Sepertinya alam semesta ingin bercanda denganku, orang yang ku cintai meninggalkanku di saat mendekati hari pernikahan kami. meninggalkan luka yang menurutku tidak ada obat untuk menyembukannya walaupun dia kembali untuk minta maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olip05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 24
Mita mengerjapkan matanya berkali-kali menyesuaikan cahaya yang masuk lewet jendela, rasanya enggan sekali untuk bangun dari tidurnya yang nyaman ini, mita membuka matanya dan menemukan dirinya dalam pelukan arun. mita yang merasa kaget langsung melepaskan pelukan arun dan bergeser menjahui tubuh arun.
Kok bisa-bisanya sih aku tidur berpelukan sama arun. syukur aku yang bangun duluan, kalau arun yang bangun duluan malulah aku.
Mita langsung pergi ke kemar mandi untuk membersihkan dirinya, ketika sedang berkaca di kamar mandi mita merasa ada yang janggal pada dirinya. Tapi mita tidak menemukan kejanggalan itu.
Aku ngerasa ada yang beda yah sama diri aku tapi apa yang beda ya?
Mita meneliti wajahnya kemudian lehernya, perasaan tadi malam kissmarknya nggak sebanyak ini deh tapi ko sekarang keliatan lebih banyak ya. Apa perasaan aku aja.?
“eh kok aku pake kaos milik arun?” mita mencoba mengingat-ngingat kembali tentang kejadian tadi malam dan mita melototkan matanya seketika mengingat apa yang telah ia lakukan tadi malam.
Aduh bisa-bisanya si mit kamu berprilaku kaya gitu tadi malem, malu banget nanti kalau berhadapan langsung sama arun, gimana ini? Mita memukul-mukul kepalanya pelan mehardik kelakuannya yang kadang membuat mita kesal sendiri pada dirinya.
Mita hampir satu jam berada dalam kamar mandi, memikirkan harus bersikap seperti apa ketika bertemu arun nanti, mita merasa dirinya seperti remaja yang berumur belasan tahun, merasa grogi bertemu lelaki yang di sukainya,
keluar sekarang jangan ya, udah lama banget lagi dikamar mandi.
Mita mencoba menenangkan dirinya, beberapa kali menarik napas dalam-dalam. Setelah merasa cukup tenang mita keluar dari kamar mandi dengan hati yang berdetak lebih kencang dari biasanya.
Setelah keluar kamar mandi mita melihat arun masih tertidur, mita menghembuskan napasnya lega setidaknya dirinya masih bisa memikirkan harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengan arun nanti.
Tumben pagi ini cerah banget dari pada biasanya.
Mita menoleh kearah jam dinding, seketika mulut mita menganga tidak percaya apa yang dilihatnya.
Gila udah jam setengah sepuluh aja, ini mah bukan pagi lagi namanya tapi udah siang pantesan diluar terang banget.
Mita pun kebingungan, bingung apa yang harus terlebih dahulu mita kerjakan, “oke mita tenang-tanang, jangan panik narik napas dulu kemudian hembuskan perlahan, oke narik napas lagi keluarkan perlahan” mita mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dan melihat kesekeliling kamar.
Kenapa setelah bangun tidur banyak hal yang membuat diri aku kaget si, jadi lemeskan ni tubuh.
“sekarang aku harus siap-siap berangkat ke rumah sakit, eh tunggu dulu mmm hari ini aku nggak ada jadwal konsultasi pasien, ah iya benar hari ini bukan jadwalnya konsultasi pasien” mita sangat bersyukur hari ini tak perlu kerumah sakit pagi-pagi jadi mita tidak akan malu karena berangkat kesiangan.
Oh iya aku harus membangunkan arun, dia sudah sangat terlambat pergi ke kantor.
ketika mita ingin membangunkan arun, mita mengurungkan niatnya karena ia ingat kembali kejadian tadi malam, mita belum siap untuk berhadapan dengan arun. tapi di lain sisi mita harus membangunkan arun.
aduh gimana ya? Kalau dibangunin aku belum siap bertatap muka dengan arun tapi kalau nggak di bangunin, arun perlu ke kantor, bagaiman kalau sekarang ada rapat penting tapi arun masih dalam keadaan tidur. Aaa aku harus bagaimana?
Mita mondar-mandir di samping tempat tidur, masih bimbang mengambil keputusan yang harus ia ambil. Banguni jangan, bangunin jangan.?
Ketika ingin berbalik badan kaki mita tersandung oleh kakinya sendiri. “uuhh, hampir aja” untung saja tangan mita sempat menahan tubuhnya ke nakas dekat kasur kalau tidak pasti kepalanya sudah terbentur ke nakas tersebut.
Arun yang mendengar kegaduhan di dekatnya langsung terbangun, arun tipe orang yang tidak bisa mendengar suara berisik ketika tidur, mendengar suara berisik di dekatnya arun akan langsung terbangun. Tidak seperti mita ada suara seberisik apapun ketika masih ngantuk ia tidak akan bangun.
“kamu kenapa mita?” tanya arun dengan suara seraknya khas bangun tidur. Arun merenggangkan tubuhnya dan mendudukan tubuhnya bersabdar ke kepala kasur.
