Shi Jin melewati lorong waktu. Dulu ia seorang permaisuri. Namun sekarang, ia sudah berubah menjadi wanita modern.
Berpura-pura menjadi wanita bernama Shu Qi.
Apa dia akan terus menutup identitas aslinya?
Apa yang terjadi, jika seorang permaisuri nyasar ke Dunia modern?
Apa dia akan kembali ke jaman kerajaan, atau. menetap di jaman Modern?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Shi Jin membuka matanya dan duduk dengan cepat di atas tempat tidur. Keringat berkucur deras membasahi baju yang kini ia kenakan. Shi Jin memandang keluar jendela dan melihat langit telah berubah gelap. Hujan sudah berhenti dan tidak lagi terdengar suara petir.
“Sudah bangun,” ucap Chen Ming pelan.
Shi Jin memandang ke arah Chen Ming yang duduk di atas tempat tidur. Melipat kedua tangannya sambil bersandar dengan sebuah bantal.
“Chen Ming, apa yang terjadi?” tanya Shi Jin pelan.
Chen Ming tersenyum dan menarik tubuh Shi Jin ke dalam pelukannya, “Kau pingsan sayang. Aku sangat mengkhawatirkanmu tadi. Apa sekarang kau baik-baik saja? apa perutnya masih sakit?” tanya Chen Ming pelan.
“Perut?” celetuk Shi Jin bingung.
“Ya, tadi pagi kau bilang perutnya sakit. Makanya kita tidak jadi berangkat ke pulau cinta.” Chen Ming menatap wajah Shi Jin dengan tatapan curiga.
Shi Jin diam sejenak untuk mengingat kejadian tadi pagi.
Tadi pagi aku berbohong kepadanya agar tidak jadi berangkat ke pulau itu. Mungkin Chen Ming belum menyadari kebohonganku tadi pagi.
“Iya, tadi pagi memang terasa sakit. Tapi sekarang sudah jauh lebih baik.” Shi Jin mengukir senyuman untuk menutupi rasa bersalahnya karena sudah berbohong kepada Chen Ming.
“Sayang, apa kau punya trauma dengan petir. Selama ini, kau tidak pernah takut dengan petir. Bahkan kau pernah pergi meninggalkanku di saat hujan turun.”
Chen Ming kembali mengingat kejadian sebelum Shi Jin pingsan. Shi Jin terlihat ketakutan saat petir di luar mulai menggelegar.
“Aku ….” Shi Jin memejamkan mata karena bingung.
‘Bagaimana ini, Chen Ming mulai mencurigaiku. Aku memiliki trauma pada kilatan petir dan hujan yang deras sejak penyerangan di gua itu. Aku tidak mungkin menceritakan hal itu kepada Chen Ming.
“Sayang, apa yang kau pikirkan?” tanya Chen Ming lagi.
“Aku … hanya kaget dan menahan sakit yang luar biasa tadi. Hingga tidak sadarkan diri,” ucap Shi Jin terbata-bata.
“Apa kau tidak menyembunyikan sesuatu padaku?” tanya Chen Ming dengan tatapan curiga.
“Percaya padaku, Chen Ming. Aku tidak mungkin membohongimu.” Shi Jin meyakinkan Chen Ming dengan memegang kedua pipi Chen Ming.
“Sayang, siapa pria bernama Thong Zhi?” Sejak pertama kali Shi Jin jatuh pingsan, Ia terus saja memanggil nama Pangeran Thong Zhi.
“Pangeran Thong Zhi?” tanya Shi Jin memastikan.
“Ya, siapa pria itu?” Chen Ming mengerutkan dahinya.
“Itu nama Pangeran yang ada di dalam komik,” ucap Shi Jin sambil tertawa.
“Komik? kenapa kau mengingat namanya saat tidak sadarkan diri?” tanya Chen Ming belum percaya.
“Sayang, Pangeran Thong Zhi adalah Raja di kerajaan Dong’E. Dia sangat menyayangi Permaisuri seperti dirimu menyayangiku. Setiapa kali aku ingat nama Pangeran Thong Zhi aku ingat dengan dirimu. Mungkin hal itu yang membuat aku selalu mengingat nama Pangeran Thong Zhi.” Shi Jin melingkarkan tangannya di perut Chen Ming, menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Chen Ming.
“Hanya komik?” tanya Chen Ming lagi.
“Iya, percayalah padaku.” Shi Jin tersenyum manis.
“Aku sudah lama melihatmu tidak baca komik, Shu Qi.” Chen Ming masih belum percaya. Ia terus memastikan identitas pria bernama Thong Zhi. Chen Ming tidak ingin Shu Qi selingkuh lagi dari dirinya.
“Apa kau mau mendengar ceritanya?” Shi Jin tersenyum penuh keyakinan.
“Apa kau mau menceritakannya padaku?” Chen Ming menarik pinggang Shi Jin.
Shi Jin tersenyum bahagia, “Tentu saja, komik itu menceritakan seorang Permaisuri yang di jebak oleh salah satu selir istana. “
Shi Jin mengarang cerita di komik sesuai dengan jalan cerita hidupnya di dunia nyata.
