Semenjak Kamu pergi.. Tak tau bagaimana lagi harus menata hati ini. Hancur berkeping terasa hampa tanpa kamu disini. Begitu sakitnya hati, membelenggu jiwa yang entah sampai kapan akan berakhir. Aku sangat menyayangimu Yara, kini aku kehilanganmu, kamu tinggalkan ku bersama dua buah hati kita hingga aku menemukanmu Zalfa Arshila.
Seluruh yang ada pada dirimu tak ubahnya seperti Yara istriku yang telah tiada. Bayangan Yara melekat kuat dalam dirimu. Tapi kusadari.. Shila dan Yara adalah dua orang yang berbeda. Apa rasaku ini karena kedua anak ku atau kah kamu memang mengisi ruang hatiku.. Yang jelas saat ini yang kutahu.. ada sosok baru di hidupku, yaitu kamu Zalfa Arshila.
Lanjutan Kisah cinta Kapten Rivaldi Alfario. Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Hadapi aku dulu!!
"Kenapa bang?"tanya Shila melihat Rival dengan wajah waspada.
"Nggak apa-apa. Ayo makan lagi!!"
***
Arben dan Abrian sudah di rumah. Mereka berlarian kesana kemari padahal hari sudah malam. Sekarang mereka dua kali lebih aktif. Shila begitu repot membereskan peralatan makan usai makan malam ini.
"Arben..Abrian.. Jangan lari disana!!!! Awas kalau sampai kalian menabrak mama" ancam Rival keras.
Rival sedang menelepon Oka untuk persiapan kunjungan kerja ke Batalyon esok lusa.
pyaaarrrrr.....
"Dek!!!!!!!" Rival sangat kaget dan langsung meletakkan ponselnya begitu saja, ia bergegas menuju dapur.
"Kenapa ini???" tanya Rival tegas menatap Arben dan Abrian.
"Sudah bang, Shila tadi jalan tidak imbang, makanya piringnya jatuh dan pecah" jawab Shila memunguti pecahan piring.
"Abang saja yang bereskan. Kamu istirahat..masuk kamar sana!!! ( perintah Rival untuk Shila ) dan kalian cepat cuci kaki, gosok gigi.. pergi tidur sekarang juga!!!! (perintah Rival pada kedua putranya )" Rival berjongkok ikut memunguti pecahan piring itu.
Kedua anak Rival yang takut pada papanya segera melaksanakan perintah tanpa tunggu waktu lama.
"Sudah sana dek" Rival mengulang perintah nya pada Shila tapi sekarang lebih lembut.
sshhh...
Shila mendesah pelan mengangkat sebelah kakinya. Darah mengucur dari sela kakinya.
"Astagfirullah....Dek!!!!" pekik Rival mengulang jelas arah pandangannya. Detak jantungnya buyar seketika.
-_-_-_-_-
Oka dan Arshen ngopi di sebuah kedai. Oka tersenyum lebar saat matanya melihat Melati ada disana.
"Dek!" sapanya.
"Abang!! Bisa nongkrong bang??" tanya Melati.
"Bisa.. kamu sedang apa disini?" balik tanya Oka.
"Jaga warung kopi bang kalau malam" jawab Melati.
"Malam bahaya buat perempuan. Kamu lihat pelangganmu itu rata-rata supir angkot, supir truk"
"Tuntutan hidup bang"
"Kenapa tidak kawin saja" goda Oka.
"Siapa yang mau kawin sama Melati bang. Orang kecil, hanya lulusan SD" kata Melati.
"Kalau mau sama Abang aja" Oka tidak hentinya bicara hingga Arshen harus menginjak kaki Oka.
"Diam Oka!! Jangan sembarangan bicara" bisik Arshen.
"Perasaan Abang nggak enak" kata Arshen.
"Laki itu pakai pikiran bang, jangan pakai perasaan" ejek Oka.
"Terserah kau lah"
-_-_-_-_-
Rival membalut luka di kaki Shila lalu memakaikan plester di kakinya.
"Kamu buat Abang jantungan dek. Abang kira itu darah ngalir dari sendang punya Abang"
"Abang iihhh.. ngecek kok maksa" gerutu Shila.
"Abang nggak maksa. Abang cuma memastikan aja"
Flashback on
"Buka dek!! Abang lihat!!" kata Rival mengangkat dress panjang Shila.
"Malu lah bang!! Bukan itu kok" kata Shila.
"Terus apa dek????" kata Rival menurunkan dress Shila lagi.
"Kaki Shila bang" Shila meringis sakit.
"Ya ampun.. tingkah anak-anak ini" kesal Rival.
