~NOVEL KE 12~
Namaku Imelda Molly. Orang biasa memanggil ku Imel atau Meli. Usia ku 19 tahun. Dan ini adalah tahun kedua ku di Universitas. Dengan jurusan Pendidikan Kimia yang menjadi prodi pilihan ku.
Aku tak menyangka, kalau hidup ku akan berubah sejak aku menyelamatkan seseorang dari aksi bunuh diri. Karena setelahnya, aku malah memiliki seorang penguntit (stalker). Dan penguntit nya adalah hantu!
Apa sebenarnya alasan hantu itu mengikuti ku ?
Apa hantu itu juga yang sudah meneror keseharian ku kemudian?
Bisakah kalian membantu ku memecahkan semua misteri yang menghantui hidup ku ini?
Terima kasih!
Aaahhh! Lihat!!! Apa itu di belakang kalian?!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesurupan
"Ya Allah! itu Hera kenapa?! Cepat tolongin! cepat! cepat!" teriak orang-orang di sekitar ku, entah siapa.
Detik berikutnya kerumunan itu bergegas mendekati Hera dan menolongnya agar terlepas dari jeratan tali yang menggantung. Sementara aku sendiri masih terkejut usai melihat aksi percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh wanita yang dulu pernah ku tolong di tempat wisata Danau Pelangi itu.
Aku hanya bisa melihat di pinggir, manakala Faiz beserta beberapa warga sekitar membantu wanita yang kemudian ku ketahui bernama Hera itu.
Syukurlah Hera masih bisa diselamatkan. Karena upaya percobaan bunuh diri itu sepertinya baru saja akan dilakukan.
Beruntung aku dan Faiz cepat tiba di kontrakan nya ini. Dan lebih beruntung lagi Faiz yang cepat mendobrak pintu kontrakan Hera hingga terbuka. Jadi kami bisa menyelamatkan Hera tepat pada waktunya.
"Bawa ke dokter! bawa ke dokter!" pekik suara warga lainnya.
"Iya! Bawa ke dokter sekarang juga! Takutnya dia sesak napas atau gimana..!" usul suara warga yang lain.
Dan kemudian Hera pun dibawa pergi oleh beberapa tetangganya. Sementara aku masih tetap berdiri diam di depan pintu rumahnya yang ditinggalkan. Faiz sendiri ku lihat sedang terduduk di salah satu sofa yang ada dalam kontrakan Hera.
"..Pak Fa..iz? Ki..Kita sebaiknya pulang sekarang kah?" tanyaku dengan suara pelan.
Aku masih sangat syok dengan kejadian barusan. Sehingga aku telat menyadari keanehan yang sedang ditunjukkan oleh dosen muda ku itu.
Tak segera mendengar jawaban dari Faiz, akhirnya aku memberanikan diri untuk melangkah masuk dan mendekatinya.
"Pak..? Kita pulang sekarang kah, Pak? Sebentar lagi udah mau maghrib.." imbuh ku mengingatkan.
Saat ini sudah pukul setengah enam lewat sepuluh menit. Tak sampai sepuluh menit lagi, adzan maghrib akan segera berkumandang. Aku berharap sangat bisa segera pulang dan menjauh dari tempat ini. Bagaimanapun juga menyaksikan aksi bunuh diri seseorang itu sungguh membuat trauma yang berbekas.
Sedetik kemudian kepala Faiz tiba-tiba saja menegak. Dan ia menatap lekat ke wajah ku.
"Mm.. Bapak kenapa? Jangan nakut-nakutin saya gitu deh, Pak! Saya beneran ngerasa takut nih!" cicit ku mulai ketakutan. Kala melihat ekspresi Faiz yang sedikit berbeda dari biasanya.
'Duh! Masa iya dia kesambet sih?? Sekarang?? Pas banget!!' rutuk ku dalam hati.
Merasa kian takut, akhirnya ku putuskan untuk berbalik pergi saja menuju pintu kembali. Akan tetapi..
Brak!!
tiba-tiba saja pintu menggebrak tertutup dengan sendirinya. Aku pun kian ketakutan. Dan tanpa pikir panjang langsung menggedor-gedor pintu di depan ku itu sekencang yang ku bisa.
Berharap masih ada tetangga Hera yang berdiri di luar kontrakan dan mendengar suara gedoran pintu yang ku buat ini.
Tapi setelah beberapa lama aku menggedor pintu, aku tak jua mendengar suara dari luar rumah. Kian cemas, secara refleks aku pun berbalik dan terkejut dengan apa yang ku lihat.
Saat ini Pak Faiz sudah berdiri dari sofa. Ia kini sedang berjalan perlahan ke arah ku.
Yang membuat ku tak nyaman adalah saat ku amati raut wajahnya yang tampak datar. Dengan kedua bola mata yang tampak kosong.
