NovelToon NovelToon
The Last Retryer

The Last Retryer

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Epik Petualangan / Game / Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjar Sutrisno

Arraitz, seorang remaja penggemar game yang tinggal di dunia modern, secara tak sengaja terhisap ke dalam sebuah game misterius bernama Chrono Trials—sebuah RPG kuno yang tak pernah tercatat di manapun. Saat ia menekan tombol "START", dunia di sekelilingnya berubah menjadi Terranova, sebuah semesta digital yang penuh keajaiban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjar Sutrisno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Dermaga Timur

(Masih) Hari ke-199

Langit Port Vandis berangsur memutih, kabut tipis yang menggantung di sekitar pelabuhan perlahan menghilang, memperlihatkan jajaran kapal dagang yang berlabuh. Beberapa buruh pelabuhan tampak sibuk menurunkan peti-peti kayu besar dari lambung kapal, sementara suara camar terdengar bergaung di udara.

Arraitz dan kawan-kawannya tiba di dermaga timur. Suasana di sini berbeda dari pusat kota. Aroma garam laut yang tajam dan desau ombak menenangkan hati, namun ada juga desas-desus rahasia yang seakan terjalin di antara papan-papan kayu tua dermaga.

“Dermaga ini… seolah punya napasnya sendiri,” kata Elric sambil menatap ke laut lepas. “Tenang, tapi menyimpan kekuatan.”

PixBit melayang rendah, matanya berputar seolah memindai seluruh area. “Master, banyak aktivitas yang mencurigakan di sini. Sebagian besar kapal dagang tidak terdaftar di log pelabuhan resmi.”

Lyra menatap sebuah kapal besar yang baru saja berlabuh. “Mereka berdagang di luar jalur resmi? Bukankah itu ilegal?”

Arraitz mengangguk, matanya menyipit. “Mungkin. Tapi bagi kita, ini kesempatan untuk mendengar kabar dari dunia luar… atau kabar yang tak pernah sampai ke pusat kota.”

Mereka berjalan di sepanjang dermaga, langkah kaki mereka bergema di atas papan kayu yang basah oleh embun pagi. Mereka berhenti di sebuah kedai teh kecil yang berdiri di antara dua gudang tua. Di sana, para pelaut berkumpul sambil meminum teh hangat dan membicarakan perjalanan mereka.

Seorang pelaut tua dengan janggut kelabu tampak sedang membersihkan cangkir teh di sudut kedai pelabuhan. Ketika Arraitz dan timnya masuk, lelaki itu menoleh, matanya menatap mereka penuh rasa ingin tahu. Angin laut yang menusuk dari luar membuatnya tampak seperti bagian dari dermaga itu sendiri—seperti seorang penjaga tak resmi yang diam-diam memelihara rahasia lautan.

Ia mengangguk pelan, senyum tipis membentuk kerutan di wajah tuanya. “Selamat pagi, para petualang,” ucapnya, suaranya berat dan penuh wibawa. “Kalian mencari sesuatu di sini?”

Arraitz membalas senyuman itu dengan tenang. Cahaya lampu gantung di atas meja kayu memantulkan kilau pada Gauntlet of Retryer di tangan kirinya, dan ia merasakan, entah bagaimana, bahwa pelaut tua itu memperhatikannya lebih lama dari yang semestinya. “Kami mencari informasi,” katanya akhirnya. Suaranya terdengar tenang, namun ada urgensi di balik kata-katanya. “Kata orang, dermaga ini adalah persimpangan segala kabar—dan kami sedang mengejar jejak artefak kuno. Sesuatu yang mungkin belum banyak orang ketahui.”

Pelaut tua itu berhenti membersihkan cangkirnya. Ia menyipitkan mata, menatap Arraitz dalam-dalam, seolah menimbang kata-kata yang baru saja didengarnya. “Artefak kuno…” gumamnya pelan. “Kau bicara soal legenda, Nak. Banyak kapal yang membawa cerita dari lautan—tapi tak semuanya layak dipercaya.”

