Leon dan Valeri bertemu saat gadis kecil itu baru terlahir ke dunia. Ibu mereka yang bersahabat sejak remaja, membuat kedua orang tua itu sepakat untuk menjodohkan Leon Orlando dengan Valeri Elmira.
Rentang usia empat tahun, seolah tak jadi soal bagi kedua sahabat itu untuk menjodohkan anak-anak mereka.
Dan, di sinilah Leon dan Valeri berada.
Leon yang kini berusia tujuh tahun, tengah memangku seorang gadi kecil berusia tiga tahun. Mereka tengah duduk di pelaminan dengan memakai baju pengantin.
Ya, kedua anak kecil itu akan segera melangsungkan pernikahan mereka. Kawin gantung. Itulah istilah yang orang-orang gunakan untuk menamai pernikahan kedua anak di bawah umur itu.
Setelah dewasa, akankah kedua anak itu menerima takdir yang sudah digariskan oleh kedua orang tua mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KG25
Dasar bocah licik. Bisa-bisanya dia yang mengajak lebih dulu, tapi dia juga yang berubah pikiran! Bikin kesal saja. Kalau tau begini, mending aku pergi ke apart Alexa!
Bagai anak kecil yang tak diperbolehkan memakan permen, Leon menghentakkan kaki dan melangkah menuju ranjang. Pria itu bahkan melepaskan kaos yang tadi dikenakannya karena merasa kegerahan. Leon pun menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan wajah kesal karena hasratnya tidak tersalurkan.
Namun, baru beberapa saat mata Leon terpejam. Pria itu merasakan seperti ada yang menjalar di atas perutnya.
Leon tercekat saat dia membuka mata dan melihat jemari Valerie menelusuri perutnya.
“Perut Abang seperti perutnya Park Seo Joon. Sexy,” ucap Valerie tanpa sungkan.
Leon melambung karena pujian yang dilayangkan oleh Valerie. Pria itu berusaha menahan senyumnya agar tak terkembang. Dia masih merasa kesal dengan bocah berisik itu. Leon tak mau hasratnya kembali dipermainkan oleh Valerie.
Namun, saat menatap Valerie yang terus menelusuri enam kotak otot-otot perutnya, membuat hasrat Leon kembali mencuat. Bahkan hasrat itu kini lebih menggebu.
Pria itu menahan jemari Valerie dan menatap gadis itu dengan tajam, “stop it!” serunya.
Valerie terperanjat. Gadis itu kembali memasang wajah cemberut. “Kenapa? Memangnya Erie tidak boleh memegang perut Bang Leon?! Tadi pagi, Bang Leon boleh tuh, pegang-pegang Erie di mana saja. Kenapa Erie tidak boleh pegang-pegang perut Bang Leon?!” ujar gadis itu kesal.
Valerie melawan. Gadis itu menarik jemarinya yang ditawan oleh Leon, lalu kembali mengelus-elus perut pria itu dengan tangannya yang lain. Dan Leon kembali menangkap tangan nakal gadis itu.
“Jangan suka memancing. Kali ini, walaupun kamu minta berhenti, aku tidak akan berhenti sampai aku benar-benar puas,” ujar Leon. Valerie yang tak mengerti maksud pria itu hanya bisa mengerutkan dahi.
Sepersekian detik kemudian, dengan tangannya yang masih menggenggam kedua lengan gadis itu, Leon bangkit dan menghempaskan Valerie hingga gadis itu terbaring di ranjang.
Mengekang kedua tangan gadis itu ke atas, Leon pun memposisikan dirinya di atas tubuh Valerie.
Dan apa yang dilakukan Leon selanjutnya berhasil membuat Valerie menggila. Matanya terpejam dan mulut menganga, bibir gadis itu kembali melenguh saat Leon menelusuri tubuhnya.
Leon pun membuktikan ucapannya. Pria itu terus memuaskan dahaganya, hingga waktu bulan madu mereka habis.
Pria itu tak membiarkan Valerie beristirahat terlalu lama karena Leon begitu menyukai saat melihat ekspresi Valerie yang berada dalam kungkungannya.
Hingga akhirnya Valerie merasakan sedikit nyeri di pangkal pahanya. Sementara Leon hanya bisa terkekeh saat menyaksikan gadis itu berjalan seperti pinguin.
“Sampai kapan Abang terus tertawa seperti itu?! Padahal ini semua salah Bang Leon!” ucapnya kesal.
Leon tentu saja tak menggubrisnya. Pria itu masih terus tertawa melihat sang istri kesusahan berjalan.
“Ayo cepat. Sudah saatnya kita check out. Atau mau digendong saja?” ucap Leon yang berusaha menahan tawa karena Valerie terus menerus menekuk wajahnya.
Valerie semakin kesal. Dia tau pria itu hanya mengejeknya. Mana mungkin Leon mau menggendong dirinya.
