NovelToon NovelToon
My Angel

My Angel

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:200.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rahma AR

Bagi Ziza, Khalid Al Ghifari sangat jauh berbeda dari para sepupu dan sahabat laki lakinya.

Cowo pendiam yang baru dia kenal di penghujung SMAnya, kini malah satu kelas dengannya. Cowo itu lebih suka menghabisksn waktu di kelas atau di perpus.

Dia selalu terluka, bahkan di awal pertemuan mereka, Ziza menempelkan plester di keningnya.

Ini cerita anak anak Kaysar cs. Semoga suka ya...♡

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan bersama keluarga Ziza

Gista tersenyum melihat tetangga baru yang ikut sarapan bersama mereka.

"Tamunya dari Dubai, sayang," ucap Kaysar sambil duduk di dekat istrinya.

"Oh, dari Dubai." Gista mengerti kenapa Ziza memberikan

perhatian lebih. Sesaat dia mengamati sosok laki laki muda ini. Tampan dan berwibawa. Ada kharisma kuat yang terpancar dari wajahnya.

Tanpa sadar Gista membandingkannya dengan Khalid. Sangat berbeda. Karena tubuh laki laki muda ini lebih berisi dibandingkan Khalid dulu yang kurus.

"Aku cemburu, yang, kalo lama lama kamu liatin dia," bisik Kaysar di dekat telinga Gista membuat istrinya tersenyum lebar.

"Kan, calon mantu." Gista balas berbisik membuat senyum Kaysar tambah lebar.

"Oh iya, lupa."

Ezra yang berada di dekat mami dan daddynya jadi melebarkan senyumnya mendengar bisik bisik keduanya.

"Kamu mau makan apa?" tanya Ziza saat melihat Khalid yang tampak sungkan.

"Nasi gorengnya pedas?" Khalid balik bertanya. Agak khawatir dengan reaksi lambungnya.

"Ngga begitu, sih." Yang menjawab Ezra. Padahal lumayan pedas juga, batin Ezra tertawa.

"Ya udah, nasi goreng aja."

"Oke." Walau agak ragu dengan ketahanan tingkat level pedas Al, Ziza menyendokkan juga ke piring Al.

"Kayak suaminya aja, Za," ledek Sean.

"Bisa gempa kalo si posesif lihat," tawa Zian.

Tawa pun meledak,lepas dan berderai.

Kata katanya langsung diapresiasikan Ezra.

Jepret.

Lagi lagi wajah Al yang ada di sana dia blur. Kali ini Ezra sendiri yang mengirimkannya buat Quin.

Biar tambah tantrum, ngakak Ezra dalam hati.

"Kamu jangan gangguin Quin, Ezra sayang. Nanti tugasnya ngga selesai selesai," larang Gista yang melihat perbuatan si bungsu. Tapi wajahnya berbeda dengan kata katanya. Karena senyum itu tampak semakin lebar.

"Bukannya bagus karena dia tambah bersemangat menyelesaikan tugasnya," kekeh Kaysar.

"Ziza selalu menjadi pengaruh super buat Quin." Setyawan juga ikut menimpali.

"Pulangnya sekarang dipercepat, Om," respon Ezra cepat.

"Oh ya?" Setyawan dan Kaysar bereaksi sama.

"Anak itu memang selalu mengejutkan," komentar Kaysar.

"Kita sudah hapak kebiasaan Quin," balas Setyawan.

Gista tertawa.

Cleo sama Jeff udah tau belum, ya, batinnya geli.

Dia tau betapa kelimpungannya Cleora menghadapi Quin.

"Waktu aku mau melamarkan Ziza untuknya, dia tolak mentah mentah. Tapi kalo ada yang mendekati Ziza, marahnya minta ampun," omel Cleora-mami Quin- waktu Ziza sedang didekati Khalid.

Sekarang tetangga baru Ziza sendiri yang pastinya akan menjadi target dan tujuan kepulangan Quin yang dipercepat.

Gista ngga bisa membayangkan sepanjang apa omelan Cleora pada Quin nanti.

Sementara pikiran Khalid mulai terganggu karena mendengar nama Quin yang disebut berulang ulang.

Belum lagi rasa pedas yang cukup membakar kerongkongannya.

"Minum, nih."

"Thank's." Khalid segera mengambil gelas yang diberikan Ziza.

"Pedes banget, ya."

Khalid menggeleng cepat, ngga mau membuat Ziza merasa bersalah.

"Wah, parah, nih. Segini, sih belum pedas," kompor Ezra.

"Besok kalo ditantang Quin makan bakso mercon, tolak, ya," saran Zian menahan tawa.

Sean hampir tersedak karena tawanya hampir meledak juga.

Ini akan jadi kemenangan yang sempurna buat Quin.

Tapi Setyawan ngga tertawa. Dia jadi teringat sahabatnya Anggoro yang juga ngga bisa sama sekali menikmati makanan pedas. Sayangnya dia ngga tau kalo Khalid suka pedas atau tidak.

