Bagi sebagian orang jatuh cinta adalah hal yang mudah, manusia bisa jatuh cinta bahkan tanpa mengenal lebih dalam orang yang dia cintai. Bahkan, tidak sedikit yang mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hal yang berbeda di rasakan oleh pemuda bernama David Gabriel, putra sulung dari pengusaha kaya raya bernama Louis Gabriel yang sama sekali tidak mudah untuknya jatuh cinta kepada seseorang wanita.
Baginya, jatuh cinta hanya sekali seumur hidup dan cintanya hanya untuk wanita bernama Teresia Anindya Putri, wanita yang tiba-tiba saja menghilang bak di telan bumi.
Mampukah David menemukan kembali cinta pertamanya? Seperti apa sebenarnya kehidupan yang dijalani oleh wanita bernama Teresia itu sehingga dia harus pulang ke desa terpencil dimana keluarganya berada?
Sekuel dari "Hasrat Tuan Kesepian" Untuk kalian semua Reader kesayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benalu
Ting ... Tong ....
Suara bel yang berbunyi nyaring membuat Arista yang saat ini sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya dengan ditemani oleh Tere pun seketika menghentikan gerakan tangannya.
"Tumben ada tamu pagi-pagi sekali, siapa ya?" Ucapnya hendak melangkah.
"Biar aku aja yang buka pintunya, Mom.'' Tawar Tere kemudian.
"Gak usah, biar Mommy aja. Kamu duduk di sini dan tunggu aja suami kmu turun. Kasian juga, kamu 'kan habis bermalam pertama, pasti lelah." Tolak Arista melanjutkan langkah kakinya.
Wajah Tere seketika tersipu malu. Jelas-jelas malam pertama yang baru saja dilewati dirinya bersama sang suami hanyalah tidur bersama tanpa melakukan apapun.
Arista pun berjalan ke arah pintu lalu memutar kunci dan membukanya.
Ceklek ....
Pintu pun di buka. Arista nampak terkejut menatap seorang wanita di saat ini berdiri tepat di depan pintu. Wanita cantik, se*si dan langsing yang semalam di puji-puji sedemikan rupa oleh suaminya kini berada di rumahnya.
"Maaf, Tante. Boleh saya masuk? Tante masih ingat sama saya 'kan? Saya kakaknya Tere, menantu Tante." Ucap Larisa ramah.
"Sebentar, saya panggilkan menantu saya dulu.'' Jawab Arista singkat dengan wajah datar dan hanya di jawab dengan anggukan samar oleh Larisa.
Dia pun nampak menatap sekeliling rumah mewah dan megah lengkap dengan taman hijau membentang. Rumah berlantai dua itu bahkan lebih luas dari kediaman Anggita. Larisa pun tersenyum menyeringai, seketika rasa ingin tinggal selamanya di rumah itu pun terselip di dalam lubuk hati seorang Larisa.
Tidak lama kemudian, Tere pun berjalan dengan tergesa-gesa dan segera menarik pergelangan tangan kakaknya itu kasar hingga mereka menjauh dari depan pintu kini.
"Kakak mau apa ke sini, hah?" Tanya Tere menatap tajam wajah Larisa sang kakak.
"Pertanyaan macam apa itu? Apa kamu lupa dengan kesepakatan kita? Jangan bilang kalau kamu mau ingkar janji?"
"Kita memang sudah bikin kesempatan, tapi Kaka yang bilang sendiri kalau Kaka akan ikut tinggal di rumah aku, bukan di rumah ini. Ini rumah mertua aku, 'kak? Apa kata mereka nanti kalau Kaka numpang di sini. Lagian, aku juga baru nikah satu hari, masa udah bawa benalu buat tinggal di sini."
"Benalu? Kakak kamu ini kamu bilang benalu? Adik macam apa kamu?"
"Apa Kaka pernah memperlakukan aku seperti seorang adik? Apa kakak pernah menyayangi aku layaknya seorang kakak yang menyayangi adiknya? Tidak 'kan?"
