NovelToon NovelToon
JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Pendekar / Fantasi Timur
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Lek Muheim

ENG ING ENG... ...
Selamat Tahun Baru
Serial JAGA BUANA ini akan disetop rilis episode barunya karena akan diremake dalam sebuah novel berbeda berjudul: "Bara Gentayu".
Alasan saya melakukan ini adalah karena ingin menghadirkan yang terbaik dengan karya berkualitas.
Saya memahami, bahwa ada beberapa pihak yang akan tidak puas, ada yang bersikap masa bodo dan seterusnya, tapi saat ini saya perlu fokus menggarap karya saya hingga tuntas.




Semoga, para penggemar bersedia bersabar menunggu rilis novel baru tersebut ternotifikasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lek Muheim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Hantu II

Dua sosok melayang menghadang laju kerumunan ‘hantu’ yang sepertinya hendak diarahkan untuk menyerang rumah penduduk tersebut. Gentayu mengenali kedua sosok itu sebagai Kardak dan Winamar, dua pendekar sesepuh dari perguruan Bambu Hijau. Keduanya tidak banyak berbasa basi. Kardak menerjang hantu-hantu itu dengan pedangnya. Energi pada pedang tersebut berubah menjadi kilatan-kilatan petir yang memusnahkan setiap sosok hantu yang bersentuhan dengannya. Terjadi suara ledakan setiap kali energi pedangnya berhasil memusnahkan hantu-hantu itu. Sedangkan Winamar dengan tongkat hijaunya berusaha menerobos kerumunan hantu guna menyerang ketiga bayangan hitam pengendali hantu-hantu tersebut.

Gentayu yang mengamati dari jarak tidak terlalu jauh mengerutkan dahinya. Pemuda ini menemukan bahwa kerumunan yang mirip hantu itu sebenarnya bukanlah hantu, namun hanya perubahan bentuk energi yang dimanipulasi dan disamarkan sebagai hantu. Jika hantu memiliki rohnya sendiri sehingga bergerak dengan keinginannya sendiri, bahkan seharusnya memiliki fikirannya sendiri sehingga seharusnya mereka membuyarkan diri saat diserang. Namun tidak dengan hantu-hantu yang dilihatnya saat ini. Mereka sepenuhnya bergerak sesuai gerakan tangan dari para pengendalinya.

Ketiga bayangan hitam sebagai pengendali para hantu itu ternyata bekerja sebagai tim. Satu orang bertugas ‘menciptakan’ hantu-hantu itu. Satu orang sebagai pengendali, dan yang lain sebagai penjaga mereka. Semuanya tak luput dari kejelian mata Gentayu yang hingga saat ini kehadirannya belum disadari baik oleh ketiga bayangan hitam maupun dua sesepuh Bambu Hijau tersebut.

Kesimpulan yang bisa diambil oleh Gentayu adalah, ketiganya adalah kelompok pembunuh berilmu tinggi. Mereka sengaja menyamarkan pembunuhannya dengan menggunakan ‘hantu-hantu’nya supaya aksi mereka tidak terdeteksi. Dan selama ini memang begitulah adanya. Pembunuhan yang mereka lakukan tidak tercium, melainkan hanya dianggap sebagai penyakit misterius yang menyerang saat malam, nyatanya energi mereka yang dilepaskan sebagai hantu-hantu itulah senjata mereka membunuh. Tapi apa tujuan mereka?

‘satu-satunya cara mengetahuinya adalah meringkus salah satu diantara mereka hidup-hidup’ fikir Gentayu.

Dia segera melesat dan terlibat dalam pertarungan. Kekuatan tiga bayangan hitam penyerang ini mungkin tidak setinggi dirinya ataupun kedua sesepuh Bambu Hijau itu, sehingga seharusnya akan lebih mudah meringkus mereka tanpa membunuh.

Gentayu menerjang sosok ‘pencipta’ hantu-hantu tersebut. Menurut pengamatannya, sosok inilah seharusnya yang terkuat. Dia segera bertukar jurus dengan sosok tersebut. Sedangkan tidak jauh darinya, Wanamar juga sudah berhasil berhadapan dengan sosok yang berperan sebagai penjaga kedua sosok bayangan tersebut.

Sebuah pukulan tapak berlapis tenaga dalam cukup besar yang dilepaskan oleh sosok pencipta para hantu itu berhasil mendarat dengan mulus di tubuh Gentayu. Namun, sosok pencipta hantu itu justru terkejut melihat Gentayu justru tersenyum menerima pukulannya. Senyum yang segera membuat wajah lawannya menjadi berubah buruk. Ternyata Gentayu memang sengaja membiarkan lawannya untuk menyarangkan pukulannya tanpa berniat menghindar. Pukulan yang seharusnya bisa membuat seekor kerbau tewas itu tidak berimbas apapun pada tubuh Gentayu. Perisai Naga Api yang dikuasainya benar-benar bekerja dengan baik melindunginya. Sedangkan kepalan tangan kanan Gentayu kini telah berada di ulu hati lawannya.