Tapi karena kemiripannya dengan Anggoro, membuat pikiran Setyawan jadi berandai andai.

"Ya jangan dikasih taulah," timpal Kaysar dalam kekehannya.

"Tadi makan nasi sup aja," sesal Gista merasa kasian.

"Ngga pa pa, kok, tante," ucap Khalid setelah rasa panas di tenggorokannya mereda.

Karena sudah terlalu lama tinggal di luar negeri, Khalid ngga terbiasa dengan rasa pedas dan bumbu yang kuat.

Selama tinggal dengan mendiang mamanya pun, mereka selalu membeli makanan yang tidak terlalu berbumbu. Walau sesekali mamanya masih akan memasakkannya kari daging yang sedikit pedas. Khalid tetap belum terbiasa.

Satu lagi, nama Quin sangat mengganggu pikirannya.

Bukan pacarnya, kan? harap Khalid dalam hati.

Dia.merasa wajar kalo gadis secantik dan selembut Ziza pasti banyak yang tertarik.

Dirinya yang baru pertama melihatnya saja, sudah merasakan perasaan ketertarikan yang aneh. Seperti sudah terikat sejak bertahun tahun yang lamanya.

Dia akan patah hati kalo si Quin yang selalu disebutkan itu sudah menjadi pemilik hati Ziza.

Tapi sebelum janur kuning melengkung, dia akan menikungnya. Akan dia hadapi apa pun halangannya.

"Jangan sungkan, pilihlah apa yang kamu benar benar suka dan bisa memakannya," timbrung Setyawan.

"Ya, Om."

Setyawan tersenyum tipis. Hatinya selalu senang mendengar nama Om yang didengungkan pemuda ini.

Kaysar dan Gista saling pandang melihat betapa perhatiannya Setyawan terhadap Al.

*

*

*

"Bocah sialan!" Quin mengomel dengan suara keras. Pada layar ponselnya yang sudah retak retak itu, terbentang wajah blur monyet Dubai yabg sedang berada di dekat Ziza.

Quin ngga menyangka sudah sedekat itu pendekatannya pada Ziza

BRAAKK!

Kini ponsel itu sudah beneran hancur, pecah berhamburan di lantai.

Theo hanya bisa mendengus kesal.

Setengah jam lagi ponsel barunya akan diantar oleh pengawal mereka. Theo yakin, umur ponsel itu nggak akan lama.

*

*

*

"Quin itu sepupuku," kekeh Ziza ketika mendapat pertanyaan itu dari Al.

Khalid yang kini dikenal Ziza dan keluarganya bernama Al, ngga menyia nyiakan kesempatan untuk bertanya saat mereka agak menjauh dari yang lainnya.

"Ooh..." Lega hati Khalid mendengarnya. Senyumnya sudah bisa lepas, ganjalannya sudah lenyap.

"Sama seperti Zian. Juga nanti selain Quin,ada tiga lagi sepupu kembarku yang datang bersamanya," jelas Ziza merasa geli melihat wajah kaku Al yang sudah mencair.

"Kembar?"

"Iya. Deva kembaran dengan Dewa. Quin kembaran dengan Theo. Mereka akan pulang tiga hari lagi."

"Oooh." Senyum di wajah Khalid semakin lepas.

"Quin mungkin nanti agak berlebihan sikapnya sama kamu. Tapi sebenarnya dia sangat baik," ujar Ziza lagi.

Dalam benaknya sudah terbayang sikap Quin yang menyebalkan nanti saat bertemu Al. Seperti dulu saat ada Khalid.

Ziza menghembuskan nafasnya perlahan untuk membuang rasa sesak yang muncul tiba tiba.

"Aku mengerti." Percakapan di meja makan tadi sudah membuatnya semakin yakin, kalo nanti dia mungkin akan sedikit bersitegang dengan sepupu Ziza yang bernama Quin.

"Kamu kenal dekat dengan pelukis berbakat Sharla, ya?"

"iya. Kami teman kuliah di kampus dan jurusan yang sama."

"Oooh." Tapi Ziza belum.yakin karena melihat sikap Sharla terhadap Al di pameran.

Ngga jauh dari sana, Setyawan terus saja memperhatikan Ziza dan Al. Ingatannya kembali ke masa masa dulu, saat melihat Ziza bersama Khalid. Nuansa yang tercipta, hampir sama

"Laen kali bawa istrimu kalo ke sini. Hobimu aneh, suka pergi sendiri ninggalin istri," omel Kaysar membuyarkan lamunan Setyawan.

Setyawan tertawa.

"Dia sedamg pergi ke rumah mama bersama Mina. Aku dilarang ikut. Jam sepuluh aku boleh bergabung."

"Oooh." Tawa Kaysar pun pecah.

Beberapa saat kemudian.

"Kamu tau, Kay. Dulu Ziza juga bisa seakrab itu dengan Khalid."

Hening.

"Sayangnya aku belum pernah ketemu anak kurang gizi itu secara langsung."

"Ku hajar kepalamu kalo masih ngatain begitu," sungut Setyawan ngga terima.

