Kisah ini adalah kisah nyata dari pengalaman seorang wanita bernama Indah Puspita Sari (samaran). Dia adalah wanita yang tegar dan mandiri. Kisahnya dimulai ketika ayahnya meninggal dunia. Hingga pada akhirnya Indah hidup terpisah dari keluarganya dan menjalani kisah hidup yang berliku-liku dan penuh air mata. Bagaimana kisah Indah selanjutnya? Selamat membaca🙏😘
*Autor tidak pandai menulis dan membuat novel, tapi dari tulisan ini semoga para pembaca dapat memetik pelajaran yang terkandung dalam tulisan ini. Terimakasih yang sudah baca🙏 jangan lupa tinggalkan jejak ya😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Anjarwati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertunda
Sudah satu bulan lebih semenjak kejadian malam itu. Aku lebih banyak diam dan tidak mau tahu tentang suamiku. Aku juga sudah capek jika terus bertengkar. Aku memilih mengalah daripada melawan yang akan berakibat fatal.
Suamiku sekarang benar-benar sudah berubah menjadi laki-laki yang kejam dan tidak berperasaan. Sedikit saja yang dianggap salah maka tangan atau kaki yang akan berbicara. Aku seakan kenyang dengan semua perlakuan kasarnya.
Aku memantapkan hatiku untuk bercerai dari suamiku. Baru saja aku membicarakan tentang niatku dia sudah marah-marah seperti orang kesetanan. Dia bilang tidak akan pernah melepaskanku apapun alasannya. Dan akan terus menyiksa hati dan badanku. Katanya sekali sudah jadi miliknya akan selalu menjadi miliknya. Bahkan untuk hubungan suami-istri saja aku diperlakukan seperti budaknya saja.
Dia tidak segan-segan mengikat tangan dan kakiku. Dia juga tidak segan mencambukku. Dia juga tidak segan menggigit beberapa bagian tubuhku sampai luka dan berdarah. Dia bukan seperti manusia melainkan seperti seekor bin*t**g.
Aku semakin tidak tahan dan sangat tersiksa. Ketika aku mau nekad berpisah dengan suamiku. Disaat itu aku malah sedang hamil. Aku mengetahui usia kehamilanku sekitar dua bulanan. Awalnya dia menolak anakku tapi kemudian dia berubah pikiran. Dia membiarkan aku mengandung tapi tetap tidak akan berbelas kasih padaku.
Meskipun aku dalam keadaan hamil anaknya, tidak sedikitpun sikapnya mau berubah. Dia masih saja ringan tangan bahkan pernah suatu malam dia marah-marah nggak jelas hingga menendang perutku. Waktu itu rasa sakitnya luar biasa tapi dia tetap tidak perduli. Aku berusaha sendiri pergi kedokter memeriksakan kondisi anakku.
Untung saja waktu itu tidak terjadi hal-hal yang buruk pada anakku. Aku mengalami sakit diperut beberapa hari. Dan aku diberi beberapa macam obat dan vitamin oleh dokter. Dia yang sudah menyiksaku dan menyakiti calon anakku malah cuek dan santai saja.
Aku semakin yakin untuk segera berpisah dengannya. Bagaimanapun caranya akan aku lakukan supaya bisa terbebas darinya. Sementara waktu aku akan bertahan, tapi setelah anakku lahir jangan harap aku mau menahannya lagi.
Ketika kehamilanku sudah mulai membesar aku dan suami memutuskan untuk pulkam. Awalnya kita akan pulkam ke kampung dia dan setelahnya baru ke kampungku. Tapi sampai disana dia malah ingkar janji. Aku tidak diijinkan pulang ke kampungku sampai anakku lahir.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa, yang bisa aku lakukan hanya menuruti semua kata-katanya. Dikampung bukannya sadar malah semakin parah kelakuannya. Dia sering pulang malam bahkan tidak pulang. Semua kebiasaan buruknya ia lakukan. Aku yang cuma berdiam diri dirumah seakan terabaikan dan terasingkan oleh suamiku sendiri.
Dan dari banyaknya omongan orang tentang suamiku, barulah aku tahu bahwa dia memang laki-laki yang nggak bener dari semenjak ABG. Bahkan ada yang keceplosan ngomong jika dulu suamiku pernah hampir tertangkap satpol PP. Gara-gara melakukan hubungan intim ditempat umum.
Sungguh aku tidak menyangka ternyata dia sebej*d itu. Aku bertambah yakin bahwa setelah anakku lahir aku akan menggugat cerai dia. Selama aku menunggu hari lahirnya anakku, hidupku ditempat mertua sangat menyakitkan.
Setiap hari aku diperlakukan seperti layaknya seorang pembantu. Hanya saja pembantunya yang gratisan. Kata-kata dari mertuaku dan saudara suamiku sungguh sangat menyakitkan. Ditambah lagi dengan kelakuan suamiku yang semakin keterlaluan. Aku hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan dari mereka. Sebenarnya bisa saja aku kabur tapi aku urungkan niatku karena takut terjadi apa-apa dengan calon bayiku.
Tidak masalah bersabar sebentar. Karena setelahnya aku akan mendapatkan kebebasan ku. Aku akan mencari kebahagiaan bersama anakku.
* Didalam kesusahan pasti akan datang kebahagiaan. Kita hanya perlu sedikit bersabar untuk menunggu hari bahagia itu tiba. Semua sudah diatur oleh Allah SWT. Percayalah Allah tahu apa yang terbaik buat hambanya. Tidak mungkin kita akan susah terus-menerus kan.