“ Berjabat tanganku, maka dengan ini kau terikat kontrak menjadi kekasihku,” ucap Aldrik, seorang CEO Perusahaan IT terbesar kepada Byana, seorang Polisi Bagian Kriminalitas yang berusaha menyelidiki tentang kasus kehilangan Orang tuanya.
Terlibat dengan Daniel, Pimpinan Mafia Gangster Syrebia, berujung pada kerja sama keduanya untuk berani mengambil Resiko dan juga cinta yang tumbuh tanpa disadari pun dipertaruhkan. Disaat genggaman tangan terlepas, apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekspektasi dan Keraguan 5
“ Tuan, ada seorang pria datang kemari mengantarkan tas dan mobil milik nona Byana .…”
Terucap laporan seperti biasa yang diberikan Pak Gio padanya. Menatap langit pada pagi hari, cukup baginya merasa bersalah karena tanpa sadar melukai hati seorang wanita yang mulai tumbuh rasa cinta. Tersadar akan dirinya yang berkelakuan aneh karena rasa cemburu, sungguh kekanakan.
“ Tidak apa. Biarkan saja.”
“ Baik Tuan ….”
Jika berkata akan lebih membuat masalah berkepanjangan, lebih baik menutup mulut ini untuk menjaga hatinya karena tindakan bodoh yang termakan api cemburu yang sangat konyol untuk dilakukan, meski maksud hati tidak seperti itu.
Melihat dari lantai atas balcon tengah, mulutnya pun kelut serta kedua tangannya mengepal ketika melihat senyuman manis itu diberikan kepada pria lain dan bukan kepadanya. Kembali tidak ingin mencari masalah, kaki pun memilih untuk melangkah mundur secara teratur.
Hmm … sepertinya ada sesuatu yang terjadi antara Byna dan Aldrik semalam. Takdir memang benar benar memihakku agar lebih cepat menjadi Nona muda keluarga Mahendra menggantikan Byana yang tidak becus itu.
Bergumam dalam hati, cukup bagi Tasya merasa puas ketika melihat Aldrik mencoba mencuri pandang dan bukan bereaksi seperti biasanya.
Tak urung akan melihat Aldrik yang kembali bersiap siap menuju kantor, Tasya pun mencoba mencuri kesempatan dengan Byana yang terlihat masih berbicara di luar bersama pria lain.
“ Aldrik, sepertinya jas dipadukan dengan dasi ini cocok untukmu.” Ucap Tasya yang tiba tiba masuk kamar Aldrik saat sedang membersihkan diri di kamar mandi.
“ Apa yang kau lakukan disini?” tanya Aldrik ketus.
“ Aku … aku hanya berniat untuk … membantumu bersiap siap karena Byana sepertinya sedang asik berbicara dengan pria lain …,” ucap Tasya tertegung melihat tubuh Aldrik yang hanya terbalut sebuah handuk pada bagian bawah tubuhnya.
Menatap pada Tasya yang saat ini masih menggunakan gaun baju tidurnya yang tipis tak tertutup, bahkan terlihat mengundang dengan jalur kain melengkung pada setengah pangkal bawah paha.
Bukan tergoda tapi justru merasa kesal dengan tidak habis pikir, Aldrik yang juga sudah sangat kesal sebelumnya. Akhirnya melampiaskan semua itu pada Tasya yang dengan tidak tahu malu masuk kedalam ruangannya terlebih terlihat ingin mencuri kesempatan.
“ Tasya dengarkan aku, karena ada hal yang ingin kukatakan.”
“ Oya?, apa itu?” tanya Tasya begitu antusias.
Aldrik berjalan menghampiri Tasya dengan melempar handuk kecil yang dipakai untuk mengeringkan rambutnya.
Tasya terlihat begitu gugup namun jelas merupakan suatu kesempatan langka baginya untuk bisa berada sedekat ini, terlebih dengan penampilan Aldrik saat ini.
“ Tasya ….”
“ Ya Aldrik?.”
“ Ada 2 pilihan untukmu. 1, kau keluar dari kamarku dan jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi. Atau 2, kau bisa tetap disini melihatku berganti pakaian tapi setelahnya aku akan membuat perhitungan yang akan sangat memberatkanmu untuk hidup ke depannya.”
“ Aaaappa?” Tasya melangkah mundur penuh ragu.
“ Jangan karena kau teman kecil Byana, kau bisa berprilaku seenaknya padaku. Setidaknya, tunjukkan harga dirimu karena aku merasa rishi dengan sikapmu yang seperti ini.”
