Hubungan persahabatan yang terjalin antara Reyhan dan juga Nehta, harus berubah karena sebuah ikatan pernikahan yang terjadi karena keinginan Hanifah, neneknya Reyhan.
Hanifah ingin sekali melihat Reyhan menikah sebeluk akhir hayatnya. Karena Reyhan telah gagal menikah sebanyak dua kali. Maka dari itulah, Hanifah meminta Nehta agar menikah dengan Reyhan.
Tidak ingin membuat Hanifah kecewa, akhirnya Reyhan menuruti keinginan neneknya.
Lalu bagaimana kelanjutan pernikahan mereka, setelah kepergian Hanifah? Akankah berakhir bahagia atau tidak? Terutama dengan kehadiran Sara, perempuan yang begitu terobsesi dengan Reyhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nhay_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Jahat, Rey
Setelah berpisah dengan Gibran, Nehta langsung pulang ke apartemennya. Dia ingin segera bertemu dengan suaminya. Terakhir kali dia bertemu dengan Reyhan, adalah semalam. Tapi mereka berpisah dalam keadaan yang kurang baik, Nehta berpikir, Reyhan pergi karena marah dengannya. Di tambah lagi, seharian ini Reyhan sama sekali belum membalas pesan yang di kirimnya.
Masuk ke apartemen, Nehta melihat lampu sudah di hidupkan. Itu artinya, suaminya sudah pulang. Hatinya merasa senang, itu artinua dia bisa bicara dengan Reyhan.
Nehta tidak mendapati Reyhan di kamarnya, tapi sayup-sayup dia mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi.
Ceklek.
Reyhan keluar dalam keadaan hanya menggunakan handuknya yang dililitkan di pinggang.
“Rey?”
“Sudah pulang?”
“Rey, aku... Mau bicara sama kamu...” Lirih Nehta.
Saking inginnya bicara dengan Reyhan, Nehta terus mengikuti kemanapun suaminya melangkah. Kepalanya terus menunduk, karena masih merasa bersalah soal note yang dia baca.
“Nanti aja, Ta. Aku lelah, aku mau tidur. Karna besok pagi aku harus pergi ke Jerman.”
“Pergi? Besok? Ke Jerman?” Nehta membulatkan kedua bola matanya.
Dia juga melihat koper yang sepertinya baru di siapkan oleh Reyhan sendiri di pojok kamar.
“Hmmm.”
Reyhan naik ke atas tempat tidur setelah selesai berpakaian. Kemudian memejamkan matanya tanpa menghiraukan lagi istrinya. Jujur, dia memang sangat lelah. Dia juga tidak ingin membahas masalah note yang sudah di baca oleh Nehta.
Reyhan masih marah... Apa masalah tadi pagi, yang membuat Reyhan pergi mendadak begini? Batin Nehta.
Daripada terus berdiam diri, lebih baik Nehta mandi membersihkan diri dan menghadap pada Tuhannya untuk mencurahkan hatinya.
Tidak ingin mengganggu suaminya, Nehta pun ikut berbaring di tempat tidur. Berusaha untuk menutup matanya, agar dia sendiri pun bisa mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya.
Berulang kali, Nehta menghela napasnya kasar. Rupanya dia belum bisa tidur juga. Padahal ini sudah jam sebelas malam. Dua jam sejak dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur, tapi kantuk belum juga hilang.
Perempuan itu turun dari tempat tidur. Keluar dari kamar yang dia tempati, menuju ke dapur untuk membuat susu hangat. Siapa tahu dia bisa tertidur setelah minum susu hangat.
Entah kenapa, diamnya Reyhan membuat hatinya terus gelisah. Rasanya, dia tidak rela kalau Reyhan terus-terusan marah padanya.
Hatiku kenapa? Nehta bertanya pada dirinya sendiri.
Flashback on
Pulang bekerja, Nehta mampir dulu untuk membeli minuman segar. Di salah satu kafe langganannya datang bersama dengan Gibran.
Seolah memang takdir menginginkan Nehta untuk mengakhiri hubungannya dengan Gibran. Nehta itu tanpa sengaja bertemu dengan laki-laki yang belum lama ini menjadi kekasihnya.
“Gibran?”
“Nehta? Sayang, kamu di sini?”
“Iya, aku baru beli minum. Kamu mau pulang?”
“Ah nggak, aku mampir kesini sebelum balik kerja lagi. Mau duduk dulu?” Ajak Gibran.
Dia tidak mungkin mengabaikan Nehta, karena perempuan yang statusnya sudah menjadi istri orang lain itu berdiri di hadapannya saat ini.
“Gibran...” Baru satu kata dan itu pun Nehta baru menyebutkan namanya, tapi hatinya gelisah tak menentu.
“Hmmm?”
