NovelToon NovelToon
The Two Empresses

The Two Empresses

Status: sedang berlangsung
Genre:Petualangan / Supernatural / Contest / Mengubah sejarah / Perperangan / Romansa Fantasi
Popularitas:61.4k
Nilai: 5
Nama Author: Saciel Arakawa

Arkhenia bukanlah tempat yang nyaman, namun mau tak mau kita harus memperjuangkan apa yang harusnya kita miliki.

Eurashia, salah satu benua terbesar di Arkhenia, terpecah menjadi dua akibat perang yang sudah berjalan ratusan tahun. Respher, benua yang dipenuhi ras murni seperti penyihir, elf, peri dan makhluk spiritual lainnya. Ceshier, benua yang dikuasai oleh demi human dan beberapa ras lain yang dianggap 'cacat' bagi para makhluk spiritual.

Mungkin dari luar, Respher dan Ceshier adalah langit dan bumi dengan Respher sebagai panutan bagi benua lain karena dianggap suci, namun apa benar kenyataannya seperti itu?

Saciel Arakawa, penyihir terbaik di Careol dan juga pahlawan perang, muak dengan kondisi perang yang terjadi dan ingin mengakhirinya. Hingga takdir mempertemukannya dangan Kezia Ata Lafoia, sang putri dari Ceshier yang terdampar di wilayahnya.

Rintangan dan cobaan terus menghalanginya hingga pada titik tertentu. Apakah ia mampu mengembalikan perdamaian di Eurashia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saciel Arakawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Quarrel and Memories

Saciel termangu, antara heran sekaligus penasaran dengan usulan yang diberikan Nero. Ia mengulum senyum, kagum dengan sikap santainya yang memaparkan hal gila untuk pandangan umum. Ia melirik ke arah Phillip, namun kakaknya mengabaikan lirikan itu dan menggeleng, frustrasi dengan ide konyol yang diberikan Nero pada Saciel yang baru saja pulih dari kacaunya aliran mana dalam dirinya.

“Aku tidak setuju dengan idemu, kau hanya membunuhnya tanpa menodai tanganmu,” tolak Phillip.

“Kau kira aku juga mau menawarkan solusi gila ini? Ini sama saja berjudi dengan maut,” balas Nero tenang. Kezia menggelengkan kepala dan memeluk Saciel seerat yang ia mampu, membuat Saciel sedikit kesulitan memenuhi pasokan oksigen. Beruntung Phillip langsung tanggap melonggarkan pelukannya tanpa membuat si gadis kecil merasa bersalah.

“Memang apa susahnya melawan anjing neraka sebesar itu?” tanya Max meremehkan. Nero meraih koran dan memukul belakang kepalanya cukup keras. “Aduh!”

“Kau bisa menumbangkan anjing neraka itu karena posisi dia melemah mengikuti majikannya. Kalau kau menyerangnya sekarang, apalagi posisi anjing neraka saat ini lepas dari kontrak untuk sementara waktu, kau bisa saja mati dengan satu serangan,” balas Nero kesal. Max mengusap kepalanya dan cemberut, lalu berpaling pada Saciel.

“Hei, penyihir. Kau harus menang bagaimanapun caranya. Kalau kau sampai mati, kami bakalan kerepotan untuk lepas dari kejaran musuh,” gertak Max.

“Aku tidak mengizinkan Saciel bertarung hanya untuk memperbaiki kontrak. Lepaskan saja kontrak itu,” sambut Phillip. Max mendengus.

“Wanita itu bisa memilih jalannya, kau tidak punya hak mengaturnya.”

“Dia juga tidak punya kewajiban mendengarkan apapun permintaanmu, jadi sebaiknya kau diam saja dan jangan ganggu Saciel,” balas Phillip pedas. Sebelum pertempuran terjadi, Saciel langsung maju dan menatap tajam ke arah dua pemuda beda ras tersebut.

“Bisa nggak kalian tuh sehari aja nggak adu mulut? Telingaku sakit rasanya dengerin kalian,” keluh Saciel sembari menurunkan Kezia dan kembali fokus pada Nero. “Aku hanya perlu bertarung dengannya saja, kan?”

“Seandainya bisa semudah itu, tapi sepertinya kau harus membuatnya sekarat agar mudah mengikat kontrak yang lebih kuat dari sekarang karena perlu diingat, kau ini bukan tamer,” ujar Nero. Saciel merenung, namun sentakan kuat langsung menyadarkannya.

“Kubilang kau tidak akan melakukannya, Ciel. Pikirkan masa depan Arakawa yang ada di tanganmu. Kau mau membuat Cerlina sedih, hah?” maki Phillip.

