NovelToon NovelToon
My Bestfriend Prince

My Bestfriend Prince

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:96.9k
Nilai: 5
Nama Author: Yourdream

Jatuh cinta pasti dirasakan setiap manusia
Dan banyak sekali rintangan didalamnya
baik suka maupun duka
mau tidak mau kita harus melewatinya

Setiap hubungan juga tidak akan berjalan
dengan mulus layaknya jalan tol
akan ada waktunya jalan itu berlubang
Akibat kesalahpahaman dan keegoisan kita

Jadi, mau happy atau sad endingnya
kitalah yang tentukan sendiri
dan mungkin ada hati yang akan dikorbankan
atau tidak sama sekali diantara kita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourdream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Berkali-kali Irine membalikkan bukunya. Berkali-kali Irine mengetuk-ketukkan pulpennya ke meja belajarnya. Berkali-kali Irine mendengus kesal. Dan berkali-kali juga Irine menguap karena mengantuk atau lebih tepatnya bosan.

Sementara Yuan, yang duduk disebelahnya sangat serius sekali dengan soal-soal di bukunya itu.

Irine menyentakkan pulpennya hingga Yuan menoleh.

"Kenapa sih? Gak bisa diem banget dari tadi," cibir Yuan.

"Gue bosen, Yuan. Jalan-jalan dulu kek sebentar. Biar otak gue gak berasap," pinta Irine.

"Gak! Belajar dulu baru jalan-jalan."

Irine mendecak.

"Ck! Beli es krim aja kenapa sih, Yuan. Gue lagi pengen banget nih. Biar otak gue gak panas juga gara-gara soal matematika ini." Tunjuk-tunjuk Irine ke soal matematikanya.

"Gak!" tolak tegas Yuan.

Irine mendengus kesal.

"Nyebelin! Yuan nyebelin! Gue bakal aduin ke Bunda Rena! Bodo amat!" rajuk Irine pada Yuan.

Yuan menghela nafas. Begini nih kalau bawa-bawa bundanya. Bisa ribet urusannya.

"Kita beli es krim, habis itu balik lagi! Janji?" putus Yuan.

"Yah, kok langsung balik sih? Gak main dulu sebentar. Ke mana kek gitu," tawar Irine.

"Mau gak? Kalau gak mau, yaudah," ucap Yuan.

Irine mendecak.

"Ck! Yaudah, iya! Ayo buruan," ucapnya yang sudah berdiri.

Yuan merapihkan semua bukunya hingga rapih. Irine yang melihat itu mendecak.

"Ish! Sengaja banget dilamain deh! Ayo, buruan." Irine langsung menarik tangan Yuan keluar rumah.

"Bentar." Yuan melepaskan tangannya dari Irine.

"Gue kunci dulu pintunya. Ntar kalau ada maling, emangnya Lo mau tanggung jawab?"

"Yaudah, cepetan. Habisnya lelet banget sih jadi cowok," cibir Irine.

"Dasar tukang gak sabaran."

"Udah kan? Ayo." Irine menarik tangan Yuan lagi.

Kebetulan, didekat rumah Yuan ada kedai es krim. Dan kata teman-temannya yang sudah pernah mencicipinya sih enak. Tapi ia tidak akan percaya jika tidak mencobanya sendiri.

Kedai es krim itu sangat ramai. Yuan mendecak.

"Ck! Rame tuh kedainya! Udah balik lagi aja."

"Enggak! Ya antri dong, Yuan. Bebek aja mau ngantri masa manusia yang punya akal aja gak mau ngantri? Kalah Lo sama bebek," cibir Irine.

"Yaudah."

Yuan pun terpaksa ikut mengantri di kedai yang sangat ramai itu. Satu demi persatu, antrian itu mulai berkurang. Dan kini, giliran Irine dan Yuan.

Tapi tiba-tiba ada yang menyelak antrian mereka. Yuan yang melihatnya tidak terima. Pasalnya mereka sudah bermenit-menit menunggu antrian, tapi ternyata antrian mereka diselak begitu saja.

"Woy, ngantri dong? Gak bisa ngantri Lo?" tegur Yuan.

Irine menahan Yuan.

"Udah, Yuan. Biarin aja."

"Lo gimana sih? Kita udah nunggu bermenit-menit tapi terima aja gitu antrian kita diselak?"

Irine mengangguk. Kemudian ia menoleh pada bapak didepannya.

"Pak, bapak pesen aja. Kita berdua gak papa kok," ucap Irine.

"Makasih ya, Nak. Makasih banyak," ucap bapak itu terima kasih pada Irine.

Setelah itu, bapak tersebut pergi setelah memesan es krim.

"Yuan, Lo lihat deh kesana," pinta Irine ke Yuan sambil menunjuk ke arah lain. Yuan mengikuti petunjuk Irine.

Disana terlihat seorang nenek-nenek yang berusaha membuat cucunya berhenti menangis. Kemudian, bapak-bapak yang menyelak antrian mereka berdua menghampiri kedua orang itu. Dan memberikan es krim yang dibelinya ke anak kecil tersebut.