“Aku mau kita mengakhiri hubungan kita.” Ucapnya tanpa ada rasa keraguan di hatinya, padahal dia merasa takut bahwa dia sendiri akan merasa sakit saat dia melepaskan Gibran.
Deg.
“Kenapa, Ta?”
“Apa aku ada salah sama kamu?” Gibran menatap perempuan yang di cintainya itu.
“Nggak ada, kamu sama sekali nggak punya salah. Tapi aku yang salah, karena sudah menikah dengan orang lain saat status kita masih ada hubungan.” Kali ini Nehta yakin, bahwa memang selama ini Gibran tidaklah menempati hatinya.
“Kamu selingkuh, Ta?” Tuduh Gibran.
Deg.
Selingkuh? Apa pernikahanku dengan Reyhan sebuah perselingkuhan? Gumam Nehta.
“Siapa? Apa orang itu Reyhan?” Gibran kembali bertanya.
Nehta hanya bisa menganggukkan kepalanya.
“Haha...” Gibran tertawa garing saat Nehta membenarkan bahwa orang yang di maksud olehnya adalah Reyhan.
“Apa karna dia lebih kaya dan mempunyai segalanya jika di bandingkan denganku, makanya kamu memilih menikah dengannya, Nehta?” Nada bicara Gibran mulai meninggi.
Nyut.
Hati Nehta begitu sakit mendengar apa yang di ucapkan oleh Gibran. Serendah itukah dia dimatanya. Apa selama ini, Gibran berpikiran sedangkal itu? Teganya Gibran menyangka Nehta menilai orang dengan harta dan status sosialnya. Setitik air mata jatuh membasahi pipinya.
“Aku sama sekali nggak nyangka ya Gibran. Ternyata kamu punya pikiran sedangkal itu. Aku kecewa sama kamu Gibran.” Lirih Nehta lalu berdiri, hendak meninggalkan Gibran.
“Ma-maafkan aku. Sayang aku minta maaf.” Gibran mencekal tangan Nehta, agar kekasihnya itu tidak pergi meninggalkannya.
“Aku mau pulang. Mulai sekarang aku sama kamu udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi tolong lepas!” Nehta menghempaskan cekalan tangan Gibran, berlalu meninggalkan mantan kekasihnya yang berdiri mematung sambil mengepalkan tangannya.
Flashback off
Air yang Nehta masak mulai mendidih, gelembung-gelembung udara mulai meletup-letup dalam panci kecil di atas kompor. Pikirannya masih kemana-mana, tapi tangannya mulai menuangkan air panas itu ke dalam gelas.
“Aaaarggghhh... Panas...” Tanpa sengaja air yang hendak dia tumpahkan ke dalam gelas itu tumpah mengenai tangannya.
Brakkk
“Nehta... Nehta... Kamu dimana?” Reyhan berlarian kesana kemari mencari istrinya.
Samar-samar, Reyhan mendengar suara perempuan tengah menangis dari arah dapur. Saat itu juga dia berlari ke arah dapur. Reyhan mendapati Nehta tengah menangis, sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena panas. Pecahan gelas dan juga panci berserakan di lantai dapur.
Sebelum Nehta menyentuh pecahan gelas itu, Reyhan lebih dulu menarik tangan istrinya.
“Jangan sentuh pakai tangan kosong!”
Tanpa bertanya, Reyhan menuntun tangan Nehta kebarah wastafel.
“Kalau kena air panas, harus langsung di siram air mengalir.”
“Shhh... Perih, Rey.” Nehta mendesis karena merasakan perih di tangannya saat di kucuri air.
Cukup lama Ryhan menahan tangan Nehta di bawah guyuran air.
Kemudian Reyhan mengangkat tubuh Nehta untuk duduk di atas meja. Dengan cekatan, Reyhan membersihkan pecahan gelas dan juga air yang tumpah.
“A-aku bisa jalan sendiri, Rey. Turunin aku!” Nehta meronta saat Reyhan kembali menggendongnya untuk pindah ke ruang tengah.
“Diamlah!” Ucap Reyhan datar tapi tegas.
“Tunggu disini, aku ambil kotak obat dulu.”
Nehta hanya menurut, sampai suaminya kembali sambil membawa kotak obat. Kemudian mulai mengoleskan salep khusus untuk luka bakar.
Lagi-lagi, Nehta hanya bisa mendesis saat salep itu mengenai kulit tangannya yang saat ini tampak memerah.
“Pelanh... Pelanh... Rhey...” Cucuran air mata Nehta semakin deras.
Bukan. Sakit di tangannya yang membuat menangis. Tapi rasa sedih hatinya yang memanfaatkan situasi saat ini, agar bisa menangis lebih leluasa.
“Makanya, lain kali berhati-hatilah. Ini baru tangan kamu yang terkena air panas. Belum...”
Bugh.
“Kamu jahat, Rey...”