“...dia akan menggantikanku jika aku mati, Phillip. Dia juga punya hak mewarisinya,” balas Saciel dingin. Phillip mengangkat tangan untuk menampar, namun egonya terus meronta-ronta untuk berhenti hingga tangannya berhenti di udara. Ia berdecih dan mendorongnya, lalu berbalik dan meninggalkan mereka dengan langkah cepat. Saciel menghela napas dan mengurut pelipisnya.

“Tolong maafkan sikap kakakku, dia hanya terlalu protektif padaku dan Cerlina,” ujar Saciel tulus. Kezia menggenggam tangan Saciel dan mengusapkan kepalanya dengan manja untuk membuatnya tenang. Penyihir berambut merah itu memenuhi keinginan bocah demi human itu dan mengelusnya selembut mungkin dan penuh sayang.

“Dia kan bukan saudaramu,” celetuk Max.

“Itu benar, tapi dia adalah kakak kami sejak kecil,” balas Saciel dengan senyum penuh nostalgia.

“Cerita? Kezia mau tahu soal Kak Phillip,” pinta Kezia. Saciel terdiam, lalu mengajaknya duduk di sofa dan membiarkan gadis kecil itu berada di pangkuannya. Dua pemuda demi human duduk di sofa lain agar bisa mendengarnya.

“Kalau Phillip mendengarnya, dia pasti bakal malu seumur hidupnya. Nah, mulai dari mana ya?” ujarnya sembari menerawang ke masa lalu dengan menutup mata, lalu membagi ingatannya melalui sihir.

Tiga belas tahun yang lalu, Saciel’s POV

Kami tengah asyik menikmati permainan menyusun balok ketika Papa memanggil kami untuk segera turun menemui tamu istimewa. Cepat-cepat kami berlari menuruni tangga, tidak peduli para pelayan yang berteriak mengingatkan untuk tidak berlari. Belum sampai kaki kami menginjak lantai, Lina menjerit kecil ketika kakinya tergelincir dan jatuh. Beruntung Papa langsung menangkapnya dan menepuk punggungnya agar ia berhenti menangis. Tak jauh di belakang Papa kulihat seorang anak laki-laki berambut platinum blonde mengamati dengan wajah datar, menakutkan. Setelah Lina tenang, Papa membantunya berdiri dan bergeser sedikit agar bocah menakutkan itu terlihat jelas.

“Ciel, Lina. Ayo beri salam pada Phillip,” ujar Papa sembari menepuk puncak kepala kami dengan senyum teduh. Kak Phillip menatap kami tanpa perubahan ekspresi, lalu memberi salam dengan menunduk sejenak.

“Selamat siang, Nona Saciel dan Nona Cerlina. Nama saya Phillip Arlestine,” salamnya tenang. Aku menatap Papa dan Lina, lalu kami berdua memberi hormat dengan mengangkat sedikit rok dan membungkuk.

“Selamat siang, Tuan Muda Phillip,” balas kami. Papa tertawa lebar melihat tingkah kami, lalu menuntun kami ke gazebo untuk menikmati camilan yang telah dipersiapkan oleh para pelayan.

“Papa, kenapa Kak Phillip ada di sini?” tanya Lina dengan tangan asyik memutar sendok teh di dalam cangkir, uhh manisnya adikku ini. Papa meletakkan sepotong besar peach galette kesukaan Mama di hadapan Kak Phillip

“Phillip akan menjadi teman bermain kalian atas permintaan Marquess Arlestine, jadi mainlah dengan akur agar kalian bisa bekerja sama saat kalian dewasa kelak,” ujar Papa sembari menuangkan teh untuk Kak Phillip. Aku tidak bisa berhenti mengagumi Papaku yang sangat keren. Rambut merah cepaknya yang berkilau layaknya api di bawah sinar mentari benar-benar membuatku bangga bisa menjadi anak Papa. Aku melirik ke arah Kak Phillip yang terlihat mengagumi Papa, meski hanya dari matanya saja.

“Duke Arakawa, bukankah saya kemari untuk menerima pelatihan dari Anda agar bisa menjadi ksatria yang melindungi Nona Saciel dan Nona Cerlina?” tanyanya. Papa terkejut, namun ia berpikir sejenak sebelum menggelengkan kepala dan menghela napas.

“Haduh, ayahmu salah tangkap soal permintaanku. Ah, bagaimana kalau kalian bermain dulu, sementara aku akan menelpon marquess untuk meluruskan kesalahpahaman ini? Ciel, Lina, jadi anak baik dan bermainlah dengan Phillip.”

“Baik, Papa!” jawab kami. Setelah Papa pergi, aku melompat turun dari kursi dan menarik pelan lengan baju Kak Phillip.

“Kakak, ayo main,” ajakku.