Elric, yang berdiri di samping Arraitz, mencondongkan tubuhnya ke meja. Ia tampak tenang, namun matanya memancarkan rasa ingin tahu yang hampir menular. “Apa kau pernah mendengar tentang artefak Chrono?” tanyanya. Suaranya lembut, namun ada tekanan yang tak bisa disembunyikan. “Sesuatu yang bukan sekadar harta karun biasa—sesuatu yang bisa mengguncang waktu itu sendiri.”

Pelaut itu meneguk tehnya perlahan, lalu meletakkan cangkirnya dengan bunyi lembut. Matanya tampak jauh, seperti menatap ombak yang tak terlihat. “Chrono’s Echo…” katanya akhirnya, suaranya bergetar seperti ombak di malam yang sunyi. “Sebuah pusaka yang konon dapat membuka gerbang antara waktu dan mimpi. Aku pernah mendengar kisahnya, meski hanya sepenggal cerita yang dibawa angin.”

Arraitz menahan napas, merasakan debaran halus di dadanya. Ia tahu, ini lebih dari sekadar desas-desus.

“Katanya,” lanjut si pelaut, menatap Arraitz dan Elric satu per satu, “artefak itu pernah singgah di Port Vandis. Dibawa oleh seorang kapten kapal bayangan—sosok yang tak punya nama, tak pernah mengibarkan bendera apa pun. Mereka muncul ketika kabut menutup bulan, membawa peti-peti misterius, lalu menghilang tanpa jejak. Orang-orang menyebutnya kapal bayangan, kapal yang hanya muncul untuk mereka yang berani mendengar bisikan waktu.”

Lyra, yang berdiri sedikit di belakang, terhanyut oleh kisah itu. Matanya membesar, menatap pelaut tua itu seakan ingin menelusuri semua detail yang belum terucap. “Kapten kapal bayangan…” bisiknya. “Apa maksudmu? Mereka benar-benar wujud atau hanya bayangan yang lahir dari cerita pelaut?”

Pelaut itu tertawa pelan. Suaranya serak, namun di balik tawa itu ada rasa hormat yang dalam—mungkin untuk misteri yang tak akan pernah terpecahkan. “Siapa yang tahu?” katanya sambil memandang keluar jendela, ke laut yang berkilau diterpa cahaya pagi. “Mungkin hanya dongeng. Mungkin mereka memang nyata. Tapi dengar ini, para petualang—beberapa orang bersumpah bahwa kapal itu masih berlabuh di suatu tempat. Menunggu… hingga saat yang tepat tiba.”

PixBit berkedip, menyimpan setiap kata dalam databasenya. “Master, legenda ini cocok dengan catatan lama tentang Chrono’s Echo. Aku mendeteksi beberapa kesamaan deskripsi.”

Arraitz menyentuh dagunya, merenung. “Kalau benar artefak itu pernah berada di sini, kita harus tahu di mana kapal bayangan itu terakhir terlihat.”

Pelaut itu menunjuk pelabuhan lama di ujung dermaga. “Coba temui Errol. Dia kapten kapal nelayan yang dulu sempat melihat kapal bayangan itu muncul di antara kabut. Dia jarang bicara banyak, tapi jika kalian sabar, mungkin dia akan berbagi lebih banyak.”

Lyra berterima kasih pada pelaut tua itu. “Terima kasih atas kebaikanmu,” katanya dengan tulus.

“Jaga dirimu,” kata pelaut itu sambil menepuk bahu Arraitz. “Laut ini tak hanya memakan kapal, tapi juga mimpi mereka yang tak waspada.”

Mereka berempat keluar dari kedai teh, suasana di luar terasa lebih suram meskipun matahari sudah tinggi. Dermaga timur kini menjadi titik awal bagi petualangan baru—jejak samar kapal bayangan yang bisa saja membawa mereka ke jawaban tentang artefak Chrono, atau menjerumuskan mereka ke rahasia yang lebih gelap.