‘BUM!’

Sosok itu terhempas saat gentayu menghentakkan kepalan tangannya. Sebuah kilatan putih sempat terlihat memancar dari kepalan tangan itu sebelum lawannya terpental. Gentayu dengan santainya menghampiri tubuh lawannya, mencengkeram lehernya, dan menghujani wajah lawannya dengan pukulan-pukulan yang merontokkan gigi dan meremukkan tulang rahangnya. Mudah saja bila Gentayu ingin membunuh sosok tersebut, namun bukan itu tujuannya.

“Aaaaa....aaak.....!!” terdengar jerit kematian tak jauh dari tempat Gentayu menghajar sosok ‘pencipta’ hantu. Ternyata suara itu berasal dari kedua rekannya yang telah terpenggal oleh para sesepuh Bambu Hijau, Kardak dan Winamar.

“Heh, kau dengar? Aku bisa dengan mudah membunuhmu kalau aku mau. Tapi sepertinya, setelah apa yang kalian lakukan pada penduduk desa ini, kematian itu hanya akan jadi anugerah untukmu...” Gentayu menatap mata lawannya tanpa melepaskan cengkeramannya pada leher sosok tersebut. Jarak wajah keduanya hanya kurang dari satu jengkal saja. Tatapan gentayu yang dingin ternyata mampu membuat lawannya itu bergidik ngeri.

“Sudah, habisi saja dia. Biar cepat selesai!” terdengar suara Winamar sang Pendekar Tongkat Hijau di belakang Gentayu. Gentayu tidak menoleh, malah justru mengangkat tinggi-tinggi tubuh lawannya..

‘KRAK!!’

Terdengar suara tulang patah. Ternyata itu adalah tulang pada lengan bagian atas si pencipta hantu tersebut.

“Bunuh.. bunuh.. saja... aku..!!” teriak si pencipta hantu tersebut putus asa. Dia tak mungkin melawan dan tidak yakin bisa keluar dari situasi menyakitkan tersebut.

“Sudah kubilang.. kematian itu anugerah untukmu, bukan? Aku akan mengabulkan permintaanmu, dengan syarat kau mengatakan siapa kalian dan apa yang sedang kalian rencanakan!” Jawab Gentayu tegas seraya menghempaskan tubuh mangsanya ke atas tanah dengan keras membuat nyali pencipta hantu itu ciut.

‘Brug!’

Suara benda berat jatuh terdengar saat tubuh orang tersebut mengempas tanah.

Kardak dan Winamar saling memandang, lalu sama-sama mengangguk-angguk. Mereka menyadari bahwa langkah pemuda itu untuk mengorek keterangan dan tidak langsung membunuh musuh yang sekaran menjadi tawanannya adalah tindakan yang benar. Mereka berdua baru menyadari bahwa seharusnya ada tujuan tertentu kenapa komplotan ketiga orang ini melakukan tindakan teror kematian selama ini.

Saat Gentayu hendak menekan musuh yang kini telah sepenuhnya tidak berdaya ditangannya guna mendapatkan informasi, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan penduduk tidak jauh dari tempat itu.

“Tolooooong....!!”

teriakan-teriakan terdengar semakin ramai. Semula hanya ada beberapa, lalu bertambah banyak teriakan meminta tolong dari para warga.

“Serangaaaaaan.....!!”

“Aaaaaaaaaak...!!”

Jerit kesakitan para penduduk mulai terdengar. Gentayu segera ‘mengamankan’ tawanannya dengan cara mengikatnya dan melemparnya begitu saja ke dalam sebuah sumur milik warga di dekatnya, kemudian bergerak menyusul kedua sesepuh Bambu Hijau menuju sumber suara yang semakin ramai.

Gentayu melayang di atas atap-atap rumah warga. Menyaksikan keributan dan warga yang mulai berlarian ke sana kemari melarikan diri dari rumahnya masing masing. Di belakang mereka, puluhan orang dengan pakaian yang robek-robek dan tubuh yang kotor dan berbau busuk mengejar dan berusaha menangkap penduduk yang bisa diraih. Tampak murid-murid padepokan Bambu Hijau bersama kedua sesepuh mereka telah terlibat dalam pertarungan melawan orang-orang aneh ini.

