NovelToon NovelToon
The Novelist

The Novelist

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.

Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.

Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.

Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.

Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Temuan Misty dan Arga

"Ting... Tong..."

Bel pintu unit Misty berbunyi setelah lima menit yang lalu Maya pulang dari sana.

"Kali ini siapa lagi?" gumam Misty sambil berjalan menuju pintu.

Misty mengintip dari peep hole. Dia melihat Anjas berdiri di depan pintu unitnya. Misty mundur beberapa langkah.

"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya, mengingat pertanyaan Alex tadi pagi.

"Ting... Tong..."

Misty semakin melangkah mundur. Dia masih ragu untuk membuka pintu.

"Drrrttt... Drrrttt..."

Kini ponsel di atas meja yang bergetar. Misty menatap layarnya. Anjas menelepon. Misty masih diam. Untuk beberapa saat dia hanya menatap ponsel dan pintu unitnya bergantian. Panggilan telepon dari Anjas berhenti. Sedetik kemudian, sebuah pesan singkat masuk.

Apa Nona baik-baik saja?

Misty masih diam. Satu lagi pesan masuk.

Anda tidak pingsan lagi kan?

Misty menatap pintu unitnya. Jika dia tidak membuka pintu, Misty yakin, Anjas akan menemui pengurus apartemen untuk membukakan pintu dengan alasan khawatir dengan keadaannya.

Misty segera berjalan menuju pintu depan dan membukanya sedikit.

"Anda baik-baik saja?" tanya Anjas begitu Misty membuka pintu. Misty mengangguk pelan. Dia melihat Anjas benar-benar terlihat khawatir.

"Syukurlah... Saya pikir Anda pingsan lagi," kata Anjas, terlihat lega.

Misty masih belum mempersilakan Anjas masuk. Anjas sedikit heran. Dia merasa Misty terlihat waspada.

"Nona," panggil Anjas.

"Ya?"

"Saya ingin menanyakan terkait naskah The Novelist..."

"Oh! Editor saya membawanya," kata Misty. Anjas mengerutkan kedua alisnya.

"Editor?" tanya Anjas, memastikan dia tidak salah dengar. Misty mengangguk cepat. Anjas semakin curiga.

"Nona Misty," panggil Anjas.

"Saya tahu, Anda tidak akan seceroboh itu membiarkan editor Anda membawa naskah yang bisa jadi barang bukti kejahatan," kata Anjas. Misty terdiam. Wajahnya terlihat cemas.

Anjas mencermati wajah cemas Misty. Dia baru sadar bahwa sedari tadi Misty tidak membuka pintu lebar-lebar.

"Ah! Jangan bilang..."

Misty menaikkan kedua alisnya, khawatir Anjas tahu kalau dia mulai waspada terhadapnya.

"Ada seseorang di dalam?" tanya Anjas dengan nada berbisik. Misty mengerjapkan kedua matanya. Dia tidak menyangka, Anjas akan berkata begitu.

"Pacar?" lanjut Anjas dengan senyum kecil yang sedikit menggoda membuat Misty tak mampu berkata-kata.

"Maafkan saya yang tidak peka. Saya akan datang lain kali. Permisi," kata Anjas lalu berjalan perlahan menuju lift.

Misty menatap punggung Anjas yang sedang menunggu pintu lift terbuka. Masih ada keraguan dalam diri Misty, apakah Anjas sedang mengawasi dan mencurigainya, atau benar-benar sedang menyelidiki kasus tanpa mencurigai dirinya. Saat pintu lift terbuka dan Anjas perlahan masuk, Misty mulai bertanya-tanya.

'Apa aku bisa mempercayainya?'

***

"Kenapa nggak lo suruh masuk?" tanya Bimbim saat Misty sudah kembali duduk di kursi kerjanya.

"Mmm... Waspada aja," jawab Misty sambil fokus pada layar laptopnya, menyelesaikan cerita yang belum dilanjutkannya setelah kasus pembunuhan dua kosong lima mencuat.

"Waspada?" tanya Bimbim heran.

"Kita nggak tahu maksud dia sering dateng kesini apa," sahut Rachel yang sedang sibuk di dapur. Misty melirik ke arah Bimbim dan melihatnya menaikkan kedua alisnya.

"Bukannya udah jelas? Investigasi?" tanya Bimbim.

"Kalau memang gitu," kata Rachel sambil berjalan ke arah Bimbim.

"Frekuensi kedatangannya terlalu sering," lanjutnya sambil duduk di sofa ruang tamu.

"Misty bahkan nggak tahu semalem dia pulang jam berapa dan ngapain aja pas Misty ketiduran," tambah Rachel. Bimbim manggut-manggut kecil.

"Bukannya lo juga tahu kalau Bang Alex nyuruh Misty buat waspada?" tanya Rachel pada Bimbim. Bimbim menghela napas panjang.

"Waspada sih boleh-boleh aja," kata Bimbim sambil mencondongkan badannya ke arah Rachel.

