih marah sama momy gara-gara momy tidak datang ke pesta ulang tahunmu waktu itu. Momy minta maaf. Momy janji itu tidak akan pernah terjadi lagi. Momy sadar sekarang kalau cuma Vio satu-satunya kebanggaan momy. Vio mau kan maafin momy?"
Arsi menatap keduanya, tak tahu harus bagaimana. Hatinya terasa perih. Ia tahu gadis kecil itu terluka. Ia juga tahu luka itu berasal dari ibu kandungnya sendiri.
Suasana hening.
Clarisa berlutut, mencoba meraih tangan Vio, tapi gadis kecil itu menepisnya kasar.
"Jangan sentuh aku, Aku mau sama Tante Arsi!"
Kata-kata itu menusuk. Clarisa menahan napas, tapi tetap tersenyum, seolah tak terguncang.
"Oh begitu, jadi kamu lebih sayang sama Tante Arsi, ya daripada mony?" katanya pelan sambil menatap tajam ke arah Arsi.
Arsi kaku. Ia berusaha tersenyum meski wajahnya memucat.
"Jangan salah sangka nyonya, maklum saja dia masih kecil jadi belum tahu mana yang benar dan yang salah, saya janji akan memberinya pengertian," ucap Arsi
"Saya tahu," potong Clarisa halus.
"Aku tahu kamu orang baik, kan. Kamu juga selalu siap membantu siapa pun, terutama anak-anak kecil yang butuh perhatian."
Nada suaranya terdengar lembut, tapi tatapan matanya menyala.
Beberapa orang tua mulai berbisik-bisik, mencium aroma perseteruan yang tak biasa.
Arsi pun kemudian pergi meninggalkan Clarisa bersama Vio dan Arya.
Tentu saja itu membuat Clarisa sedikit kesal. Bagaimana bisa Viola justru memilih pulang bersama wanita asing yang jelas-jelas bukan ibunya. Apa yang membuat wanita itu spesial, hingga bisa membuat putrinya menyukainya. Padahal Vio adalah anak yang susah di dekati. Clarisa berusaha menahan emosinya, Namun siapa yang bisa membiarkan musuhnya pergi begitu saja.
"Tunggu!" ucapnya dengan suara tegas
Ia tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat.
"Jadi kamu yang bernama Arsi, wanita yang berusaha mendekati suamiku, dan sekarang kamu berusaha mendekati putriku juga??"