Ariana, gadis 18 tahun yang jatuh cinta kepada Guru paling dingin di sekolahnya.
Ternyata, semesta memberikan kesempatan padanya untuk bisa merebut hati sang guru, Arandra lewat perjodohan.
Tapi sayangnya, hati Arandra tetap tak bisa Ariana dapatkan. Meski mereka adalah suami istri. Arandra selingkuh dengan mantan kekasihnya yang sangat ia cintai.
Hati istri mana yang tidak hancur melihatnya. Ariana pun mengajukan gugatan perceraian kepada suaminya.
Saat keadaannya tengah terpuruk, kenyataan yang lain pun terkuak. Ariana hamil.
Tidak ingin ada siapa pun yang tahu, Ariana meminta bantuan Radit yang notabene adalah Om dari Arandra.
Radit selalu setia menemani Ariana dalam menghadapi masa-masa sulit di kehamilannya.
Dapatkah Ariana mendapatkan cinta yang tulus dari seseorang?
Di saat ia trauma dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ivan witami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 TERAKHIR KALINYA .
Ariana barjalan pelan memasuki ruangan kerja Arandra. Ariana hanya ingin memberitahu jika dirinya hamil. Arandra sekilas melihat Ariana berdiri di depan meja kerjanya, Namun ia hanya diam.
Ariana begitu takut melihat ekspresi wajah dingin sang suami dan menjadi bingung ingin bicara darimana.
"Pak, Saya ingin bicara sesuatu. Em... anu, em ... saya ingin menyampaikan....”
"Bagus kalau kamu ingin menyampaikan ingin berpisah, itu yang aku tunggu!” sela Arandra mengira bahwa Ariana meminta berpisah.
"Hah?” pekik Ariana pelan.
Arandra bangkit dari duduknya menghampiri Ariana.“ Aku muak dengan hubungan ini, Hanya saja aku terlanjur terikat janji tidak akan menceraikanmu. kalau kamu yang meminta itu bagus!”
“Pak, kalau saya salah, saya minta maaf. Tapi, bukan itu maksud saya, Pak! Saya ...!”
Arandra meninggalkan Ariana sebelum Ariana menyampaikan kehamilannya. Ariana hanya bisa memandangi punggung suaminya yang berjalan ke kamar.
"Bagaimana ini, Bagaimana aku menyampaikan kalau aku hamil.” Ariana kemudian keluar dari ruangan kerja Arandra menuju kamarnya.
Ariana menangis di dalam kamar, ia bingung harus bagaimana menyampaikannya, Kemudian ia membuka nomor kontak dari ponselnya yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Radit, hanya Om Suaminya itu yang bisa membantunya. Tapi ia berpikir lagi, jika ia memberitahu sudah pasti semua keluarga nanti akan mengetahui semuanya.
Ariana keluar mencoba memberanikan diri untuk memberitahu Arandra lagi tentang kehamilannya. Ariana mengetuk pintu kamar Arandra beberapa kali membuat Arandra marah. Arandra dengan emosi membuka pintunya.
"Apalagi yang kamu inginkan? Aku sudah muak denganmu, Dengar Ariana Semenjak kejadian itu, Felly membenciku dan asal kau tahu, Dia bukan wanita murahan, aku yang mengejar-ngejar dia. Dari awal aku sudah katakan padamu aku tidak mencintaimu! Pergi!” Arandra menujuk arah keluar.
"Tolong pergi dari hidupku!” teriak Arandra didepan wajah Ariana, Ariana hanya memejamkan mata sambil berderai air mata.
Ariana mencengkeram kerah baju Arandra dan masih menangis.“Saya tidak akan pernah pergi dari Bapak, Karena saya istri Bapak! Sampai kapanpun.
Tanpa kata lagi Ariana membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Arandra menuju kamarnya, sedangkan Arandra membanting pintunya. Ariana mengurungkan niatnya memberitahu Arandra tentang kehamilannya. melihat Arandra sudah tidak memberikan kesempatan lagi padanya. Ditambah Arandra menyuruhnya pergi dari hidupnya.
Ariana masih menangis sambil berpikir apakah memberitahu Suaminya atau diam dengan kehamilannya. Pada akhirnya tanpa sadar ia sampai tertidur. Sementara itu Arandra sebenarnya masih berhubungan dengan Felly dan menjanjikan janji manis untuknya. Entah kata apa yang membuat Felly luluh setiap Arandra menemuinya. Padahal ia sadar Arandra memiliki istri.
Pagi harinya Seperti biasa Ariana memasak sarapan dan membuat kopi untuk suaminya, walau sebenarnya ia sedang mabuk karena tidak bisa mencium aroma masakan. Ia berusaha kuat sampai selesai memasak walau sesekali ia mual muntah, Bibi asisten rumah tangganya hanya melihat saja dan prihatin dengan kondisi Ariana dan rumah tangganya. ingin membantu memasak pun Ariana melarangnya.
Setelah selesai menyajikan masakannya. Ariana memberanikan diri memanggil Arandra agar sarapan.
"Pak, sarapan sudah siap, kopinya juga,” ucap Ariana di ambang pintu kamar Arandra. Arandra hanya diam sambil mengenakan kaosnya.
"Makan saja sendiri!” jawabnya ketus.
