Dunia persilatan ibarat lorong goa yang panjang.
Tempat ancaman kematian selalu datang dari balik kegelapan.
Pertarungan demi pertarungan yang selalu berakhir dengan kematian.
Itulah jalan para pendekar membunuh atau di bunuh.
Bagiku seorang pendekar mengusai ilmu beladiri bukan mencari kesempurnaan melainkan untuk membela mereka yang lemah dan tak berdaya.
Apakah arti kesempurnaan ilmu, jika tak di abadikan untuk kemanusiaan.
Namun dalam setiap pertarungan yang berakhir dalam kematian lawan, hanya kehilangan yang kurasakan.
Semakin lama semakin dalam.
Ada yang hilang dan ada yang ku temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizan Armand, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turmanen Pendekar Muda 5
Dalam beberapa menit setelah diberitahukannya pengumuman untuk beristirahat. Semua penonton, peserta dan para tetua meninggalkan tempat berlangsungnya turnamen tersebut.
Liu Wei lantas berinisiatif mengajak Arya ke tempat yang menjadi ruangan makan bagi para murid Sekte Bunga Matahari. Disana juga sudah terdapat para peserta serta para tetua dari berbagai sekte.
"Ingat, jangan memaksakan diri dalam pertandingan, jangan sampai amarahmu membuatmu kehilangan konsentrasi, karena itu akan membuat seranganmu tidak efektif. Kuasai pertandingan dan carilah kelemahan musuhmu." Arya memberi pengarahan pada Liu Wei saat mereka sedang makan bersama.
Liu Wei hanya mendengarkan sambil terus menatap wajah pemuda yang sedang makan di hadapannya tersebut.
"Hei... Apa aku boleh bergabung?" Ucap Qin Ling sesudah berada di samping Arya.
"Kau... Kenapa tidak makan dengan teman-teman saktemu, dan malah datang kesini." Balas Liu Wei memandang Qin Ling dengan tatapan sinis.
Arya menengok kepada Qin Ling sambil tersenyum ramah. "Oh nona Qin, silahkan jika ingin bergabung dengan kami."
"Terimakasih." Qin Ling menelangkupkan tangannya dan lantas mengambil tempat duduk di samping Arya.
"Eh... Kenapa kau biarkan dia bergabung bersama kita. Merusak suasana saja." Liu Wei berkata dingin karena merasa tidak terima kebersamaannya dengan Arya di ganggu wanita lain.
"Biarkan saja toh makin rame makin seru. Ya sudah jangan kebanyakan mengobrol, mari kita makan." Setelah mengatakan hal tersebut, Arya kembali menyantap makanannya.
Mereka bertiga pun kemudian menyantap makanan masing-masing tanpa ada perbincangan di dalam aktifitas santap makan tersebut. Arya sendiri fokus pada makanannya, sedangkan kedua gadis itu saling melirik satu sama lain dengan ekspresi seolah mereka sedang memperebutkan pemuda didekatnya itu.
"Apakah nona sudah sembuh?" Tanya Arya setelah mereka selesai makan.
Qin Ling tersenyum mengangguk dan lalu melirik Liu Wei sebelum berkata. "Ini semua berkat bantuanmu. Aku datang kesini sebenarnya berniat untuk mengucapkan terimakasih."
Arya mengangguk dan tersenyum ramah.
"Kalau boleh tahu apakah saudara Arya berasal dari Sekte Bunga Matahari?" Tanya Qin Ling.
"Bukan nona, aku hanyalah pengembara yang kebetulan mampir ke sekte ini." Balas Arya.
"Hemmm. Uhuk.. uhuk.. jadi sekarang aku tidak di anggap ada ya. Yasudah aku akan pergi." Liu Wei langsung berdiri dan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua yang masih sedang berbincang-bincang ringan.
"Tunggu... Kau mau kemana? Maaf nona aku permisi dulu." Arya menoleh ke arah Qin Ling lalu mengejar Liu Wei.
"Bolehkah aku ikut?" Tanya Qin Ling sesaat sebelum Arya pergi menjauh.
