Marcelo, seorang anak pengusaha terkenal jatuh cinta pada seorang gadis sederhana. Sayangnya cintanya tidak direstui oleh sang ibu, sehingga dia harus berpura-pura gila agar bisa bersatu dengan gadis itu.
Demi cintanya, Mitha rela menikah dengan laki-laki gila dan hidup menderita karena mertua yang menjadikannya seorang pembantu di rumah mewahnya.
Mampukah Mitha bertahan demi cintanya pada Celo sang suami? Yuk ikuti kisah selanjutnya dalam Cinta Gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CG# 25
Rosita terhenyak mendengar ucapan sang calon menantu. Dia tidak menyangka jika gadis itu akan berkata demikian.
"Tidak. Bukan begitu, Laras. Celo sebenarnya sedang sakit. Mami takut kamu tidak mau lagi sama anak mami," ungkap Rosita dengan berlinang air mata, tentunya air mata buaya.
Kini, giliran gadis itu yang terkejut mendengar kabar sang pujaan hatinya sedang sakit. Ingin rasanya dia melihat keadaan laki-laki yang telah menguasai seluruh dunianya. Dadanya terasa mendengar kabar sedih itu.
"Laras ingin melihat keadaan Celo, Mi. Sebentar saja," pinta Laras dengan raut wajah penuh permohonan.
Rosita tampak bimbang untuk mengambil keputusan. Damian ada di rumah saat ini, dia sudah mewanti-wanti siapa pun untuk tidak masuk ke kamar Celo kecuali didampingi oleh orang kepercayaan. Tidak mudah menemui Celo saat ini, padahal di rumahnya sendiri.
"Boleh, 'kan, Mi? Laras sudah rindu sekali dengan Celo. Kenapa Mami tidak cerita kalau Celo sakit? Kalau tahu dia sakit, aku pasti bantu Mami merawatnya." Gadis itu terus saja berbicara tanpa melihat bahwa wajah Rosita saat ini pias karena ditatap tajam oleh sang suami tanpa sepengetahuan tamunya.
"Sebentar mami tanya papi dulu. Soalnya papi yang membuat peraturan bahwa Celo tidak boleh dijenguk oleh siapa pun," jawab Rosita akhirnya.
Laras mengangguk tanda mengiyakan ucapan sang calon mertua. Gadis itu menunggu tuan rumah naik ke lantai dua untuk menemui suaminya.
Setelah menunggu beberapa saat, Rosita datang dengan raut wajah tenang. Sepertinya usaha merayu sang suami berhasil.
"Bagaimana, Mi? Boleh, 'kan? Aku ini calon istrinya loh, masak gak boleh?" Laras terus mencecar Rosita dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Tenang dulu. Kata papi boleh, tapi sebentar saja. Sepuluh menit paling lama berada di kamar Celo. Bagaimana, sanggup?"
Laras langsung mengangguk sebelum Rosita menyelesaikan perkataannya. Gadis itu sangat antusias ingin bertemu sang pujaan hati. Dia sudah tidak sabar untuk melepas rindu pada laki-laki yang dicintainya itu.
Rosita membawa Laras ke lantai dua di mana kamar Marcelo dan kedua saudaranya berada. Wanita yang melahirkan Celo itu berjalan pelan mendekati kamar anak keduanya. Dia mendorong pelan pintu yang tertutup tetapi tidak terkunci itu.
Laras berjalan di belakang Rosita mengikuti perlahan, takut gerakannya membangunkan sang pujaan hati. Betapa terkejutnya gadis itu, saat melihat laki-laki yang dulu bertubuh kekar itu terbaring tak berdaya dengan wajah pucat. Mata terpejam dan tidak ada pergerakan sama sekali dari tubuh kurus itu.
Marcelo masih tertidur karena tadi sebelum kedatangan Laras dia sudah bangun untuk minum dan makan sedikit lalu meminum obatnya. Dokter yang dibayar oleh Rosita itu memang sengaja membuat suami Mitha itu untuk banyak tidur atas perintah Damian.
Ya, dokter itu dibayar mahal oleh Damian untuk menjalankan perintahnya. Laki-laki paruh baya itu sengaja membuat sang anak lebih banyak tidur agar tidak bisa berinteraksi banyak pada orang lain selain dirinya. Semua itu dilakukan untuk menjaga kesehatan mental sang anak.
"Mami, sebenarnya Celo sakit apa? Kenapa keadaannya bisa seperti ini? Kenapa juga dia tidak dirawat inap di rumah sakit saja?" Gadis itu kembali mencecar Rosita dengan berbagai pertanyaan sehingga ibu tiga anak itu pun kelabakan menjawab pertanyaan tersebut.
