Miranti, seorang pengusaha restoran yang sedang berada di puncak kejayaan. Meskipun cara yang ditempuh untuk mencapai kesuksesan itu harus melalui berbagai ritual ilmu hitam, Miranti tetap bahagia dan menikmati kekayaan dan kejayaannya.
Awalnya semua berjalan lancar. Hingga akhirnya, di luar dugaan telah terjadi kesalahan dalam pelaksanaan ritual, hingga keadaan menjadi tak terkendali.
Perjanjian yang awalnya hanya akan mengorbankan anggota keluarganya saja, kini merembet pada orang lain. Korban pun berjatuhan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENARI SENJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Tubuh Amanda terlentang di atas ranjang besi dengan kedua tangan terikat di atas kepala.
Amanda pingsan setelah ditaburi bubuk yang sudah dimantrai. Orang misterius yang ternyata adalah Pak Cik, segera membuka jubah dan penutup wajah.
Setelah membaca mantra sejenak, dia mengitari seluruh tubuh Amanda dengan cerana yang menguarkan asap kemenyan, lalu memercikinya dengan air ramuan.
Setelah selesai dengan pembukaan ritual, laki-laki tua yang bertubuh kurus itu melucuti seluruh pakaian Amanda. Seketika jakunnya bergerak naik turun memandangi setiap inchi tubuh yang terlentang tanpa busana itu. Cahaya temaram dari dua buah lilin masih memungkinkan Pak Cik untuk mengamati setiap lekuk tubuh Amanda.
Hasrat laki-lakinya langsung muncul tanpa bisa dikendalikan. Sudah beberapa kali dia menelan ludah, dan napasnya menderu, dadanya pun naik turun karena sudah dikuasai birahi yang memuncak ke ubun-ubun.
Dengan mata nyalang dan tatapan liar, laki-laki itu bergerak ke tempat tidur, nafsu birahi yang tak terkendali membuatnya lupa pada tujuan.
Pak Cik sudah terlalu lama menahan nafsu birahinya selama ini. Istrinya tidak mampu memuaskan hasratnya, karena sudah tua.
Sementara ilmu yang dianutnya, melarang untuk menyakiti anggota keluarga, sehingga dia tidak mungkin untuk menikah lagi, kecuali atas izin dari sang istri.
Pak Cik sudah tidak mampu lagi menahan diri. Dengan penuh nafsu dan seperti singa yang sedang lapar, dia menjilati seluruh tubuh Amanda. Permukaan kulit Amanda basah oleh air liur yang menetes dari mulut laki-laki biadab itu. Sungguh menjijikkan.
Kini tubuh kurus itu menindih tubuh Amanda yang masih belum sadarkan diri. Dia terlalu asyik dengan syahwatnya. Bahkan Pak Cik tidak menyadari ketika api dari lilin menari-nari karena tiupan angin yang entah datang dari mana. Memberikan efek yang semakin temaram pada ruangan itu.
Tarian api dari lilin semakin tak terkendali mengiringi tak terbendungnya nafsu birahi sang dukun. Lambat laun salah satu dari lilin itu padam dan ruangan menjadi lebih gelap. Namun Pak Cik tidak peduli. Tangannya semakin merajalela di sekujur tubuh polos Amanda tanpa ada perlawanan.
Pak Cik yang tenggelam dalam syahwat l, tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dalam kemarahan.
Sosok itu ingin mencabik-cabik tubuh laki-laki tua yang dulu juga merenggut kehormatannya, tapi selama ini dia tak mampu melakukannya.
Sekarang, energi dari dalam tubuh Amanda seolah menariknya untuk datang dan memberikan kekuatan padanya.
Sosok tak kasat mata yang merupakan ruh Mayang itu, menyusup ke dalam tubuh Amanda bersamaan dengan padamnya seluruh cahaya dalam ruangan. Dan kini suasana menjadi gelap gulita.
"Akhh...akkhhh!" Pak Cik mengerang kesakitan.
Tangannya memegangi leher untuk melepaskan cengkeraman, tapi tidak berhasil.
Pak Cik meraung kesakitan ketika dia merasakan kuku-kuku panjang dan tajam menusuk dinding leher, semakin lama semakin dalam. Dan...
KREKKK
Suara berderak terdengar bersamaan dengan suara auman melengking. Dan tidak berapa lama, terdengar ledakan.
Ruangan kembali bercahaya seperti semula. Kedua lilin kembali menyala. Mata Amanda terbuka tiba-tiba dan melotot kosong.
Gadis itu duduk di tepi tempat tidur seperti orang linglung. Bahkan tidak terkejut mendapati dirinya yang tanpa sehelai benangpun.
Amanda berjalan keluar kamar dengan langkah gontai. Tampangnya sangat awut-awutan, tapi sepertinya dia tidak peduli sama sekali.
☕☕☕
"Sial!" gerutu Gilang.
