Diana yang masih duduk di bangku SMA merasa sedih,karena dia dinyatakan hamil.
Diana tak tahu jika cinta satu malam yang terjadi antara dirinya dengan Gaga,teman sekelasnya karena pengaruh minuman keras,bisa menghasilkan benih yang tumbuh di rahimnya.
Diana dan orangtuanya meminta pertanggung jawaban dari Gaga,tetapi Gaga menolak,karena dia tak ingat apapun yang terjadi dengan Diana malam itu, Gaga malah memojokkan Diana dan menghinanya,seolah Diana adalah gadis murahan.
Dengan hati yang sakit, Diana dan keluarganya pulang ke rumah mereka,mengubur harapan untuk bisa mendapatkan keadilan untuk Diana.
Tetapi Devan 29 tahun,Kakak kandung Gaga datang dan bersiap untuk menikahi Diana,dia juga bersedia untuk menjadi Ayah dari anak benih adiknya sendiri.
Seperti apa kelanjutan hubungan mereka?
Akankah Devan mencintai Diana dan sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
"Di, saya harus pulang ke rumah Mama, beliau sakit," Devan memberitahu Diana.
"Ya pulang aja, gak ada yang ngelarang kok," jawab Diana, sibuk dengan makanannya.
"Mkasud saya, kamu mau ikut atau nggak?" Devan bertanya.
Diana menggelengkan kepala tanpa mengatakan apapun, mulutnya sibuk mengunyah, seolah tak peduli pada pertanyaan Devan.
"Kenapa?" tanya Devan.
"Tanpa harus aku jawab, Kakak udah tau jawabannya," jawab Diana cuek.
"Ya, saya tau, tapi kan Mama itu mertua kamu juga. Apa kamu gak mau bertemu beliau atau menengok keadaannya? dimana sopan santun dan rasa simpati kamu terhadap orang yang lebih tua?"
Diana menoleh padanya dan menatapnya dengan tatapan tajam.
Diana menghentikan makannya, meletakkan garpu dan sendok dengan sangat keras di atas meja.
Diana berdiri dan hendak pergi.
Devan menahan tangan Diana.
"Luka hatiku karena Mama Kak Devan, gak akan pernah sembuh hingga akhir hayatku, Kak. Semua yang dikatakan olehnya masih terdengar jelas di telingaku. Sakit, sangat sakit, dan Kakak gak pernah merasakan itu, jadi jangan pernah katakan sesuatu yang nggak mau aku dengar!" tutur Diana tegas, dan mengibaskan tangan Devan.
Diana pergi ke kamarnya, dengan mata berembun.
Diana kecewa, seharusnya Devan tak usah mengatakan hal semacam itu, hanya membuat hatinya sakit.
Devan seakan lupa, bagaimana Ibunya menghina Diana ketika keluarga Diana datang untuk meminta pertanggung jawaban pada Gaga.
Devan juga seakan lupa, kalau Diana pernah meminta syarat agar tak bertemu atau tinggal dengan Ibunya setelah menikah.
Di dalam kamarnya, Diana menangis, dia tak mau harus bertemu dengan Ibunya Devan, terlebih lagi, wanita itu sangat membencinya, dan menganggapnya sebagai wanita murahan.
Devan menyusul Diana ke kamar mereka, ketika melihat Diana menangis di tempat tidurnya, Devan merasa bersalah.
Devan menghampiri Diana dan duduk di depannya.
"Maafin saya, Di. Tapi niat saya baik, saya hanya ingin kamu bisa diterima dan menjadi bagian dari keluarga saya dengan resmi, bukan seperti ini. Saya tau kamu sakit hati dan kecewa oleh orangtua dan adik saya, tapi gak selamanya kita harus begini. Kita butuh keluarga yang akan menjadi tempat pulang kita nantinya, dan keluarga yang juga akan menemani kita disaat kita membutuhkan," Devan menjelaskan maksudnya meminta Diana untuk ikut.
Devan ingin hubungan Diana dan orangtuanya bisa membaik, karena dia juga inginnya, semua masalah yang pernah terjadi perlahan hilang, berganti dengan kebahagiaan.
Diana terisak, air mata semakin deras mengalir.
Devan mengangkat wajah Diana dan menyeka air matanya.
"Please... kali ini aja turuti kemauan saya," pinta Devan memohon.
Devan menatap mata cokelat itu, yang menunjukkan betapa sedihnya sang istri.
"Kalo Kakak maunya istri Kakak bisa akur dengan orangtua Kakak, sebaiknya Kakak menikah dengan Alina. Yang udah jelas masih murni dan gak akan pernah menimbulkan masalah dengan orangtua Kakak. Alina berbeda denganku, aku hanya gadis murahan yang tidur dengan banyak lelaki, lalu hamil dan meminta pertanggung jawaban dari lelaki yang Kakak panggil adik, aku memang gak pantas jadi bagian dari keluarga kalian," tutur Diana dengan lelehan air mata menahan kepedihan hatinya.
"Di, jangan bilang seperti itu, saya gak pernah menganggap kamu begitu, saya hanya ingin kamu bisa lebih dekat dengan keluarga saya," Devan menegaskan.
