NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:727
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Sore itu, kantor kecil bagian penertiban wilayah tampak lebih ramai dari biasanya.

Gedungnya tidak terlalu besar. Cat dindingnya mulai kusam. Di depan pintu masuk, beberapa orang duduk menunggu dengan wajah lelah. Ada pedagang kecil, pemilik warung, dan warga biasa yang dipanggil karena berbagai urusan izin.

Di salah satu ruangan dalam, Hendra Wiranata duduk santai sambil melihat layar ponselnya.

Di hadapannya, seorang pegawai muda tampak gugup.

“Pak, Pak Harun sudah datang.”

Hendra mengangkat wajah.

“Raka ikut?”

Pegawai itu mengangguk.

“Ikut, Pak. Bersama satu orang lagi.”

Hendra tersenyum.

“Bagus.”

Ia berdiri, merapikan jasnya, lalu berjalan ke ruang klarifikasi.

Di ruang itu, Pak Harun duduk di kursi plastik. Dimas berdiri di belakangnya dengan wajah tidak sabar. Raka berdiri dekat jendela, menatap luar dengan tenang.

Ketika Hendra masuk, ruangan terasa berubah.

Pak Harun menoleh.

Dimas mengerutkan kening.

Raka perlahan mengalihkan pandangan.

Mata Dewa langsung membaca aura Hendra.

Abu-abu pekat.

Licin.

Bersih di permukaan, tapi banyak noda halus di dalamnya.

Orang ini tidak seperti Bram yang kasar.

Tidak seperti Reza yang sombong terang-terangan.

Hendra adalah tipe orang yang menusuk sambil tersenyum.

Hendra tersenyum ramah.

“Bapak Harun, ya? Maaf membuat menunggu.”

Pak Harun mengangguk.

“Saya ingin tahu apa salah warung saya.”

Hendra duduk.

“Kita hanya ingin memastikan semuanya sesuai aturan.”

Dimas langsung menyahut, “Aturan baru muncul setelah warung Pak Harun diserang preman?”

Hendra menatap Dimas.

“Anak muda, kalau kau bukan pihak terkait, lebih baik diam.”

Dimas ingin membalas, tapi Raka berkata pelan, “Dim.”

Dimas menahan diri.

Hendra menatap Raka.

“Dan kau pasti Raka Pratama.”

Raka tidak menjawab.

Hendra tetap tersenyum.

“Namamu beberapa kali muncul dalam laporan.”

Raka menatapnya datar.

“Laporan palsu?”

Senyum Hendra tidak berubah.

“Kata palsu harus dibuktikan.”

Raka melangkah mendekat.

“Dan kata aturan juga harus bersih dari pesanan.”

Ruangan hening.

Pegawai muda di sudut ruangan langsung menunduk.

Hendra akhirnya menatap Raka lebih serius.

“Kau cukup berani.”

Raka berdiri di depan meja.

“Kau cukup rapi.”

Hendra tersenyum.

“Aku anggap itu pujian.”

“Bukan.”

Udara di ruangan terasa sedikit lebih berat.

Raka menatap map di atas meja.

“Surat ini dibuat untuk menekan Pak Harun. Bukan karena pelanggaran. Bukan karena ketertiban. Tapi karena Mahendra ingin melihat aku bergerak.”

Hendra menatapnya tanpa berkedip.

“Kau punya bukti?”

Raka mengangkat tangan dan menunjuk dada Hendra.

“Kau.”

Senyum Hendra menipis.

Raka melanjutkan.

“Mata manusia mungkin melihatmu sebagai pejabat rapi. Tapi aku melihat niatmu.”

Dimas menelan ludah.

Pak Harun menatap Raka dengan cemas.

Hendra tertawa pelan.

“Niat? Itu bukan bukti hukum.”

Raka mengangguk.

“Benar.”

Lalu ia mencondongkan tubuh sedikit.

“Tapi aku tidak datang untuk berdebat hukum denganmu.”

Hendra diam.

Raka mengambil map dari meja, membukanya, lalu mengeluarkan dokumen yang berisi laporan terhadap warung Pak Harun.

Ia meletakkannya kembali di meja.

“Kau memakai kertas untuk menyerang orang biasa.”

Cahaya emas tipis muncul di mata Raka.

“Jadi aku akan menyerang tangan yang menulisnya.”

Pegawai muda di sudut ruangan langsung pucat.

Hendra masih mencoba tenang.

“Kau mengancam pejabat?”

Raka menatapnya.

“Tidak.”

Ia mengangkat satu jari.

“Aku memberi pilihan.”

Udara menekan turun.

Pintu ruangan tertutup sendiri.

Brak.

Dimas menegang.

Pak Harun berdiri sedikit. “Raka…”

Raka tidak menoleh.

“Pak, duduk.”

Suara Raka tenang, tetapi Pak Harun tanpa sadar duduk kembali.

Hendra akhirnya merasakan sesuatu yang berbeda.

Dadanya sesak.

Tangannya yang berada di atas meja mulai gemetar.

Raka berkata pelan, “Cabut laporan ini sekarang.”

Hendra menatapnya dengan wajah mulai pucat.

“Atau?”

Raka tersenyum tipis.

“Atau setiap kali kau mencoba menandatangani surat palsu lagi, tanganmu akan merasakan tulangnya patah.”

Hendra membeku.

Raka melanjutkan.

“Aku tidak perlu mematahkan tanganmu hari ini.”