Rival menarik kursi agar istrinya bisa duduk lalu dia mengobati luka Shila.
"Makanya kalau di rumah jangan pakai dress sepanjang ini. Hhhh...gerah Abang lihat dressmu. Apalagi perutmu sudah besar dek. Bahaya..!!!!" gerutu Rival sambil membersihkan luka Shila akibat menginjak pecahan piring.
"Maaf bang"
flashback off
-_-_-_-_-
Shila bersiap untuk tidur, ia membuka selimut nya. Rival masuk ke dalam kamar melihat pemandangan Shila yang sedang memakai gaun malam satin tertutup kimono nya.
Perasaan Rival deg degan tidak karuan melihat penampilan Shila yang sangat sexy menggoda. Shila sedikit lebih rapat menutup kimononya.
"Abang suka sekali kalau kamu mau memancing Abang seperti ini terus setiap hari. Tidak ada yang ditutupi. Abang akan lebih semangat kerja."
Rival mencium bibir Shila lembut, tangannya memencet saklar, membuat lampu menjadi remang-remang. Nafas Rival memburu kencang.
"Masih sakit apa nggak dek" bisik Rival dengan suara parau penuh harap.
Shila mengalungkan tangannya di belakang leher Rival sengaja membuat seribu rasa penasaran.
"Ayolah dek, cepat jawab! Nggak kira-kira ini Abang nahannya" kesal Rival.
"Shila nggak apa-apa bang, kemarin hanya keram biasa" jawab Shila.
"Siipp.. luncurkan rudal" senyum licik Rival.
''''''''''''''''''''''
""""""""""'
Rival berada dalam puncak nya menikmati semua sensasi yang ada. Suara kecil lenguhan Shila membuatnya semakin beringas.
ddrrttt.. ddrrttt...drrrttt
"Astaga.. siapa malam begini menelepon!" kesal Rival sambil mengangkat telepon saat terlihat ada nama Nathan disana.
"Lama amat lu. masih jam sembilan nih"
"Ada apa sih" suara berat Rival yang masih bermain di atas Shila tidak bisa ia sembunyikan begitu saja.
"Apel brooo... siaga ada kerusuhan. Kamu dengar nggak? Apel sekarang juga!!!!" kata Nathan menegaskan sekali lagi. Tidak ada jawaban dari Rival, tapi ponselnya tidak mati.
Samar terdengar di telinga Nathan kegiatan panas Rival.
/// "Cepat bang. Abang di tunggu" bisikan Shila yang di dengar lamat oleh Nathan.
"Sedikit lagi sayang, sakit semua kalau Abang nggak selesai"
Beberapa saat kemudian tubuh Rival menegang, ia menghentak dan melenguh menyelesaikan semua.
"Sudah dek.. Abang sudah selesai" ucapnya dengan nafas yang belum teratur ///
***
"Darimana saja kamu???" tegur Komandan.
"Siap salah"
"Darimana????"
"Ijin menidurkan anak-anak" kata Rival.
"Menidurkan anak-anak atau meniduri mamanya anak-anak????" kata Komandan. Wajah Rival mulai memerah.
"Siap.. menidurkan anak-anak" ulang Rival lagi.
"Di atas ranjang atau di atas perut???" gertak Komandan.
Sesama perwira di ruangan itu sudah tertawa pasalnya saat menghubungi Rival tadi, ponsel Nathan di loudspeaker. Tak tertahan Rival menahan malu.
"Siap salah"
-_-_-_-_-
"Bisa-bisanya lagi main tapi nggak matikan ponsel" tegur Nathan.
"Kalau sudah begitu mana ingat hal yang lain. Seharusnya lu yang matikan ponsel. Bukan tambah nguping. Nggak ada akhlak. Kurang ajar lu" kata Rival.
"Ijin Dan.. penyerbuan sudah sampai di depan Batalyon" suara HT mengagetkan Rival dan Nathan.
"Cabut!!!" perintah Rival.
***
Sudah terjadi perkelahian antar dua kubu warga. Mereka mencari mati karena berkelahi dan saling serang di depan Batalyon. Rival menurunkan anak buahnya untuk turun ke lapangan.
Tak disangka ada beberapa dari mereka menerobos penjagaan kesatrian. Perhatian Rival teralihkan karena warga tersebut menuju ke arah rumahnya, karena rumah perwira berada di barisan bagian depan.
"Amankan depan. Saya tangani yang di dalam" perintah Rival.
Rival menembak ke arah kaki seorang pria yang berhasil mengendap ke arah rumah nya.
"Aneh..!!" batin Rival.
Pria itu ikut mengacungkan senjata.
"Kamu punya senjata ilegal??? Apa tujuanmu???"
.
.