NovelToon NovelToon
The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Supernatural / Tamat
Popularitas:793k
Nilai: 4.9
Nama Author: Nur Idhafi

The indigo(revisi)✔️

Karena kemampuan yang dimilikinya, Airin sering mengalami kejadian aneh di luar nalar orang normal. Karena itu ayahnya memutuskan untuk memindahkan Airin ke Yayasan Rumah Batin, Yaitu yayasan khusus untuk anak-anak yang memiliki kemampuan yang sama sepertinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Idhafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter.25 Masuk ke masa lampau

Cahaya yang sangat terang keluar dari lembaran buku harian Kak Amara. Cahaya itu sangat menyilaukan mata.

“Aaa…” teriak kami dan tak lama kemudian kami pun tertarik masuk ke dalam buku harian Kak Amara.

“Aduh!” keluh kami kesakitan pada saat jatuh di suatu tempat yang sangat asing. Kami terjatuh di tengah hutan yang sudah mulai gelap karena cahaya matahari segera terbenam. Sekarang kami sedang berada di dalam buku harian Kak Amara yang berisi tentang penelusurannya mencari makna dibalik nama SMA Negeri 2 Gantung.

“Teman-teman? Kalian tidak apa-apa, kan?” tanya Friska memastikan bahwa aku dan Riana baik-baik saja.

“Aku gak papa kok,” jawabku sambil menepuk-nepuk tangan untuk membersihkan tanah-tanah yang menempel.

“Aku juga gak papa kok!” jawab Riana sambil berdiri dengan perlahan. Kami saling berdekatan dan berpegang tangan untuk berjaga-jaga agar tidak ada yang terpisah di antara kami bertiga.

“Kita ada di mana nih?” tanya Friska dengan lirih, kakinya yang gemetar memberitahuku bahwa dia sedang ketakutan.

“Gak tahu nih! Mungkin kita sedang berada di masa lampau, masa di mana awal mula terciptanya nama SMA Negeri 2 Gantung,” jelasku kepadanya.

Kami bertiga masih mengenakan gaun tidur berwarna putih yang tadi kami kenakan.

“Sebaiknya sekarang kita cari tempat buat berteduh dan beristirahat karena matahari akan segera terbenam!” aku mengajak mereka untuk mencari tempat berteduh terlebih dahulu. Tanpa berpikir panjang mereka pun mengangguk menyepakati saran dariku.

Kemudian kami berjalan mengikuti setapak jalan lebar di tengah hutan. Kami terus berjalan mengikuti jalan setapak yang cukup lebar tersebut hingga akhirnya kami pun menjumpai desa kecil.

“Sebaiknya kita berteduh di sana! Barang kali ada orang yang mau menerima kita untuk bermalam di rumah mereka,” ajak Friska.

“Tapi aku takut sesuatu yang aneh akan menimpa kita,” kata Riana kepada Friska dengan khawatir.

“Kita akan baik-baik saja! Percayalah!” jawab Friska meyakinkan Riana bahwasanya kami akan baik-baik saja.

Riana pun mulai yakin dan kemudian dia pun mau kami ajak untuk pergi ke desa kecil yang sudah tidak terlalu jauh. Kami terus melangkah dengan tergesa-gesa.

“Desa jagat baru,” aku berhenti sejenak membaca palang desa tersebut. Kemudian kami pun melanjutkan berjalan masuk ke dalam desa tersebut.

“Kena!!” seru anak-anak desa yang sedang bermain petak umpet bersama teman-temannya, desa ini sangat ramai dengan anak-anak.

“Aduh,” seorang anak kecil menabrakku hingga dia terjatuh.

“Maaf ya Dek!” ucapku sambil membantunya bangun.

“Iya Kak gak papa!” anak kecil itu tersenyum kepadaku dan kemudian dia pun menatap kami bertiga dengan tatapan penasaran.

“Kenapa Dek?” tanya Friska setelah melihat ekspresi wajah anak itu yang terlihat bingung ketika melihat kami.

“Kakak Noni Belanda ya?” anak itu kembali bertanya kepada kami dengan polos.

“Ehem, Ha ha ha,” kami tertawa mendengar pertanyaan bocah itu. Kami tertawa ketika anak itu berpikir bahwa kami bertiga ini adalah Noni Noni Belanda.

“Kenapa Kakak tertawa? Benarkah Kakak Noni Noni Belanda?” anak itu kembali bertanya dengan wajah polosnya. Kami kembali tertawa ketika mendengar pertanyaan dari anak itu.

“Bukan Dek! Kami bukan Noni Noni Belanda, lagian kan sekarang sudah merdeka! Mana ada lagi kata Noni-Noni Belanda,” jawabku sambil menahan tawa, Friska menyikutku dan berbisik.

“Jangan asal ngomong Rin! Kita kan sedang masuk ke dalam sejarah dibalik nama SMA negeri 2 Gantung, mungkin saja kita sedang berada di masa lalu,”

Aku pun berhenti tertawa setelah mendengar bisikan dari Friska. Aku berpikir sejenak tentang apa yang di ucapkan oleh Friska tadi.

“Maaf Dek Kakak mau tanya, ini tahun berapa ya?” tanyaku dengan penasaran kepada anak itu, setelah mendengar bisikan dari Friska tadi.