Tunggu! Mereka bukan manusia, tepatnya orang-orang yang menyerbu desa itu bukanlah manusia hidup. Mereka adalah mayat-mayat penduduk yang telah tewas dalam waktu dua bulan belakangan sebagai korban kematian misterius. Ya, mereka adalah mayat hidup! Mereka bergerak dengan gesit selayaknya pendekar-pendekar di tingkat pemula. Namun kekuatan mereka setara dengan kekuatan pendekar tingkat dua akhir. Beberapa bahkan bisa mengimbangi kekuatan Pendekar madya awal.

Wajah Gentayu menjadi buruk. Dia adalah murid nenek sakti, Pendekar Bulan Perak. Pendekar wanita itu pernah menjelaskan, bahwa di dunia ini ada kekuatan-kekuatan kegelapan yang mampu mengendalikan dan menjadikan mayat-mayat hidup sebagai tentara dan senjatanya. Apakah mayat-mayat hidup ini bagian dari tentara-tentara dan senjata kelompok hitam tertentu? Bukankah tidak mungkin bahwa mayat-mayat ini bangkit sendiri dari kuburnya danmembuat kerusuhan seperti ini?

Gentayu ingin menelaah situasinya lebih jauh, namun tak terlalu jauh dari tempatnya melayang dilihatnya seorang ibu hamil sedang ditangkap oleh salah satu mayat hidup. Tanpa menunggu, ditebaskannya pedangnya membelah udara ke arah mayat hidup yang sedang menangkap si ibu hamil.

‘Jresss....!’

Tubuh mayat hidup itu terbelah dua. Si ibu hamil yang ditolong justru menjerit dan segera pingsan melihat isi dalam tubuh mayat yang berupa belatung dan cairan busuk itu buyar di sekitar tubuhnya. Gentayu dengan sigap menangkap tubuh si ibu hamil dan membawanya ke tempat yang lebih jauh agar tidak terjangkau oleh para mayat hidup itu. Lalu kembali ke medan pertempuran, menghabisi lebih banyak mayat hidup lainnya bersama pendekar pedang seribu bambu dan pendekar tongkat hijau beserta murid-muridnya.

Pertempuran sengitpun pecah di malam yang hanya disinari temaram bulan separuh tersebut. Kepala Desa yang kemudian muncul segera tampak sibuk memimpin dan mengarahkan warganya untuk mengungsikan diri bersama para pembantunya. Sementara jumlah mayat hidup yang datang terus bertambah. Saat ini sudah terlihat lebih dari 50 mayat hidup menyerang. Sedangkan yang telah terbunuh sekitar belasan hingga dua puluhan. Kerjasama antarpendekar tersebut efektif mengurangi dengan cepat jumlah mayat hidup yang menyerang desa.

Tiba-tiba udara di sekitar medan pertempuran berubah menjadi berat.

Para pendekar sakti dari Bambu Hijau dan Gentayu sendiri merasakan nafas mereka sedikit sesak dan gerakannya menjadi melambat. Sedangkan mereka yang berada di bawah level Pendekar Madya beberapa di antaranya telah kehilangan kesadaran.

“Hahahaha..!” suara tawa yang memekakkan telinga tiba-tiba terdengar di udara malam yang gelap tersebut, diikuti dengan desiran angin dingin yang tiba-tiba berhembus dengan kencang entah dari mana datangnya.

1
Audrey Maritza Kanedy
mantap
Imam Mudjamil
good
susan to
kota daging asin
Daeng Tunca
kalo menurut saya cukup bagus, cuma kalo bisa di perbaiki lagi di endingnya..
Syakira Irawan
semua nama daerahnya koq ada di blkg rmh sy yaak/Silent//Silent/, emg ada kerajaan disana dlu taahh
didik jatirogo
Luar biasa
didik jatirogo
Buruk
asta guna
saya suka model2 MC yg nakal seperti ini. ayo Thor dilanjut novelnya
asta guna
ada kelanjutannya gak nih?
asta guna
sayang sekali baru baca sekarang
asta guna
iya. kuat saja tak cukup, perlu cerdas dalam pertarungan
asta guna
ntabs
asta guna
Luar biasa
asta guna
ha-ha-ha manteb nih
asta guna
semua guru gurunya punya ruang dimensi lain. keren
Putra Indra
semua pendekar habis, kehidupan hancur oleh orang jahat, mc ngga ada gunanya ini
Ficksu mixue
MC nya yg mana
Jhonny Afrizon
cerita bikin bingung,
Muhammad Syahlan
maantabbbb
Endang Nurhayati
ditunggu thor lanjutannya, tapi jangan lama-lama ya, trims
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!