Arya tidak menanggapi pertanyaan itu, dia hanya menatap Qin Ling sesaat lalu kembali melangkah menyusul Liu Wei.
Liu Wei berhenti dan duduk di taman dengan wajah kesal sambil melempar beberapa batu kerikil.
"Ada apa denganmu?" Tanya Arya sesaat setelah tiba di lokasi gadis itu.
Liu Wei mengalihkan pandangannya ke Arya sesaat, dan lalu kembali memalingkan wajahnya kesal sebab melihat di belakang pemuda itu terdapat Qin Ling yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Kenapa kau mengajak gadis itu kemari?" Ucap Liu Wei tanpa melihat Arya.
"Siapa?" Tanya Arya sesaat sebelum Qin Ling muncul disampingnya.
"Maaf nona, bisakah nona kembali. Kita sedang tidak bisa di ganggu." Arya menundukkan kepalanya karena merasa tidak enak hati mengusir gadis tersebut.
"Baiklah... Tapi aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Tetua kami ingin bertemu denganmu setelah turnamen ini selesai. Apakah tuan bersedia memenuhi undangan kami?" Qin Ling beberapa kali melirik ke arah Liu Wei yang kini menatapnya.
"Baiklah nona, tapi dimana aku bisa menemui Tetua anda?" Tanya Arya.
"Tenang saja, nanti kau akan aku antar menemui Tetua kami. Kalau begitu aku pamit." Qin Ling memberikan senyuman sambil menelangkupkan tangan, kemudian gadis itu beranjak pergi meninggalkan lokasi tersebut.
Arya menatap kepergian Qin Ling sesaat, sebelum mendekati Liu Wei dan duduk di samping gadis itu. Arya hanya diam tidak mengucapkan apapun, dia terus mengamati gadis yang memanyunkan bibir dengan ekspresi kesal di sampingnya tersebut.
"Kenapa kau melihatku seperti itu." Liu Wei menoleh ke arah Arya dengan wajah yang masih terlihat kesal.
Arya mengaruk kepalanya. "Aku hanya suka saja melihatmu jika berekspresi seperti itu, kau terlihat lucu..."
"Bolehkah aku memanggilmu Ya Gege? Dan kau memanggilku Wei'Er." Liu Wei menatap Arya penuh harap.
"Boleh saja."
Balasan Arya tersebut seketika membuat wajah Liu Wei yang tadinya cemberut berubah menjadi begitu ceria, seperti layaknya anak kecil yang mendapatkan permen.
"Eh... Kapan turnamen akan kembali di mulai?" Tanya Arya.
Liu Wei menepuk dahinya. "Oh iya... Aku sampai lupa, ayo kita kembali."
Mereka berdua pun kemudian berjalan kembali memasuki gedung turnamen. Setelah berada di dalam gedung turnamen, lantas keduanya berpisah karena memang berbeda tempat duduk.
Setelah semua penonton, peserta dan para tetua kembali mengisi gedung turnamen. Patriark Wang Bai berjalan ke tengah arena pertandingan, dan lalu memanggil nama peserta berikutnya yang akan melakukan pertandingan. Nama yang disebutkan adalah Zhao Lang dan Liu Wei.
Liu Wei langsung melompat ke arena pertandingan, gadis itu begitu bersemangat tak sabar lagi ingin memberi pelajaran pada lelaki yang membuat kakak seperguruannya terluka parah. Sedangkan Zhao Lang sendiri berjalan dengan malas sambil menatap Liu Wei dengan tatapan merendahkan.
Tetua Hong Duan merasa perlu kembali menjelaskan peraturan pertandingan, sebab dia bisa melihat niat balas dendam dari ekspresi yang ditunjukkan Liu Wei ketika menatap Zhao Lang.
"Ingat ini hanya pertandingan persahabatan tidak boleh saling membunuh atau memusnahkan ilmu lawannya. Kalian mengerti" tetua Hong Duan menatap mereka berdua bergantian, lalu memberi instruksi dimulainya pertandingan.