“Lina boleh ikut?” tanya Lina dengan muka imutnya.

“Tentu saja! Makin ramai makin seru,” sahutku senang. Kak Phillip hanya mengangguk dan mengikuti kami ke taman, diikuti pengasuh kami di belakang. Begitu kami tiba di dekat kolam, aku dan Lina berlari mengejar anak-anak bebek yang asyik mengekor induk mereka, sementara Kak Phillip mengawasi di bawah teduhnya pohon, masih dengan tatapan datarnya yang membuat orang-orang segan mendekatinya. Aku berhasil menangkap anak bebek, namun sang induk yang marah langsung mengejarku hingga aku tercebur di pinggir kolam. Sebelum aku menangis keras, Kak Phillip berjalan maju dan mengulurkan tangannya.

“Ayo, kau bisa berdiri kan? Tidak usah menangis, kau baik-baik saja,” ujarnya datar. Aku menangis sesenggukan dan menerima uluran tangannya, lalu keluar dari kolam dan membiarkan pengasuhku mengeringkan pakaianku dengan sihir. Setelah kering seutuhnya, aku kembali bermain bersama Lina, mengejar anak-anak bebek.

“Bocah, kau tidak mau berhenti?” tanya Kak Phillip. Aku berbalik dan menusuk dadanya dengan telunjuk dan tangan lainnya di pinggang.

“Siapa yang kau panggil bocah, bocah?” balasku.

“...kau benar juga. Kalian tidak capek berlari dengan rok itu?” tanya Kak Phillip tulus.

“Umm, capek sih. Tapi Mama bilang kami harus bersikap manis jadi pakai celana hanya boleh di saat tertentu,” balas Lina. Kak Phillip menatap ibu pengasuh.

“Kurasa ini waktu yang tepat untuk membiarkan mereka memakai celana, bukan begitu?” tanyanya kalem.

“Betul, Tuan Muda. Saya akan mengantar Nona Saciel dan Nona Cerlina untuk berganti pakaian,” ujar ibu pengasuh. Kami menoleh ke arah Kak Phillip dan hanya dibalas dengan gerakan kepala yang menyuruh kami untuk mengikuti ibu pengasuh. Setelah kami berganti pakaian, kami bergegas kembali dan melihat Kak Phillip tengah asyik duduk bersandar dan meniup bunga dandelion di dekatnya.

“Kakak!” sahutku sembari menerjang dan memeluknya, diikuti Lina yang malu-malu memeluknya. Kurasakan elusan lembut dari tangannya yang kecil dengan tatapan tenang, namun sirat keramahan terpercik di kedua bola matanya yang sewarna daun mint.

“Tidak usah berlari, aku tidak kemana-mana. Nah, sana main.”

“Nggak seru kalau Kak Phillip tidak ikut,” celetuk Lina. Kak Phillip termangu, lalu berdiri dan membantu kami berdiri.

“Baiklah, memangnya kita mau main apa?” tanya Kak Phillip sembari menepuk badannya dari debu yang menempel.

“Petak umpet!” sahut kami.

“Baiklah, aku akan menghitung dan kalian bersembunyi. Sampai 30 saja, ya? Satu…dua…” ujarnya sembari menutup mata dan mulai berhitung, sementara kami berlari cepat untuk bersembunyi. Aku terus berlari ke dalam hutan di belakang rumah dan melihat sekeliling, memastikan aku tidak masuk terlalu dalam atau Papa akan memarahiku. Aku berjalan menuju setumpuk kayu bakar yang telah dipotong rapi dan dilapisi sihir anti air. Aku terdiam sejenak dan berniat bersembunyi, tapi kakiku menginjak sesuatu yang lunak dan aku terkejut melihat seekor ular berbisa memamerkan taringnya dengan garang. Cepat-cepat aku berlari meninggalkan tempat itu hingga ke bagian terdalam hutan yang gelap dan pengap, membuatku kesulitan bernapas setelah berlari. Aku berhenti dan mengedarkan pandangan untuk melihat sekitarku yang asing. Rasa takut perlahan mulai menyadarkanku, sensasi dingin yang asing merambati kulitku. Tubuhku gemetar, kakiku sudah tidak sanggup menopangku dan membuatku terjatuh. Air mata perlahan mengalir di pipiku, bibirku memanggil Mama dan Papa, Lina dan Kak Phillip bergantian, berharap salah satu dari mereka mendengarku.

Aku mencoba meniti jalan yang kulewati, berharap bisa membawaku kembali pada Kak Phillip dan Lina. Entah kenapa, semakin aku berjalan aku semakin merasa asing dengan tempat ini. Aku berhenti dan melihat ke langit yang masih cukup terang, lalu mencoba memanjat pohon terdekat namun gagal.