"Tapi aku gak bisa, Kak. Maaf, kali ini aku gak mau menurut, silahkan ceraikan aku dan nikahi Alina yang lebih cocok dengan Kakak, karena aku bukan gadis yang Kakak inginkan juga!" balas Diana telak.
Diana bangkit dan pergi dari kamarnya.
"Shit!" Devan mengumpat, dia tak tahu bagaimana lagi membujuk Diana agar mau bertemu dengan orangtuanya.
Devan keluar untuk menyusul Diana lagi, tetapi langkahnya terhenti saat melihat Diana duduk di ruang tamu dan terlihat mengobrol bersama seseorang.
Alina, wanita itu datang lagi ke rumahnya, dengan membawa buku referensi pernikahan, dia tampak senang sekali menunjukkan gambar-gambar dari buku itu kepada Diana.
Sementara Diana, berusaha untuk tersenyum saat Alina menunjukkan berbagai macam gambar yang menurutnya bagus.
Devan turun dan menghampiri mereka.
"Eh Sayang," ucap Alina.
Wanita itu kemudian berdiri dan memeluk Devan penuh kerinduan.
Devan tertegun, dan Diana menatapnya datar.
"Aku kangen banget sama kamu, aku sengaja datang kemari buat tunjukkin buku referensi yang pernah aku bilang, soalnya aku mau kamu pilihkan buat hari bahagia kita nanti," celoteh Alina dengan ekspresi yang sumringah.
Devan tak mengatakan apapun, dia hanya diam, pikirannya kacau.
"Kak Alina, aku pamit keluar ya, mau main sama teman," Diana bangkit dari duduknya.
Devan menatapnya, tetapi Diana menghindari tatapan matanya.
Alina melepaskan pelukannya dari Devan dan berbalik pada Alina.
"Oh iya, jangan terlalu jauh mainnya ya," pesan Alina penuh perhatian.
Diana tersenyum.
Gadi itu hendak pergi, tapi...
"Al, kita gak bisa menikah," ucap Devan dengan mata yang terus menatap punggu Diana yang sudah akan pergi.
"Kenapa?" tanya Alina heran.
"Aku gak mungkin punya dua istri," jawab Devan.
Diana menghentikan langkahnya, menunggu apa yang akan di katakan Devan selanjutnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Alina semakin bingung.
"Aku sudah menikah," jawab Devan lagi.
Diana berbalik, Alina tercengang.
Kedua wanita itu menatap Devan, seakan sangat menanti ungkapan Devan yang mendebarkan.
"Kamu jangan bercanda, kamu belum menikah. Apa kamu ngomong kayak gini karena belum siap menikahi aku? Gak apa-apa, aku siap menunggu!" Alina tak percaya pada kekasihnya dan berusaha menciptakan dugaannya sendiri.
"Aku gak bercanda, aku memang sudah menikah, Al. Istriku ada di belakangmu," jawab Devan, sambil menatap Diana.
Diana tercengang, tak percaya Devan akan mengungkapkan secepat itu.
Tetapi, Devan tak ragu sama sekali, dia sepertinya memang sudah yakin untuk berkata jujur pada Alina tentang hubungan mereka.
Alina ternganga, yang di maksud Devan bukan orang lain, tetapi Diana yang kini ada di belakangnya.
Alina berbalik menatap Diana dengan tatapan sedih, tak percaya kalau Diana adalah istri kekasihnya.
"Jadi, Diana itu bukan adik kamu?" tanya Alina, dengan suara parau, dia menangis.
"Bukan, aku hanya memiliki adik laki-laki bernama Gaga," jawab Devan jujur.
"Nggak, gak mungkin! Kamu gak mungkin sudah menikah, selama ini kamu selalu menungguku!" Alina menyangkal pengakuan Devan.
Alina menatap Devan sayu, menangis di hadapan Devan.
"Devan, aku mohon jangan bohongi aku, jujurlah kalo ini cuma prank!" pinta Alina tegas.
"Prank apa? aku berkata jujur, aku dan Diana memang sudah menikah, aku akan buktikan,"
Devan beralih dari Alina dan menghampiri Diana.
Mengambil tangan kanan Diana dan menunjukkan cincin kawin di jari manis Diana, juga di jari manisnya.
Alina semakin tercengang dibuatnya, ternyata benar, Devan memang telah menikah.
"Diana saat ini sedang mengandung bayiku, dan aku memutuskan untuk gak berbohong lagi, karena aku gak mau hubungan kami hancur hanya karena keegoisan aku," ungkap Devan, mengakui anak yang di kandung Diana adalah darah dagingnya.
"Bohong! kamu bohong!" jerit Alina tak terima, tangisannya terdengar pilu.
Diana tak tega melihat Alina seperti itu, dia ingin sekali mengatakan bahwa anak dalam kandungannya bukan milik Devan, tetapi milik Gaga.
Devan menggelengkan kepala ketika Diana akan menghampiri Alina, Devan melarangnya.
"Kenapa kamu bohongi aku Van? kenapa kamu gak jujur sejak awal? mungkin aku akan lebih tau diri!" Alina tampak marah.
