Ah,..rasa- rasanya diriku perlu menemukan seorang guru yg mampu untuk mengajariku mendapatkan cara memiliki tenaga dalam, berkata pemuda itu di dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakaria Faizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4 Terluka dalam.
Sesaat suara derap langkah kuda yang di tunggangi oleh Tumenggung Singorejo itu tidak terdengar lagi.
Keadaan di tempat itu kembali sunyi yg terdengar hanya suara deras nya di hujan yang menyiram bunyi baru sesekali diikuti oleh sambaran petir yg mengguntur.
Tubuh pemuda yang berasal dari dusun Winanga ini tetap terdiam kaku.
Tampaknya memang Wisanggra Kinangkin telah tewas.
Hingga menjelang pagi , meski curah hujan masih sangat deras nya dan tiba-tiba saja,
" Cre, chak,"
" Dhumbhh,"
" Bleghuaar,"
Satu cahaya kilat berwarna putih yang datang menyambar ke arah tubuh pemuda yang tengah terbaring diam kaku itu, bersamaan itu pula suara mengguntur dengan kerasnya.
Tubuh Wisanggra Kinangkin tersebut terkena sebuah sambaran petir yg keras sekali pada punggung nya.
Namun ke anehan pun terjadi sesaat petir telah menyambar tadi.
Tubuh pemuda yang terbaring dalam posisi tertelungkup ini perlahan bergerak , setelah sekian lama diam kaku.
Ia mulai mengangkat kepaknya sedikit dan,
" Hoeeekh,"
Belum pun sempat ia menegakkan kepalanya itu , ia langsung memuntahkan darah yg berwarna hitam yg cukup kental.
" Hoeekhh,!"
Dan untuk kedua kalinya ia pun kembali memuntahkan darah.
Setelah beberapa kali memuntahkan darah , dan diakhiri dengan muntahan darah segar, menggeliatlah tubuh pemuda itu.
Ah, dimana aku ini, apakah aku telah meninggal dunia, membathin pemuda itu di dalam harinya.
Akan tetapi sesaat ia masih merasakan air hujan yg menimpa tubuhnya, pemuda itu merasa bahwa ia memang masih hidup.
Ternyata ilmu Tumenggung Singorejo itu teramat tinggi , berkata lagi ia di dalam hati.
Wisanggra Kinangkin berusaha bangkit dari tempat tersebut.
Dengan susah payah dan merasakan sakit yg teramat sangat pada dadanya, pemuda ini mampu untuk duduk.
Ia mulai mengatur jalan pernafasan nya.
Beberapa kali ia sempat terbatuk-batuk akibat rasa sakit yg diraskan di dadanya tersebut.
Belum lagi tubuh nya yg merasa seperti sedang terbakar api yang sangat panas.
Hujan deras yang turun seolah membuat dirinya menjadi demam tinggi.
Tubuh nya itu ia terasa seolah seperti besi panas yg berwarna merah di siram oleh air.
Setelah cukup lama ia duduk dan mengatur jalan pernafasan, Wisanggra Kinangkin pun bangkit seraya berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Meski dengan langkah yg tertatih-tatih, bahkan senjata canggah nya yg ia perginakan untuk menopang tubuh nya yg berjalan terbungkuk itu dan sambil memegangi dada sebelah kirinya.
Saat mentari terbit di ufuk timur, dimana langkah kaki pemuda dari dusun Winanga ini sudah cukup jauh meninggalkan dusun Ngundur.
Ia berjalan terus ke arah utara hingga kembali terjatuh pada sebuah kubangan lumpur yg berada tidak jauh dari tepi sungai
Pemuda ini merasakan demam yang sangat tinggi hingga tubuh nya menggigil hebat.
Ia jatuh di dalam lumpur tersebut dan tidak mampu untuk bangkit.
Namun kembali ke anehan terjadi, Wisanggra Kinangkin merasakan hawa panas yg keluar dari dalam tubuh nya itu terasa agak mendingan setelah bersetuhan dengan lumpur tersebut.
Maka dengan cepat pemuda yg sudah tidak mampu bangkit itu melumuri tubuhnya dengan menggunakan tanah lumpur itu hingga tinggal kepalanya saja yang tersisa.
Seharian penuh Wisanggra Kinangkin terbenam di dalam tanah yg berlumpur yg berada tidak jauh dari tepi sungai.
Pemuda ini pun merasakan perubahan pada tubuh nya yg sangat mencolok, ia merasa ada sebuah aliran hawa aneh yg mengalir di dalam tubuhnya.
Ketika matahari sudah merendah di ufuk barat, perlahan-lahan ia pun mulai menyingkirkan lumpur yg menutupi tubuhnya ini.
Setelah berhasil, Wisanggra Kinangkin langsung duduk dengan posisi bersedekap, ia berusaha untuk memulihkan seluruh kesadarannya.
Dengan jalan melakukan sebuah laku.
Wisanggra Kinangkin mulai merunut apa yg telah terjadi pada dirinya ini hingga ia mampu mengingat dengan jelas sekali saat tubuhnya terpanggang oleh ilmu yang di lontarkan oleh Tumenggung Singorejo tadi malam.