“ Aldrik … apa yang—”
“ Pergi dari kamarku sekarang juga atau aku akan membuatmu tidak bisa melihat matahari pagi.”
Tangan yang lebih besar itu menarik dagu kecil seolah dapat dengan mudah meremukkannya. Mengapit bibir kecil berbentuk huruf O, tak urung tangannya bergetar ketakutan menatap dua buah bola mata yang terlihat menyeramkan.
“ Baabaiklah Aldrik … aku mengerti ….”
“ Pergi dari kamarku.”
Hentakan bersuara tinggi, sungguh dapat membuat siapa pun merasa takut hingga ingin berlari untuk meninggalkan ruangan sang pemilik tanah yang terkenal sebagai Tuan muda keluarga Mahendra. Masuk kedalam kamarnya, Tasya meliuk seolah sebagian nyawanya melayang.
Sial! Ternyata pria ini sungguh sulit ditaklukkan! Gumam Tasya dalam hati merasa kesal, sembari meminum segelas air dengan tangan yang masih bergetat.
Sisi lain Byana yang kembali berbincang dengan Alex, adik dari Daniel yang baru kembali ke Indonesia menjadi semakin dekat bahkan ingin mengajak Byana berkunjung kesa;ah satu Gallery seni di kota mengingat kabar dirinya yang tersebar sebagai aktivis seni.
“ Sepertinya, aku tidak bisa …,” balas Byana sopan, sedikit menundukkan kepala.
“ Aku tahu, setiap selasa dan rabu kau akan mengajari keponakanku, bukan?” tanya Alex dengan memberikan senyuman.
“ Bukan hanya itu … mungkin kau lupa, tapi saat ini aku sudah memiliki kekasih dan ti—”
“ Masa depan siapa yang tahu? ... maaf, bukan bermaksud mendoakan hubungan kalian untuk … intinya, aku hanya ingin berteman denganmu. Bagaimana?” tanya Alex kembali.
“ Tentu saja jika untuk berteman ….”
Saling berjabat tangan, keduanya pun saling menatap dan merasa canggung akan suasana yang terasa aneh. Hingga tersadar akan sosok seseorang yang sedang berdiri dibelakangnya, Byana langsung melepaskan genggaman tangan itu dan menghampirinya.
Menatap pada Byana yang tertunduk saat berjalan kearahnya, Aldrik cukup mengerti dengan apa yang harus dilakukannya. Menggandeng tangan Aldrik, Byana terlihat mesra dengan bersandar padanya mencoba untuk tidak menimbulkan kecurigaan.
“ Terima kasih sudah membawa dan mengembalikan mobil serta tas Byana.” Ucap Aldrik mencoba menahan diri melakukan sandiwara.
“ Tidak masalah, lagi pula kau juga rekan bisnis kakakku serta kita saling bertetangga,” Balas Alex.
“ Sebelumnya kau berada di luar negeri lama?” tanya Aldrik.
“ Ya, membantu urusan kakak, sedikit mengelola bisnisnya ….”
Aldrik terdiam tak lagi melanjutkan pembiraraan kembali dengan Alex hingga akhirnya memutuskan untuk megundurkan diri dan pulang kembali menuju kediaman Daniel. Melihat Alex yang berlalu pergi, pikiran Aldrik pun mulai berputar untuk berpikir.
Jika yang dikatakannya benar, maka Alex sepertinya bukan orang biasa dan pasti begitu terlibat dalam tindakan Daniel serta Gerry. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apa peran Alex dalam hal ini? Gumam Aldrik dalam hati.
Setelah gerbang garasi pagar yang tertutup, Byana sedikit mencuri pandang pada Aldrik yang berada disebelahnya seolah tidak bergerak dan mentatap sesuatu begitu serius. Tatapan Byana akhirnya menyadarkan Aldrik dengan langsung berkata,
“ Aku tidak bermaksud mengekangmu untuk berteman. Tapi aku pikir kau harus berhati hati dengan Alex.” Ucap Aldrik dengan menarik lepas tangannya pelan dari rangkulan tangan Byana.
“ Aku tahu. Karena saat aku mengajari Sandra kemarin, dia terlihat biasa saja melihat Gerry memukul seseorang membawa koper bertulis wood house.” Ucap Byana dengan berlalu pergi meninggalkan Aldrik masuk ke dalam rumah.