"Kalau bapak itu aja punya niatan yang baik. Masa kita gak bisa berbaik hati ke bapak itu? Kita sebagai manusia harus saling tenggang rasa, Yuan. Gak boleh egois dan bersikap paling kuat," ucap Irine dengan bijak.

Yuan terharu dengan tuturan dari Irine. Ia melihat Irine dengan penuh kagum. Irine masih menatap pemandangan tadi dengan senyum diwajahnya.

"Perasaan gue emang gak salah pilih," celetuk Yuan. Irine menoleh.

"Hah? Lo tadi ngomong apa?"

Yuan langsung menggeleng.

"Enggak. Udah tuh, antriannya udah giliran kita. Gue gak mau ya diselak lagi. Itu mah keenakan lo yang nunda-nunda waktu belajar!" ucap Yuan dengan kesal.

Irine mendesis.

"Ck! Iya-iya, kutu buku."

[[]]

Mereka menikmati es krim itu di bangku permanent dekat kedai itu. Awalnya, Yuan meminta untuk makan dirumah, jadi bisa diiringi dengan belajar. Tapi jika sudah berdebat dengan Irine, bagaimanapun tetap Irine yang menang.

"Enak, Yuan," komentar Irine ketika menjilat es krim yang dipegangnya.

"Enak lah, gratis," sindir Yuan.

Irine menyeringai. Karena memang, Yuan yang membelikannya es krim. Kemarin, ia lupa mengambil uang di tabungannya. Alhasil, kini Yuan yang mentraktirnya.

"Tumben lo gak beli es krim vanilla?" Tanya Yuan yang penasaran. Biasanya, cewek itu akan membeli es krim vanilla, karena rasa itu yang menjadi favoritnya.

Irine menggeleng.

"Gue lagi pengen aja. Karena ibaratnya, warna coklat ini itu kekurangan kita. Sementara yang putih ini kelebihan kita. Jadi, dalam diri manusia itu pasti ada kekurangan dan kelebihan. Kedua itu saling melengkapi satu sama lain. Lo tau gak, kenapa kebanyakan orang suka sama rasa coklat?" tanya Irine ke Yuan.

"Ya karena manis lah. Makanya pada suka."

"Iya, manis. Karena itu, setiap kita membicarakan kekurangan orang lain memang terdengar mengasikkan sampai kita lupa kalau kita punya kekurangan juga. Padahal, Allah aja nutupin segala aib kita, tapi kenapa kita membicarakan aib orang lain yang memang sudah ditutupi oleh Allah?" Irine menarik nafas sejenak.

"Makanya, kita itu jangan lihat dari apa yang kelihatan aja. Karena kita gak akan pernah tahu bagaimana rupa yang tidak pernah kita lihat."

"Apa nama lo perlu gue ganti jadi Irine teguh?"

Irine menoleh dengan kesal pada Yuan.

"Ish! Nyebelin banget sih!"

Yuan terkekeh.

"Habisnya tumben lo ngomong gitu. Biasanya juga ngomong yang unfaedah."

Bersyukur memiliki sahabat seperti Irine. Bersyukur memiliki perasaan pada Irine. Bersyukur dipertemukan dengan Irine.

Karena Irine seperti malaikat tanpa sayap yang diberikan pada Yuan.

Ibaratnya, kalimat tanpa spasi. Ibaratnya, meja belajar tanpa lampu. Ibaratnya, pulpen tanpa tinta. Itulah ibaratnya jika Yuan tanpa Irine.

[[]]

"Ayo, Irine! Cepetan! Keburu telat nih!" panggil Yuan dengan teriak. Pasalnya, ia sudah rapih tapi menunggu cewek itu yang lama.

Irine keluar dari kamarnya dengan buru-buru, tangannya sambil memegang roti untuk ia makan di mobil.

"Ck! Gak sabaran banget sih."

"Lo ngaret."

Hari ini adalah hari dimana mereka menghadapi ujiannya. Karena itu, Yuan tidak ingin terlambat di hari pertama mereka ujian.

"Pakai seatbelt lo," titah Yuan ketika melihat Irine yang belum memakai seatbelt.

Irine yang tersadar pun langsung memakai seatbeltnya.

[[]]

Hari ujian telah berakhir setelah seminggu lamanya siswa SMA Eltera dihadapi ujian.

Irine baru saja keluar dari ruang ujiannya ketika sudah selesai. Selama ujian tadi, ia hanya terus membatin.

Biarin orang-orang itu. Yang penting lo jangan. Jangan sampai.

Karena teman-temannya berbuat curang ketika mengerjakan ujiannya. Ketika mereka mendapat kesempatan, mereka mulai beraksi dengan berbagai cara. Ada yang membuka buku yang ditaruh dibawah laci, ada yang membuka kertas kecil dari sakunya, dan berbagai cara yang lainnya.

"Gimana ujian lo?" tanya Yuan pada Irine.

"Lancar dung." Irine tersenyum bangga.

"Halah, lancar-lancar tapi ujung-ujungnya dapet peringkat bawah. Kenapa gue punya sahabat yang otaknya bebel gini sih?" ejek Yuan.