"Sebaiknya kau menyerah saja, akan sangat disayangkan bila wajah cantikmu itu rusak sebelum aku menikmati tubuhmu." Ucap Zhao Lang dengan tatapan seperti menelanjangi Liu Wei sambil menjilati bibirnya.
"Ciiiihhh.. Singkirkan tatapan mesummu itu dariku lelaki brengs*k, aku akan membalas perbuatanmu pada kakak seperguruanku." Liu Wei mencabut pedangnya sambil menatap tajam Zhao Lang.
"Kau tidak akan bisa menang dari..." Ucapan Zhao Lang yang terpotong karena tiba-tiba Liu Wei sudah berada di hadapannya dengan mengayunkan pedangnya.
"Ba.. bagaimana dia bisa bergerak secepat itu." Batin Zhao Lang sambil menangkis serangan yang mengarah padanya. Namun karena memiliki sedikit waktu serangan itupun tidak berhasil ia tahan dengan sempurna, sehingga membuat tubuhnya terpental ke belakang beberapa meter.
"Kultivasi gadis ini ternyata berada di atasku. Tapi bagaimana bisa?" Zhao Lang bisa mengukur Kultivasi Liu Wei saat dirinya menerima serangan dari gadis tersebut.
"Kenapa? kau terkejut. Tenyata benar kau hanyalah seorang pecundang yang hanya mengandalkan nama besar ayahmu serta sektemu." Liu Wei menghentikan serangannya dan mencoba memprovokasi lawannya tersebut.
"Cabut kembali ucapanmu, atau akan ku potong lehermu wanita jal*ng." Zhao Lang yang mulai terprovokasi, langsung mengalirkan seluruh energinya pada pedangnya. Sehingga kini pedangnya tersebut nampak diselimuti kobaran api yang begitu besar.
Zhao Lang melesat cepat melancarkan serangan pedangnya dengan kekuatan penuh. Namun sayangnya serangannya tersebut tidak mampu membuat Liu Wei terluka, malah yang ada dia melihat Liu Wei masih sempat-sempatnya tersenyum mengejeknya.
"Apa hanya segini saja kemampuanmu, dasar pecundang.."
Liu Wei menangkis serta beberapa kali menghindari serangan yang terarah kepadanya. Gadis itu masih terus memancing emosi lawannya agar semua serangan lawannya tersebut tidak beraturan serta juga berniat membuat lawannya kehabisan tenaga.
Jurus Pedang Teratai - Penghancur Gunung tingkat 2
Zhao Lang sudah tidak perduli lagi bila harus membunuh gadis cantik yang menjadi incarannya tersebut. Pikirannya saat ini telah sepenuhnya dikuasai oleh emosi, dia tidak perduli dengan peraturan ataupun peringatan dari ayahnya untuk tidak membuat masalah dalam turnamen kali ini.
"Wei'er hati-hati..." Teriak Arya dari sudut penonton, membuat perhatian semua orang tertuju pada pemuda itu.
Tetua Sekte Pedang Teratai Zhao Feng bergegas melesat ke arah arena pertandingan, dia berusaha untuk mencegah anaknya menggunakan jurus mematikan dari sektenya tersebut. Namun belum sempat dirinya mencegah, serangan jurus mematikan itu sudah melesat ke arah Liu Wei.
Sesaat sebelum serangan Zhao Lang mengenainya, Liu Wei dengan sigap menciptakan tembok es untuk menahan energi besar dari serangan itu. Sebelumnya Liu Wei memang tampak bermain-main karena meremehkan Zhao Lang, namun berkat teriakan dari Arya gadis itu dengan segera meningkatkan kewaspadaannya.
Duuuuuuaaaarrrr....
Sebuah ledakan dari dua energi api dan es saling berbenturan, menciptakan daya kejut yang besar, sampai membuat arena pertandingan mengalami banyak keretakan.
Tembok es yang di ciptakan Liu Wei hancur berkeping-keping, tapi untung saja gadis tersebut masih sempat menghindar dengan meloncat ke arah kiri dan berguling-guling di atas arena pertandingan.
