Kehidupan Atena yang selalu berputar di lingkaran Aldo. Semua gerakannya terbatas. Dan Aldo sebagai kekasih sangat mengekang apa saja yang ingin Atena lakukan. Namun, dibalik sikap Aldo yang posesif itu hanya karena takut ditinggalkan, takut akan kesendirian, karena Atena adalah pegangan bagi Aldo.
Sosok Aldo yang sebenarnya menyimpan banyak rahasia, dan juga sosok Aldo yang diam-diam menyelidiki suatu hal yang membuatnya selama bertahun-tahun terpuruk, sampai akhirnya ia bangkit karena bertemu dengan Atena.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tulisan Saturnhasss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A beautiful day with the right person
"MAS ALDO!" teriak Atena dengan nafas tersengal. Kedua tangannya mencengkram bahu Aldo.
Aldo ambruk di atas Atena. Napasnya memburu dengan seluruh keringat membasahi badannya yang atletis. Bukan hanya Aldo aaja, Atena pun tidak berbeda jauh dengan keadaan Aldo. Apalagi di tambah dengan tanda merah keunguan hampir di seluruh dadanya, begitupun di sepanjang lehernya.
Keadaan Atena lebih acak-acakan dan juga lebih kacau dibandingkan Aldo. Matanya yang lelah perlahan tertutup, berusaha mengistirahatkan tubuhnya yang habis-habisan digempur Aldo.
Aldo berpindah posisi ke samping Atena karena takut membebani sang istri. Tidak menyangka, Atena sudah resmi menjadi istrinya. Kemudian Aldo mencium kening Atena, menyalurkan rasa sayang dan juga cintanya yang besar bagi sang istri.
"Makasih sayang," ucap Aldo yang dijawab deheman oleh Atena.
Wanita yang berada di samping Aldo benar-benar kelelahan. Melihat respon sang istri membuat Aldo terkekeh kecil, kemudian memeluk tubuh sang istri dengan sayang. Mengusap rambut Atena yang basah karena keringat, menciumnya dengan penuh kelembutan.
"Aku kesel, kenapa kamu undang dia sayang. Jadinya aku lampiaskan tadi, daripada marah-marah, kan?" ujar Aldo membela diri.
Atena seketika Langsung membuka kedua matanya. "Ck! Udah aku bilang cuman undang doang buat buktiin aku ini udah jadi istri orang!" Atena berujar ketus. "Emamg dasarnya aja kamu cari kesempatan!"
Aldo melebarkan senyumnya, "lagipula udah suami istri, sayang. Jadi wajar-wajar aja, sih."
"Gak wajar! Kamu tuh sekali main suka kurang ajar, Mas." Atena memberengut kesal, "lagipula kamu udah cicil dari sebelum nikah. Emang dasar mesum!"
Aldo semakin melebarkan senyumnya, kemudian memeluk Atena begitu erat apalagi mereka tanpa busana. Benar-benar terasa menjadi satu.
"Sebelum nikah jatahku sering mandet atau gak kamu banyak alasan. Berarti sekarang udah nikah pasti lancarkan jatahku,sayang?" tanya Aldo dengan menaik turunkan alis, kemudian tersenyum mesum kepada Aldo.
"Terserah, deh, ah! Aku capek mau tidur, Mas. Jangan ganggu," ujar Atena sembari menutup matanya dan kemudian merubah posisinya menjadi membelakangi Aldo.
Memang sudah larut sekali, Aldo bermain tanpa kenal waktu. Sekarang saja sudah hampir jam 2 subuh, sedangkan mereka baru menyelesaikan kegiatannya.
Hari ini Aldo benar-benar kuat dan juga tidak ada kenal lelah. Sejujurnya hal itu membuat Atena kewalahan, apalagi kakinya yang terasa kram karena harus mengimbangi kekuatan Aldo yang berkali-kali lipat menjadi semakin kuat.
Aldo kemudian mengingat saran Farhan ketika mereka berdua mengobrol. Sahabatnya itu menyarankan Aldo untuk menggunakan obat kuat. Sebenarnya tanpa harus obat itupun Aldo sudah gagah perkasa dan mampu membuat kewalahan. Tetapi, karena bujukan dan hasutan Farhan, jadilah Aldo menurut dan meminum obat tersebut. Dan terbukti ampuh! Aldo yang tanpa obat saja sudah kuat, bertambah kuat dan itu membuat Atena tak henti-hentinya menjerit keenakan.
"Istirahat yang banyak sayang," ucap Aldo, kemudian mengecup puncak kepala Atena dalam-dalam.
...----------------...
Hari yang cukup cerah menambah rasa bahagia dalam hati Aldo berkali-kali lipat. Mengingat statusnya dengan Atena sudah resmi menjadi suami-istri, dan hal itu membuat impian terbesar dalam hidup Aldo tercapai.
Senyuman dari bibir Aldo terus tersungging. Seperti halnya pagi ini, ia melihat sang istri yang sibuk dengan alat masaknya dan dirinya yang duduk di meja makan memerhatikan Atena. Dan tidak lupa juga ditemani dengan secangkir teh hangat yang khas buatan Atena.