“Hingga ia melompat ke sebuah danau karena putus asa.” Shi Jin kembali mengingat detik-detik sebelum melompat ke telaga biru.
“Sayang, katanya Pangeran Thong Zhi sangat mencintai Permaisuri. Bagaimana mungkin ia tidak percaya dengan istrinya. Meskipun itu demi kebaikan semua orang, seorang pria sejati tidak akan pernah melukai hati wanita yang ia cintai.” Protes Chen Ming di sela-sela cerita Shi Jin.
Shi Jin menatap wajah Chen Ming dengan seksama, ia tersentuh saat mendengar ucapan terakhir Chen Ming.
Belum pernah ada seorang pria yang berani melakukan hal ini pada diriku. Chen Ming membuat tubuhku terasa hangat setiap saat. Ia selalu berdiri di depan, untuk melindungiku. Hanya aku dan hanya nama ini yang ada di hatinya.
“Terus, apa yang terjadi dengan Permaisuri setelah ia melompat? apa dia mati? atau masih hidup?” Chen Ming sangat tertarik dengan alur cerita yang kini diceritakan oleh Shi Jin.
“Aku belum selesai membacanya.” Shi Jin tersenyum dengan penuh arti. Ada rasa sakit, saat ia kembali mengingat sikap Pangeran Thong Zhi saat mengusir dirinya untuk keluar meninggalkan istana.
“Sayang, kau harus membaca komik itu lagi. Ceritakan padaku, bagaimana kisah Permaisuri yang menyedihkan itu.”
“Menyedihkan? aku yakin, Permaisuri akan bahagia.” Shi Jin melipat kedua tangannya, duduk membelakangi tubuh Chen Ming.
Chen Ming memeluk tubuh Shi Jin dari belakang, “Wanita tidak akan pernah bahagia, saat pria yang ia cintai memiliki hati yang selalu di bagi untuk wanita lain. Kehidupan istana terasa sangat rumit. Seorang raja harus memiliki banyak selir demi aturan kerajaan. Ia tidak bisa setia hanya dengan satu wanita saja.”
“Tapi Pangeran Thong Zhi hanya mencintai Permaisuri seorang. Ia tidak pernah menemui para selir di kamarnya,” protes Shi Jin.
“Sayang, kenapa kau jadi marah. Aku hanya menceritakan isi pikiranku. Kenapa kau selalu membela Pangeran di komik itu?” Chen Ming melepas pelukannya. Ia cemburu saat istrinya terus membela pria lain.
Shi Jin menutup mulutnya dengan satu tangan.
Kenapa aku selalu membela Pangeran Thong Zhi di hadapan Chen Ming.
“Sayang, maafkan aku.” Shi Jin menunduk sedih. Ia tahu, kalau Chen Ming tidak akan tega melihat Shu Qi sedih.
Chen Ming memandang wajah Shi Jin dengan seksama. Ia mengukir senyuman, untuk melupakan rasa cemburu yang sempat memenuhi hatinya.
“Ayo kita mandi,” Chen Ming beranjak dari tempat tidur.
“Mandi?” Shi Jin mendongakkan wajahnya memandang Chen Ming.
“Ya, sejak tadi pagi kau belum mandi sayang. Aku akan menemanimu mandi malam ini.” Chen Ming mengukir senyuman penuh arti.
Wajah Shi Jin merona malu, ia menyelipkan rambutnya di belakang telinga karena malu.
“Sayang, ayo.” Chen Ming menarik tangan Shi Jin.
“Iya, tunggu sebentar.” Shi Jin beranjak dari tempat tidur dan berdiri di hadapan Chen Ming.
Chen Ming tersenyum sebelum mengangkat tubuh Shi Jin ke dalam gendongannya. Berjalan cepat ke arah kamar mandi.
“Chen Ming, Aku bisa jalan sendiri.” Shi Jin melingkarkan tangannya di leher Chen Ming.
“Sayang, biarkan aku memanjakanmu selama satu minggu ini. Bulan madu ini harus dipenuhi dengan kebahagiaan setiap detiknya.” Chen Ming meletakkan tubuh Shi Jin di atas bak mandi yang masih belum terisi air.
“Apa kau mau mandi juga, Chen Ming?” Shi Jin memperhatikan Chen Ming yang mulai membuka bajunya.
“Tentu, aku tidak akan melewatkan momen indah seperti ini.”
Meskipun Chen Ming tidak jadi mengunjungi pulau Cinta. Tapi malam itu ia bisa tetap merasakan bahagia, bersama Shu Qi walau hanya di kamar hotel. Hatinya sempat dipenuhi rasa cemburu saat mendengar Shu Qi menyebut nama pria lain. Tapi, dengan cepat Chen Ming menghapus Kecurigaan itu dari hatinya. Pria itu masih belum menyadari, kalau wanita yang selama ini menemani dirinya bukan Shu Qi.
tetap semangat berkarya
wajar kl dia.mendapatkan fakta.kl Chen ming miskin
d luar ekspektasi ya
makanya kelakuan nya jd bar bar
g tau diri..dulunya jg berasal dr kelas bawah🙄🙄🤬