Kisah perjuangan sebuah keluarga, dimana sang ibu divonis menderita Leukimia stadium menengah.
"Aku tidak mau mendengar alasan apapun!! Aku tahu aku bisa menyelamatkan mamahku!! Aku sudah membaca banyak buku!! Lihat dokter!!! Semua yang tertulis disini semua benar kan!!"
Ucap Suni sangat emosional sambil menunjukkan kliping yang ia buat. Dokter Sam membuka lembar demi lembar, semua tentang Leukimia yang diderita Sia, ibunya.
Hancur perasaan dokter Sam. Gadis sebelia ini, begitu sangat bertekad membawa mamahnya kembali pulang. Rasa takut dan manja benar-benar tak tergambar sama sekali di wajah Suni. Sebagai seorang dokter , baru kali ini ia bertemu dengan anak yang memiliki keberanian setulus ini.
(cut dr chapter 20)
Mampukah keluarga ini bertahan sampai akhir? mampukah Suni, si gadis sulung berusia 10 tahun ini mampu menjadi pendonor untuk ibunya?
selamat membaca...😁
karya hanya berdasarkan imajinasi author.
mohon maaf jika ada banyak kesalahan.🙏🙏😁
Salam Author Yoshua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lost Way--25
"Dokter Sam!! Pasien Sia siuman!!" panggil seorang perawat saat dokter Sam hendak meninggalkan Sia setelah selesai memeriksanya tadi.
Langkah kakinya dipercepat setelah mendengar panggilan dari sang perawat. Tapi apa yang harus dikatakannya, bagaimana ia harus memberikan kabar buruk mengenai ayah mertuanya? langkah dokter Sam menjadi sedikit lebih berat, saat mengingat ucapan Suni. "Pastikan mamah akan baik-baik saja sampai aku kembali, dokter."
Namun sepertinya dokter Sam kali ini sedang tidak ingin menjadi seorang dokter. Ditatapnya Sia yang masih terbaring lemah, kelopak matanya sangat cekung dan pucat. Tulang-tulang pipi dan rahangnya pun sangat menonjol. Naluri alami seorang dokter tetap berjalan sebagaimana mestinya, namun di sisi lain, ia hanya seorang pria yang pernah menyimpan banyak kenangan indah bersama Sia.
"Sam,,, kemana semua orang? Suamiku, anak-anakku?" ucap lemah Sia.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" dokter Sam tak mampu menjawab apa yang seharusnya.
"Apalagi, semua masih sama seperti biasanya." jawaban pasrah dari mulut Sia. "Dimana mas Sundan?"
"Sia, berjanjilah dulu kamu akan baik-baik saja demi anak-anakmu." ucap dokter Sam dengan kerongkongan yang tertekan.
"Jangan berbelit Sam, katakan saja."
"Ayah mertuamu, meninggal karena kecelakaan." berat rasanya memberi kabar duka untuk orang yang sedang kesakitan. "Maafkan aku, aku yang mengijinkan mereka semua untuk,,,,,"
"Oh,,,,,," tangis pilu tak bisa Sia tahan, masih dalam pembaringannya yang sangat lemah, "Aku,,,,,,"
"Sssst,,,, aku tahu bagaimana perasaanmu. Lepaskan saja tangismu, aku yang akan menggantikan tugas Suni sementara." dokter Sam mencoba menenangkan Sia.
"Tuh, lihat, dokter Sam memang ganjen. Dia yang masih mengejar Bu Sia." bisik seorang perawat yang saat itu juga berada di sana.
"Kayak nggk ada perempuan lain aja." sahut yang lainnya.
"Nah itu Bu Sia nya juga nanggepin, padahal suaminya juga nggak kalah keren. Apa kurangnya!! Dasar mereka itu memang mencuri kesempatan dalam kesempitan."
"Mertuanya meninggal, mereka malah asik pacaran. Makanya tuhan murka, sampai sekarang tidak mendapatkan pendonor yang cocok kan?"
"Memangnya kenapa kalau aku punya dua papah?!" suara keras Suni yang berdiri tak jauh dari dua perawat yang bergosip itu, cukup membuat keduanya terperanjat.
"Eh?" kaget dan malu tak menyangka akan mendapatkan protes keras dari sang putri pasien. Dari ekspresi wajahnya, terlihat jelas Sini sangat marah.
"Kakak perawat jangan sembarangan bicara!" Suni berlalu meninggalkan dua perawat yang masing-masing bengong melihat keberanian Suni.
"Suni,,, ada apa sayang? Kenapa marah-marah sama mbak perawat? Cepetan minta maaf, nggak sopan kamu." ucap Sia lemah. "Lagian apa, dua papah? Percakapan seperti apa itu?"
"Mamah sayang Suni kan? Mamah sayang Sean juga kan? Bagaimana dengan papah? Mamah masih sayang papah atau tidak?"
"Suni,,,"
"Suni mau mamah sehat!! Suni mau mamah bahagia!! Apa pun akan Suni lakukan untuk mamah!!" suara tegas dan lantang Suni kembali menghancurkan ketabahan Sia.
Susah payah sia berusaha bangkit untuk meraih tubuh sia yang semakin hari semakin membuatnya pangling. Air mata deras membasahi pipi tirus Sia. Entah bagaimana awal mulanya, tapi kekerasan hati Suni semakin menghancurkannya.
Dokter Sam yang masih berdiri di sana pun, tak bisa menahan haru dan pilu disaat yang bersamaan.
[Dokter Sam, keruangan saya sekarang.]
Isi pesan singkat dari dokter kepala.
"Suni, dokter Sam harus melakukan sesuatu dulu, kamu jaga mamah ya, sebentar lagi papah Sundan pasti datang."
...****************...
To be continue....
Novel yg penuh perjuangan, keikhlasan, dan pengorbanan.