Rasanya begitu bahagia bisa berada dititik ini bersama sang kekasih. Meskipun lika-liku sebelum menuju hari pernikahan benar-benar menguras tenaganya, apalagi jika ada kesalah pahaman dengan Atena. Tetapi, dibalik semua kesusahannya selama ini akhirnya terbayarkan dengan Atena yang resmi menjadi pendamping hidupnya.
Atena berjalan menuju meja makan, berniat menyimpan masakannya. Tetapi yang ia lihat adalah suaminya yang terlihat sedang melamun dan juga terlihat sedang menahan senyum.
Alis Atena terangkat karena merasa aneh dengan tingkah Aldo. Tidak mau ambil pusing, Atena kemudian berlalu ke arah dapur, mengambil satu menu makanan untuk sarapan yang sebenarnya sudah terlewati.
"Mas!" tegur Atena ketika sudah duduk di kursinya dan masih melihat Aldo yang tengah senyum-senyum sendiri.
Aldo terperanjat dari lamunannya, kemudian langsung menatap sang istri dengan tatapan lembut dan jangan lupakan senyuman yang lebar.
"Kamu kenapa, sih, Mas? Serem banget dilihat-lihat dari tadi."
Aldo menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memerhatikan Atena yang sibuk menata lauk dipiringnya. Wangi cherry dari tubuh Atena seketika memenuhi indra penciumannya. Wangi Atena benar-benar membuat diri Aldo tenang.
"Gausah aneh-aneh pikirannya. Cepetan makan, udah aku siapin itu makanannya." Atena berujar dengan suara lembutnya, kemudian dibalas senyuman oleh Aldo.
"Terimakasih istriku," ucap Aldo.
"Kamu kok jadi alay, sih, Mas?" tanya Atena heran. Pasalnya sebelum mereka menikah mana ada Aldo berubah menjadi banyak senyum, kata-kata manis, dan juga sikap manjanya.
"Sama istri sendiri gak masalah kali, sayang." Jawabnya kemudian langsung melahap makanan di depannya.
Gelengan kepala Atena adalah sebagai pertanda bahwa wanita itu menyerah dengan tingkah laku sang suami yang aneh hari ini. Toh ada bagusnya Aldo berubah seperti sekarang, setidaknya gengsi pria itu benar-benar sudah tidak mendominasi diri Aldo.
Mereka berdua makan dalam diam, apalagi Aldo yang begitu menghayati setiap kunyahannya. Berusaha menciptakan jejak masakan sang istri di roga mulutnya.
Hening mendominasi keduanya, sampai akhirnya Atena membuka suara. "Mas libur sampai kapan? Gak mungkin, kan, Mas Aldo libur selamanya?"
Aldo mengangkat kepalanya kemudian menjawab, "enggaklah sayang. Dua minggu aja."
"Apa!?" Atena melotot tak percaya. "Aja!? Dua minggu aja!?"
"Iya, sayang." Aldo menjawab dengan santainya.
"Mas, itu lama banget tau. Kamu gak khawatir apa di kantor ada masalah? Jangan mentang-mentang kamu bos jadi seenaknya, ya!?" ujar Atena kepada Aldo. Wanita itu hanya tidak ingin Aldo meninggalkan kewajibannya yang lain, toh sebenarnya libur 3 hari saja sudah cukup.
"Tenang dulu, sayang. Di kantor ada Farhan yang handel semuanya. Sekalian dia beradaptasi sama kantor juga. Toh, aku libur dua minggu sekalian libur honeymoon," jawab Aldo sembari mengunyah makanannya.
"Honeymoon? Kok kamu gak runding sama aku, sih!? Dikira kamu doang kali yang mau honeymoon!" kesal Atena.
Entah kenapa Atena tiba-tiba menjadi sensitif. Padahal bisa saja dibicarakan dengan kepala dingin, tapi hawanya tidak bisa tenang dan rasa-rasanya ingin meledak-ledak.
Aldo dibuat melongo dengan sikap Atena yang meledak-ledak. Kenapa istrinya menjadi pemarah seperti ini, padahal baru saja barusan menjawab dengan suara lembut. Kini, berubah menjadi ketus. Perubahan mood Atena kenapa begitu cepat berubah.
"Baru rencana aja sayang, aku belum nentuin kemana. Aku niatnya mau runding sama kamu, kok, selesai kita makan." Aldo menjawab dengan santai, tidak terpancing sama sekali.
"Oh," jawab Atena singkat.
"Tapi, jangan dibebankan ke Farhan semua. Kasihan dia," ucapnya lagi kemudian Atena melanjutkan makannya.
Aldo mengangguk saja, daripada ia menjawab dan urusannya menjadi panjang. Mending sebagai suami yang baik dia manut saja kepada sang istri, daripada membuat Atena jengkel dan mengancamnya dengan jatah malamnya.
"Eh, siapa yang datang?" tanya Aldo ketika suara bel berbunyi dari arah pintu apartemen.
"Temen kamu kali, dia mau ngasih hadiah."
"Siapa? Temenku cuman Farhan, terus sama Alex. Itupun Alex lagi di Amerika. Dan yang tahu alamat apartemen cuman keluarga Om Kardi, kamu, sama Alex."
"Loh?"