"Untuk terakhir kali, pak! Sebelum saya pergi dari rumah ini dan dari kehidupan Bapak!”
Arandra melihat Ariana sekilas lalu menghampirinya.“ Kau menyerah? Bagus! Baiklah untuk terakhir kalinya.
"Saya juga akan pindah sekolah!” ucap Ariana yang memang sudah ia pikirkan tentang sekolahnya, Mana mungkin ia sekolah dalam keadaan hamil.
“Itu urusanmu mau pindah kemana.” Arandra kemudian menuju ruang makan. diikuti Ariana yang menahan tangisnya.
semalaman Ariana berpikir lebih baik menyembunyikan semuanya dan pergi jauh dari kehidupan Arandra. Untuk apa bersama jika hanya menahan sakit. Urusan anak biarlah, Ia akan berusaha membesarkannya sendiri.
Ariana melihat Arandra memakan nasi gorengnya dengan lahap sampai habis. Setelah itu meminum kopinya. Kemudian ia bangkit dari duduknya.
"Nanti saya hubungi pangacara untuk mengurusi semuanya.” ucap Ariana masih menahan tangis.
Arandra hanya diam dan pergi begitu saja tanpa melihat wajah Ariana. Setelah Arandra pergi Ariana menangis di meja makan. Bibi hanya bisa menenangkan dengan cara mengusap rambutnya.
"Yang sabar ya, Non. Den Arandra pasti hanya khilaf dan masih terobsesi dengan mantan pacarnya.”
"Tidak apa-apa, Mbok. Saya mengerti. Hati memang tidak bisa dipaksa. Kalau begitu bantu saya mengemasi barang-barang saya ya mbok. Saya mau pulang!”
"Tapi, Non.”
"Mbok, saya sudah di usir tadi malam. Mbok juga mendengarnya, kan. Tidak apa-apa saya masih punya rumah orang tua saya.”
"Tapi, Non. Bagaimana kalau orang tua Non dan Den Aran tahu kalau kalian berpisah.”
“Mereka pasti mengerti, Mbok.”
Ariana mengusap air matanya lalu tersenyum tipis kemudian bangkit dari duduknya menuju kamar. ia pun bersiap berangkat ke sekolah.
Disekolah, di jam pelajaran Arandra, Ariana memilih keluar dan tidak mengikuti pelajarannya. Ia berdiam di toilet perempuan dan menangis disana. Arandra juga tidak peduli ada dan tiada keberadaan Ariana di jam pelajarannya.
Ariana masih menangis sambil melihat foto di galeri ponselnya, mengingat momen bersama suaminya. Hatinya bertambah sakit saat mengingat momen indah tersebut.
Ariana kemudian melihat nomor kontak di ponselnya lalu menghubungi sang kakak, Aris.
"Halo, kak!”
"Riana, Nanti ya. Kakak meeting. Nanti kakak hubungi lagi. Ada apa?”
"Aku pulang, kak.”
"Oh, ya sudah nanti kalau ada waktu Kakak ke rumah. Sudah ya!” Aris pun mematikan sambungan ponselnya tanpa tahu maksud ucapan sang adik.
Ariana menangis kembali bahkan kakaknya tidak mengerti maksud kata-katanya. Memang yang mengerti hanyalah dirinya sendiri.
"Baiknya aku secepatnya menyelesaikan ini dan pergi seajuh mungkin dari kehidupan guru yang tidak punya hati. Kita bisa hidup berdua sayang, pasti bisa,” ucap Ariana dalam sambil mengusap perutnya. kemudian ia melihat sisa saldo tabungannya yang selama inibia kumpulan dari menyisihkan uang jajan dari Mama, papanya sebelum menikah.
"Tabungan lumayan,” Gumamnya dalam hati. ia bangkit dari closet lalu keluar dari kamar mandi menuju ruang kepala sekolah. Ia ingin menyampaikan kalau ingin pindah sekolah.
Arandra melihat Ariana ke ruang kepala sekolah pun hanya diam, semua murid teman sekelas Ariana pun bingung dengan sikap Arandra yang tidak setegas dulu pada Ariana. Terlebih dua sahabatnya. Dia sahabatnya itu pun tidak tahu apa yang terjadi yang sebenarnya.
Ariana duduk di kursi kantor kepala sekolah, dan mengerutkan keningnya mendengar keinginan Ariana yang pindah sekolah, padahal sudah kelas 3.
“Kamu yakin pindah ke Mahendra school, disana tidak boleh bolos dijam pelajaran dan disana ketat!” tanya kepala sekolah.
"Saya sudah yakin, Pak!”
"Pak Aran tahu?”
Ariana mengangguk dan tersenyum."Justru beliau yang meminta.”
Kepala sekolah paham. Mengira Arandra memang ingin yang terbaik untuk istrinya. walau mempunyai sekolah sendiri, suatu kebanggaan jika salah satu muridnya ada yang ingin sekolah disana. Apalagi ini adalah istrinya, Pikir kepala sekolah.
“Baik lah. nanti saya siapkan semua berkasnya besok atau lusa sudah selesai.”
“Baik pak. Terima kasih. Permisi.” Ariana kemudian keluar bersamaan dengan bell istirahat pertama.
cerita y' bagus autor 👍🏻😘😘😘😘🥰