Cahaya emas kecil muncul di ujung jari Raka.

“Aku hanya perlu membuatnya mengingat.”

Hendra mencoba berdiri, tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak.

Dimas menatap pemandangan itu dengan mata melebar.

Pegawai muda di sudut ruangan hampir menangis.

Raka menyentuh meja dengan ujung jarinya.

Cahaya emas menyebar tipis ke arah dokumen, lalu naik seperti asap kecil. Asap itu masuk ke tangan kanan Hendra.

Hendra menjerit tertahan.

Ia mencengkeram tangannya sendiri.

Rasa sakit menyambar dari jari sampai bahu. Tidak mematahkan tulang, tetapi cukup membuat tubuhnya mengingat bagaimana rasanya jika tangan itu benar-benar dihancurkan.

Raka berkata dingin.

“Cabut laporannya.”

Hendra bernapas berat.

Wajahnya penuh keringat.

“Ini… ini melanggar hukum…”

Raka menatapnya tanpa ekspresi.

“Kau baru mengingat hukum setelah gagal memakainya sebagai pisau?”

Hendra tidak bisa menjawab.

Raka menekan sedikit auranya.

Hendra langsung meraih pulpen dengan tangan gemetar, lalu menandatangani pembatalan laporan. Ia juga memberi perintah kepada pegawai muda untuk mencabut panggilan terhadap Pak Harun.

Pegawai muda itu bergerak cepat.

Terlalu cepat.

Beberapa menit kemudian, surat pembatalan sudah dibuat.

Raka mengambil surat itu, membacanya, lalu menyerahkannya kepada Pak Harun.

“Sudah selesai.”

Pak Harun menatap surat itu, lalu menatap Raka.

Ada rasa lega.

Ada juga kekhawatiran.

Hendra duduk lemas di kursinya, memegang tangan kanan yang masih berdenyut sakit.

Raka menatapnya sekali lagi.

“Sampaikan pada Surya Mahendra.”

Hendra mengangkat wajah dengan gemetar.

“Jika dia ingin menyerangku, datang langsung.”

Raka berhenti sebentar.

“Kalau dia memakai orang biasa lagi, aku tidak akan mencabut surat.”

Mata Raka menjadi dingin.

“Aku akan mencabut tangan.”

Setelah mengatakan itu, Raka berbalik dan keluar dari ruangan bersama Pak Harun dan Dimas.

Tidak ada yang berani menghentikannya.

Di lorong kantor, Dimas berjalan kaku di samping Raka.

“Ka…”

Raka menoleh sedikit.

Dimas menelan ludah.

“Aku cuma mau bilang, tadi serem banget.”

Raka menjawab tenang.

“Dia belum pantas dapat yang lebih buruk.”

Dimas terdiam.

Pak Harun berjalan di sisi lain, menggenggam surat pembatalan.

Ia tidak berkata apa-apa.

Karena untuk pertama kalinya, ia memahami satu hal dengan sangat jelas.

Raka memang melindungi orang biasa.

Tapi caranya bukan cara pahlawan dalam cerita.

Raka melindungi dengan membuat musuh takut menyentuh siapa pun lagi.

Dan mungkin, untuk kota yang mulai dimasuki makhluk asing, keluarga busuk, dan orang-orang yang memakai hukum sebagai senjata, cara seperti itu justru yang paling cepat dipahami.

Di rumah Mahendra, telepon Surya berdering.

Hendra Wiranata menelepon dengan suara tertahan.

“Surya.”

Surya mengangkat alis.

“Ada apa?”

Hendra menarik napas berat.

“Laporan terhadap Harun aku cabut.”

Reza yang mendengar langsung berdiri.

“Apa?!”

Surya mengangkat tangan agar Reza diam.

“Kenapa?”

Di seberang telepon, suara Hendra terdengar lebih pelan.

“Karena Raka datang.”

Ruangan menjadi sunyi.

Hei Yan tersenyum dari sudut ruangan.

Surya menatap jendela.

“Apa yang dia lakukan?”

Hendra menjawab dengan suara pahit.

“Dia tidak melawan hukum.”

Hening sesaat.

“Dia membuat tanganku takut menulis kebohongan lagi.”

Surya tidak langsung bicara.

Reza mengepalkan tangan dengan wajah merah.

Hei Yan tertawa pelan.

“Menarik.”

Surya memutus panggilan, lalu menatap Reza.

“Kau masih menganggap dia anak miskin biasa?”

Reza tidak menjawab.

Di jalanan Pontianak, Raka berjalan bersama Pak Harun dan Dimas.

Matahari mulai turun perlahan.

Kota tetap ramai.

Namun kabar tentang Hendra Wiranata yang mencabut laporan dalam waktu kurang dari satu jam mulai bergerak pelan di antara orang-orang tertentu.

Raka tidak peduli.

Ia hanya menatap jalan di depan.

Sistem berbicara.

[Tuan tidak menunggu mereka bergerak lebih jauh.]

“Tidak perlu.”

[Hukuman hari ini ringan.]

Raka menjawab datar.

“Karena Pak Harun tidak terluka hari ini.”

[Jika mereka mengulanginya?]

Raka berhenti sebentar, lalu menatap langit sore Pontianak.

“Kalau mereka mengulanginya, aku tidak akan datang ke kantor.”

Matanya memantulkan cahaya emas tipis.

“Aku akan datang ke rumah Mahendra.”

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!