NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana yang meleset

“Gimana sih, Bang? Tadi di chat sudah sepakat kalau harga handphone ini lima ratus ribu. Kenapa sekarang malah ditawar tiga ratus?” protes Yudha setelah calon pembeli itu selesai memeriksa ponsel miliknya.

Pria berjaket hitam itu membolak-balik ponsel tersebut sekali lagi sebelum menggeleng.

“Lihat sendiri, layar depannya retak. Bodinya juga banyak lecet. Saya cuma berani kasih tiga ratus ribu.”

Yudha mendecak kesal. Ia sudah terlanjur membayangkan uang lima ratus ribu berada di tangannya.

“Ya elah, Bang. Tambahin. Empat ratus deh.”

Pria itu mengangkat bahu.

“Saya cuma berani segitu. Kalau kamu nggak mau lepas juga nggak apa-apa. Saya cari handphone lain saja.”

Ia segera meletakkan ponsel itu kembali ke tangan Yudha lalu melangkah menuju sepeda motornya.

Melihat calon pembeli itu benar-benar hendak pergi, Yudha panik.

“Eh, tunggu, Bang!” serunya sambil berlari kecil menghampiri.

Pria itu menoleh. Yudha menggertakkan gigi, berusaha menelan rasa kecewanya.

“Ya sudah deh... tiga ratus. Ambil saja.”

Senyum tipis muncul di wajah pria itu.

“Nah, gitu dong.”

Beberapa saat kemudian transaksi selesai dilakukan. Uang tiga lembar pecahan seratus ribu berpindah tangan, sementara ponsel bekas milik Yudha berpindah ke tangan pembeli. Pria itu segera menyalakan mesin motornya lalu meninggalkan terminal.

Yudha berdiri memandangi uang di tangannya. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan yang sulit disembunyikan. Ia menghitung kembali uang tersebut, seolah berharap jumlahnya tiba-tiba bertambah.

“Tiga ratus ribu... semoga cukup buat bayar orang yang mau diajak kerja sama.”

Yudha memasukkan uang itu ke dalam saku celananya. Pandangannya kemudian menyapu area terminal yang cukup ramai.

Beberapa pengamen tampak hilir mudik dari satu bus ke bus lainnya. Ada yang membawa gitar, ada pula yang hanya bermodalkan rangkaian tutup botol bekas yang dijadikan alat musik sederhana.

Senyum tipis terukir di bibir Yudha.

Kini ia hanya perlu menemukan orang yang tepat untuk menjalankan rencana yang telah ia susun bersama Tiara. Rencana yang, menurutnya, akan membuat Kinanti pergi dari rumah mereka untuk selamanya.

"Permisi, Bang," sapa Yudha kepada seorang pria bertindik yang sedang duduk santai di bangku terminal sambil menikmati segelas kopi.

Pria itu hanya melirik sekilas, lalu kembali menyeruput minumannya.

"Ehm... Bang. Boleh tahu nggak, penghasilan Abang mengamen sehari berapa?"

Pria itu mengernyit.

"Ngapain nanya-nanya?!" sahutnya ketus.

"Nyampe tiga ratus ribu nggak, Bang?"

Pria itu mendengus pelan.

"Boro-boro tiga ratus ribu. Seratus ribu aja susah."

Ia kembali menyeruput kopinya panjang-panjang.

"Aaahh..."

Yudha menelan ludah sebelum berkata pelan,

"Kalau aku kasih Abang tiga ratus ribu gimana?"

Pria itu langsung tersedak.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"

Beberapa tetes kopi sampai keluar dari mulutnya.

"Aku serius, Bang."

Yudha mengeluarkan tiga lembar uang pecahan seratus ribu dari sakunya dan memperlihatkannya.

Mata pria itu langsung membesar. Ia meletakkan gelas plastiknya yang masih menyisakan sedikit kopi lalu menatap Yudha penuh minat.

"Langsung aja. Gue harus ngapain supaya dapat uang itu?"

Yudha menggeser posisi duduknya lebih dekat. Ia lalu membisikkan sesuatu ke telinga pria tersebut. Ekspresi pria itu langsung berubah.

"Aduh... kenapa harus masuk kamar?" gumamnya sambil menggaruk kepala.

"Gimana? Mau nggak?" tanya Yudha.

Pria itu masih terlihat ragu.

"Kalau Abang nggak mau, aku cari orang lain aja."

Mendengar itu, pria tersebut langsung berpikir cepat. Tiga ratus ribu bukan jumlah yang sedikit bagi seorang pengamen.

"Oke deh. Gue mau. Tapi kasih dulu uangnya."

"Nggak bisa. Tugas selesai, baru dapat uang."

Pria itu mendecak kesal.

"Anak ini ternyata pinter juga."

"Abang punya handphone?"

"Ada."

Pria itu mengeluarkan ponsel jadul dari saku celananya.

"Tapi cuma bisa buat telepon sama SMS."

"Nggak masalah. Yang penting lancar buat komunikasi. Nomornya berapa?"