Arraitz menatap laut yang tenang. “Mari kita temui Errol,” katanya tegas. “Satu langkah lebih dekat ke misteri Chrono’s Echo.”

Dan demikian, langkah-langkah mereka kembali bergema di atas dermaga kayu, menandai awal dari pencarian yang bisa mengubah arah takdir mereka di Port Vandis.

...----------------...

Jejak di Balik Kabut

Langkah mereka membawa Arraitz dan kawan-kawan ke pelabuhan lama, di mana kapal-kapal nelayan tua berbaris rapi, terombang-ambing lembut oleh gelombang. Bau ikan asin dan tar kayu memenuhi udara, membawa suasana yang khas bagi pelabuhan yang sudah berdiri puluhan tahun ini.

Di ujung dermaga yang terbuat dari kayu lapuk, mereka menemukan Errol—seorang pria tua dengan kulit legam yang tampak seperti terukir oleh matahari dan garam laut. Rambutnya memutih sepenuhnya, tetapi ada kekuatan yang tak terucap dalam posturnya. Tatapannya menembus cakrawala, seolah berbicara pada gelombang yang tak pernah henti. Ia berdiri di samping perahunya, The Saltwind, tangannya sibuk merapikan jaring yang terurai—benang-benang kasar yang penuh dengan bau laut dan kenangan masa lalu.

Arraitz melangkah lebih dulu, mendekati pria itu dengan langkah hati-hati. Angin asin dari laut membelai wajah mereka, membuat suara kayu dermaga yang berderit terdengar seperti bisikan rahasia. “Permisi,” katanya dengan sopan. Suaranya hampir tenggelam dalam desau angin. “Kau Errol, bukan?”

Errol menoleh perlahan, dan seketika Arraitz merasakan berat dari tatapan itu. Mata pria tua itu seperti dua bara api yang berpendar lambat—tenang, namun memendam sesuatu yang tak mudah padam. “Siapa yang menanyakan namaku?” tanyanya, suaranya parau, dalam, seakan berasal dari dasar lautan itu sendiri.

Elric melangkah maju, suaranya tegas namun penuh hormat. “Namaku Elric. Dan ini Arraitz, juga Lyra. Tadi kami sempat bertemu seorang pelaut tua di kedai teh dekat gudang,” katanya. “Ia bilang kau pernah melihat kapal bayangan—kapal yang membawa sesuatu yang disebut Chrono’s Echo.”

Errol terdiam sejenak. Jari-jarinya yang penuh guratan waktu berhenti merajut jaring. Matanya menatap mereka satu per satu, seakan menimbang apakah mereka layak mendengar apa yang akan ia ceritakan. “Kapal itu…” gumamnya, suaranya hampir hanyut oleh suara ombak. “Hanya muncul di malam tanpa bulan. Muncul seolah dilahirkan dari kabut, lalu menghilang seperti mimpi buruk yang tak pernah usai.”

Lyra berdiri di samping Arraitz, langkahnya ringan namun ada getar halus di suaranya. “Apa yang kau lihat saat itu, Errol? Bisakah kau ceritakan?” tanyanya lembut. Cahaya matahari membuat rambut peraknya tampak berkilau.

Errol menghela napas panjang. Ia meletakkan jaringnya di atas dek kapal, seakan mempersiapkan dirinya untuk menghidupkan kembali malam kelam itu. “Baiklah,” katanya lirih. “Malam itu… aku menjala ikan di perairan utara dermaga. Laut begitu tenang, angin berhenti bertiup—seolah dunia menahan napasnya. Tapi kabut turun, menutupi segalanya. Tebal, lebih tebal daripada kabut mana pun yang pernah kulihat. Dan di sanalah aku melihatnya—kapal hitam tanpa bendera, meluncur di antara kabut bagai hantu yang tak pernah damai.”

