Kalea Ludovica—murid paling keras kepala seantro SMA Bintang dan salah satu murid yang masuk dalam daftar jajaran murid paling disegani disekolah. Masa lalunya yang buruk karena sering dikucilkan keluarga sampai kematian sang adik membuatnya diusir dari rumah ketika masih berusia tujuh tahun.
Tuduhan yang ia terima membuat dirinya begitu sangat dibenci ibunya sendiri. Hingga suatu ketika, seseorang yang menjadi pemimpin sebuah geng terkenal di sekolahnya mendadak menyatakan perasaan padanya, namun tidak berlangsung lama ia justru kembali dikecewakan.
Pahitnya hidup dan selalu bertarung dengan sebuah rasa sakit membuat sebuah dendam tumbuh dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnettasybilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
...- happy reading, dear -...
...***...
Kalea, Letta dan Ana sedang berada di perpustakaan. Dua jam ke depan mereka kan free less. Kalea duduk dengan tidak tenang seraya meremas rok sekolahnya. Letta dan Ana sibuk dengan tugas mereka membuat Kalea segan untuk mengganggu. Ia pun berdiri lalu melangkah pergi.
"Mau kemana lo?" panggil Letta. Orang-orang yang mendengar teriakan Letta menatap tajam padanya. Sudah tau berada di perpustakaan ia malah berteriak keras.
"Sorry ya sorry..." tutur Letta menangkup kedua tangannya. Kalea yang sadar situasi menoleh pada Letta.
"Gue kebelet nih gak nahan lagi," ujarnya pelan seraya memegang roknya erat menahan sesuatu agar tidak keluar.
"Kita temani ya?" ucap Letta.
"Engga usah deh, selesain ajah catatan lo pada."
"Ok deh. Hati-hati lo."
***
"Gue dengar Clara udah baikan sama Kalea. Gue heran sama itu anak mau ajah berteman sama cewek penyakitan kayak dia," tutur Kiara ketika ia tidak sengaja mendengar segerombolan adik kelas tengah menggosipkan Kalea berteman dengan Clara. Sementara Clara sejak berteman dengan Kalea tidak terlihat lagi di sekolah.
Tak sengaja mata perempuan itu menangkap Kalea berjalan menuju toilet dengan langkah terburu-buru. Senyum smirknya menghiasi sudut bibir Kiara dan mulai menoleh pada teman-temannya yang tampak tersenyum miring menyambut.
"Baru gue omongin itu bocah udah nongol aja depan mata. Ini kesempatan kita buat ngerjain itu anak."
"Lo benar, tapi gimana caranya?" tanya Ivy.
"Gue ada ide, ayo!!" ajak Kiara.
"Lo yakin dia bakal takut dengan cara begini?" lirih Ivy seraya mengawasi keadaan sekitar.
"Gue gak tahu. Kita cuman ngerjain dia dan ini masih belum seberapa gue rasa."
"Buruan sebelum Kalea selesai," perintah Kiara pada Melisa.
"Jangan tinggalin gue Kiara.." seru Melisa ketakutan ketika ia ditinggal teman-temannya.
"Banyak omong lo, sana pergi!"
Punggungnya didorong kuat oleh Kiara membuat Melisa hampir terjatuh mencium lantai. Ia harus lebih ekstra sabar menghadapi Kiara kalau tidak ibunya akan mendapat masalah.
Di dalam toilet
Lampu yang tadinya terang mendadak kedip-kedip membuat Kalea masih berada di dalam panik. Sampai akhirnya Kalea mengurungkan niatnya membuka pintu bilik itu.
"Maafin gue Lea. Gue tau lo cewek baik, sekali lagi maafin gue."
Melisa turun dari kursi setelah gadis itu selesai melakukan rencana suruhan Kiara. Mereka tertawa mendengar suara ketakutan Kalea dari balik dinding toilet.
Brakk!!!
Sekali lagi Kalea dibuat terkejut dengan suara pintu terbanting keras menghantam tembok.
"Si-siapa di sana?" tegur Kalea panik seraya menutup kedua telinganya. Sekilap bayangan putih melintas dari bawah bilik membuat Kalea menjerit dan keringat dingin.
"To–tolong .. tolong hidupin lampunya. Siapapun diluar tolongin gue! Gu–gue takut gelap."
Kalea mengumpulkan semua keberaniannya, ia raih kenop pintu lalu diputar perlahan. Terkunci. Berulang kali ia putar kenop pintu. Nihil. Ia benar-benar terkunci dari luar.
Selepas mereka mengerjai Kalea, ketiga gadis itu kini berjalan di lorong sekolah dengan tertawa terbahak-bahak. Tidak jauh dari tempat mereka, Zion berjalan kearah mereka membuat Kiara spontan merapikan rambutnya yang sebenarnya tidak indah sama sekali. Rambut dicat berwarna pirang itu terlihat tidak cocok pada kulitnya yang kuning langsat.
