Nina Verra Gandi, akibat cinta monyetnya–dia berulang kali hampir di lecehkan. Hingga kedua orang tuanya memutuskan untuk menikahkan Nina dengan sahabatnya sendiri, Rifki Yohanes, namanya. Seiring berjalannya waktu, Nina jatuh cinta pada sahabatnya itu. Saat cinta itu mulai tumbuh di masa SMK, Nina diduga mengidap penyakit kanker otak. Saat pengobatannya telah berhasil, musibah lain menimpa Nina hingga membuat Rifki menjadi pendiam dan hemat bicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Walau penasaran, Nina tak sembarang membuka amplop yang dititipkan Novi pada Gio. Wanita itu naik ke lantai dua menemui Iki di kamar. Mendapati Iki merapikan rambutnya, Nina hanya bisa menyodorkan amplop tersebut.
Dengan kedua alis yang saling bertaut, Iki menerima amplop dari Nina. "Ini apa?" tanya Iki tak paham.
"Buka aja," ujar Nina.
Merobek salah satu bagian amplop, lalu mengeluarkan isi dalamnya. Tertegun, Iki menatap satu persatu foto yang saat ini ada di tangannya. "Dari siapa ini?" tanya Iki serius.
"Dari kekasih kamu," jawab Nina lalu berbalik namun dicegah oleh Iki.
"Nina, kita perlu bicara," ujar Iki.
Nina melepas tangan Iki, tanpa menjawab, dia menarik langkah keluar dari kamar. "Foto apa tadi, kenapa Iki terlihat serius," batin Nina.
Kembali pada Iki, pria itu menyobek semua foto dimana ada dia dan Novi saat keduanya masih pacaran. Bahkan yang memfoto mereka adalah Nina. Kemudian dia menemui Nina dan Gio di lantai satu. Melihat Nina yang masih diam, Iki menghampiri wanita itu.
"Nina, maaf untuk hari ini. Aku tahu kamu marah padaku. Aku___"
"Aku mau istirahat." Nina memotong kalimat Rifki. Menarik langkah ke kamar, Nina mendapati foto yang disobek oleh Rifki tadi. Menatap foto tersebut, Nina terdiam. Dia melihat sepenggal kertas yang masih di dalam amplop. Penasaran, Nina segera mengambilnya dan tak lupa membacanya.
.
.
Berawal dari gerimis, hingga frekuensi hujan menambah. Sekalipun hujan deras, pelanggan tetap berdatangan menikmati musik yang diputar, minuman yang di sajikan, juga cemilan. Malam ini, Nina berdiam diri di kamar, dia tak membuka pintu kamar sekalipun Rifki mengetuknya berulang kali.
Pukul dua belas malam, hujan mulai sedikit reda. Gio sudah pamit pulang, menyisakan Rifki yang masih duduk di kursi setelah Nina enggan membuka pintu kamar. Mengingat kembali kejadian pagi tadi, dia rasa Nina marah lantaran Novi.
"Aku harus bicara dengannya," gumam Rifki segera beranjak dari kursi. Menarik langkah ke lantai dua, dia kembali mengetuk pintu. Hanya satu kali, pintu dibuka dari dalam.
"Nina kamu kenapa?" tanya Rifki saat melihat mata Nina bengkak. Sepertinya wanita itu menangis.
Tanpa menjawab, Nina melewati Iki. Dia ke lantai satu menuju toilet. Membilas wajah, menyikat gigi, kemudian mengambil tempat di kursi. Isi surat membuat Nina enggan untuk tidur dengan Rifki hingga dia memilih menyusun beberapa kursi untuk dijadikan tempat tidur.
Saat Nina hendak naik di atas kursi yang sudah tersusun, Rifki menarik lengan Nina. "Kamu kenapa? kenapa kamu mengabaikan aku? Jawab aku, Nina!" bentak Rifki.
Nina masih enggan menjawab, dia menatap Rifki. Jijik, sebenarnya dia Jijik disentuh Rifki. Akan tetapi, mengingat dirinya pernah dicium paksa oleh Zeto, Nina hanya bisa menangis menyesali kesalahannya dulu.
"Aku mau tidur," ucap Nina sedikit bergetar menahan tangis.
"Tidur di kamar!" tegas Rifki.
"Nggak mau!" tolak Nina.
Menghela napas berat, Iki tak tahu harus bagaimana lagi. "Ya sudah, kalau memang kamu nggak mau tidur sama aku, kamu bisa tidur di kamar. Nanti aku yang tidur di situ," ujar Rifki pelan. Berbalik menuju lantai dua, Iki mengambil selimut di dalam lemari. Tanpa sengaja dia melihat surat yang sudah dibaca Nina. Penasaran, Rifki segera membacanya.
Degh!! Rifki terdiam membaca isi surat tersebut. "Apa Nina sudah membacanya?" gumamnya bertanya tanya.
tpi keren ceritanya tingkat kan