"Kenapa Mami diam saja?" tanya Laras lagi.
***
Sementara itu di kota T, Mitha tampak baik-baik saja. Istri Marcelo itu beraktivitas seperti biasa, saat sebelum mengetahui dirinya hamil. Memasak, mencuci dan melakukan kegiatan rumah tangga lainnya.
Wanita itu sengaja tidak diizinkan oleh Bu Wiwin untuk membantu berjualan. Dia hanya boleh membersihkan tempat tinggal mereka dan memasak sebagian makanan yang dijual di warung itu. Hal ini dikarenakan, masakan istri Marcelo itu sangat disukai oleh pembeli.
Setelah Mitha yang memasak makanan yang dijual, warung Bu Wiwin menjadi lebih ramai dari sebelumnya. Bu Wiwin kini sering kewalahan melayani pembeli yang mulai membludak. Mitha sendiri tidak pernah keluar ke warung karena dilarang pemilik warung.
Bu Wiwin sengaja melarang Mitha keluar karena curiga jika jambret itu masih berkeliaran untuk menangkap Mitha dan mencelakainya. Terbukti ada beberapa laki-laki tak dikenal berpenampilan seperti preman berkeliaran di terminal itu.
Ada tiga orang berpenampilan preman, berjalan mondar-mandir memasuki beberapa warung yang ada di terminal dan sekitarnya. Bu Wiwin yang mengetahui hal itu pun memilih diam dan melarang Mitha keluar.
"Bu, sudah satu Minggu loh Mitha terkurung di sini. Mitha juga ingin keluar ikut Ibu ke pasar. Sebenarnya ada apa, sih?" tanya Mitha setelah warung Bu Wiwin tutup karena sudah habis.
Awalnya Bu Wiwin diam tidak mau menjawab setiap pertanyaan yang sama dilontarkan oleh anak angkatnya itu. Namun, lama-lama dia tidak tega dan akhirnya menjawab pertanyaan tersebut.
"Ada tiga orang laki-laki asing berpakaian seperti preman sedang berkeliaran di sekitar sini. Ibu takut kalau mereka orang yang sama dengan yang mencu lik kamu tempo hari. Jadi, untuk sementara waktu kamu jangan keluar dulu, Nduk," ungkap Bu Wiwin pada sang anak angkat.
Mitha mengangguk tanda mengerti dengan apa yang disampaikan oleh ibu yang telah menolongnya itu.
"Baik, Bu. Mitha akan di dalam saja. Membantu pekerjaan Ibu di dalam tidak apa-apa yang penting masih bisa beraktivitas, tidak hanya makan tidur saja. Terima kasih, Bu, untuk semuanya," ucap istri Marcelo Weasley itu.
Untuk periksa kandungan, Bu Wiwin sudah meminta tolong bidan yang tempo hari menolong Mitha untuk datang ke kiosnya setiap kali jadwal pemeriksaan. Walaupun Mitha dikurung di dalam kios, dia masih bisa beraktivitas seperti orang pada umumnya.
Setiap selesai berjualan, Bu Wiwin memberikan sedikit hasil jualannya pada Mitha, sebagai tanda terima kasih karena telah membantu memasak. Hal ini dikarenakan, berkat masakan Mitha warung Bu Wiwin menjadi ramai dan menghasilkan rupiah yang lumayan. Tidak seperti sebelum dibantu oleh wanita hamil itu, warung Bu Wiwin selalu sepi karena rasa masakannya yang biasa saja.
Baru seminggu tinggal bersama Bu Wiwin, uang Mitha sudah mulai terkumpul. Rencananya uang itu akan digunakan untuk biaya persalinan nanti. Istri Marcelo itu mengurungkan niatnya untuk pulang ke kampung halaman demi masa depan sang anak.
Jika Mitha kembali ke kota itu dengan membawa keturunan Weasley, bukan tidak mungkin sang ibu mertua akan membunuh dia dan anaknya. Istri Marcelo itu sadar jika kehadirannya di kediaman Weasley sudah tidak dibutuhkan lagi. Lebih baik menjauh dari pada harus hancur.
Bu Wiwin baik sekali padanya, tidak ada salahnya dia tinggal bersama janda tanpa anak dan keluarga itu. Saling menyayangi dan mengisi kekurangan masing-masing. Walau tak jarang, Mitha akan melamun karena merindukan sang suami.
"Kak, apa kabarmu di sana? Semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya. Jika kita harus berpisah, aku ikhlas. Apalagi kini sudah ada pengganti dirimu yang hadir dalam hidupku," gumam Mitha lirih.
sukses selalu Thor
Laras baik untungnya
meski banyak rintangan yang selama ini menghalangi,akhirnya semua bisa bahagia.
semau sendiri.