NovelToon NovelToon
The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Poligami
Popularitas:280.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sebutir Debu

Setiap insan yang menikah tentu ingin Bahagia. Tetapi tidak dengan Sekar. Gadis itu saat baru menikah dengan Guntur, ia sudah harus menjatuhkan air mata. Karena dijodohkan oleh guru. Tak ada niat untuk menikahi alumni pondok pesantren yang diasuh Gus Furqon tetapi mau tidak mau, Guntur menikahi gadis bernama Sekar. Pernikahan itu diawali tanpa rasa Cinta pada Sekar. Namun Sekar memberikan cinta yang begitu tulus. Hati Guntur pun mencair, ia mencintai Sekar.

Sekar mampu menjadi perempuan yang dicintai suaminya. Saat air mata baru saja mengering karena sang suami sudah mencintai dirinya, cobaan kembali datang. Mertua Sekar merasa risau karena Guntur tak kunjung memiliki anak.

“Bapak mau kamu menceraikan Sekar. Atau jika tidak, Sekar harus mengizinkan kamu menikah lagi dengan Arumi! Titik! Tidak ada tapi-tapi!” Bentak Pak Suryo pada anak Sulungnya.

Cerita ini hanya khayalan Author, jika ada kesamaan tokoh, kejadian itu hanya kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Melepas Rindu

Aku menoleh ke arah belakang, dengan mata sembab aku melihat sosok yang aku rindukan satu minggu ini.

“Mas….” Ucap ku tak percaya.

Ia malah tersenyum dan duduk bersila, aku langsung meraih kedua tangannya. Ku cium punggung tangan suami ku. Lalu ku cubit lengannya.

“Ih…. Tega ya sama istri sendiri…” Ucap ku kesal.

Ia malah tertawa melihat ekspresi ku.

“Kangen Dik, kopinya ndak manis ga ada kamu. Gulingnya ndak hangat ndak ada kamu…” Bisik mas Guntur.

Aku tersipu malu. Aku sebenarnya betul-betul merindukan mas Guntur. Baru kali ini terpisah jarak dan waktu. Tidur tak nyenyak, makan tak nikmat. Padahal aku saat di Sumatera begitu merindukan ibu dan bapak. Tapi tanpa mas Guntur, aku merasa hampa. Mungkin itu juga yang suami ku rasakan. Aku setiap pagi selalu menanyakan dirinya sarapan apa, masak apa. Atau malam hari aku akan bertanya padanya apakah sudah menghidupkan alarm. Mas Guntur paling susah kalau bangun pagi. Harus ada teknik khusus untuk membangunkan dirinya di pagi hari. Maka selama dua minggu di Jawa, aku selalu menelponnya setiap jam 4 pagi. Itu pun harus belasan panggilan baru diangkat. Maka aku sebenarnya ingin sekali merengek padanya untuk segera di jemput. Ia pasti sangat repot tanpa ku, apalagi mimik wajah kelelahannya saat pulang dari ladang.

Satu usapan pada pipi ku membuat lamunan ku buyar akan rasa rindu ku yang beberapa hari ini kian membuncah.

“Nangis kenapa? Disini ndak ada Ibu loh…” Bisik mas Guntur lagi seraya mendekatkan posisi duduknya.

“Kangen Mas…” Jawab ku pelan.

Mas Guntur mendekap ku, beruntung tempat sholat ini ada gorden yang menutupi. Maka aku tak khawatir jika ibu atau bapak melihat kami melepas rindu. Aku merasakan detak jantung mas Guntur begitu cepat. Ia sepertinya memendam rindu cukup berat atau sama beratnya dengan diriku. Ia kecup dahi ku berkali-kali.

“Mas lapar…” Bisik nya.

Aku melerai pelukan ku.

“Tak siapin dulu ya Mas….” Ucap ku seraya hendak berdiri.

“Pengen makan kamu, dik…” Ucap Mas Guntur.

Aku mencubit dua pipi mas Guntur. Satu hadiah kecil dari ku untuknya sekedar melepas rindu. Ia bahkan membelalakkan matanya.

“Tak kasih hidangan pembuka dulu, hidangan penutupnya nanti malam…” Ucap ku seraya cepat berdiri dan membuka mukenah.

Aku bergegas ke arah dapur. Ku dapati ibu sudah siap menata makan di meja dapur.

“Kaget?” Tanya Ibu pada ku. Aku tersipu malu.

“Ibu, kok ndak panggil Sekar.” Protes ku.