“Sekarang ini kan tahun 1900 Kak!” anak itu benar-benar kembali menjawab dengan ekspresi wajah yang sangat polos.

Aku dan kedua temanku kaget mendengar jawaban dari anak kecil tadi. Kami pun kembali saling berpegangan tangan.

“Nak sudah magrib, ayo masuk ke dalam rumah,” para Ibu-ibu desa keluar dari rumah dan mengajak anak mereka masing-masing untuk masuk ke dalam rumah.

“Udah mau magrib nih Kak! Aku pulang dulu ya!” kata anak itu dan kemudian dia berbalik untuk kembali pulang ke rumahnya.

“Dek tunggu,” aku menghentikan langkahnya.

“Ada apa Kak? Apakah ada yang bisa saya bantu?” kata anak itu tanpa berbalik badan melihat ke arah kami. Dia juga bertanya apakah ada yang bisa dibantunya untuk kami.

“Bolehkah kami bermalam di rumahmu untuk satu malam saja?” tanyaku kepadanya, dia pun mengangguk merespon pertanyaan kami tadi. “Boleh,” jawab anak itu tanpa berbalik badan dan melihat ke arah kami.

“Ikutlah bersamaku!” ajak anak itu. Kami yang mendengarnya, langsung mengikuti langkah menuju rumahnya.

“Mak aku pulang,” kata anak itu setelah sampai di depan pintu rumahnya.

“Iya masuk!” jawab Ibunya dari dalam rumah.

“Ayo masuk Kak!” ajak anak itu dengan ramah. Kami pun masuk setelah anak itu mengajak kami masuk ke dalam rumahnya.

“Sebentar ya Kak! Aku panggil Emakku dulu di dapur,” anak itu berlari manggil ibunya di dapur dan tanpa menunggu lama, dia pun datang bersama Ibunya.

“Nak kok kamu bawa Noni-Noni Belanda ke sini!” kata ibunya dengan ekspresi kaget.

“Maaf Bu, kami buka Noni-Noni Belanda,” jelas kami kepada ibunya.

“Tetapi kenapa kamu berpenampilan seperti orang barat?” Ibunya kembali bertanya kepada kami. Kami pun sadar setelah ibunya bertanya seperti itu.

Ternyata penampilan kami yang membuat mereka berpikir kami ini adalah orang barat. Kami berpenampilan terlalu modern.

“Oh penampilan kami seperti ini karena kami datang dari masa..” Friska menutup mulutku pada saat aku ingin menjelaskan penampilan kami yang cenderung modern ini.

“Kami datang dari kota Bu, makanya kami berpenampilan seperti ini,” jawab Friska sambil tetap menutup mulutku lalu dia berbisik di telingaku dan mengingatkan bahwa kami sedang berada di dalam masa lalu.

“Oh begitu ya Mbak, Tadinya Ibu pikir kalian itu Noni-Noni Belanda,” Ibunya menerima penjelasan dari Friska dan tanpa berpikir panjang dia pun mempersialkan kami untuk beristirahat di kamarnya dan sebelumnya dia mempersilakan kami untuk mengisi perut kami terlebih dahulu.

Bersambung......

Ilustrasi gaun tidur yang di kenakan oleh Airin, Friska dan Riana.

Jangan lupa vote novel ini ya!

1
Alshaya_2604
seru banget ceritanya
Alshaya_2604
hmm novel terfavorit nih
Siti Arbainah
dari awala baca kya familiar bgt trus lanjut baca smpai bwah ehh ternyta udh pernah baca novel ini😅, biarpun udh brpa tahun tpi ttap ingat alur cerita nya
Maria Lina
heran dimana"swlalu ada bulyan aneh🥰🥰
Risa Lestari
aduhh pusing bacanya
Nurhalimah Al Dwii Pratama
gx bisa sma varel
Nurhalimah Al Dwii Pratama
tp sayank varel,bagus,bima,alex friska,kelya udh mati.
Nurhalimah Al Dwii Pratama
wah serem
Nurhalimah Al Dwii Pratama
kok varel mati si huftt harusnya jgan dlu kan kan varel suka sma arini
Nurhalimah Al Dwii Pratama
huftt bagas mati duluan emnk brpa korban si kan ada 20ank yayasna kan liburan membawa bencana....kasian yg gx tau apa" jd korban
Nurhalimah Al Dwii Pratama
knpa yg lain gx d ajak bagas,varel,rania dll Amara dll sembunyi d besmen
Nurhalimah Al Dwii Pratama
tucch kan temen'y jd korban
Nurhalimah Al Dwii Pratama
brarti si aki pengabdi iblis dia pengen mati tenang jd k jiwa sri dasar sri bododh
Nurhalimah Al Dwii Pratama
anaknya si mbok si
Nurhalimah Al Dwii Pratama
crita d buku diare ka amara
Nurhalimah Al Dwii Pratama
kemna bagas
Nurhalimah Al Dwii Pratama
semoga bagas gx mati ya bagas kan suka sma spa tdi kan dia cemburu si kinar apa spa dekat sma vero apa vito
Nurhalimah Al Dwii Pratama
siapa ya tom aba bela
Nurhalimah Al Dwii Pratama
serem
Nurhalimah Al Dwii Pratama
cary gara" si d bilang jangan trus si Keysa sma Keyla gmna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!