"Tapi, kalau terlalu waspada, malah Misty bisa jadi semakin dicurigai," lanjut Bimbim. Rachel menatap Misty yang juga menatapnya.

"Iya juga sih," komentar Rachel. Bimbim kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Dia menoleh ke arah Misty.

"Udah gitu, Mis," kata Bimbim.

"Lo jadi nggak tahu kemajuan kasus ini kalau lo terlalu waspada kek tadi," lanjut Bimbim.

Misty mengalihkan pandangannya dari Bimbim ke layar laptop kemudian ke ponselnya.

"Dan kalau lo nggak merasa salah," kata Bimbim.

"Harusnya lo nggak perlu waspada," lanjutnya.

Misty menatap ke arah sofa ruang tamu untuk beberapa saat. Pandangannya kemudian beralih ke The Novelist yang masih ada di atas meja ruang tamu.

Misty beranjak dari kursi kerjanya menuju sofa ruang tamu. Sejak Alex pulang dari mengunjunginya, Misty belum sempat membaca bab lanjutan The Novelist.

Misty menatap naskah itu lama. Baru tiga hari yang lalu naskah itu ada, namun sudah merubah hidupnya menjadi begitu mencekam.

Misty mengambil sarung tangan di samping naskah dan memakainya. Dengan hati-hati, dia mengambil dan membuka naskah itu. Misty perlahan membalik halaman demi halaman naskah, melewati bagian yang menceritakan pembunuhan pertama dan kedua.

Matanya bergerak cepat, mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi informasi atau petunjuk terkait dua kasus pembunuhan yang terjadi. Semakin Misty membaca, semakin Misty merasa naskah itu adalah tulisannya.

"Bang Alex bener," gumam Misty sambil terus membaca The Novelist dengan seksama.

"Ini... bukan lagi mirip,"

Misty masih terus membaca. Setiap pilihan kata, ritme kalimat, membuat Misty yakin itu tulisannya.

"Tapi..."

Misty memutar bola matanya, mencoba mengingat sesuatu. Sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya.

"Nggak. Bukan," gumamnya tegas lalu kembali fokus membaca.

Misty terhanyut dalam naskah yang telah menciptakan kengerian dalam hidupnya tiga hari terakhir ini. Di halaman yang kini tengah dibacanya, kedua alis Misty mengerut. Beberapa detik kemudian matanya membulat.

Misty segera menuju meja kerjanya dan meraih ponsel. Dengan cepat ibu jari Misty bergerak, menghubungi seseorang yang —mungkin— bisa membantunya: Anjas Narendra.

'Aku rasa... Bimbim benar,'

***

Arga berdiri di belakang Gerry, meneliti CCTV yang ada di koridor depan kamar dua kosong lima, Hotel Harmoni. Gerry mengatakan, tak ada yang mencurigakan dari rekaman CCTV. Namun, Arga yakin mungkin ada yang terlewatkan —yang sepintas terlihat normal jika dilihat dari rekaman CCTV.

"Menurut dugaan awal, korban membuka pintu kamar karena dia mengira yang mengetuk pintu adalah room service," gumam Arga sambil terus menatap layar komputer yang menampilkan video kamera pengawas.

"Tapi... dalam rekaman, hanya terlihat korban saja yang keluar masuk kamar," gumam Arga.

Gerry, yang duduk di depan komputer, juga melihat dengan seksama video rekaman kamera pengawas di hari terjadinya pembunuhan. Untuk beberapa saat, Gerry memutar berkali-kali bagian yang memperlihatkan waktu perkiraan kematian korban. Tangannya berkali-kali menggeser mouse dan menekan tombolnya untuk memastikan sesuatu. Kepalanya semakin condong ke layar komputer saat dia memutar rekaman itu sekali lagi sebelum akhirnya menghentikannya. Gerry menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menatap video rekaman yang terhenti.

"Pak," panggil Gerry.

"Ya? Kamu menemukan sesuatu?" tanya Arga sambil mencondongkan tubuhnya ke layar komputer.

"Sepertinya selama ini kita terlalu fokus pada apa yang tertangkap kamera pengawas, tanpa mempertimbangkan apa yang tidak terlihat," kata Gerry. Arga mengerutkan kedua alisnya.

"Maksudmu?"

Tanpa mengatakan apapun, Gerry menggerakkan mousenya dan menggeser waktu video rekaman itu ke beberapa menit sebelum waktu perkiraan kematian korban. Dalam video, terlihat pintu kamar dua kosong lima terbuka beberapa detik. Tak terlihat ada orang yang mendekati pintu kamar ataupun lewat di koridor. Tak lama kemudian pintu tertutup kembali.

Arga menatap Gerry yang juga menatapnya. Arga mengambil alih mouse dari tangan Gerry dan memutar ulang video rekaman itu beberapa kali. Mata Arga membulat. Dia menarik tubuhnya perlahan menjauh dari layar komputer.

'Bagaimana mungkin aku melewatkannya?'

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!