"Perhatian!"
Agar tidak bingung dengan cerita ini, baca dulu cerita "Cinta Sembunyi-sembunyi dengan bos"
Elang dan Merpati adalah sepasang anak kembar berbeda karakter. Elang seorang pria dingin dan cuek sama lawan jenis. Bahkan hingga saat ini pun belum memiliki pacar.
Sementara Merpati, seorang gadis bar bar, namun juga sulit untuk mendapatkan cintanya. Meskipun gampang bergaul dengan lawan jenis tapi sangat sulit untuk didekati.
Namun pada suatu hari mereka jatuh cinta pada seorang gadis dan seorang pria.
Siapakah yang bisa meluluhkan hatinya? penasaran? ikuti yuk kisahnya dan baca jika berkenan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Hansen tersenyum miring, ia tidak akan pernah mengakui jika Marbella adalah saudaranya.
Meskipun itu tidak bisa dipungkiri. Sebenarnya Hansen tidak membenci kedua orang tuanya.
Namun ia sudah terlalu kecewa dengan sikap kedua orang tuanya yang hanya mementingkan diri sendiri.
Jadi wajar saja jika Hansen bersikap seperti itu. Hansen kembali ke kelasnya, Hansen menyerahkan sketsa rumah idaman seperti yang dosen minta.
Felly tersenyum saat melihat sketsa yang dibuat oleh Hansen. Karena tergambar jelas jika Hansen hanya menginginkan keluarga kecil yang bahagia.
Setelah kelas berakhir, Hansen pun keluar. Ia ingin langsung pulang. Namun saat di depan kampus, ia tidak sengaja bertemu Merpati.
Namun Hansen seperti canggung, tidak seperti kemarin-kemarin yang terlihat hangat.
"Kenapa dia?" gumam Merpati.
Merpati juga tidak peduli, mau disapa atau tidak? Namun sedikit kemudian, Hansen kembali berbalik.
Karena melihat Richard baru keluar dari mobil membawa seikat bunga. Hansen berlari kecil menghampiri Merpati.
"Cowok itu datang lagi," ucap Hansen.
Merpati hanya menoleh kearah Hansen. Kemudian ia menoleh ke Richard yang sedang tersenyum sambil mencium bunga tersebut.
Karena Richard terlalu fokus pada bunga yang dipegangnya, ia tidak sengaja menabrak Marbella yang hendak mencari Elang.
"Aww ...." Marbella hampir terjatuh. Namun dengan cepat Richard menarik tangan kemudian menahan pinggang Marbella.
Hingga bunga yang dipegang Richard terjatuh ke tanah. Keduanya saling bertatapan dalam.
"Tampannya, mengapa cowok-cowok disini begitu tampan?" gumam Marbella.
"Kamu bilang apa? Aku tidak jelas mendengarnya," tanya Richard.
"Ah tidak, tidak, aku tidak bilang apa-apa," jawab Marbella.
Richard melepaskan tangannya dari Marbella. Richard melihat bunganya yang terjatuh. Marbella langsung mengambilnya dan berlari pergi dari situ.
"Ehh ... Nona, bunga itu!" pekik Richard. Hingga semua mata tertuju padanya.
Namun Marbella tidak mempedulikannya. Malah terlihat senang saat membawa bunga tersebut.
"Cowok itu lumayan tampan, dan sepertinya sangat dewasa," gumam Marbella.
Richard melongo memperhatikan Marbella yang membawa bunganya. Richard menggaruk tengkuknya, karena bunga itu seharusnya untuk Merpati.
Saat Richard hendak menghampiri Merpati, ponselnya berdering. Richard menggeram sambil mengambil ponselnya di saku jasnya.
"Halo Ma."
"Kemana saja kamu? Di perusahaan tidak ada, apa kamu lupa jika malam ini acara pertunangan mu dengan Reva?"
"Ma, bisa gak sih dibatalkan? Aku lagi mengincar seseorang."
"Mama tidak mau tau, pokoknya kamu pulang, mama tunggu di mansion!"
Kemudian sambungan telepon terputus secara sepihak. Richard menggenggam erat ponselnya.
Kemudian berbalik menuju mobilnya. Niatnya ingin memberi bunga dan mengungkapkan perasaannya pada Merpati, harus gagal karena mamanya.
"Argh...!" Richard memukul setir mobil dengan tangannya. Dia selalu menolak keras perjodohan ini.
Apalagi setelah bertemu Merpati dia semakin bersikeras untuk tidak bertunangan dengan Revalina itu.
Hansen mengikuti Merpati ke kantin, dan itu terlihat oleh Diah. Diah mengepalkan tangannya kuat.
"Siapa sih cewek itu? Pantas saja Hansen tidak peduli denganku," batin Diah.
"Ngapain sih mengharapkan cowok yang jelas-jelas tidak menginginkan mu?" tanya Meta temannya Diah.
"Kamu gak tau apa-apa sebaiknya diam," ucap Diah.
