Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar yang Pahit
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah tirai paviliun, membiaskan cahaya keemasan di atas sprei sutra yang kusut.
Halra terjaga lebih dulu. Ia memutar tubuhnya dengan sangat hati-hati, tidak ingin membangunkan pria yang masih memeluknya dengan begitu posesif dalam tidurnya.
Halra tertegun sejenak.
Menatap wajah Sano yang terlelap, ia merasakan dejavu yang menyakitkan. Saat tidur, rahang tegas Sano melunak, kerutan di antara alisnya menghilang, dan ia tampak begitu polos—hampir seperti sosok Sano yang dulu pertama kali ia kenal sebelum semua dusta dan pengkhianatan ini merusak segalanya.
Wajah ini jauh berbeda dengan Sano yang biasanya ia hadapi: Sano yang dingin, manipulatif, dan memiliki tatapan tajam yang seolah mampu membakar apa pun yang ia sentuh.
Pria ini adalah monster, bisik batin Halra. Ia harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa kelembutan ini hanyalah fatamorgana akibat alkohol.
Dengan gerakan sehalus bulu, Halra melepaskan diri dari rengkuhan Sano. Ia turun dari ranjang, merapikan pakaian tidurnya, dan melangkah keluar menuju ruang tengah paviliun. Begitu ia mencapai pintu, amarah yang ia tekan sejak semalam akhirnya meledak.
"Tazam!" serunya.
Tazam muncul dari balik bayang-bayang pilar paviliun secepat kilat, dengan kepala tertunduk dalam.
"Saya di sini, Nyonya."
"Di mana kau semalam?" desak Halra, matanya berkilat tajam. "Kau adalah pengawalku.
Kau tahu aku tidak aman jika pria itu masuk tanpa izin, dan kau justru menghilang tepat saat aku membutuhkanku!"
Tazam tidak membela diri. "Maafkan kelalaian saya, Nyonya. Ada seseorang yang memancing saya keluar dengan laporan palsu tentang penyusup di perimeter utara. Saya terjebak dalam pengejaran yang tidak membuahkan hasil. Saya baru menyadari bahwa itu adalah pengalihan saat saya kembali dan melihat Tuan Sano sudah berada di dalam."
Halra mengerutkan kening. Jadi, Sano sengaja merancang skenario untuk menyingkirkan Tazam agar bisa masuk ke paviliun? Kelicikan pria itu benar-benar tidak memiliki batas.
"Lupakan," potong Halra dingin. "Cari Abinawa sekarang. Katakan padanya untuk datang ke sini dan mengurus bosnya sebelum aku membuangnya ke jalanan."
Tak lama kemudian, Abinawa datang dengan napas terengah-engah. Ia mendapati Sano sedang duduk di tepi ranjang, memegang kepalanya yang berdenyut hebat.
Abinawa dengan sigap menyerahkan segelas ramuan herbal penghilang rasa mabuk yang kental.
"Tuan, Nyonya Halra meminta Anda segera bersiap. Nenek Daisa sudah menunggu di ruang makan bangunan utama," lapor Abinawa dengan nada rendah.
Sano meneguk ramuan itu hingga habis, merasakan sensasi panas yang menjalar di tenggorokannya. Ia menatap bayangan dirinya di cermin—wajahnya kusut, matanya merah. Sano menghela napas panjang.
Ia ingat pelukan semalam, namun ia juga sadar bahwa ia telah melanggar batas yang dibuat Halra.
Setelah berpakaian rapi, Sano berjalan menuju bangunan utama. Di ruang makan, Nenek Daisa sudah duduk dengan anggun, menyesap teh melati dengan tatapan yang seolah bisa menembus dinding pikiran siapa pun.
Halra sudah duduk di sana, bersikap diam seperti patung, menundukkan kepalanya saat mendengar langkah kaki Sano mendekat.
Sano menarik kursi di samping Halra, namun suasana langsung berubah menjadi berat.
"Kalian berdua tampak sangat tidak sinkron pagi ini," suara Nenek Daisa memecah kesunyian. "Halra, aku mendengar dari staf bahwa paviliunmu sangat bising semalam. Dan kau, Sano... kau terlihat seperti baru saja kalah perang."
