Ada pepatah terkenal, "Jangan menilai seseorang dari luarnya."
Theodore Arvan Ilyas. Semua wanita akan setuju kalau dia tampan bak jelmaan malaikat. Namun, apakah hatinya juga sebaik malaikat? Sayangnya iya. Itulah yang membuat Farah merasa dirinya tak pantas untuk sekedar berharap Theo melihat ke arahnya.
Karya kedua setelah Hutang Kepada Mr. Devil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deal
“Kalau dua Minggu?” tawar Farah lagi. Ia ingin mengulur lebih lama, tapi aura dominan dari Theo tak mau membiarkan Farah melakukannya.
Theo melihat ke mata Farah, turun ke bibir, lalu naik lagi ke mata Farah. Bohong kalau Farah baik-baik saja ditatap seperti itu. Di jarak yang kurang dari sepuluh sentimeter. Bahkan dia lupa kapan Theo mulai sedekat ini dengannya. Manik biru itu seakan menyerap jiwa Farah.
“Deal.” Suara Theo menyentaknya kembali ke dunia nyata.
Langkah-langkah kaki terdengar mendekat, para orang tua turun bersama Galen yang berada di gendongan Diana. “Dia lucu sekali, dari tadi senyum terus.”
Theo kemudian berdiri mendekat ke arah Galen. Anak itu sudah mengenal Theo, dia langsung memajukan badannya minta digendong.
“Dia suka sama kamu,” kata Diana kepada putranya sambil tersenyum.
“Da da,” kata Galen.
“Ow manisnya,” kata Diana sambil menyentuh pipi Galen dengan punggung jemarinya.
_________
Sammy dan Gwen tertawa sambil berusaha menutup mulut saat mendengar Farah mengatakan bahwa ia tak percaya kalau ia akan menikah dua minggu lagi. “Welcome to the jungle, Farah!” seru Gwen. Sammy terkekeh mendengarnya sambil mengambil sebutir telur rebus dalam panci yang penuh mie.
Ketiganya saat ini sedang menikmati pesta mie rebus di balkon kamar Gwen. Dan secara harfiah, rumah keluarga Ilyas memang dikelilingi oleh hutan.
“Ah Aunt Samm, kamu sudah makan dua telur,” tukas Claire. “Jangan ambil lagi, itu buat Claire.”
“Ayolah, Vitamin C kamu gak kasihan sama aku? Aunty lapar, baru pulang kerja.” Claire mau protes, “apa hubungannya?” tapi diurungkan.
Sammy lebih suka memanggil Claire dengan vitamin C. Itu karena Sammy pernah melihat seragam cheerleader Claire berwarna dominan kuning seperti kulit jeruk lemon. Dan Claire mengingatkan Sammy dengan penyanyi Graduation Vit. C. Rambut pirang, bermata biru.
“Sekarang Lo gak bisa komentar lagi gimana ribetnya ngurusin pernikahan selama dua minggu. Pasti Theo suruh orang atur semuanya,” tebak Gwen dengan jemari yang memegang sumpit menunjuk Farah, “Elo tinggal bawa badan.”
“Kok tahu?” tanya Farah heran. Ia berhenti menyeruput kuah mie, menunggu jawaban Gwen.
“Para pria keluarga Ilyas selain orang yang praktis, kerja cepat, mereka juga dominan. Lo gak bisa bilang tidak. Kelihatannya aja mereka mau kompromi, negosiasi, tapi aslinya mereka udah rencanain semua.”
Farah menggigit bibir bawahnya, mengiyakan dalam hati. “Tapi, terus terang gue gak enak sama lo, Samm” Pandangan Farah beralih pada Sammy yang tampak sedang menikmati telur rebusnya.
“Eh kenapa emang?” tanya Sammy.
“Lo udah rencanain sebulan lagi, eh gue duluan.”
“Aduh, kenapa juga gak enakan, Buu? Gaspol aja. Gue malah seneng banget sahabat gue nemu jodoh yang lebih baik.”
“Yang terbaik,” sahut Gwen mengoreksi.
“Yee, nyonya keluarga Ilyas gak terima,” ledek Sammy.
“Serius loh. Meskipun gue belum jadi keluarga Ilyas, gue dukung Theo. Gue temenan sama dia lama banget. Lebih kenal gimana Theo daripada kenal suami gue sendiri.” Antara Theo dan Gwen, mereka adalah sahabat sejak kuliah. Dan Farah juga tahu kalau dulu Theo menaruh hati kepada Gwen.
“Eh aku kenal cincin ini,” kata Gwen tiba-tiba sambil memegang telapak tangan Farah. Farah melihat ke jemarinya, jari manis tepatnya.
“Ini kemarin Theo melamar kamu pakai cincin ini?” tanya Gwen memastikan.
Farah mengangguk sambil menahan rasa penasaran, Gwen kenal dengan cincinnya.
“Ini kan cincin ....”
Belum selesai Gwen mengutarakan rahasia cincin itu, pintu kamarnya dibuka dengan kasar oleh seseorang. Dua orang mini Zach dan mini Gwen tepatnya. Al dan Bee yang saat itu berusia hampir tiga tahun mencium aroma yang mereka kenal tapi mereka selalu dilarang untuk mencicipinya.