"Justru aku kasihan padamu, lihat deh, sepertinya Hansen lebih menyukai cewek itu."
"Kita lihat saja, apa yang akan aku lakukan pada cewek itu."
Hei, jangan hanya karena seorang cowok, kamu mengorbankan masa depanmu. Aku gak ikutan ya, aku tidak ingin mencari musuh."
Meta pun pergi dari tempat itu meninggalkan Diah sendirian. Diah yang merasa kesal dengan kedekatan Hansen dan Merpati pun langsung menghampiri nya.
Byuur ... Diah langsung menyiramkan air ke muka Merpati. Merpati yang tidak menduga pun langsung bangkit dari duduknya.
"Apa-apaan kamu?" tanya Hansen yang duduk didekat Merpati.
Tanpa bicara apapun, Merpati langsung melayangkan tamparan keras pada Diah. Kemudian Merpati sekali lagi menamparnya.
Tamparan yang kedua membuat Diah terduduk dilantai. Para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kantin pun tercengang.
Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menonton saja. Hingga Elang, Marvel dan Darrel datang.
"Ada apa ini?" tanya Marvel.
"Dek, jawab," kata Elang.
"Aku gak tau salahku apa? Datang-datang langsung menyiramkan air ke mukaku," jawab Merpati.
"Karena kamu merebut Hansen dariku!"
Elang menatap tajam ke Hansen. Hansen menggeleng kuat dan mengatakan jika dia tidak punya hubungan apapun dengan Diah.
"Sumpah, aku tidak punya perasaan apa-apa padanya, sudah berkali-kali ku tolak masih saja ngejar aku. Aku hanya suka pada ...."
Sadar dengan ucapannya, Hansen segera menutup mulutnya. Kemudian memilih pergi dari tempat itu.
Diah yang masih terduduk pun menetes airmata nya mendengar perkataan Hansen. Lalu pergi dari situ sambil memegangi pipinya.
"Cari masalah sih," ucap Marvel yang kemudian duduk di kursi bekas Hansen tadi.
"Kok kalian lama?" tanya Merpati.
"Tadi ngobrol sebentar sama pak Wahyu," jawab Darrel.
Kita langsung pulang saja, kelas juga sudah berakhir," kata Elang.
"Bukannya masih ada satu lagi?" tanya Merpati.
"Tadi pak Wahyu bilang sudah selesai," jawab Darrel.
"Dibatalkan, dan besok baru ada karena pak Wahyu ada urusan mendadak," kata Marvel.
Merekapun akhirnya memilih pulang, saat di parkiran, ternyata ada Hansen menunggu dan duduk santai diatas motornya.
"Ngapain kamu disini, bukannya tadi sudah pulang?" tanya Darrel.
"Mau pulang bareng kalian," jawab Hansen.
"kita beda arah bro," kata Marvel.
"Gak apa-apa, yang penting dari sini barengan," jawab Hansen santai.
Hansen sudah mulai dekat dengan mereka, entahlah, Hansen merasa nyaman dekat dengan mereka.
Meskipun mereka rada-rada cuek dan dingin menanggapi orang lain. Atau mungkin Hansen ada maksud lain?
Merekapun keluar dari parkiran, tiga buah mobil mewah dan dua motor sport. Mobil mewah milik Darrel adalah hadiah dari Alvaro untuknya.
Sebagai bakti Dary bekerja selama ini dengan Alvaro. Dan juga agar Darrel tidak terlalu insecure dengan teman lainnya.
Walaupun Dary mampu membelikan mobil untuk anaknya, namun belum tentu mobil semewah ini.
Awalnya mobil itu akan di berikan kepada Merpati, namun Merpati menolak dan lebih memilih motor.
Hansen melambaikan tangannya pada mereka karena ia beda arah. Ia ingin pulang ke apartemennya.
.....
Hansen memarkirkan motornya di parkiran apartemen, saat baru turun dari motor, ternyata sudah ada Lidya dan Wilson menunggunya.
"Hansen anakku," Lidya yang sudah tidak bisa menguasai perasaannya langsung memeluk Hansen.
Hansen terdiam mematung tanpa membalas pelukan mama nya. Entahlah, Hansen merasa tidak ada lagi kehangatan meskipun sudah dua kali dipeluk mamanya.
"Hansen, mamamu selalu mengingat mu, apa kamu akan terus bersikap seperti ini?" tanya Wilson.
"Entahlah Om, selama ini aku seperti tidak punya orang tua. Papa? Papa saja tidak pernah menyayangi ku, dia lebih menyayangi anak dari wanita itu. Dan mama? Namanya saja aku punya mama, tapi sejak kecil aku tidak merasakan kasih sayang itu," jawab Hansen.
Lidya menangis saat mendengar keluhan Hansen, apa yang dikatakan Hansen memang benar.
Dia selalu sibuk dengan urusannya sendiri, tanpa memikirkan perasaan anaknya. Wilson tidak bisa berkata apa-apa lagi mendengar keluhan Hansen.