"Pp..Pak.. Faiz!!" Aku mencoba memanggil lelaki itu.
Sayangnya ekspresi di wajahnya tak berubah.
'Duh! Masa iya sih dia sekarang kesambet betulan?? Gimana dong nih?!' Aku sibuk panik sendiri.
Di bawah tekanan tatapan kosong dari Pak Faiz, secara perlahan aku juga merasakan bagian tengkuk ku terasa kian berat. Sampai secara tiba-tiba kesadaran ku hilang begitu saja.
***
(Sudut Pandang Faiz)
"Keluarlah sekarang juga dari tubuh ku! Aku harus menolong teman ku!"
Ku perintahkan makhluk halus yang mengenalkan dirinya sebagai Yama agar keluar dari tubuh ku sekarang juga.
Makhluk halus ini tiba-tiba saja merangsek masuk dan menguasai tubuh ku, saat aku lengah menolong Hera sesaat tadi.
Makhluk itu ingin meminta bantuan kepadaku untuk menolongnya. Sekaligus juga menolong Hera, kekasihnya.
"Yama! Keluarlah! Aku harus menolong teman ku!" ku ulangi perintah ku kepada Yama.
Pada mulanya Yama menolak. Ia bahkan setengah memaksa untuk menggunakan tubuh ku demi bisa melawan makhluk halus jahat yang kini mulai merasuki Meli.
Tapi setelah ku kerahkan kekuatan tekad yang kuat, akhirnya Yama menyerah. Kini jelmaan Yama berdiri melayang di sampingku. Dan kami berdua menatap tajam pafa makhluk yang kini telah berhasil menguasai kesadaran Meli sepenuhnya.
"Keluar kau dari tubuh wanita itu! Alam mu berbeda dengannya! Jadi jangan kau campuri kehidupan wanita itu dan juga wanita yang telah kau paksa untuk bunuh diri tadi! (maksudnya adalah Hera)"
Ku lihat Meli menyeringai seram. Mata yang biasanya terlihat cantik itu kini tampak gila dan jahat dalam pandangan ku. Menyaksikan ini, aku merasa geram untuk hal yang tak ku mengerti sebabnya kenapa.
"Wanita ini adalah milik ku. Begitu juga dnegan wanita yang tadi. Lancang sekali kau mengganggu ku anak manusia!" geram Meli dengan suara yang tak ku kenali.
Aku mengernyit heran atas ucapan setan itu.
"Apa maksud mu? Bagaimana bisa kau mengatakan kalau dua wanita itu adalah milik mu?! Apa mereka telah membuat perjanjian dengan mu, hah?!" tanya ku mencecar.
"Qi..qi..qi..qi..qi.. Mereka telah mengambil barang milik ku yang berharga! Tentu saja mereka harus membayar perbuatan nya!" Jawab Meli sambil menyeringai seram.
Meli sungguh terlihat menyeramkan saat ini. Kerudung yang kenakan kini terlihat berkibar-kibar. Sementara tangan nya membentuk seperti cakar yang menancap ke daun pintu di belakangnya. Bibir nya terus menyeringai sepanjang waktu. Dengan mata yang terlihat kelam dan urat-irat merah menyembul di seluruh permukaan bola matanya yang putih.
"Barang apa itu?! Jika aku memberikan kembali barang milik mu, berjanjilah kau tak akan lagi mengganggu dua wanita itu ataupun juga manusia lainnya!" Aku melayangkan ancaman.
"Qiqiqi.. Kau terlalu sombong, Anak Manusia! Aku tak mau membuat perjanjian dengan mu! Wanita ini telah melakukan kesalahan, dan wanita yang tadi juga sama. Jadi mereka harua membayar kesalahan mereka kepada ku! Jiwa mereka akan menjadi budak ku!" terang setan yang kini masih menguasai tubuh Meli.
Dan, belum sempat aku membalas ucapannya. tiba-tiba saja ku lihat Meli mengarahkan cengkeraman tangannya ke lehernya sendiri. Tubuh Meli menubruk kencang ke daun pintu. Dan kemudian aku menyadari tatapannya telah kembali.
Sayangnya tatapan Meli memang telah kembali. Namun tidak dengan kesadaran tangannya sendiri. Karena hingga kesadarannya kembali, tangan gadis itu masih tetap juga mencengkeram lehernya sendiri.
Ku sadari kini, kalau setan itu bermaksud untuk membunuh Meli dengan tangan gadis itu sendiri.
"Jaha*am!" Aku pun mengumpat marah, sebelum kemudian bergegas berlari ke arah Meli untuk melepaskan cekikan tangannya ke lehernya sendiri.
***
Ry Benci Pakpol Mampir