Ini cerita antara Nick, Moza, dan sebuah kesepakatan.
Kesepakatan yang lahir di antara mereka mengikat satu sama lain. Moza dengan sakitnya jika menjauhi Nick secara sengaja dan tidak mau membantunya, juga dengan Nick yang memberi syarat pada Moza isinya:
Saat kau sedang membantuku, kau tidak boleh jatuh cinta.
Siapa sangka, kesepakatan tersebut membuat hidup Moza--
Nyok, kita baca saja cerita ini biar tahu hidup Moza berakhir menangis di atas kebahagiaan atau tertawa pilu di atas kesedihan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang di tunggu
Tibalah saatnya Gunzo menemui Hugo.
Di rumah Hugo bersama sang nenek, Gunzo bertamu penuh kebisingan. Tawanya yang tidak di butuhkan selalu pecah di setiap sudut. Tidak jelas apa yang lelaki itu bicarakan karena rangkaian kata yang keluar dari mulutnya terlalu berbelit. Tetapi Hugo mengerti maksud tujuan Gunzo menemui dirinya hanya untuk kepentingan pribadi.
"Kita mempunyai tujuan yang sama, untuk apalagi kalau kita tidak bersatu meruntuhkan dinasti Alexander." Gunzo berseru dengan percaya diri, tetapi Hugo tidak menunjukkan sikap simpatinya. Ia tetap menegakkan wajah jumawa.
"Saya rasa, tidak perlu ada persatuan antara Zhyier dan anda. Kita memang memiliki tujuan yang sama, namun Zhyier dan anda sangatlah berbeda. Zhyier adalah pelayan rakyat, sedangkan anda sama saja dengan kaisar Alga." Sarkas Hugo yang memantik percikan api.
"KURANG AJAR! MATI SAJA KAU BOCAH INGUSAN!"
Hugo berdecak, "ck, kenapa tidak dirimu saja?" percikan api tersiram minyak hingga menjadi kobaran. Gunzo melancarkan serangan dengan penuh emosi.
Jraashhh..
Awal-awal Hugo dapat menepis bahkan sempat menyerang Gunzo dengan ilmu tenaga dalamnya. Namun perlu di ingat kembali, kekuatan Gunzo lebih lebih unggul satu level diatas guru Hong. Tanpa Moza, ia maupun Nick tidak bisa mengalahkan Gunzo.
Hugo terkapar setelah mendapat serangan yang tidak bisa ia tepis.
"Hahahahaha, sepertinya aku sudah membuat kesalahan dengan mengajakmu bergabung. Kau sungguh payah!!! buang-buang waktu saja. Sebagai ganti waktuku yang tersita, kau harus menyerahkan seluruh pasukan Zhyier."
"Ti-dak a-kan."
"Mau mati saja kau begitu egois! Hahaha, pantas saja, kau hanya manusia rendahan. Aku tidak meminta persetujuanmu, karena apa yang ku ucapkan adalah sesuatu yang mutlak terwujud."
Kata-kata Gunzo sudah tidak bersambut karena Hugo banyak mengeluarkan darah. Ia pun perlahan-lahan kehilangan kesadaran sebelum Gunzo betul-betul menghabisinya. Pedang sudah hampir menebas tubuh Hugo, tiba-tiba terhenti oleh satu pedang yang menahan.
Moza datang di waktu yang tepat.
...******...
Pemandangan Moza sedang memeras kain kompres yang Hugo lihat ketika lelaki itu akhirnya membuka mata. Hugo telah melewati masa kritisnya, setelah seharian penuh menutup mata tanpa respon.
Untuk mengetahui bagian yang tidak Hugo ketahui karena tak sadarkan diri, lelaki itu langsung bertanya pada Moza.
"Apa yang terjadi?" maksudnya, kenapa Hugo bisa berada dalam kondisi habis siuman, dan Moza sedang merawatnya. Seingatnya dia sedang bertarung melawan Gunzo.
"Kau terluka karena Gunzo. Aku disini merawatmu sudah satu hari dan akhirnya kau membuka mata. Aku senang sekali kau bisa kembali padaku." Bola mata Moza yang bening menjadi berkabut. Gadis itu merasakan kecemasan yang parah akan kondisi Hugo yang tidak memungkinkan untuk selamat.
Hugo merengkuh Moza, memeluknya dalam pembaringan.
"Kau melawan Gunzo untuk menyelamatkan ku? apakah kau berjuang sendirian?"