Suara Errol terhenti sejenak, dan Arraitz merasakan ketegangan yang merambat ke dalam dirinya. “Lampion merah menyala di geladaknya,” lanjut Errol perlahan, “seperti bara api yang membelah kabut putih. Tak ada sorak pelaut, tak ada suara gelombang yang pecah di lambung. Hanya denting langkah kaki… dan aroma aneh, logam dan bunga layu, bercampur jadi satu. Aku tahu saat itu—mereka membawa sesuatu yang tak seharusnya berada di dunia ini.”

PixBit, yang melayang rendah di sisi Arraitz, berbisik pelan, suaranya teredam seakan ikut menunduk pada cerita itu. “Master… ini cocok dengan pola artefak Chrono yang kita cari. Aku merasakan anomali temporal yang terdistorsi, seperti… pecahan waktu yang tak stabil.”

Arraitz mengangguk, menahan gejolak rasa ingin tahunya yang mendesak keluar. “Errol… apa kau tahu ke mana kapal itu pergi setelah malam itu?” tanyanya. Suaranya terdengar pelan, namun tegas—seperti seorang peziarah yang siap menyeberangi lautan rahasia.

Errol menatap jauh, matanya menembus lautan kelam yang terbentang di depannya. Seolah ia sedang berbicara pada kenangan yang tak pernah benar-benar padam. “Mereka lenyap di antara kabut, menuju utara… ke Pulau Myrrhan. Sebuah tempat yang ditakuti pelaut—karang tajam bagai rahang naga, badai yang tak pernah tidur. Katanya… pulau itu sendiri berubah setiap kali kau mendekatinya, seakan tak mau dipecahkan oleh tangan manusia.”

Lyra merinding, kedua tangannya menggenggam erat jubah putihnya. “Pulau Myrrhan…” bisiknya, suaranya nyaris hilang tertelan angin. “Terdengar seperti tempat yang menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang bisa kita bayangkan.”

Errol menatap mereka kembali, matanya berubah menjadi keras, penuh peringatan. “Kalau kalian benar-benar ingin mencari kapal itu,” katanya pelan, namun tegas. “Berhati-hatilah. Banyak yang berlayar ke sana, tapi hanya sedikit yang kembali. Dan yang kembali… tak pernah sama lagi.”

Elric menatap Arraitz, mata mereka saling bertemu dalam pemahaman yang tak perlu kata-kata. Ada percikan tekad yang tercermin di sana, kilau yang muncul hanya ketika seseorang memutuskan untuk berjalan menuju bahaya, bukan menghindarinya. “Sepertinya ini jalan kita berikutnya,” katanya mantap.

Arraitz mengangguk pelan, rasa lapar akan jawaban membakar di dadanya. “Kami berterima kasih, Errol,” katanya, suaranya penuh hormat dan keyakinan. “Kau telah menunjukkan arah. Dan kami tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.”

Errol hanya mengangguk. Ia kembali pada jaringnya, tangannya yang kasar kembali menenun masa depan yang tak pasti. “Semoga kalian membawa cukup nyali… dan cukup keberuntungan,” gumamnya.

Arraitz memandang laut yang biru kelam. Ombak bergulung pelan, memantulkan cahaya matahari yang kini tinggi di langit. Mereka tahu—petualangan baru telah memanggil. Dan di balik kabut Pulau Myrrhan, kebenaran tentang Chrono’s Echo menunggu untuk diungkap.

...****************...

Bersambung...

