NovelToon NovelToon
FOR NOW & FOREVER

FOR NOW & FOREVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:67.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Yuniar Frida

Indra dan Tiwi, dua anak manusia itu bersatu karena perjodohan.

Keduanya sama-sama memiliki jawaban, kenapa mereka menerima perjodohan tersebut.

Awal pertemuan yang buruk dan tidak adanya rasa satu sama lain menjadi masalah besar dalam rumah tangga mereka.

Lantas, saat keduanya benar-benar jatuh cinta, masa lalu dari masing-masing pihak kembali muncul dan mampu meretakkan pondasi pernikahan mereka.

Lalu apakah yang akan Indra dan Tiwi lakukan agar pernikahan sekali dalam seumur hidup seperti yang mereka impikan itu bisa bertahan selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Yuniar Frida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku sayang sama kamu!

Indra melingkarkan tangannya di pinggang ramping Tiwi. Mereka berjalan menuju lantai dua.

Mereka memilih meja paling sudut yang berdekatan dengan jendela. Meski berAC tapi angin alami masih tetap sejuk.

“Nggak mau makan lagi?” Tanya Indra saat mereka sudah duduk.

“Tadi sih cuman makan spaghetti seporsi.” Ujar Tiwi.

“Belum termasuk makan itu, makan harus ada nasinya, baru dianggap makan, makan lagi aja. Pasti belum kenyang.”

Tiwi hanya mengangguk, tidak ingin membantah karena memang dirinya belum kenyang, apalagi habis beradu otak dengan Steffan dan para ibu-ibu di bawah sana.

“Mbak?” Panggil Indra pada pelayan.

Pelayan itu bergegas menghampiri meja mereka, memberikan dua buku menu.

“Ayam lada hitam.”

Pelayan itu segera mencatat pesanan Indra.

Indra menoleh ke arah Tiwi. “Kamu makan udang nggak, sayang?”

“Makan sih, tapi amis, aku kalau makan harus ngupas kulitnya,” ujar Tiwi.

“Udang pedas gurihnya juga satu, mbak.” Ujar Indra membuat Tiwi melongo.

“Loh?”

“Nggak masalah, aku yang kupasin bentar,” lirih Indra tanpa mengalihkan pandangan.

Tiwi hanya tersenyum. “Aku minumnya air mineral aja, yang dingin.”

“Air mineralnya dua, itu aja.” Putus Indra lalu menutup buku menu.

“Nggak pesan nasinya?” Tanya Tiwi karena dari tadi sang suami belum memesan makanan itu.

“Udah sepaket, sayang.”

Tiwi hanya mengangguk, biarlah urusan pesan-memesan dihandle oleh Indra.

Setelah memastikan pesan tidak keliru, pelayan berlalu meninggalkan dua sejoli yang mendadak dilanda keheningan, keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing.

“Pertemuan sama bos aku tadi, gimana?” Tanya Tiwi setelah menyimpan ponselnya, cukup bosan karena tidak ada notifikasi apapun yang muncul.

“Lancar,” jawab Indra singkat lalu ikut menyimpan ponselnya yang masih retak.

“Belum ada niatan ganti ponsel tuh? Aku aja udah kamu beliin yang baru,” ujar Tiwi sesaat setelah melihat ponsel itu.

“Nggak, nanti kalau udah nggak berfungsi lagi, baru beli baru. Ini kan masih nyala, masih bisa ngirim pesan, masih bisa nelpon.”

Tiwi hanya bisa kagum dengan kehematan sang suami, ah tidak, sama sekali tidak ada hemat-hematnya, karena dua minggu yang lalu, lelaki itu lagi-lagi membeli mobil yang harganya selangit. Sampai sekarang belum tersentuh sama sekali.

“Aku nggak mau beli banyak barang mewah, sebentar dikiranya korupsi lagi padahal jadi pemimpin perusahaan belum ada setengah tahun,” ujarnya lagi.

Tiwi tertawa. “Lah, bisa juga ya ngomong gitu, padahal dua minggu lalu baru beli mobil tuh, harganya nggak kira-kira lagi, terus tiga hari yang lalu kan beliin aku ponsel baru. Emang ya orang kaya pemikirannya berbeda.”