"Maaf, tapi aku gak bisa menunggu kamu terlalu lama, Al. Aku sudah cukup bersabar menunggu jawaban kamu untuk ajakanku menikah, tapi kamu selalu menjawab kalo kamu belum siap. Sedangkan aku, aku juga membutuhkan seseorang yang bisa menjadi tempatku pulang, aku butuh teman hidup, dan ketika mau mengatakan bahwa kamu belum siap menikah, aku pikir memang kita bukan jodoh, dan aku memilih untuk menikahi perempuan lain," Devan menjelaskan panjang lebar pada Alina.
Namun, tentu saja penjelasan Devan adalah bohong belaka, dia menikahi Diana bukan karena itu, namun karena Diana hamil oleh adiknya.
"Kamu jahat, Devan! Kamu tega menyakiti aku seperti ini, padahal aku selalu setia, aku selalu menjaga cintaku walaupun aku jauh dari kamu.Tapi ini balasan kamu buat aku, kamu jahat!" teriak Alina lantang pada Devan, menunjukkan betapa kecewanya Alina pada sosok Devan yang selama ini selalu di percayainya.
Devan terdiam, dalam hatinya dia merasa sakit, melihat Alina seperti itu, tetapu Devan harus bisa mempertahankan Diana, karena Diana sudah menguasai relung hatinya.
Diana menatap suaminya dari samping, dia sedih, mengapa sesakit ini melihat Alina menangis?
Devan berekspresi datar, seolah tak kasihan sama sekali pada Alina, walaupun dalam hatinya, Devan sungguh terluka juga.
Alina menghampiri Devan dengan cepat dan...
'plakkk'
Alina menampar Devan dengan sangat keras.
"Ini belum apa-apa, Devan. Rasa sakit yang aku rasakan saat ini, akan aku bawa sampai aku mati! Aku akan menjadikan kamu musuh seumur hidupku!" sumpah Alina dengan suara yang bergetar.
Alina beralih kepada Diana, dan mengangkat tangannya hendak menampar Diana juga.
Tetapi dengan cepat Devan menahan tangan Alina, dia tak mau siapapun menyakiti Diana.
"Cukup Alina! terima kenyataan ini, aku sudah terlalu sabar menanti, dan kamu selalu menolak. Jadi, jangan salahkan aku, ketika hatiku berubah haluan. Aku menang pernah sangat mencintai kamu, tapi kamu menyia-nyiakan itu, dan sekarang aku mencintai Diana, jadi kamu harus bisa terima itu!" bentak Devan penuh emosi.
Untuk pertama kalinya, Devan membentak Alina, dan tentu saja itu membuat Alina semakin sakit.
"Kamu jahat, Devan!" teriak Alina lagi.
Alina pergi dari rumah Devan dengan hati yang amat sangat terluka, dia pergi dengan mwmbawa luka yang mungkin tak akan pernah sembuh di hatinya.
Sepeninggal Alina, Devan terduduk lesu di sofa, menundukkan kepala dan menyesali sikapnya pada Alina.
Diana mendekat dan berdiri di depan Devan.
"Kenapa Kakak lakukan ini?" tanya Diana.
Devan tak menjawab, dia cukup kalut untuk saat ini.
"Kenapa Kakak harus sakiti dia seperti ini? itu sangat menyakitkan, Kak!" tanya Diana lagi, kali ini Diana marah.
Devan menghela nafas panjang, lalu meraih tangan Diana dan mendongakkan kepalanya menatap Diana.
"Saya gak mau berbohong terlalu lama, saya juga gak mau membuat Alina merasa bahagia terlalu lama dan kemudian membuatnya terluka sekaligus. Maka saya lakukan ini demi dia juga, agar dia berhenti berharap pada saya," jelas Devan.
"Tapi, kenapa Kakak harus menyakiti dia seperti ini? kenapa Kakak juga mengakui anak ini sebagai anak Kakak?!" tanya Diana lagi.
"Itu yang terbaik, agar Alina bisa pergi dari hidup saya," jawab Devan.
"Tapi dia akan membenci Kakak," ucap Diana terisak.
"Saya akan lebih gak rela kalo kamu yang membenci saya, Di," jawab Devan.
Diana menatapnya, benarkah Devan lebih tak rela jika dirinya membenci Devan?
Devan menarik tangan Diana, hingga gadis itu duduk di pangkuannya.
"Bolehkah saya merasa takut kehilangan kamu?" tanya Devan.
Diana dan Devan saling bertatap, Diana merasa hatinya berbunga-bunga.
Diana mengangguk dengan malu-malu.
"Maka, biarkan saya tetap menjaga kamu, supaya kamu gak pergi dan menghilang dari hidup saya," pinta Devan.
Kemudian Devan mencium tangan Diana.
Diana tersenyum, Devan balas tersenyum
Diana memeluk Devan, dia bahagia karena Devan benar-benar takut kehilangan dirinya.
Keduanya berpelukan di ruang tamu, seakan melupakan apa yang baru saja terjadi, hati mereka sedang diliputi kebahagiaan yang mereka ciptakan.
*****