“Lah wong Nak Guntur bilang mau kasih kejutan. Buatkan kopi suami mu, itu air nya sudah panas. Ibu mau nyusul bapak dulu ke sawah.” Ucap Ibu seraya membuka pintu dapur seraya meraih caping yang biasa ia kenakan di sawah. Aku membuatkan kopi untuk mas Guntur. Namun saat akan membubuhi nasi ke piring, mas Guntur menahan tanganku.

“Kangen makan mayoran dik…” Ucap Mas Guntur.

Ah, aku pun rindu makan satu nampan berdua. Hal itu biasa kami lakukan kalau mas Guntur dapat undangan kenduri. Kami akan makan nasi berkat dan lauk pauknya di dalam nampan kecil dan menghabiskannya berdua. Aku pun tersenyum. Aku mengambil tikar rotan, ku bentang di sisi meja makan. Mas Guntur membantu menurunkan lauk dan sambal. Aku membubuhkan sambal di nampan bundar, lalu ku berikan oseng oseng mercon. Ini jelas akan membuat mas Guntur semangat makan, karena ia sangat hobi makanan pedas.

“Wah mantep dik…” Ucapnya melihat oseng-oseng mercon juga daun pepaya muda yang sudah direbus bersama daun ketela sehingga tidak terlalu pahit.

Kami duduk berhadapan, betul saja mas Guntur bahkan meminta di bubuhkan nasi lagi saat sudah hampir habis nasi di nampan kami. Keringat mengucur deras dari dahi kami. Kami tampak sama-sama menahan pedas. Entahlah, makan ku siang ini begitu nikmat. Aku bahkan tak terasa kenyang namun makan ku sangat nikmat, tak ingin berhenti rasanya. Saat selesai makan, aku mau membereskan tempat kami makan.

“Biar mas, saja. Kamu cuci piring saja.” Ucapnya pada ku. Aku pun membawa piring kearah tempat pencucian piring. Namun tiba-tiba ponsel ku berdenting, tanda pesan masuk. Mas Guntur membukanya. Mas Guntur terbiasa seperti itu, ia akan membuka dan membaca pesan di ponsel ku. Berbeda dengan ku, mungkin karena dulu Umi Siti sering cerita saat kami sedang memasak atau sedang membereskan pakaian di ndalem nya. Beliau selalu tidak ingin mau tahu isi ponsel suaminya. Dan hal itu tampaknya membuat ia lebih baik, karena mengingat Gus Furqon adalah pengisi majelis taklim para IRMAS dan mahasiswa.

“Lah, Dik Imas mana?”Tanya Mas Guntur.

“Di kamar, bersih-bersih kamar. Satu minggu lagi ada temannya akan menginap katanya.”Jawab ku.

Aku mengelap tangan dengan lap kotak-kotak lalu duduk di sisi mas Guntur.

“Lihat, foto nya bagus.” Ucap Mas Guntur seraya menyodorkan ponsel ke arah ku. Tampak foto candid aku sedang makan dengan mas Guntur.

Dan di pesan itu tertulis pesan dari Imas.

{Aku beli pecel aja Mbak, selamat melepas rindu. Jadi pengen cepet nikah}

Aku tersenyum simpul saat membaca pesan Imas. Hampir setengah jam kami berbincang di dapur. Nas Guntur pun ingin meluruskan pinggangnya. Maka aku segera mengganti sprei dan sarung bantal di kamar. Alam sepertinya mengerti rasa sesak di dada beberapa minggu ini. Hujan deras membasahi bumi. Beruntung aku sudah paham bahwa tak mungkin suami ku itu hanya akan meluruskan pinggangnya saja. Maka aku tak mengunci pintu depan dan belakang. Hanya pintu kamar yang ku kunci, namun jendela kamar yang terbuat dari kaca sengaja tak ku tutup. Karena tak mungkin akan ada orang yang melihat. Posisinya cukup tinggi juga menghadap tembok. Maka ku tarik separuh gorden jendela itu.

Ah, Cinta adalah semua rasa yang menyesakkan dada.Cinta itu bisa membutakan manusia, bisa menjadikan cahaya. Maka cinta mas Guntur untuk ku adalah cahaya hidup ku. Tak ada yang bisa bertahan saat beratnya perjalanan. Namun cinta mampu membuat sebongkah hati yang mungkin berkali-kali disakiti oleh orang disekitar menjadi kuat hanya karena cahaya cinta. Maka siang menjelang sore ini, aku dan mas Guntur menikmati cahaya cinta kami. Cinta yang melengkapi kekurangan kami. Hingga kami menjadi sosok sempurna dimata pasangan kami. Aku yang mungkin tak secantik Arum, namun aku adalah ratu dalam hati suami ku, karena aku pun selalu melayani ia bagai Raja dalam setiap detik kehidupan kami.