Pria itu menyebutkan nomor ponselnya, lalu Yudha segera menyimpannya.

"Alamat rumahmu di mana?" tanyanya lagi.

"Jalan Cendana nomor dua puluh."

"Oke."

“Nanti aku hubungi kalau sudah waktunya Abang beraksi.”

"Siap!"

Yudha berdiri dari bangkunya.

"Aku pergi dulu ya, Bang."

Remaja itu lalu meninggalkan terminal.

Begitu sosoknya menghilang, kerumunan orang, seorang pengamen lain yang sejak tadi memperhatikan langsung menghampiri.

"Ngapain tuh bocah?" tanyanya penasaran.

Pria bertindik itu terkekeh.

"Ngasih pekerjaan buat gue."

"Hah? Serius? Kerja apaan?"

Pria itu menoleh ke kanan dan kiri, lalu merendahkan suaranya.

"Jadi, bocah itu punya ibu tiri. Dia nggak suka sama ibu tirinya."

"Terus?"

"Dia nyuruh gue masuk ke rumahnya dan bikin seolah-olah ada laki-laki lain di sana. Biar ayahnya salah paham."

Pengamen itu langsung melongo.

"Ck... ck... ck..."

Pria itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Anak zaman sekarang otaknya kriminal."

"Lumayanlah. Tiga ratus ribu. Cukup buat foya-foya."

Pria bertindik itu menyeringai lebar.

"Yaudah. Semoga misi lo sukses."

Pria itu bangkit dari duduknya.

"Eh, mau ke mana?"

"Berak! Perut gue mules gara-gara kebanyakan kopi."

Pria bertindik itu kembali mengangkat gelas plastiknya dan menghabiskan sisa kopi hingga tetes terakhir. Namun setelah itu, senyumnya perlahan memudar. Ia mulai membayangkan tugas yang baru saja disepakatinya.

Menyelinap ke kamar, lalu membuat suaminya salah paham. Entah mengapa, semakin dipikirkan, semakin terasa berisiko.

Sementara itu, Yudha memacu sepeda motor matic milik Kinanti dengan kecepatan tinggi. Angin menerpa wajahnya, tetapi pikirannya jauh lebih berisik daripada suara kendaraan di jalan raya.

Ia harus sampai di rumah lebih dulu daripada Kinanti. Jika terlambat, rencana yang telah susah payah ia susun bersama Tiara bisa berantakan.

Namun, ketika sedang terburu-buru itulah hal yang tidak diinginkan terjadi. Mesin sepeda motor yang selama ini selalu ia hina sebagai motor tua dan butut tiba-tiba kehilangan tenaga. Motor itu tersendat beberapa kali sebelum akhirnya mati total.

Yudha segera menepi. Ia mencoba menekan tombol starter berkali-kali. Namun mesin tetap tidak menyala. Dengan kesal, ia turun lalu mencoba mengengkolnya. Namun hasilnya sama. Mesin tetap tidak menyala.

"Dasar motor rongsokan!" makinya.

Ia membuka tutup tangki dan memeriksanya. Bensin masih ada, bahkan lebih dari cukup untuk perjalanan pulang.

Waktu terus berjalan, sementara ia masih terjebak di pinggir jalan. Karena frustasi, Yudha menendang ban belakang motor itu dengan keras.

"Brengsek!" umpatnya.

Saat itulah seorang pria yang melintas dengan sepeda motor menoleh ke arahnya.

"Kenapa didorong? Mogok ya?" ledek pria itu sambil tertawa.

Yudha hanya mendengus kesal. Ia bahkan tidak mengenal orang itu.

Merasa tak punya pilihan lain, ia mulai mendorong motor perlahan. Beberapa meter kemudian, ia kembali mencoba keberuntungannya. Yudha menaiki motor itu lalu menekan starter sekali lagi. Dan kali ini mesin kembali menyala.

Sebelum menarik gas, ia sempat menepuk setang motor dengan kesal.

"Awas ya, kalau kamu mogok lagi!"

Motor itu kembali melaju membelah jalanan. Yudha terus memacu kendaraan itu secepat mungkin. Dalam benaknya hanya ada satu tujuan: sampai di rumah sebelum Kinanti pulang.

Namun sesampainya di depan rumah, ia langsung mengerutkan kening. Halaman rumahnya tampak ramai. Beberapa tetangga berkumpul di depan pagar.

Jantung Yudha mendadak berdegup lebih cepat. Ia segera memarkir sepeda motor lalu berjalan mendekat. Di teras rumah, ia melihat Kinanti duduk di kursi dengan wajah pucat dan shock. Di sampingnya, Bu Arum terus mengusap pundaknya sambil berusaha menenangkan.

Yudha merasakan firasat buruk menyeruak di dadanya. Tatapannya berpindah dari satu wajah ke wajah lain. Semua orang tampak tegang. Tidak ada yang terlihat baik-baik saja.

"Ada apa ini?" tanya Yudha. Jantungnya berdebar semakin keras.

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!