"Lo lihat Kalea Kia?" tanya Zion pada Kiara.
"Gak lihat tuh," sahut Kiara sambil bergelayut manja di lengan kokoh cowok itu.
"Gimana kalo kita ke kantin ajah." Kiara yang tidak sekelas dengan Zion sangat menyukai cowok itu semenjak masa orientasi sekolah. Semangatnya mengejar semakin bertambah saat ia tahu kalau Zion anggota Vesarius.
"Gimana? lo gak mau kita ke kantin?"
"Gue sibuk.." tegas Zion menghempaskan tangannya dengan kasar.
"Lo sibuk karena cewek penyakitan itu. Cantikan gue juga.."
"Jaga mulut lo. Lo yang pantas disebut kayak gitu, lo gak sadar dengan penampilan lo ini. Murahan.." cecar Zion berlalu meninggalkan mereka bertiga. Melisa si gadis polos melihat penampilan Kiara secara detail.
"Tapi benar juga Kia, baju lo emang udah ketat gitu sampai-sampai punya lo—"
"Diam, sialan!!" potong Kiara sebelum Melisa melanjutkan omongannya.
***
Ruangan XI IPS 1
Letta dan Ana sudah bosan sedari tadi menunggu kedatangan Kalea. Namun, yang ditunggu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Buku paket yang mereka salin sudah tersusun kembali di lemari. Kemudian mereka keluar mencari keberadaan Kalea, takut gadis itu kenapa-kenapa di luar sana.
Jauh dari tempat mereka berdiri sosok Zion menatap keduanya. Buru- buru mereka berlari menghampirinya.
"Kakak liat Kalea, ngga?" tanya Letta.
"Kebetulan kalian nanya itu, gue lagi nyari itu anak, dari tadi gue chat gak dibalas telepon gue juga gak diangkat."
Dilain sisi Gabriel yang berjalan dengan kedua tangan berada disaku mendadak mendengar teriakan minta tolong. Kedua telinganya ia pasang dengan baik, teriakan minta tolong menghilang saat dirinya berdiri dibalik pintu yang jelas berada di toilet perempuan.
Ia memandangi sekelilingnya, tidak ada orang disana hanya ia sendiri. Ia menimbang-nimbang apakah ia masuk ke toilet perempuan demi rasa penasarannya karena suara sebelumnya. Tidak peduli apapun yang terjadi dalam sana, kenop pintu toilet ia putar secara perlahan. Begitu gelap dan berusaha beradaptasi dengan pencahayaan yang minim. Sedikit was-was takut ada orang di dalam.
Gabriel mengecek satu per satu bilik sampai sebuah tangan tergeletak di bawah bilik ketiga. Lantas ia segera membuka pintu bilik dan mendapati seorang perempuan tergeletak tidak sadarkan diri. Ia mulai berjongkok seraya menyibak rambut gadis itu.
"Kalea..." panggilnya. Kemudian ia bergerak cepat, mendekati gadis itu lalu menepuk pipinya pelan. Merasa tidak ada respon, Gabriel mengangkat Kalea ala bridal style.
Langkahnya terburu-buru membuat Gabriel semakin mengeratkan pegangannya disela paha dan tubuh Kalea sampai ia melihat keberadaan Zion, Letta dan Ana yang menatap dirinya yang menggendong Kalea. Segera Zion, Letta dan Ana berlari menyusul Kalea.
"Kok Kalea bisa sama lo? Adik gue kenapa? Lo ketemu Kalea dimana?" tanya Zion kembali menatap adiknya yang tak sadarkan diri di gendongan Gabriel.
"Gue ngga tau. Gue dengar dia teriak di toilet dekat perpustakaan."
***
Ruang UKS
Ruangan serba putih dan bau obat-obatan mulai menggangu penciuman Kalea. Ia perlahan membuka kelopak mata dan mengedarkan pandangannya dan mendapati Letta dan Ana duduk di sebelah ranjangnya. Mereka berdua sebelumnya sudah mendapat izin dari guru di jam terakhir siang ini untuk menjaga Kalea di uks. Kalea perlahan mendudukkan tubuhnya kemudian bergeser sedikit dengan kedua kaki menggantung di tepi ranjang.
"Kalea, lo udah sadar? Apa ada yang sakit?" Letta menyentuh lengan gadis itu, mengamati wajah Kalea yang sudah kembali cerah, tidak sepucat saat ia di gendongan Gabriel tadi.
"Gue gak papa. Gue baik-baik ajah."
"Kok bisa sih lo pingsan di toilet? Jangan bilang lo ngelihat penunggu kamar mandi di sana?" tutur Letta membuat Kalea menggeleng pelan.