Halra tidak langsung menjawab. Ia merasa ditekan. Nenek Daisa memang sosok yang dominan dalam keluarga, dan ia selalu menuntut kesempurnaan.
"Halra," lanjut Nenek Daisa dengan nada yang sedikit tajam, "sebagai seorang istri, tanggung jawabmu adalah menjaga stabilitas rumah tangga. Jika suamimu pulang dalam keadaan kacau seperti ini, itu berarti ada sesuatu yang tidak kau jalankan dengan benar. Mengapa kau membiarkan suami Wiragata jatuh ke titik serendah itu?"
Halra mengepalkan tangannya di bawah meja. Nenek Daisa menyalahkannya? Apakah wanita tua ini tidak tahu apa yang dilakukan cucunya di luar sana? Halra hendak membela diri, ia sudah membuka mulut untuk membalas, namun sebelum kata-kata itu keluar
"Cukup, Nek."
Suara Sano terdengar berat dan final. Semua orang di meja makan tertegun. Halra menoleh, menatap Sano dengan mata melebar.
Sano menatap neneknya dengan tatapan yang tidak bisa dibantah.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Halra. Dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Akulah yang pulang larut, dan akulah yang bertanggung jawab atas kondisi pribadiku. Jangan pernah menyalahkan Halra atas apa yang terjadi padaku di luar kediaman ini."
Nenek Daisa menyipitkan mata, terkejut dengan pembelaan mendadak itu. "Sano, aku hanya mengingatkan—"
"Aku tidak butuh diingatkan, Nek," sela Sano lagi, kali ini dengan nada yang lebih halus namun tetap tegas. Ia kemudian menoleh ke arah Halra, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa menyesal, ada rasa memiliki, dan ada sisa-sisa keputusasaan dari malam sebelumnya.
"Halra sudah sangat sabar menghadapiku. Aku sendiri yang sedang melalui masa-masa sulit, jadi mohon, jangan tekan dia."
Halra terdiam. Ia merasa seolah-olah ditampar oleh pembelaan itu. Sano membelanya? Mengapa? Apakah ini bagian dari akting untuk menjaga nama baik di depan Nenek Daisa? Atau apakah Sano mulai merasa bersalah atas semua yang telah ia lakukan?
Suasana ruang makan mendadak hening kembali. Nenek Daisa hanya mendengus pelan, meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi denting yang nyaring. "Baiklah. Aku tidak akan mencampuri urusan kalian lagi. Tapi ingat, Sano, reputasi Wiragata ada di pundakmu."
Setelah Nenek Daisa beranjak pergi, Sano menatap Halra. Ia ingin mengatakan sesuatu—sebuah permintaan maaf, atau mungkin penjelasan—namun ia hanya mendapati Halra berdiri dan berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sano memandangi punggung istrinya yang menjauh, menyadari bahwa ia telah memenangkan perdebatan dengan neneknya, namun ia tetap kalah di hati Halra. Ia memukul meja makan dengan pelan, frustrasi dengan kenyataan bahwa tidak peduli seberapa keras ia berusaha membela Halra, ia tetaplah orang asing di mata wanita yang paling ia inginkan di dunia ini.
"Tuan?" panggil Abinawa pelan. "Apakah kita akan melanjutkan rencana transaksi hari ini?"
Sano menatap ke arah pintu tempat Halra menghilang.
"Biarkan saja, Abinawa. Biarkan dia menghabiskan semuanya. Uang hanyalah cara terakhirku untuk membuatnya tetap berada di dekatku, meski hanya melalui barang-barang yang dia beli."
Sano tidak tahu bahwa di balik paviliun, Halra sedang menyusun rencana untuk melarikan diri lebih jauh lagi, bukan dari rumah ini, melainkan dari hidup Sano sepenuhnya.
Pembelaan Sano tadi tentu mengejutkan, tapi apakah Halra akan terpengaruh oleh hal itu, atau justru dia semakin curiga dengan motif sebenarnya dari sikap "baik" suaminya?