Namun, wajah kesal gadis itu berubah menjadi sebuah senyuman kecil kala Leon berjongkok membelakangi dirinya.
“Ayo naik. Aku tidak mau dianggap sebagai suami yang tidak bertanggung jawab,” ucapnya.
Dengan hati berbunga Valerie naik ke punggung Leon.
“Koper-koper kita siapa yang bawa?” tanya gadis itu khawatir.
“Ada pelayan yang menunggu di luar.”
Dengan menggendong Valerie, Leon berjalan santai didampingi oleh seorang pelayan yang membawakan barang-barang mereka.
Dan saat Leon baru saja selesai melakukan proses check out, pria itu melihat seorang wanita yang sangat dikenalinya berjalan sangat mesra dengan seorang pria bermata biru.
“Tunggu di sini. Abang ada urusan sebentar,” ucap pria itu.
“Urusan apa Bang?”
Leon tak lagi mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Valerie karena pria itu sudah berlari mengejar gadis yang dikenalinya itu.
Leon tersenyum sinis saat melihat Alexa yang kini telah memakai bikini, sibuk menggoyangkan pinggulnya di atas pangkuan seorang pria. Leon pun menghampiri Alexa yang tengah sibuk bergulat lidah dengan pria lain.
“Jadi, begini kelakuan kamu di belakangku, Alexa.”
Alexa menghentikan aksinya. Wajahnya mendadak pucat. Dia sangat mengenali suara itu.
Gadis itu menoleh. “B-beb,” ucapnya gemetar.
Alexa berusaha melepaskan diri dari pria yang masih memeluk pinggangnya dengan erat. Bahkan pria itu tak membiarkan Alexa turun dari pangkuannya.
Tapi Alexa terus berusaha melepaskan diri. Terlebih saat dia melihat Leon semakin menjauh dari jangkauan matanya. Alexa berlari menyusuri lorong. Dia tak peduli semua orang melihatnya berseliweran menggunakan bikini. Yang dia inginkan hanya memberi penjelasan pada Leon. Dia tak mau pria itu memutuskan hubungan mereka. Dia tak mau Leon berhenti membiayai hidup mewahnya di Sydney.
“Beb, Beb, tunggu aku, Beb. Aku bisa jelaskan semuanya. Ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan,” teriak Alexa.
Leon yang baru menyadari keberadaan Valerie, seketika berjalan memutar sembari menarik lengan Alexa untuk menghindari sang istri. Dia tak mau Valerie melihat Alexa mengejar-ngejar dirinya. Dia tak mau Alexa membicarakan masa lalu mereka pada Valerie. Karena bagi Leon, saat melihat Alexa bermesraan dengan pria lain, hubungan mereka telah selesai saat itu juga.
“Aku beri waktu satu menit,” ucap Leon datar.
“Itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Ada yang memberikan penawaran untuk bermain film pendek. Aku dan pria itu hanya sedang berlatih dan membangun chemistry,” jelas Alexa.
Leon seketika terbahak. “Apa kamu berpikir aku sangat bod*h, Lex?” tanya pria itu geram. Alexa menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Leon kembali teringat wajah pria yang memangku Alexa, tadi. Leon kembali tersenyum tipis.
“Ya, ternyata aku memang sangat bodoh. Aku tidak menyangka bisa ditipu dengan sangat mudah seperti ini.”
“Aku tidak berbohong, Beb. Ini benar-benar hanya latihan acting dan membangun chemistry.”
“Alexa, cukup ya. Sudahi sandiwaramu. Pria itu, pria yang sebelumnya kamu katakan sebagai pengantar pizza. Dia pria yang sama. Aku ingat betul wajahnya.”
Alexa terperanjat. Dia tak menyangka kalau Leon pernah melihat wajah pria yang menjadi simpanannya. Tak mau Leon bertambah marah, gadis itu memeluknya.
“Aku hanya merindukanmu. Jika kamu selalu ada di sisiku, aku pasti tidak akan mencari pria lain. Aku akan ke Indonesia. Aku akan kembali tinggal di Indonesia, bersamamu,” ujar gadis itu.
Leon yang merasa muak, melepaskan pelukan gadis itu. Namun, Alexa tak kehilangan akal, dia menyantap bibir Leon dengan rakus.
Alexa pikir Leon akan membalasnya seperti biasa. Tapi pria itu hanya diam. Leon bahkan mengatupkan bibirnya dengan erat. Alexa pun menghentikan aksinya.
“Hubungan ini kita sudahi sampai di sini,” ucap Leon.
Pria itu berpaling dan hendak meninggalkan Alexa. Tapi langkahnya terhenti karena dia melihat Valerie berdiri mematung di sana.
lalu lanjut d mana Mak
kasihan bgt Erie yg di bohongi Leon
awas Leon kamu bakalan nyesel 🤔🤭
awas ntar ada penyesalan 🤔🤭
perjodohan,,, awal ngelak ujung bucin. diri ku mampir Thor 🙏🥰