Indra ikut tertawa. “Mobil itu pake uang aku sendiri, sayang. Kalau ponsel itu lain, itu dari gaji aku.”

“Kamu sebelum kerja dapat uang dari mana sih, kok perasaan gaji kamu selama jadi CEO dikit banget dibanding uang sendiri itu?”

Kali ini ketawa Indra semakin keras. “Kamu nggak tau aja, jadi anak Bapak Adhitama itu digaji juga. Berhubung beliau sudah tidak bekerja lagi, pemasukan dari beliau sudah tidak ada, sayang.”

Tiwi hanya memanyukan bibirnya, sungguh enak ternyata Indra dan kedua saudaranya selama ini.

“Kenapa tuh bibirnya, pengen dicium?” Goda Indra sembari menaikkan-naikkan alisnya.

Tiwi melirik sinis suaminya, sungguh tidak mengenal situasi.

Indra tersenyum tipis, lalu tiba-tiba menggenggam tangan Tiwi, membuat Tiwi membulatkan matanya, tapi tidak juga berniat melepas genggaman, malahan ikut menautkan.

“Tiwi,” panggil Indra dengan menatap intens wanita cantik yang duduk di depannya.

Tiwi hanya berdehem, membalas panggilan Indra sekaligus menetralkan debaran. Tiwi akui, situasi sekarang berubah serius.

“Tangan kirinya juga kesiniin,” pinta Indra dengan tangan kirinya yang terangkat sedikit, berniat menyambut tangan kiri milik Tiwi.

Begitu tangan kiri Tiwi bergerak maju, dengan cepat Indra menyambarnya.

Tiwi hanya bisa membatin, takut merusak suasana. Wow, agresif!

Cup

Cup

Dua kecupan mendarat bergantian di punggung tangan Tiwi, membuat pipi Tiwi memanas.

Suasananya berubah romantis, ditambah musik yang tiba-tiba mengalun memenuhi lantai dua.

Kesempurnaan Cinta yang dinyanyikan oleh Rizky Febian.

Tapi sungguh, Tiwi rasanya ingin menangis. Bukan karena terharu, tapi tawa yang ia usahakan mati-matian agar tidak terlepas.

Indra--suaminya, sungguh tidak cocok dengan wajah sok romantisnya itu.

Tiwi kembali berdehem, upaya agar kembali serius. Tapi diartikan Indra, kegugupan.

“Aku nggak tau perasaan kamu ke aku bagaimana, tapi aku harap pernikahan ini menjadi satu-satunya dalam hidup kita, kamu yang selamanya menjadi milikku, dan aku yang selamanya menjadi milikmu,” ujar Indra dengan senyum tulusnya.

“Emang ada niatan nikah kembali?” Cicit Tiwi yang membuat senyum Indra seketika luntur.

Bisa-bisanya Tiwi merusak usahanya untuk romantisan.

“Kamu dilarang bicara sebelum aku persilahkan,” ketus Indra.

Ok, Tiwi ingin mengalah dengan cepat kali ini. Biarkan Indra mengeluarkan semua isi pikirannya.

Indra kembali berujar. “Sejak kejadian kamu terjatuh kemarin, aku sadar, kamu penting dalam hidupku. Perasaanku ikut sakit melihatmu kesakitan, aku khawatir sekali, takut kamu kenapa-kenapa.”

Tiwi mengangguk membetulkan, ia bisa melihat kekhawatiran sang suami kala itu.

Indra berdehem sejenak. “Aku menyesal akan tiga bulan kita, aku tidak melakukan apapun untuk memperbaiki hubungan kita, aku tidak berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan hatimu. Aku bodoh, padahal aku tau sekali, kalau tidak ada pergerakan untuk memperbaiki hubungan diantara kita, selamanya akan tetap begitu. Bisa saja selamanya hubungan kita akan berjalan begitu saja.”

Tiwi kembali berdehem, mulutnya gatal ingin ikut menimbrung.

Cup

Cup

Kedua punggung tangan Tiwi kembali Indra cium.

Bersamaan dengan itu, lagu yang dipopulerkan oleh Rizky Febian memasuki reffnya.