"Bukan, gue juga gak tau kenapa tiba-tiba ajah lampu toilet di sana mendadak mati terus gue dikunci dari luar."
"Ada yang gak beres kalau gitu. Pasti ada orang yang usili lo saat di toilet. Siapa lagi kalau bukan tukang bully di sekolah ini."
"Pas kita nyariin lo, kita gak sengaja lihat nenek lampir si Kiara ketawa-ketawa gitu sama dayang-dayangnya. Pasti ini ulahnya mereka."
"Jangan menghakimi. Dia gak pernah punya masalah sama gue, gitu juga sebaliknya," sela Letta.
"Mungkin ajah kan secara dia juga ikut jahilin lo saat Clara belum berubah seperti saat ini. Gue ajah gak percaya kalau itu anak bakalan baik benaran sama lo."
Kalea turun dari ranjangnya kemudian berkaca merapikan anak rambutnya yang berantakan.
"Udah ayok kita pergi," ajak Kalea pada keduanya.
***
Cowok berbadan tegap seraya tangan memegang kepala dengan ponsel di dekat telinga sedang berdiri ditembok samping kelasnya. Siapa lagi kalau bukan Zion, cowok paling heboh ketika mendengar adiknya kenapa-kenapa.
Zion sendiri tidak tahu menahu dari mana pria tua itu dapat kabar tentang Kalea pingsan di sekolah. Ia yakin pasti ada dalang dibalik setiap informasi yang Papanya dapatkan
Bawa Kalea pulang secepatnya.
Belum sempat ia menanyakan maksud dari ucapan sang papa, sambungan telepon sudah diputus sepihak oleh Papanya.
Zion menghela napas berat, lagi-lagi ia kena ceramah. Ia pun bergerak dari tempat itu dan mulai berjalan menuju kelas Kalea di lantai tiga. Disana ia melihat Kalea pergi meninggalkan kelas bersama kedua sahabatnya.
"Lo bareng kakak pulang karena papa tadi nelpon."
"Papa marah lagi?" tanya Kalea dengan dahi yang mengerut.
Zion tidak menjawab, tapi cowok itu berlalu lebih dahulu. Kalea tau kakaknya sedang tidak ingin membahas hal ini lebih jauh lagi. Ia pun menoleh pada Letta dan Ana.
"Gue pulang duluan ya, hati-hati kalian."
Kalea melambaikan tangannya lalu berlari kecil mengejar Zion lalu meraih lengan cowok itu berjalan di koridor yang mulai sepi.
"ZION!!"
Adit yang melihat itu merasa aneh saat cowok itu sama sekali tidak menjawab panggilannya. Begitu juga dengan Gabriel, Haris dan Bobby masih duduk santai di atas motor mereka masing-masing.
"Kenapa sih itu anak? "
"Jangan bilang itu anak udah tau kejadian di depan sekolah."
"Bisa juga, tapi mungkin ajah karena Kalea pingsan di toilet tadi siang. Lo tahu kan gimana bokap nya. Om Bagas pasti pasti tau semua yang berhubungan dengan Kalea," timpal Bobby.
***
Ruang tamu menjadi tempat yang begitu menegangkan bagi Kalea dan belum lagi Bagas yang melirik kedatangan mereka dengan mimik wajah datar. Lagi dan lagi Zion menghela napas panjang. Kalea menoleh pada kakaknya yang wajahnya hanya menatap lantai marmer. Kesalahan yang ia perbuat selalu saja kakaknya yang menanggung.
"Tidak usah sekolah lagi.. kamu les privat atau homeschooling saja mulai besok."
"Kenapa tiba-tiba papa begini?" kata Kalea.
"Papa udah bosen dengar kamu yang jatuhlah, pingsan di toilet dan yang lain yang mungkin akan terjadi lagi. Ada baiknya tidak usah sekolah..."
"Tapi pa—"
"Tapi apa Kalea?" Bagas menatap tajam. "Papa sekolahin kamu bukan untuk mendengar kamu bermasalah atau diganggu siapapun itu. Mereka mungkin gak tau kalau Papa bisa keluarin mereka dari sekolah, tapi Papa gak mungkin lakuin hal semacam itu."
Kalea bergeming. Keduanya menatap Bagas dengan wajah serius.
"Kalau tidak ada yang mau kalian bicarakan lagi biar Papa pergi, papa sibuk."
Bagas berdiri dari sofa. Sebelum beliau beranjak, Zion angkat suara dan pria itu langsung menoleh pada mereka.
"Apa gak bisa kasih kesempatan lagi pa buat Kalea sekolah lagi. Ini bukan sesuatu yang Kalea inginkan untuk terjadi. Kalea selalu baik-baik saja disekolah, tapi papa juga tau sendiri—ada beberapa orang gak pernah suka lihat kita."