'Sorry sory," tawa Kaysar dengan ekspresi minta maaf yang sepertinya ngga serius.

"Huh," dengus Setyawan.

Pantasan tengilnya Ezra seratus persen seperti dirinya, ejeknya dalam hati.

*

*

*

Vina-putri.Bara dan Moana-menatap Theo gemas. Gadis cantik itu tampak cemberut ketika Theo mengajaknya bertemu di sebuah coffe shop, yang berada di dekat apartemennya.

"Kenapa, sih, kamu ngga pede," decihnya kesal.

"Gimana aku mau pede. Aku lihat sendiri dia lagi pegangan tangan."

Sepasang mata Vina membola, nampak sangat kesal melihat sikap lebay Theo. Jauh berbeda dari Theo yang selalu tenang dan dewasa yang dia kenal selama ini.

"Aku seperti sedang bersama Quin," sindir Vina tajam.

"Kamu ngga tau, sih, gimana rasanya melihat pemandangan begitu. Baru satu bulan ditinggal, sudah punya pengganti," kesal Theo tanpa merasa perlu untuk disembunyikan.

Hanya dengan Vina, dia bisa cerita Dengan Quin, Dewa atau Deva, dia merasa gengsi. Ketiganya hanya menduga duga saja melihat sikapnya yang berubah seratus delapan puluh derajat menyangkut Ruby.

Vina menyesap kopinya hingga separuh sebelum melontarkan makiannya. Ngga dipedulikannya suhu kopi yang masih panas.

"Hei, Raden Theo Rajasa, keturunan darah biru keraton Solo, yang ngga aku tau keturunan keberapa." Vina menjeda ucapannya sebentar, sambil memperhatikan reaksi Theo yang tampak ngga peduli dengan sindirannya.

"Gadis yang kamu suka itu baru pegangan tangan, bukan lagi ci-uman atau lagi tidur bareng. Biasa aja keles," sambungnya kesal.

'Tetap aja dia sudah nyari pengganti," ngotot Theo dengan nada kalem yang menyiratkan rasa sakit.

"Terserah kamulah. Pokoknya aku ngga mau tanggung jawab kalo drama kita berhasil, dan gadis itu makin ilfeel sama kamu," marah Vina berapi api.

Theo terdiam, dia kepikiran juga mendengar kata kata Vina.

"Lebih baik terus terang, tanya baik baik. Jangan langsung ambil keputusan," nasihat Vina.

"Nggak. Pokoknya kamu tetap harus mau pura pura jadi pacarku," tegas Theo tetap keras kepala. Ruby harus merasakan juga bagaimana rasa patah hati saat melihatnya bersama perempuan lain. Seperti yang dia lakukan dulu.

Vina mendengus kesal. Kalo saja Theo bukan anak sahabat mamanya, mungkin udah dia timpuk kepalanya pake cangkir kopi. Biar otaknya ngga dipenuhi dugaan dugaan yang menyesatkan.

1
ZHANG LINGHE 🥰🥰🥰
🥰🥰
Novano Asih
dasar bocah "gemblung 🤣🤣🤣
Novano Asih
😀😀😀seneng y punya sahabat kayak mereka yang saling menjaga dan melindungi
Novano Asih
Sheren bukan yg ktnya keponakan Wikan yg fotomodel
Novano Asih
🤣🤣🤣🤣
Novano Asih
😂😂😂bener juga Quin
Novano Asih
hahaha tambah panas si Theo
Novano Asih
fix habis ini cus ke pendahulunya hehehe
Novano Asih
kasihan Khalid jd ingat sama Karrel yg sama nasibnya jadi pelampiasan kemarahan mamanya
Novano Asih
jadi penasaran sama kisah "pendahulunya
Rezki Wahyuni Nasir: makasih kak
total 5 replies
Novano Asih
baru baca pertama kali karya author ini kalau suka nanti kucari karya yg lain
rarr
huhuhu sakit bgt jd Khalid, org tua egoisssss
noval raziqhanan
endingnya bagus bangetttt
noval raziqhanan
bagus banget, seru, tokoh2ny juga seru semua. persahabatan mereka jg asyik banget. mkasi.
Lia Kiftia Usman
kok saya ikutan ☺☺🤭
noval raziqhanan: theo...theo....sampai kapan diem- diem terus
total 1 replies
Lia Kiftia Usman
saya menikmati 1 sd 7 karyamu thor... dan bertemu karyamu setelah tamat semua jadilah marathon bacanya
Lia Kiftia Usman
khalid ... empati ku keluar baca karaktermu
Sri Muryati
Luar biasa
Pujierde
bagus, klo boleh saran utk yg gak terlalu mengikuti cerita serialnya utk nama pemerannya di kasih dlm kurung seperti ziza ( cucu dr.....) karena byknya cerita jafi suka lupa klo mereka keturunan dari opa & oma nya siapa 🙏🏻🙏🏻
Rahma AR: oiya....
total 1 replies
Rasti Si Cw Imuet
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!