Berada dipelukanmu

mengajarkanku apa artinya kenyamanan

Kesempurnaan cinta

Berdua bersamamu

mengajarkanku apa artinya kenyamanan

Kesempurnaan cinta

“Sayang,” suara lembut Indra hampir membuat jantung Tiwi bersilaturahmi dengan lambung.

“Hm?” Tiwi gugup.

“Pas aku jabat tangan Papa, lantas ia menuntunku mengucapkan ijab qabul, sampai terdengar kata sah, rasanya aneh sekali, mendadak hawa dingin menyerang, aku merinding, aku—”

“Saya minta maaf karna mengganggu, ini pesanannya udah ready, Mbak, Mas,” dua pelayan yang tengah kikuk menyimpan beberapa piring di atas meja. Tanpa banyak bicara, mereka langsung pamit undur diri.

Tiwi merasa malu, sedangkan Indra mengeram frustasi, satu genggamannya ia lepas, lalu menyugar rambutnya.

“Makan dulu aja ya, bentar makannya dingin, nggak enak lagi,” Tiwi meringis.

Terdengar helaan napas berat dari lelaki yang duduk di depan Tiwi.

“Yaudah, bicara aja dulu,” Tiwi mengusap-usap tangan Indra dengan jempolnya.

Indra melepas tautan tangan, berdiri, mengangkat kursinya.

“Geserin kursinya, aku nggak mau hadap-hadapan kayak tadi, jarak wajah kamu jauh, susah kalau mau nyium!”

Diam-diam Tiwi memutar bola matanya jengah. Rasanya sudah seperti tembok tebal yang tidak punya malu. Bayangkan, suasana lantai dua yang begitu ramai, mana lagi suara Indra mampu terdengar sampai meja ketiga.

Dan berakhirlah mereka duduk bersampingan.

“Aku sayang sama kamu!” Bisik Indra tanpa peduli efeknya. Ia mulai fokus pada makannya.

Sementara si wanita sudah merinding, bulu kuduknya berdiri.

“Kenapa sih? Reaksinya gitu banget,” ledek Indra setelah mengambil sepiring nasi ke hadapannya.

Ingin rasanya menabok kepala Indra jika saja tidak berdosa ditambah rasa malu yang ia akan dapati saat orang-orang di lantai dua menatapnya penuh tanya.

Indra kembali menoleh. “Perasaan kamu ke aku bagaimana?” Tanyanya penuh harap.

Tiwi menelan salivanya. “Aku.. Aku juga sayang kamu.”

Indra tersenyum puas, lalu memajukan wajahnya, mencium semua permukaan wajah istrinya. “Aku tau kok.”

Tiwi menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Ih, malu.”

“Kirain kamu nggak punya malu, Wi,” kekeh Indra yang setelahnya mendapat geplakan di kepala dari Tiwi.

•••

tbc

1
nanaarmd🌻
kok gak ada ya?
Nanay Dachliawati
ko saya cari ninayaa ga ada
Nanay Dachliawati
ko blm up
Anik Rohman
kapan up lagi kak
Zhulayykha Anniza
lnjuut...
Rere~
seneng deh kakak otor kalok up cerita ni
Fitriyah Azsahrah
buat dong kisah tiffany dan ferrel...atau tiffany ama stefen...😁
ninayaa: Soon..
total 1 replies
Rere~
aku suka somay, Yura
so may i marry u?
kalimat yg bikin aku cekikikan😂
next kak
semangats
semoga bisa up tiap hari hehehe
Rere~
semoga besok bisa up lagi
Rere~
next kak semamgats
Rere~
Maklumin aja lah bang Aldo, Indra kan baru jatuh cinta tuh jadi ya gitu hahaha😂
Rere~
next kak
Zhulayykha Anniza
lanjuuutt.....
Zhulayykha Anniza
lanjuut...
Rere~
next thor
Rere~
akhirnya up juga😚
Anik Rohman
kapan up lagi kak..
Rere~
next thor semangats, awal baca part ini dag dig dug, pas diakhir seneng deh baca keuwuan mereka😂
Rere~
next kak
Mini Sarbini
akhirnya...lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!