Kini tempat di mana Liu Wei berdiri sebelumnya telah hancur, meninggalkan sebuah tanah yang terbelah lumayan dalam.
"Haaaaahhh... Untung saja Ya'er memperingatkan ku, kalau tidak..." Batin Liu Wei sambil menatap tempat dimana dia berdiri sebelumnya dengan mendengus pelan.
"Apa kau sudah gila berniat melakukan pembunuhan di turnamen ini." Teriak tetua Zhao Feng lalu melesat menahan anaknya yang masih berniat menyerang Liu Wei.
"Maafkan aku ayah... Tapi aku ingin memberikan pelajaran padanya." Zhao Lang melesat kembali menyerang Liu Wei, namun baru beberapa langkah dia langsung di pukul Zhao Feng. Pukulan tersebut membuat Zhao Lang pingsan seketika.
Para penonton, peserta dan para tetua dibuat terkejut melihat kejadian di atas arena pertandingan tersebut.
"Bagaimana bisa tetua Zhao Feng mempunyai anak yang berbeda sifat dengannya."
"Ayah yang bijaksana, namun sungguh di sayangkan anaknya tidak mewarisi sifat yang dimiliki ayahnya."
Semua penonton menyayangkan kelakuan Zhao Lang yang hanya merusak reputasi ayahnya, sebelumnya mereka berfikir jika kelakuan Zhao Lang berasal dari turunan ayahnya. Merekapun baru sadar jika selama ini mereka telah salah menduga.
"Maafkan atas perbuatan anakku." Tetua Zhao Feng menelangkupkan tangannya menghadap ke tempat duduk para tetua, setelah itu dia mendekati Liu Wei yang terlihat terduduk di tanah.
"Apakah kau terluka?" Tetua Zhao Feng membantu Liu Wei berdiri dan memeriksa keadaan gadis tersebut. "Maafkan atas perbuatan anakku."
"Aku tidak apa-apa tetua. Ini bukan salah anakmu, dalam pertandingan ini boleh saja menggunakan semua jurus yang dimiliki." Balas Liu Wei yang tidak enak hati karena melihat raut wajah tetua Zhao Feng yang terlihat merasa bersalah.
"Benar... Tapi jurus itu adalah jurus terbaik Sekte Pedang Teratai. Jurus itu sangat mematikan, apalagi aku melihat Zhao Lang menggunakan seluruh energinya pada serangan tersebut, ditambah lagi aku melihat hawa membunuh keluar dari dirinya. Sebenarnya aku menghentikannya juga karena dia belum sepenuhnya menguasai jurus itu, aku takut jurus itu justru malah membuat dirinya terluka. Minumlah ini agar meringankan luka-luka mu." tetua Zhao Feng memberikan sebuah pil untuk Liu Wei, sebagai wujud permintaan maaf serta rasa bersalahnya.
Liu Wei memang berhasil menghindari serangan tersebut, namun pedangnya patah dan bahu kanannya terluka ketika berusaha menahan serta menghindari jurus tersebut.
"Terimakasih tetua." Liu Wei menerima pil tersebut dan langsung meminumnya. Tak lupa juga dia memberi hormat dengan membungkukkan badan.
Tetua Zhao Feng kemudian menatap podium penonton, ia lantas berbicara dengan aliri energi Qi, sehingga seluruh orang yang berada di ruangan tersebut bisa mendengarkannya.
"Karena Zhao Lang telah melakukan kesalahan, maka dengan ini aku nyatakan dia di diskualifikasi. Dan pemenangnya adalah Liu Wei."
Semua yang berada di ruangan gedung turnamen terdiam beberapa saat, mereka nampak tidak mempercayai hal tersebut.
Mendapati hal itu, tetua Zhao Feng mengerutkan dahi dan lantas mengumumkan kembali pemenangnya adalah Liu Wei. Seketika seluruh penonton yang berada di gedung arena tersebut kecuali Arya bersorak sorai bertepuk tangan atas kemenangan Liu Wei juga kebijaksanaan yang di ambil oleh tetua Zhao Feng tersebut.