Dalam pelukan Hugo, Moza mengangukkan kepala. Gadis itu bangun dari dada Hugo lalu menatap kedua mata Hugo yang sedih.
"Hugo, mungkin saat itu aku sedang beruntung bisa menggertak Gunzo pergi dan memberikan pertolongan pertama padamu. Kau tak sadarkan diri dan kondisimu sangat membuatku gila."
"Lalu?"
"Guru Hong datang memberimu pengobatan. Lalu--" lidah Moza terasa kelu.
"Lalu apa Moza?"
"Lalu kau butuh sesuatu yang harus didapatkan dari genetik keturunan. Karena kau hanya memiliki seorang nenek, terpaksa aku mengambil keputusan untuk mengambilnya demi keselamatan mu."
"Lalu bagaimana kondisi nenek sekarang?"
Moza tidak bisa menjawab.
"Maksudnya nenek sudah tiada?"
Moza terdiam. Dia menunduk semakin dalam menghindari tatapan mata Hugo yang kelam. Diamnya Moza di anggap sebagai kata 'iya' bagi Hugo.
"Ini sudah takdirku, dan aku tidak menyalahkan siapapun. Aku hanya memiliki nenek di dunia ini, dan sekarang beliau juga telah meninggalkan ku karena berkorban. Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanannya. TIDAK AKAN!!!"
"Maafkan aku." Lirih Moza hampir tak terdengar di telinga. Semenjak kejadian ini, gadis itu terlihat sering gugup. Ia pun menoleh pada guru Hong dan Nick yang sedang bersembunyi di kejauhan. Dua pria itu mengacungkan dua jempol atas akting Moza yang sangat bagus.
Iya,
Moza telah mengucapkan sebuah kebohongan pada Hugo karena di minta oleh Nick. Kebohongan soal nenek yang berkorban demi keselamatannya padahal beliau baik-baik saja di sisi sang kaisar.
Apakah nenek jadi tawanan Nick? entahlah, yang pasti ada maksud dan tujuan mereka merekayasa semua ini.
...*****...
Peperangan sudah tidak dapat di hindarkan. Keributan yang terjadi pada rapat istana menjadi titik awal topeng terbuka. Hari ini sejarah baru akan di mulai.
Nick mendapat tantangan terang-terangan dari sebagian kecil menterinya. Tapi tak sedikit juga yang pro pada Nick karena mereka memang mencintai kinerja kepemimpinan sang kaisar.
"Turunlah dari hari tahta kaisar, kami sudah mengepungmu sekarang. Di luar, pasukan kami sudah membekukan prajurit Alga!" Seru pemberontak istana yang dibelakangnya berdiri dua pangeran, yaitu Dixon dan Xavier.
Nick terdesak oleh panah yang sudah menempel di leher. Lelaki itu masih bergeming.
Tidak hanya itu, pasukan pemberontak masuk sebagian dan mengambil posisi memanah ke arah jajaran orang yang masih setia pada Nick. Mereka tertegun karena tidak ada persiapan apapun. Peperangan ini melanggar ketentuan, dimana seharusnya mereka saling berhadapan di medan perang dengan membawa ratusan ribu pasukan.
Sungguh perang yang menusuk dari belakang.
Gemuruh langkah kuda dan hentakan kaki datang mendekat pada istana. Mereka yang di sana langsung menoleh ke arah kedatangan klan Zhyier. Si pemberontak tertawa puas karena kekuatan mereka akan bertambah kuat dengan kedatangan klan yang disinyalir musuh bebuyutan Alga.
Tetapi,
Hugo mengarahkan pasukannya untuk menyerang pemberontak alih-alih ikutan menyerang Nick. Ada apakah gerangan?
"Kenapa kalian malah menyerang kami? bukankah kalian tidak suka dengan dinasti kaisar Alexander?! Dan kau! bukankah kau adalah seorang pengurus kuda?"
Hugo mendekat kepada sumber suara sekaligus menebas panah yang menunjuk leher Nick. Sang kaisar tersenyum penuh arti.
Ada apakah gerangan? apakah Hugo dan Nick sedang bersatu padu? bukannya mereka saling bertentangan? sepertinya ada terlewat dari pengamatan kita. Mari kita sejenak kembali ke detik-detik sebelum penyerangan terjadi.
Jadi gini,
Satu hari yang lalu, Nick dan Hugo bertemu. Hugo memandang Nick penuh kebencian. Lalu...
.
.
.
Bersambung.
moza dan aurora mendapatka jodohnya..
aahh aku padamu thorr🫰