Meski malam mulai menjelang, Wisanggra Kinangkin tidak meobah posisi nya ia masih memusatkan nalar budinya demi dapat petunjuk dari yg Maha Kuasa , untuk apa yg harus ia lakukan selanjutnya.
Dalam semedinya ini, Wisanggra Kinangkin seolah mendengar suara seseorang yg mengatakan,
Pergilah ke arah Utara terus dan jika telah menemukan sebuah goa, masuklah ke dalam nya, berlatih disana dengan menggunakan jurus naga kembar mu itu, kelak dirimu akan dapat mengungkapkan tenaga dalam yg maha dahsyat,
Demikian lah, akhirnya Wisanggra Kinangkin pun menyudahi laku nya itu , ia pun langsung bangkit dan mencabut senjatanya yg tertancap di dalam tanah.
Pemuda ini langsung mengikuti perintah yg di dengar nya dalam laku tadi, serta merta ia pun berjalan ke arah utara menyusuri tepian kali tersebut.
Tubuh nya terasa mulai ringan, dan panas serta menggigil nya pun telah tiada lagi.
Dengan sangat bersemangat sekali ia pun terus melangkah kakinya menuju tempat tersebut.
Hingga cukup lama, bahkan malam sudah sangat larut.
Wisanggra Kinangkin menemukan apa yg ia cari.
Apakah goa ini yg disebutkan oleh orang tadi, bertanya di dalam hati Wisanggra Kinangkin.
Setelah ia melihat ada sebuah goa yang berada di sebuah tebing curam yg ada di tepi kali itu.
Letaknya pada sebuah cekungan air dan di tutupi oleh rimbun nya pepohonan.
Namun meski suasana malam yg sangat gelap, Wisanggra Kinangkin mampu dengan jelas melihat tempat tersebut.
Aneh, desis nya heran.
Sebab , bagaimana pun juga penglihatan nya selama ini tidak se-terang dan se-jelas seperti saat ini untuk itulah ia bergumam sendiri atas keanehan yang terjadi.
Akan tetapi ia tidak terlalu peduli akan keanehan yang telah terjadi.
Wisanggra Kinangkin berusaha untuk mencari jalan agar bisa tiba di mulut goa tersebut yg letaknya agak tinggi dari permukaan air sungai.
He, seperti nya aku harus menyebrang kesana lalu memanjat naik di antara tebing dan bebatuan itu berkata Wisanggra Kinangkin.
Dan tidak menunggu lama, pemuda itu pun menceburkan dirinya ke dalam sungai yang cukup dalam meski tidak terlalu lebar.
Ia berenang menuju goa yang berada di seberang itu.
Air sungai yang sangat dingin terasa menyegarkan di tubuh pemuda ini, ia terus saja berenang menuju tepian dan berhasil.
Dengan cepat ia pun mulai memanjat naik menuju mulut goa.
Meski seharian ia belum makan,dan telah terkena hantaman aji cakar wesi tetapi tenaga pemuda ini masih sangat kuat.
Ia pun berhasil mencapai mulut goa dengan selamat.
Mulut goa ini terlihat sangat bersih seolah ada yang merawat nya.
Tanpa pikir panjang lagi, Wisanggra Kinangkin pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam goa tersebut.
Lumayan luas juga goa yang dimasuki oleh Wisanggra Kinangkin ini hingga ia masuk lebih dalam lagi.
Pada sebuah persimpangan, Wisanggra Kinangkin agak bingung harus menuju arah kemana.
Tetapi dengan cepat ia memutuskan menuju arah ke sebelah kanan dari lorong yg ada di dalam goa tersebut.
Ternyata jalan nya agak menaik dan pada salah satu ujungnya terdapat sebuah tempat agak luas dan terdapat penerangan yang entah darimana datang nya.
Seolah tempat itu ada lampunya sehingga dengan jelas Wisanggra Kinangkin dapat dengan jelas melihat gurat-gurat gambar dan tulisan yg ada di dinding nya ini.
He, tempat apakah ini, bertanya Wisanggra Kinangkin dalam hatinya.
Ia melihat seolah tempat tersebut sebuah tempat yg di peruntukkan menjalani sebuah laku.
Dan petunjuk laku tersebut terdapat pada dinding goa.
.
Apalagi cerita berlatang belakang sejarah..
brrrr...rumit dan ruwettt bangettt..
cari referensinya puyenggggg...
Aku salut pada Othor yg sudah mampu menghasilkan hingga ratusan eposod..
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Maaf..bukan promosi..
Sekedar wujud menghargai karya rumit yg membutuhkan waktu berbulan2, bahkan bertahun2.
Untuk pemirsa yg minat dg certa sejarah Mataram Kuno. Dari Medang hingga Kediri masa Jayabaya.
Silahkan cari karya Kang Ebez..
Keren. ratusan episod dan sudah tamat..
Sayang banget kalau gak dinikmati..
Atau jika kurang puas juga..
Cari aja karya-karya S.H Mintarja..
yg paling fenomenal: Api Di Bukit Menoreh..
Jaman runtuhnya Pajang, dan berdirinya Mataram.
banyak tuh di wordpress
sampai ribuan episod..
sampai ganti penulis 3x belum tamat...masih on going..
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