Dia sangat kesal karena sejak tadi bolak-balik di jalan raya yang sudah sepi itu, tapi tidak dapat menemukan restoran Dapur Miranti. Entah sudah berapa kali dia bolak-balik di situ.
Gilang nyaris putus asa, hingga akhirnya terpaksa meminta bantuan Pak Beni, rekan kerjanya.
"Sepertinya restoran itu ditutupi secara ghaib," terang Pak Beni yang juga kewalahan karena tidak menemukan restoran milik Miranti.
"Heran, ilmu apa yang dipakai perempuan itu?" Gilang sangat geram, dia mengepalkan tangan kanannya dan memukul-mukulkan ke telapak tangan kiri untuk pelampiasan kemarahan.
Pak Beni tidak terlalu menanggapi kemarahan Gilang, dia duduk tenang di atas jok mobil sambil berzikir dan berdoa.
Tidak berapa lama, terdengar suara ledakan yang mengagetkan mereka.
"Astaghfirullah!" Mereka berucap bersamaan.
"Pak Beni, lihat!" Gilang berteriak girang, sambil mengarahkan telunjuk ke seberang jalan.
Pak Beni menoleh ke arah yang ditunjukkan Gilang.
"Astaghfirullahal'adziim." Pak Beni kembali beristighfar sambil membelalakkan mata. Dia menggeleng-gelengkan kepala karena syok.
"Ternyata sejak tadi kita ada di depan restoran itu?" Pak Beni sangat geram karena sejak tadi matanya telah dikelabui oleh hal ghaib, sehingga tidak bisa melihat restoran Dapur Miranti.
"Pak, kita harus buru-buru. Kasihan Amanda. Entah bagaimana nasibnya sekarang." Gilang memutar mobil menyeberangi jalan menuju Dapur Miranti.
Mereka menuju tangga darurat, karena hanya itu akses yang bisa mengantarkan mereka ke lantai dua.
Gilang sudah mempersiapkan peralatan untuk membongkar pintu, dan ternyata dia sudah cukup berpengalaman.
Begitu pintu terbuka, mereka dibuat kaget oleh Amanda yang berdiri mematung di depan pintu, tanpa ada kain yang menutupi tubuhnya.
"Astaghfirullahal'adziim!" Pak Beni dan Gilang sama-sama histeris. Spontan kedua laki-laki itu menutup mata demi menghindari pemandangan yang tidak pantas di hadapan mereka.
"Amanda, apa yang lakukan?" tanya Gilang sambil menutup mata.
Karena tidak ada respon dari Amanda, Gilang mencoba mengintip dari sela-sela jemari. Dia menyadari, Amanda bersikap aneh.
Gilang mencolek Pak Beni dengan sikunya. Pak Beni pun mulai menurunkan tangannya, tapi masih belum berani melirik Amanda.
Gilang menelengkan kepalanya ke arah Pak Beni, lalu berbisik,
"Pak, Amanda kok sangat aneh, ya?"
Mendengar itu, Pak Beni mulai memberanikan diri untuk melihat Amanda.
Gadis itu masih berdiri kaku di situ, dengan tatapan kosong tanpa ekspresi dan tanpa pakaian.
Gilang segera memasuki rumah Miranti, dan mengambil taplak meja yang lumayan besar, dan menutupi tubuh Amanda. Seketika, tubuh Amanda ambruk di lantai.
Gilang mengangkat Amanda dan menidurkan di sofa. Kemudian memeriksa ruangan yang lainnya bersama Pak Beni. Di situlah mereka menemukan Pak Arif yang tersandar di kursi roda dalam keadaan sudah tak bernyawa.
Kedua anggota polisi itu terkesiap. Apalagi kondisi Pak Arif sungguh mengenaskan. Matanya terbuka lebar, mulutnya menganga dan lidahnya terjulur.
"Sepertinya dicekik," ujar Pak Beni, dan dijawab dengan anggukan oleh Gilang.
"Kira-kira apa yang telah terjadi?" sahut Gilang seraya mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan.
Pak Beni berjalan ke bagian dalam rumah, diikuti oleh Gilang. Perhatian mereka tertarik pada pintu kamar yang terbuka.
Dengan hati-hati mereka memasuki kamar, dan semakin bertambah syok melihat pemandangan yang lebih mengerikan.
Tubuh seorang pria yang nyaris tak mereka kenali lagi wajahnya, terlentang di atas tempat tidur dalam kondisi tanpa busana.
Tubuh itu bersimbah darah, lehernya robek dan patah, mulutnya terbuka lebar dan mengeluarkan darah. Kedua matanya juga melotot dan berdarah.
Pak Beni dan Gilang merinding melihat pemandangan mengerikan itu. Mereka segera menelepon markas kepolisian untuk meminta bantuan.
☕☕☕
Miranti sukses dgn jalur demit ,