“Bagaimana ini?” cicitku sembari memeluk diri karena suhu hutan yang cukup dingin dibanding di luar. Aku menghangatkan diri dengan sihir, lalu mencoba membuat kembang api untuk sinyal keberadaanku. Tapi kembang api yang kubuat malah meledak di hadapanku. Tangisku makin tak terkontrol, kini aku menjerit memanggil mereka dan berjongkok menahan diri dari dinginnya hutan.

“Ciel! Ciel!” sahut seseorang. Aku diam, mencoba menajamkan pendengaranku untuk memastikan ada seseorang memanggilku. Kuangkat kepalaku dan kulihat Kak Phillip bersama Papa berlari ke arahku, wajah mereka cemas dan bercucuran keringat.

“Ciel!” panggil Kak Phillip. Aku berlari ke arahnya dan memeluk erat Kak Phillip, menangis keras hingga hutan menggemakan suara tangisku. Kudengar hela napas dari Papa dan kelembutan tangannya mengelus puncak kepalaku.

“Astaga, bagaimana bisa kau masuk sampai ke sini? Ayo pulang, Mama dan Lina sudah menunggumu,” ujar Papa sembari meraihku untuk menggendong, namun Kak Phillip mengeratkan pelukannya.

“Saya akan menggendongnya, Duke,” ujar Kak Phillip.

“Eh? Jangan, dia itu terlalu berat untukmu,” tolak Papa. Kurasakan kakiku sudah tidak menapak tanah dan Kak Phillip menggendongku dengan muka datarnya yang serius. Papa hanya bisa menghela napas dan menuntun kami untuk keluar dari hutan. Mama dan Cerlina sudah menanti bersama dengan para pelayan dan langsung menangis, berlari ke arahku dan memelukku dan Kak Phillip hingga aku nyaris tidak bisa bernapas.

“Ciel, kenapa kau ceroboh sekali? Mama kan sudah bilang jangan main ke dalam…” rentetan omelan Mama berhenti ketika Papa menepuk pundaknya dan menggeleng samar.

“Sudah, yang penting Ciel sudah ketemu. Ayo masuk dan beristirahat, kalian sudah main cukup lama,” sahut Papa sembari membawa kami masuk ke dalam hingga ke kamar kami yang luas dengan perapian dan furniture kayu oak berwarna krem, dinding berwarna silver dengan garis emas serta ranjang queen size yang dibalut dengan sprei sutra. Pelan-pelan kami dibaringkan bersama Phillip yang bingung dengan perlakuan Papa.

“Duke, maaf saya lebih baik pulang saja…”

“Ssh, sudah tidur saja ya? Jangan khawatir, Marquess Arlestine akan kuberitahu,” ujar Papa sembari menyelimuti kami dengan selimut beludru kualitas tinggi. “Istirahatlah.”

Rasa lelah mulai memantik kantukku. Dengan sekali menguap, aku sudah tertidur dengan memeluk Lina.

1
Srirahayu Rahmadani
mmm
Mega AK
lanjut
@aini*_Thalita
semangat Thor
salam dari Carlos'Revenge
Mega AK
lanjutkan
Mega AK
lanjut
Langit Malam
Semangat dan terus semangat ya kak..

Salam dari novelku : "Cinta Tulus Viola" bila berkenan, mampir ya kak.. hehe ditunggu😅
Ania Haris Riyadi
seru banget ceriranya tor
Vronc
menarik sekali
Vronc
menarikkk
Shine
Hallo author, ijin promote, yuk baca novel ku yang berjudul " Pesonamu Memikat Hatiku " yang baru saja update episode, cerita nya menarik loh, jangan lupa tinggalin like, comment, dan share ya dan jangan lupa untuk terus baca ya chapter selanjutnya
Ayu Ungraini
ceritanya seru
@aini*_Thalita
semangat Thor
After.Story
aku mampir nih
jangan inget mampir yuk dinovelku judulnya

AKU HARUS BAIK
AKU HARUS JAHAT
Dinda Natalisa
Hai author aku mampir nih kasih like jangan lupa mampir di novel ku "menyimpan perasaan" mari saling mendukung.
Lia
Lanjut thor, semangat
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa Jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku
Senja
Lanjut kakak. Dapet salam dari Senja dan Zona berondong, jangan lupa mampir
Lia
Lanjut thor, semangat
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku
Laura hussein
karyamu patut diacungi jempol kak 👍 favorit 👌 👍
Melisa: mampir juga di novelku kk.

judulnya KESUCIAN YANG TERNODA.

mohon dukungannya ya kk.
terima kasih.🙏
total 1 replies
Laura hussein
karyamu patut diacungi jempol kak 👍 favorit 👌
Dewi Masita
k
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!