"Papa mau lihat Kalea cemberut setiap harinya? Kalea udah bertahun-tahun homeschooling dan papa mau Kalea mengurung diri terus?"
"Kamu menentang perkataan Papa?!" seru Bagas.
"Bukan begitu pa. Papa gak boleh terus-terusan mengekang Kalea atau melindungi Kalea dengan peraturan papa yang seenaknya. Kalea juga punya kehidupan Pa, apa papa gak kasian pada Kalea?"
Zion menoleh pada Kalea. Gadis itu mengerutkan bibirnya lalu menunduk sambil melirik papanya sekilas. Bagas memejamkan mata sebentar lalu mengulas senyum tipis.
"Kali ini Papa kasih kesempatan terakhir tapi ingat jaga dirimu baik-baik Kalea. Jangan percuma kamu belajar bela diri kalau gak bisa jaga diri sendiri."
"Siap Pa," tutur Kalea berdiri dan langsung memeluk Papanya erat.
Papa mereka pergi meninggalkan ruang tamu. Seketika Zion membuang napas berat.
"Senang kan lo. Ingat itu masih hutang, lain kali kakak tagih dengan tagihan berbeda," ujar Zion beranjang dari hadapannya. Sontak Kalea berlari kecil mengejar kakaknya menuju kamar. Bukannya ke kamarnya gadis itu malah berguling kesana kemari di kasur empuk milik Zion yang besar.
Kalea tidak pernah merasa segan memasuki kamar kakaknya bahkan melompat-lompat di ranjang seperti anak kecil.
Saat ini Zion mengganti seragam sekolahnya dengan kaos putih juga celana selutut di dalam kamar mandi.
"Jalan yuk..." ajak Zion pada Kalea yang asik memainkan ponsel milik Zion di atas tempat tidur.
"Kemana?" Kalea masih telentang di ranjang king size Zion sesekali gadis itu terkekeh membalas chat group yang notabennya bukan ponsel miliknya.
"Nanti kakak bilang. Ganti baju dulu gih sana.."
Segera Kalea bangkit berdiri, tapi sebelum itu ia membuat ponsel kakaknya diam bukan berdering lalu meletakkannya di atas ranjang.
Diambang pintu kamar, gadis itu terkekeh sendiri lalu menutup pintu kamar kakaknya.
"Gak perlu dandan, kita cuman keluar sebentar," teriak Zion dari kamar.
Kalea menanggalkan satu persatu seragam sekolah dan sepatunya. Tidak perlu mandi ia bakalan tetap wangi seperti biasanya, lagian ini masih jam empat sore.
Kaos putih polos dan belt jeans yang Kalea kenakan membuat penampilannya begitu fashionable. Tak lupa rambutnya ia cepol asal dan terakhir sepatu sneakers perpaduan warna hitam dan putih.
"Cepat woi lama benar!" teriak Zion dari lantai bawah.
Sontak Kalea menatap pantulan dirinya tuk terakhirnya sebelum ia bertempur kemana kakaknya akan membawanya.
Ia pun menutup asal pintu kamarnya lalu turun tergesa-gesa.
"Bentar Kak. Gak lihat apa Kalea lagi benerin baju..."
"Gaya lo. Udah gak usah sok cantik lo itu jelek bangat," celetuk Zion membuat Kalea meninju punggungnya.
"Tau rasa..."
Kalea mendahului jalannya Zion sambil menjulurkan lidahnya.
Sudah lima belas menit Kalea bosan di dalam mobil. Entah sejauh apa tempat yang akan mereka kunjungi. Kening gadis itu berkerut saat setiap sisi jalan yang mereka lalui penuh dengan pepohonan hijau yang tinggi. Gadis itu lantas menurunkan kaca mobil. Angin berhembus begitu sejuk menerpa wajahnya.
Kaca itu mendadak naik lagi membuat Kalea kembali menurunkannya. Turun lagi dan membuat Kalea naik vitam. Zion benar-benar menjahilinya lagi.
"Gak bisa tenang iya itu tangan, kalau gak bisa diam biar Lea patahin," kelakar Kalea menoleh tajam pada Zion yang sudah cengengesan.
Tak lama mobil yang mereka kendarai berhenti didepan sebuah pondok dan sebelah kirinya terdapat sebuah pohon besar yang menjulang tinggi tepatnya rumah pohon dan di depannya sebuah danau membentang luas. Kalea lebih dulu turun membanting pintu mobil meninggalkan Zion yang meneriaki namanya.
Kalea berlari kecil menuju danau dan kedua tangannya ia angkat mirip seperti orang mau terbang. Zion hanya bisa menatap tawa adiknya itu. Rasanya ia tidak menyesal membawanya ke tempat seperti ini.