Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Bolos
Metallo tak puas dengan jawaban yang dikemukakan mereka, oleh karena itulah ia balik bertanya, namun kali ini sangatlah berbeda sebab pertanyaan itu bukan ditujukan kepada kelompok enam melainkan untuk Pak Sil.
“Pak, benarkah apa yang mereka jawab itu?” tanyanya dengan raut wajah cemberut.
“Metallo... Kamu terima atau tidak!" tegas Pak Sil.
“Pak, memilih satu diantara kedua pilihan sangatlah berat bagiku karena diriku tak tahu apa-apa tentang materi ini, maka dari itu saya mohon penjelasan dari Bapak," pintanya
“Apakah anda hendak mencobaiku? Semoga tidak,” pinta Pak Sil yang mengetahui betul bahwa Metallo sangatlah pintar. Dari manapun ia dapat menimbah ilmu hanya saja tingkahnya sulit untuk dirubah.
“Pak, aku memang telah mempelajari materi Revolusi. Tapi tentang ini... Diriku tak pernah mendalaminya secara mendalam,” keluhnya penuh kepolosan.
Seluruh siswa yang berada di dalam ruangan itu tertuju menatapnya, dilain sisi mereka juga tidak tahu sama sekali sehingga mereka hanya berharap penjelasan dari Pak Sil.
Akhirnya Pak Sil mengalah dan menjelaskan isi penting dari Revolusi Prancis (Liberte, Egalite dan Fraternite).
Setelah selesai diskusi pada jam pertama dirinya pun langsung pergi meninggalkan lembaga tanpa terpikirkan olehnya bahwa mata pelajaran jam kedua dan ketiga belum diselenggarakan.
"Selamat siang akak-akak, bersiaplah untuk berdiskusi," sapa Ibu Leni sembari menyodorkan buku absen kepada Nia.
Melihatnya semua siswa berdiri dan memberi hormat kepadanya, "Siang, Bu."
Ibu Leni merupakan guru Bahasa indonesia mereka, sifatnya yang sangat lembut membuat beberapa siswa yang berada disitu sangat manja kepadanya, hingga terkadang mereka tak menghargai dirinya namun dengan pola perilaku yang dimilikinya membuat siswa sangat dekat padanya melebihi hubungan darah antara orangtua dan anak.
Mendengarkan arahannya beberapa siswa mulai membentuk kelompok, beda halnya dengan Dabllo dan Festo. Keduanya terlihat sangat santai bersenda gurau tanpa mempedulikan arahan dari Ibu Leni.
"Materi apa yang akan kita pelajari hari ini?" tanya Festo kepada Dabllo yang duduk disamping kanannya.
"Mana mungkin aku tahu, kita ikuti saja perintah Ibu lebay itu," cetusnya.
Ibu Leni yang berada tidak jauh darinya mendengar jelas apa yang Dabllo katakan sehingga membuatnya sangat tersinggung. Dia membalikkan badan serta menatap mereka berdua secara bergantian dengan tatapan yang sangat geram, "apa yang kalian katakan?"
"Oh... Kami tidak mengatakan apa-apa, Bu," pinta Festo sembari mendorong meja yang berada di depannya dan tak mau menghiraukan Ibu Leni.
"Dengarkan aku dulu," pintanya karena melihat Festo yang sangat menyepelekan pertanyaanya. Dia kemudian mencubit telinga Festo, "Apa yang kalian katakan?"
"Sakit, Bu... Sakit," Festo menjerit kesakitan karena cubitan Ibu Leni sangat kuat.
Dabllo tersenyum mengejek Festo, "Cubit terus, Bu," gledeknya.
"Diam kamu! Engkau pikir tidak mendapatkan sangsi yang sama dengannya!" tegas Ibu Leni menatap Dabllo dengan raut wajah yang sangat geram.
*****
"Ah... Hari ini sungguh menyenangkan, walau sedikit menyebalkan melihat tingkah Pak Sil," pintanya seraya berjalan menuju ke pintu keluar dari gerbang sekolah mereka.
Seperti biasanya jikalau ia ingin pulang terlebih dahulu, maka jalan satu-satunya yang harus ia lalui ialah harus pergi ke kantin yang berada di depan sekolah mereka dengan alasan membeli pulpen atau buku tulis hingga mudah-mudah saja bagi dirinya untuk mengelabui Bapak/Ibu guru piket yang menjaga di depan gerbang sekolah.
Dari kejauhan terlihat dua orang guru yang menjaga pintu gerbang itu hingga membuatnya sedikit merasa canggung untuk bisa melewati kedua guru itu.
"Itu Pak Rian, siapa yang berada di sebelahnya?" gumannya pelan.