Aldrik terkejut dan memiliki niat hati untuk berbicara lebih banyak dengan Byana. Namun melihat reaksi Byana yang terlihat begitu menjaga jarak, Aldrik tidak memiliki pilihan lain selain menahan keinginan hatinya dan berlalu pergi menuju perusahaan.
“ Sepertinya hubunganmu dengan Aldrik memburuk… apa akhirnya dia sadar kau wanita yang tidak berguna dan hanya merepotkannya saja?” tanya Tasya yang penasaran saat mencoba mencuri dengar percakapan Aldrik serta Byana.
“ Apa kau tahu? Tasya jika aku meminta Aldrik untuk mengusirmu, dia pasti akan langsung melakukannya. Aku menahan itu semua karena ingin membalas sudah memasukkanmu ke penjara anak dulu. Jadi sekarang, perlakukan aku dengan baik sebelum aku berubah pikiran.”
“ Kau dibandingkan dengan Vlora sangat jauh berbeda. Seandainya kau melihatnya tambil begitu menyita perhatian kemarin, pihak media dan pejabat lainnya pasti lebih mendukung menendangmu dan meminta Vlora di sebelah ALdrik ….”
Byana terdiam menatap pada Tasya yang berbicara begitu santai dan sangat ingin menampar bibir yang tersenyum menyeringai seolah dirinya adalah korban hina dari kelakuan Byana saat masih berumur tiga belas tahun.
Mengacuhkan perkataannya dengan bersiap siap menuju kediaman Daniel untuk mengajarkan Sandra berlatih piano, kedatangan Vlora yang tiba tiba datang disambut sangat tidak baik oleh Tasya yang menganggapnya sebagai saingan.
Mengacuhkannya dengan mencoba mencari Byana, Vlora dengan kasar membuka pintu kamar Byana yang terkejut saat sedang berganti pakaian. Melihat sebuah bekas luka yang menggores pada bagian pinggul kanannya, Vlora menatap menyeleneh bagai sebuah dosa besar.
“ Kenapa?, apa kau akan memberitahu Aldrik ada luka menjijikan ini di tubuhku?” tanya Byana sembari meneruskan berganti pakaian.
“ Sebagai Nona muda keluarga Mahendra, penampilanmu harus selalu tam—”
“ Aku tahu. Sekarang ada apa kau kemari?” tanya Byana kembali dengan menatap serius pada Vlora.
“Tante Mutia ingin kita bertiga bertemu ….”
“ Ibu angkat Aldrik?. Aldrik pasti tidak tahu hal ini bukan?” tanya Byana dengan mengangkat kedua alisnya.
“ Untuk apa memberitahunya? ... Ini hanya acara minum teh yang biasa dihadiri oleh para wanita.”
“ Aaahhh acara minum teh?. Lucu sekali ….”
“ APA MAKSUDMU TERSENYUM SEOLAH MENGHINA SEPERTI ITU?!”
Tidak lagi menggubris perkataan Vlora yang sudah sangat dimengerti oleh Byana acara apa itu, Byana memilih meninggalkannya dengan Pak Gio dan Lia yang sudah siap berdiri didepan pintu kamarnya menatap penuh khawatir pada Byana.
“ Aku tidak apa-apa … aku pergi dulu ke rumah Daniel ….”
“ Hati hati dijalan Nona Byana ….”
“ Terima kasih Pak Gio.”
Vlora merasa kesal dengan tingkah laku Byana yang tidak sopan padanya dan mencoba mengadukannya pada Pak Gio yang secara langsung melakukan penolakan dengan mundur secara teratur penuh hormat.
Melihat semua orang yang berubah di kediaman Aldrik, Vlora pun mengadu pada Mutia yang secara tegas menyetujui pernikahan antara Vlora dan Aldrik karena dinilai lebih menguntungkan.
Kedatangan Vlora yang seolah meminta perlindungan pun, akhirnya dapat membuat Mutia tersenyum karena memiliki rencana lain yang dapat lancarkan tanpa sepengetahuan Aldrik.
“ Tante, bagaimana ini?” tanya Vlora bernada manja, dengan meliuk bagai ulat bulu pada tangan Mutia.
“ Kau tenang saja Vlora cantik … mana mungkin Tante membiarkan ini terjadi.” Balas Mutia dengan senyum menyeringai.
“ Tapi Tante sedang hamil … aku tidak mau menimbulkan masalah dengan om Arie.”