1
Crimson
Aduh, cara penulisan yang agak puitis ya, tapi keren /CoolGuy/
Crimson: siap, bosku hehehe /Chuckle/
total 2 replies
Wahyu Aji
jadi mengingatkan kalo suatu saat, harus mengikuti jalan yang ada😄
Anjar Sutrisno: wkwk di awal-awal masih tutorial ya bunk 🤣🤣
total 1 replies
Zan_Apexion
MC masuk ke dunia game kah?🤔
Zan_Apexion: baiklah thor
total 2 replies
Murdoc H Guydons
Tiba-tiba ngasih nama jurus.. 🤣
Anjar Sutrisno: makasih bro dah mampir 👍
total 2 replies
xie yan
story telling keren. tapi agak terlalu kaku, sentuhan penulis nya tidak terasa alami. kurangi porsi nya ai nyaa🤣🤣🙏🙏
Anjar Sutrisno: asiaapp.. nanti gw revisi lagi.. thanks ya.. 😄😄
total 1 replies
Aslan
lho kok tiba-tiba ada Rowan disini?😂
Anjar Sutrisno: Wkwk typo sepertinya... 🤣
total 1 replies
iqbal nasution
lanjut
Anjar Sutrisno: thanks bro
total 1 replies
Filan
sekuat apa dirimu juga...
Anjar Sutrisno: hehe.. makasih ya reviewnya... 🙌
total 1 replies
Filan
wah, enak tuh
Anjar Sutrisno: Iya enak.. Karena itu di awal dia cuma jd Solo Player.. Dia ga sadar kalau orang lain kebanyakan bikin party/grup..
total 1 replies
Filan
kirain pemandu doang, bisa nyerang juga dia
Anjar Sutrisno: iya, bisa... cuma terbatas krn mmg bukan petarung
total 1 replies
Filan
jelly... eh slime
Anjar Sutrisno: nutrijell
total 1 replies
Filan
jangan km dong... kamu... kelupaan kayak nulis chattingan ya...
Anjar Sutrisno: wkwk.. iya, kebiasaan..
total 1 replies
Filan
/Grin/ ada titik tiga...
Anjar Sutrisno: hehe.. [Menu], [Inventory]
total 1 replies
Filan
misteri boks
Anjar Sutrisno: hehe..
total 1 replies
Aslan
Author, berarti Arraitz ini gauntletnya sepasang kanan kiri? Karena di gambaran model karakter kemarin digambarkan hanya sebelah kiri aja.

Terus berarti ignis fang dan night fang sama-sama dibawa hanya saja pemakaiannya dipakai satu pedang aja?
Anjar Sutrisno: Gauntletnya di tangan kiri aja.. Kayaknya di chapter 19 ada typo tertulis kanan ya? Itu kalau pas ngeluarin skill Retry Slash pake tangan dua, ada aliran energi dari gauntlet ke pedang jadi lebih kuat tebasannya..

Ya, bawa dua pedang tapi cuma dipakai satu aja... Nightfang agak lebih pendek juga..
total 1 replies
Aslan
mendadak konsepnya sangat game sekali😆
Anjar Sutrisno: Biar kerasa aja kek game 😆 Sbnrnya Arraitz juga punya level, tapi mau dicantumin kok nnt ribet 🤣
total 1 replies
Aslan
Mau tanya dong thor, ini Arraitz pakai dua pedang (dual sword) atau cuma satu pedang aja? sisanya disimpan di inventory nya?
Anjar Sutrisno: Iya... masih pake satu pedang, Ignis Fang.. Yang Night Fang disimpen 😁 Apakah bakal ada pedang baru lagi?? Tunggu aja 😆
total 1 replies
Aslan
Kalimat selamat datang resmi ini gak lazim ya sepertinya😅
Anjar Sutrisno: check ulang chapter 9 bro 😎🤜
total 2 replies
Aslan
Novel menarik yang sudah sekian lama saya cari. Konsepnya yang petualangan, gaming dan RPG serta MC nya menggunakan pedang memang yang saya cari. Selain itu juga jalan ceritanya seperti anime isekai shounen yang mengembangkan sang MC ini yang patut didukung. Bravo thor👍🤩
Anjar Sutrisno: Thanks bro... perjalanan masih panjang.. semoga betah ya.. 😁
total 1 replies
Aslan
novel yang menarik nih. Tambahan untuk author coba sampaikan skill apa saja yang dimiliki Arraitz supaya kita tahu sejauh mana kekuatan MC kita
Anjar Sutrisno: Thanks bro.. oke nnt bakal direveal skillnya apa aja.. Tunggu ya.. 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!