"Metallo, mau kemanakah engkau?"tanya Pak Sil yang merasa sedikit ragu melihat tingkah Metallo.
'Dia lagi, dia lagi. Kenapa harus dia ditugaskan menjadi piket, bukankah dia guru baru yang tidak memiliki jadwal piket hari ini?' batinnya. Ia menundukkan kepalanya sesaat sebelum menatap keduanya dengan tatapan yang sangat sinis, "Kalau bukan ke kantin, kemana lagi Pak?"
Pak Sil mulai bangkit dari duduknya serta mantap Metallo tajam, "Bukankah belum waktunya untuk istrahat?" tanyanya.
Metallo mengerutkan dahinya serta mantap Pak Sil dengan tajam sebelum mengalihkan pandangannya pada jam dinding yang berada di depan kantor, "Lihat itu Pak, memang belum waktunya untuk istrahat," pintanya sembari menunjuk ke arah jam itu berada.
Raut wajah Pak Sil seketika menjadi geram, tatapannya terhadap Metallo jadi berapi-api seakan amarahnya tak dapat ditahan lagi untuk memberikan pelajaran kepada Metallo. Deda halnya dengan Pak Rian yang dari tadi membaca koran tanpa menghiraukan keduanya.
Melihat tingkah Metallo yang seenaknya terhadap Pak Sil diapun mulai bangkit dari duduknya, "Apa yang kamu lakukan disini? Cepat masuk ke dalam ruangan kelasmu dan ikuti pelajaran!" tegasnya dengan nada yang sangat tinggi.
"Tenang dulu Pak, aku tidak akan melakukan apapun disini."
"Sebenarnya apa yang engkau mau? Mata pelajaran jam kedua telah dimulai dan jikalau engkau tidak mau mengikuti mata pelajaran jam kedua, maka Bapak akan menghukum engkau berlutut di depan lapangan apel itu sampai waktu belajar di sekolah selesai!"
Pak Rian hendak mengancamnya hingga membuatnya merasakan keraguan yang sangat dalam, 'Berlutut... Tidak... Apapun alasannya aku harus pulang ke rumah,' benaknya sembari menatap mereka berdua secara bergantian.
"Pak, ijinkan aku ke kantin untuk membeli pulpen sebab tinta pulpen yang kumiliki telah habis," pintanya.
"Cepat! Aku tetap mengawasi engkau dari jauh," pinta Pak Sil kepadanya dengan nada yang datar.
"Iya, Pak," jawabnya seraya melangkah menuju ke kantin.
Walau itu merupakan kantin sekolah mereka namun di kantin ini tidak hanya menyediakan makanan ringan untuk siswa, melainkan juga buku tulis dan beberapa perlengkapan lainnya yang sangat dibutuhkan untuk kegiatan belajar-mengajar.
"Sial... Aku harus mengikiti mata pelajaran yang diajarkan oleh guru yang sagat menyebalkan," gumannya seraya berjalan pulang dari kantin menuju ke sekolah mereka dengan sangat lambat.
"Metallo... Cepat masuk!" tegas Pak Sil dengan nada yang tinggi sehingga dia yang cukup jauh dari mereka berdua mendengar jelas ujaran Pak Sil.
Dia menggigit bibir bawahnya sedangkan tatapannya tetap tertuju pada jalanan dan tak mau menjawab Pak Sil.
"Terima kasih telah mengijinkan aku ke kantin," pintanya kepada Pak Sil dan Pak Rian.
"Iya sama-sama," pinta mereka berdua secara bersamaan.
"Cepat masuk, iya. Mata pelajaran jam kedua telah dimulai," pinta Pak Rian kepadanya dengan nada bicara yang sangat datar, sedangkan sorotan mata Pak Sil menatapnya yang melangkah menuju ke ruangan kelasnya dengan sangat geram.
***Teman-teman semoga kisah ini dapat menghibur kalian semua diwaktu luang.
Mohon Doa dan dukungan dari teman semuanya agar apa yang aku paparkan ini dapat berguna dan bermanfaat untuk kita semua.
Selamat berakrivitas semoga kisah yang rampung ini dapat menghibur dan juga dapat membuat teman-teman sekalian merasa senda dengan apa yang aku bubuhkan.
Yu... Ikuti terus dan dukung karya ini ya teman sekalian... Jagalah diri kalian dimanapun kalian berada sebab kita tidak tahu kapan dan dimana akhir dari perjalanan hidup di dunia yang fana ini... Semangat dan tetap semangat walau terkadang jiwa membeku... Raga luluh... Hasrat mati... [Tersenyumlah untuk menutupi semua luka uang mengusik benak***]
SALAM SHANTUN🙏🙏🙏
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??