Seketika tubuh mita menegang mendengar suara arun, tubuh mita yang masih bertumpu ke nakas kaku susah untuk bergerak. Aduh gimana ni, apa aku pura-pura tidak ingat kejadiaan semalam aja ya.
Arun yang melihat mita tidak bergerak sedikitpun mulai khawatir, arun langsung turun dari kasur dan menarik kadua bahu mita dengan kedua tangannya memposisikan tubuh mita agar berdiri.
“kamu kenapa?, ada yang sakit?” tanya arun menatap mita dengan penuh kekhawatiran
Mita menggelengkan kepalanya, wajah mita sudah seperti kepiting rebus karena menahan malu.
Kenapa tadi harus kepergok posisi kaya gitu si, udah malu kejadian semalam di tambah kejadian barusan jadi malunya bertambah sepuluh kali lipat huhuhu.
“kamu baik-baik ajakan?, muka kamu merah banget” arun membawa mita untuk duduk di pinggir kasur merasa khawatir akan kondisi mita, arun takut kalau kondisi mita seperti tadi malam. Sungguh arun tidak ingin mita ketakutan seperti tadi malam.
“tapi nggak panas” arun menempelkan tangannya ke kening mita. Memeriksa suhu tubuhnya.
“aku baik-baik aja run” ucap mita pelan sambil menundukan wajahnya, tak ingin melihat kearah arun. ketika melihat wajah arun mita teringat kembali akan kejadian memalukan tadi malam.
Arun menarik tagu mita katas, agar arun bisa malihat wajahnya dengan jelas memastikan kalau mita baik-baik saja. “beneran nggak apa-apa?” tanya arun lembut penuh kasih sayang.
Mita bisa malihat dari bola mata arun kalau arun sangat mengkhawatirkannya. Mita merasa bersalah karena telah membuat arun khawatir akan dirinya.
“aku baik-baik aja run, tadi tu nggak sengaja kesandung kaki aku sendiri, untung aja tadi tangan aku kuat bisa nahan tubuh aku jadi kepala aku nggak kepentok nakas” ucap mita diakhiri dengan senyuman manis dibibirnya.
Arun terkekeh mendengar yang di ucapakan mita “gimana si bu dokter, bisa-bisanya kesandung kaki sendiri”
Mita ngengerucutkan bibirnya, tak suka arun yang mengejeknya.
“kamu siap-siap ke kantor gih, udah jam sepuluh lewat tuh”
“hah” arun langsung melihat kearah jam dinding dan melototkan matanya karana sekarang sudah hampir jam sebelas. Arun langsung berdiri kebingungan seketika pikirannya blank, bingung apa dulu yang harus ia lakuakan.
Arun menjambak rambutnya sambil mondar mandir di hadapan mita. “aduh gimana ini aku udah telat banget ke kantor, oh iya ponsel aku mana?” arun langsung mencari-cari ponselnya di atas kasur dan menemukan ponselnya di atas nakas. “akh gak ada waktu buat ngecek” arun melemparkan ponslnya asal ke atas kasur.
“ah iya aku harus mandi dulu” arun berjalan ke arah kamar mandi tapi ketika sudah sampai di pintu kamar mandi arun berbalik lagi ke arah kasur dan mengambil kembali ponselnya yang di lempar tadi ke atas kasur.
“aku harus telpon dean dulu, kalau aku akan berangkat siang ke kantor”
“Hahahahhaha” Mita yang dari tadi hanya diam melihat kelakuan arun yang begitu menggemaskan di matanya, tidak bisa menahan tawanya lagi bagaiman tidak arun yang terlihat selalu tenang penuh wibawa tiba-tiba bisa sepanik ini karena kesiangan.
Arun yang mendengar mita tertawa langsung menoleh kearahnya “kok kamu malah ketawa mit,? kamu juga seharusnya bangunin aku dari tadi jadi aku nggak perlu kesiangan kaya gini” arun yang ingin menalpon dean sekretarisnya tidak jadi karena mendengar mita ketawa.
Mita beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan arun, mita menangkup kedua pipi arun dengan kedua talapak tangannya sambil menekan pipi arun gemas “ternyata seorang arun bisa kelihatan panik kaya gini, gemes deh” mita menggerakan pipi arun gemas sambil tertawa pelan.
Arun yang tadinya panik tiba-tiba merasa tenang dan senang, Melihat mita tertawa dengan mata yang berbinar di hadapan wajahnya, arun bisa melihat dengan jelas gigi mita yang rapih dan putih bibirnya yang melengkung keatas tertawa bahagia. Arunpun ikut tersenyum melihat wajah mita yang berseri-seri.
“sekarang kamu mandi, nanti keperluan kantor aku yang siapin” ucap mita tangannya masih menagkup wajah arun.
Arun mengangguk seperti anak kecil, hatinya merasa senang diperlakukan seperti ini oleh mita. “yaudah aku mandi dulu ya” arun berjalan ke kamar mandi sambil tersenyum lebar menghiasi wajahnya.
Aku rela mit tiap hari panik kaya gini, kalau bisa bikin kamu tertawa bahagia.
...----------------...
makasih yang udah baca cerita ini. Jangan lupa like, komen dan vote ya.🤗🤗