"Mas ndak salah pilih istri... Dulu mas sempat ragu. Ternyata untuk tentram, untuk bahagia, untuk menikmati indahnya dunia tak perlu istri yang diakui dunia. Tapi cukup istri yang ndak terlalu fokus sama dunia... Terimakasih Dik. Karena kamu, mas selalu merasa bahagia, tenang dalam menjalani kehidupan." Ucap Mas Guntur seraya mengeratkan pelukannya.

Napasnya kian teratur, menandakan ia begitu merasa tenang saat bersama ku. Jika mbak Ani akan marah saat suami nya tertidur saat habis 'hujan-hujanan' bersama. Aku justru tidak insecure. Aku merasa bahagia, bangga. Karena aku berarti mampu membuat suami ku mendapatkan ketenangan hingga ia bisa tertidur pulas disisi ku. Aku bahagia lahir batin sehingga tak akan ada perempuan yang lain yang mampu menggantikan aku di hati dan kehidupan mas Guntur. Sekalipun Arum yang memiliki tahta, jabatan dan kecantikan, lebih dari aku. Tapi aku punya kekuatan cinta yang selalu ku tirakati lewat dzikir ku, lewat shalat-shalat malam ku. Maka tak akan ada selir dalam istana kami, kalau pun itu terjadi. Aku tahu jika Allah yang menghendaki.

"Surga ku ada pada Ridho mu, Mas." Ucap ku seraya memejamkan mata karena cukup lelah. Sungguh aroma keringat khas suami ku mampu membuat aku tenang saat tertidur. Siang menjelang sore ini, kami terlelap bersama. Jika bukan karena suara pujian dari speaker masjid yang menyatakan bahwa sudah masuk waktu shalat Ashar. Maka kami mungkin masih terlelap.

"Wes toh... ndak mancing-mancing. Mas, ndak berani nambah,... malu sama mertua.... " Bisik nya saat aku mengusap dadanya.

Kami pun terkekeh bersama. Ah, ini yang aku rindukan. Tertawa bersama nya walau sebenarnya air mata kesedihan selalu saja hadir dalam pernikahan kami.

1
-Hn-
kak. apa kabar. sehat kan? sdh 1 tahun lebih tdk ada up. kami merindukan kisah kisah dr kak sebutir debu
NaNa
Luar biasa
Rita Yulianingtyas
udah hampir 1 th kok ga ada lanjutannya thor?
Komariah Komariah
assalamualaikum kak kapan lagi up nya
lama bingit/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Heart//Heart//Heart//Heart/
solihin 78
Masya Allah sebuah kesetiaan seorang suami terhadap istri nya
solihin 78
umi ayu bukan umi Siti
Arda Pratama
ini ada lanjutannya apa tidak sih thor lama amat upnya
Tantina Wyvaldia
Ma syaa Allah, ternyata bunda ada hubungan dengan Lirboyo, Assalamu'alaikum bunda
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Komariah Komariah
assalamualaikum

kakak ko lama banget up nya
sy tunggu udah berapa bulan ga up LG
apakah kakak sedang sibuk
hingga belum bisa up

semoga kakak sehat selalu ya

sy tunggu ya kak
terima kasih

wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Zachary
Luar biasa
Harsilia Devi
kak kok gak up" lagi😭😭😭
Komariah Komariah
assalamualaikum

kapan up lg kakak
sy kangen bacanya
kalo baca ini jadi inget diri sendiri
yg persis kaya mba Sekar
Maz Andy'ne Yulixah
MasyaAllah,selalu istiqomah dan sabar ya Mas Guntur,jadi Kades emang gak mudah😇

Lanjut njeh kak,oh iya Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin kak😊🙏
Yus Warkop
kapan up , kapan up srmoga author sehat drlalu dan kmbali update
Komariah Komariah
bagus banget
cerita kehidupan sehari-hari
memberikan contoh sabar dan penuh pengertian, keikhlasan,dan banyak lg ilmu pikih nya,
pokoknya siiiip deh kayanya
Komariah Komariah
assalamualaikum
kak lama sekali update nya yg baru
sampai jenuh menunggu
karyamu selalu di nanti di hati
War Dani
uda beda alam kaliiiii .......!
rahmilah rahmi
sekian lama aku menunggu,,kehadiran karyamu,,update lah,,update mu ku tunggu/Doubt/
Waty Umi hafidzah
Baguus 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!