“Ah Mom cuyang!” pekik Al, “Mom makan mie,” katanya kepada Bee. Al sudah bisa bicara dengan lebih jelas meskipun masih cadel, sedangkan Bee belum bisa merangkai sebuah kalimat utuh. Bee lebih dulu bisa berjalan daripada Al. Meskipun kembar, mereka mempunyai proses tumbuh kembang yang berbeda.
“Aah Fun Police datang.” Samm mendengus sambil memutar bola matanya.
“Fun Police?” tanya Claire.
“Iya, kesenangan kita jadi harus berhenti. Karena Fun Police sudah datang,” jelas Sammy.
“Maaf, mereka tadi lari cepat sekali,” kata pengasuh Al, kemudian disusul pengasuh Bee di belakangnya.
Gwen tertawa kecil lalu mengelap bibirnya dengan tissue. “Tidak mengapa,” jawab Gwen kepada kedua pengasuh yang sedang menata napas mereka.
Kemudian ia beralih kepada anak-anaknya. “I’m sorry babies. Ini kemauan adik kalian.” Gwen memang sedang mengidam mie rebus. Mumpung teman-temannya datang, ia berinisiatif membuat pesta mie di balkon, dan mumpung Zach sedang keluar negri. Suaminya itu tidak pernah mengijinkan Gwen makan mie instan kalau sedang hamil, padahal Gwen sedang ngidam. Zach menuruti semua keinginan Gwen sewaktu ngidam asalkan logis dan sehat, tapi kalau mie instan dia katakan big no! Lebih baik Gwen minta ke Nyonya Hermin agar dimasakkan mie homemade. Tapi Gwen lagi ngidam, lidahnya hanya ingin merasakan MSG di dalam mie instan, titik!
“Oh, adik lapal?” tanya Al yang mendekat ke Gwen dan duduk di lantai menjajarinya. Al kemudian mendekatkan kepalanya ke perut Gwen. Mencoba mendengarkan suara calon adiknya di perut sang ibu.
Gwen tersenyum lalu mengelus rambut pirang putranya. Al menengadah sehingga Gwen bisa melihat sepasang mata coklat yang jernih itu. “Al tidak bisa dengar suaya adik.”
Gwen tertawa kecil. “Tentu saja, mereka lebih banyak tidur kalau di perut mom. Kalau adik sudah keluar nanti sering menangis karena belum bisa bicara. Lalu mereka tumbuh jadi lebih besar, baru bisa bicara. Sekarang masih sangat kecil.”
Al dan Bee menyimak kata-kata Gwen. Farah tersenyum melihat si kembar.
“Saya bereskan ini ya, Nyonya?” tawar pengasuh Al dia sudah menunduk akan meraih mangkuk Gwen.
“Tidak, biarkan. Tugas kalian mengasuh putraku, bukan melayaniku,” tegas Gwen.
“Baik Nyonya,” jawab kedua pengasuh Al dan Bee bersamaan.
“Oke anak-anak sekarang bukannya kalian harus siap-siap tidur?” tanya Gwen kepada kedua anaknya.
“Ayo anak-anak, kita cuci tangan dan kaki lalu ganti piyama untuk tidur,” ajak pengasuh mereka. Dijawab anggukan oleh Al dan Bee. Mereka lalu berlari menuju pintu kamar Gwen. “Jangan lari!” seru Gwen, tapi tetap saja kedua anak itu berlari. Gwen menggeleng melihat kelakuan mereka.
“Sudah selesai semua, ya. Sini aku beresin mangkuknya,” kata Sammy. Teman-temannya menumpuk mangkuk, yang tersisa tinggal Claire. “Bentar Aunty, aku belum habis.”
“Iya, habiskan dulu. Gak usah buru-buru,” jawab Sammy.
Farah yang penasaran menanyakan tentang kehamilan Gwen. “Ngomong-ngomong, sekarang lo hamil kembar lagi? Kok bisa, sih? Apa lo ada keturunan kembar dari orangtua?”
“Iya. Kakek gue kembar tapi keluarga kembarannya ada di Brisbane. Jane masih punya fotonya pas mereka masih remaja. Jane dan keluarga Mommy bertetangga sejak dulu. Mommy gue sayangnya anak tunggal, jadi tidak ada saudara dari Mommy yang tertinggal di New York.”
Claire selesai menghabiskan mie lalu menumpuk mangkuknya. Sammy segera berdiri dan membawa mangkuk-mangkuk juga panci Gwen. Farah mengelap jejak-jejak pesta mereka yang tertinggal di lantai dengan tissue basah lalu membereskan sampahnya. Gwen ditolong Claire untuk berdiri. Seperti kehamilan sebelumnya, Gwen merasa tubuhnya terasa semakin berat padahal kehamilannya masih berusia dua bulan.
Sammy sudah keluar dari kamar Gwen ketika Farah kembali bertanya sesuatu hal kepada Gwen. “Oh iya. Lo tahu tentang cincin ini?” Farah menggigit bibir bawahnya sambil berharap dengan cemas kalau Gwen tak pernah mendapatkan tawaran serupa dari Theo. Berlutut dengan satu kaki sebagai tumpuan ala pangeran dan sebagainya. Farah takut membayangkannya.
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞
kebayang g sih wajah Zach yg ituuu truss senyum2 gaje🤣🤣
bumi kepada othor
bumi kepada othor
tapii
Theo nya kurang gahar dikit
ganteng pinter tapi kok aga be... dlm mslh asmara sich
gemeshh dweh
thd siapa saja
terutama anak dan pasangan kta
kan cerita ini ada mafia2nya juga.