“ Calon ayah mertuamu itu sebenarnya cuek, jadi selama aku bertindak di belakang tanpa sepengetahuannya, tidak akan terjadi apa pun …” balas Mutia membelai lembut kepala Vlora.
“ Tante sudah seperti ibu kandungku … sejak menikah dengan om Arie, aku tahu Tante memang pantas menjadi Nyonya di keluara Mahendra …” Vlora memuji penuh manja.
Termakan dengan pujian yang Vlora berikan, hatinya yang terbang melayang karena merasa senang pun langsung memanggil Ana, assisten pribadinya dengan kembali berbicara berbisik agar Vlora tidak mendengar akan rencana yang sudah dipersiapkannya.
Namun Vlora tidak sedikit pun merasa penasaran, karena tahu bahwa Mutia pasti mendukungnya karena bagi Mutia kelas sosial serta latar belakang keluarga, amat sangat penting dalam memberikan keturunan atau penerus keluarga Mahendra.
***
-Kediaman Daniel-
“ Maafkan aku, Byana … sebenarnya aku hanya ingin kau lebih lama berada disini dan menemaniku bermain …” ucap Sandra merasa bersalah dengan menundukkan kepalanya.
“ Kau jelas tahu bahwa Aldrik menungguku dirumah. Bukankah kau bilang, kau adalah penggemar Aldrik karena menurutmu dia tampan, pintar, dan sesuai dengan tipemu? Lalu bagaimana jika tiba-tiba Aldrik berubah jadi jelek, gara-gara aku tidak mengurusnya?.”
“ Jangan-jangan … aku berjanji tidak akan melakukan hal ini lagi. Tapi kumohon jangan beritahu daddy dan mommy kalau aku penggemar Aldrik … please ….”
“ Oke ….”
Teguran lembut yang diberikan Byana membuat Sarah semakin merasa kagum padanya tak kala mencoba mencuri dengar dan melihat mereka dari kejauhan. Menatap pada Byana, Sarah pribadi pun memohon maaf yang akhirnya dapat membuat Byana tersenyum tulus.
Waktu berlalu menuju siang, tak kala saat memasuki jam makan siang Byana pun memohon ijin untuk berpamitan pulang. Saat berjalan menuju mobilnya yang terparkir, terkejut akan apa yang dilihatnya, Byana mencoba mengikuti apa yang membuatnya penasaran.
Kenapa Alex masuk kedalam mobil milik Gerry? Mau kemana mereka? Gumam Byana dengan terus melaju mengendarai mobilnya dari belakang membuntuti mobil merah milik Gerry.
Belokan menuju sebuah lahan perumahan yang masih dalam tahap pembangungan, dimana tumpukan pasir, semen, tiang penyangga, dan alat keras dan berukuran besar terparkir menutupi alur jalan utama yang membentang.
Pintar sekali mereka memilih tempat. Sungguh tidak terduga kalian memilih tempat seperti ini bukan pabrik tua yang sudah tak beroperasi. Gumam Byana dalam hati saat terparkir di atas lahan tanah yang masih ditutupi pohon pohon beringin berdaun lebat menjuntai.
Pintu mobil yang terbuka, Byana pun sengaja melepas sepatu tinggi yang digunakannya dengan tidak memakai alas kaki untuk berjalan menghampiri sebuah rumah yang masih dalam proses pembangunan agar dapat lebih jelas mendengar pembicaraan mereka.
Namun tiba tiba bersyukur belum melangkahkan kakinya, dua buah mobil lainnya datang melewati Byana yang kembali bersembunyi dan memasuki area pembangunan rumah dimana mobil Gerry terhenti dengan Alex di dalamnya.
Siapa mereka? Apa yang mereka rencanakan? Gumam Byana dalam hati yang akhirnya memilih berlari masuk kedalam bangunan rumah tersebut dengan bersandar setengah tertelungkup, Byana berhasil memilih tempat persembunyian terbaik untuknya.
“ What’s up, moron? I'am so fu*king done with you!” ucap Gerry kesal kepada salah satu pria yang turun dari mobil dengan tangan yang terikat.
“ Gerry kendalikan emosimu, kita masih memerlukannya. Jadi katakan, apa kalian berhasil kali ini?” tanya Alex pada seorang wanita yang juga terikat tangannya.
Tunggu dulu, EMBA AZKA? Tetangga yang berbeda 1 ruangan dari Apartemen milikku. Bukankah dia salah satu pegawai yang diceritakan Aldrik hilang hingga sampai diselidiki olehnya langsung? Ada apa ini sebenarnya?.