"Oke, kalau misalkan peringkat gue naik, lo bakal apa?"

"Peringkat lo naik? Tunggu gajah berubah jadi kurus baru bisa peringkat Lo naik," Ledek Yuan lagi.

Irine mendesis.

"Kalau emang peringkat gue bakal naik, bagaimana?"

"Gue bakal kasih lo hadiah deh," ucap Yuan asal.

"Beneran ya? Awas kalau bohong!"

"Iya-iya. Itu juga kalau peringkat Lmlo naik, kalau gak yaudah."

"Oke, kita tunggu aja hasilnya besok."

Irine menoleh ke Yuan.

"Oh ya, kapan kita nyusul mereka di puncak? Kan kita udah selesai ujiannya."

"Sore ini."

"Serius?"

Yuan mengangguk.

"Yes! Akhirnya liburan juga. Udah lama gue nunggu waktu ini," ucap Irine dengan gembira.

"Irine!"

Irine mendapati Secil yang sedang berjalan kearah dirinya dan Yuan.

"Secil, gimana ujian lo?"

"Alhamdulillah lancar, Rin. Tapi beda masalahnya sama Sastra."

Yuan langsung berubah ekspresi.

"Sastra? Emangnya dia kenapa?"

"Sastra gak bisa ikut ujian, Rin."

Irine terkejut.

"Hah? Kenapa gak bisa?"

"Karena Sastra jarang banget masuk ke sekolah. Bahkan absennya aja kotor. Jadi, dia gak bisa diikutkan untuk ujian."

"Terus, Sastra dimana sekarang?"

"Gue gak tau, Rin. Makanya gue tanya ke lo, siapa tau aja lo tahu dimana Sastra. Soalnya, Sastra gue hubungi gak pernah diangkat sama dia."

"Sejak kapan kalian deket?" Irine seperti menyelidiki Secil. Karena ia sama sekali tak pernah melihat dua orang itu terlihat bersamaan.

"Akhir-akhir ini, sih, Rin. Lo ... gak marah, kan kalau gue deket sama Sastra?"

Yuan berusaha membaca ekspresi Irine. Tapi sedetik itu, Irine tersenyum dan menggeleng.

"Gak papa. Kenapa gue harus marah sama lo? Yaudah, gimana kalau kita kerumahnya Sastra aja? Siapa tau aja dia ada dirumah. Ya, kan?" usul Irine.

"Rin, lo lupa sama rencana kita sore ini?" sanggah Yuan.

"Yuan, kita berangkat ke sananya diundur ya. Soalnya gue khawatir sama Sastra," ucap Irine.

"Ayo, Cil. Kita kesana sekarang." Irine menggandeng tangan Secil dan meninggalkan Yuan sendiri dipijakannya.

"Dan lo gak mikirin perasaan gue gimana, Rin? Kenapa harus Sastra mulu sih yang lo pikirin? Apa gue udah gak jadi prioritas lo lagi?" tanya Yuan dengan nada lirih.

To Be Continue

Hmmm, yang sabar ya, Yuan. Nanti juga diperhatiin lagi kok sama Irine. Sabar aja ya. :v

1
Tri Utami
akuq gk suka adal nya penghiantan. coba cukup cewek luar aja yg coba rebut yuan. bukan sahabat ikt2n jd pengahianat .
Favelly: terima kasih atas komentarnya. Mohon dishare agar ikutan komentar juga ya ;)
total 1 replies
Tri Utami
sastra merusak persahabatan. pi setidaknya lambat laun mereka akan sadar akan perasaab mereka sebenarnya
Sari Istiqomah
Assalamualaikum semangat berkarya thor

Aku sudah like ya, mampir yuk keceritaku

Dia Untukku. Terimah Kasih
Hilda Sakira Ajahra
Mampir yuk di cerita ku


Mencintaimu kaka
Ilan Irliana
kgn m yuan..huhu
Akira ✨
like 🤩
Soesan
Semangat KK ceritanya semakin keren

Salam manis "Scandal pewaris tunggal"
Esw_Gee
lanjut
Rayna Syaqif
thor kapan up,,,,
finn 🐣
nama asli nya sastra siapa si? ganteng bangett 😣😣
Kania
ihhhhhh kesel banget sa si yuann!!😠 gregetan bacanya thor.. 😬
Rayna Syaqif
lanjuttt thorrr
Try AngeLs
akhirnya ketemu jg
Ilan Irliana
yeeaahhhhhhh
writer in box
salam dari kisah cinta suci seorang lelaki yang hidupnya sempurna tetapi, menikahi wanita penderita ganguan jiwa/skizofrenia
Siska
mampir ya thor, udah ninggalin jejak juga
tetap semangat up nya 😀
jangan lupa di feedback ya kakak 😀
mari saling mendukung
Kini Wulandari
bagus kak ceritanya
@ luisa @
lanjuttttt
wike maliya: haaai kak,, yuuuk kita nongkrong di rumahnya IT'S HARD TO LOVE YOU...
total 1 replies
@ luisa @
irin egois thur
@ luisa @
👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!