Larisa seketika memutar bola mata kesal. Lagi-lagi dia sama sekali tidak menunjukan rasa bersalahnya setelah apa yang dia lakukan di masa lalu.
"Ya elah, gitu aja di ambil hati. Yang lalu biarlah berlalu, lagian kamu 'kan udah hidup enak sekarang. Kaka janji gak akan nakal selama tinggal di sini." Jawab Larisa santai.
"Enak aja Kaka ngomong kayak gitu. Kaka pikir mudah gitu melupakan apa yang telah Kaka lakukan sama aku dulu? Nggak? Gak mudah sama sekali. Lebih baik Kaka pulang ke kampung, kehidupan kota gak cocok buat Kaka."
"Jadi kamu benar-benar akan ingkar janji, begitu?'' Larisa membulatkan bola matanya merasa murka.
"Aku udah bilang sama Kaka, ini bukan rumahku. Ini rumah mertua aku, gak enak kalau Kaka tiba-tiba saja numpang tinggal di sini. Nanti kalau aku udah pindah ke rumah aku sendiri, baru Kaka boleh ikut sama kami.''
"Alasan, Kaka telah benar-benar salah menilai kamu. Seharusnya Kaka gak izinin kamu buat nikah kemarin, dasar adik gak tahu diri.'' Ketus Larisa dengan bola mata memerah benar-benar berada di puncak kekesalan.
"Terserah Kaka mau bilang apa, aku gak peduli. Pokoknya, Kaka pergi dari sini sekarang juga sebelum suami aku lihat Kaka dan laporin Kaka ke Kantor Polisi.''
"Kamu bicara sama siapa, sayang?"
Yang dibicarakan pun akhirnya datang, David menghampiri istrinya dan sama sekali belum menyadari kehadiran Larisa di sana.
"Mas David, eu ...'' Jawab Tere sedikit terbata-bata.
David nampak menatap wajah Tere yang terlihat pucat pasi juga seketika gugup. Kemudian, dia pun mengalihkan pandangannya kepada wanita yang saat ini berdiri tepat di samping tembok.
"Kamu? Sedang apa kamu di sini, wanita gila?" Teriak David memasang wajah kesal.
"Ish ... Adik ipar macam apa kamu ini? Masa Kaka istri kamu di bilang wanita gila. Dasar gak sopan." Jawab Larisa santai.
"Sebenarnya mau kamu itu apa si, Larisa? Apa kamu gak bisa gitu biarkan adik kamu ini hidup tenang sebentar aja?''
"Nggak ... Tentu saja gak bisa, kalau dia hidup tenang maka aku juga harus hidup tenang. Kalau dia hidup senang tentu saja aku juga harus merasakan kesenangan. Tapi, kalau sampai hidupku menderita maka hidup dia pun harus 2x lebih menderita dibandingkan aku. Mengerti adik ipar yang sombongnya minta ampun." Jelas Larisa tersenyum menyebalkan.
"Dih, prinsip macam apa itu? Kalian itu bukanya cuma saudara tiri ya. Jadi, istri saya ini gak punya kewajiban apapun buat nyenengin kamu meskipun dia udah nikah sama saya.''
"Hey ... Kata siapa? Orang dia udah janji bakalan izinin aku tinggal di sini. Iya 'kan adiku sayang?''
"Nggak, Mas. Aku gak bermaksud buat izinin dia tinggal di sini. Aku cuma bilang sama dia kalau dia boleh tinggal di rumah kita bukan rumah mertua aku.'' Bantah Tere semakin merasa kesal dengan tingkah sang Kaka.
"Gini aja, yang kamu inginkan sebenarnya adalah uang 'kan? Katakan, berapa uang yang kamu inginkan? Tinggal sebutkan saja, saya akan berikan berapapun yang kamu minta, tapi dengan satu syarat."
Larisa seketika tersenyum senang.
Uang? Iya betul, dia memang sangat membutuhkan yang namanya uang. Dia akan menjadikan kesempatan ini untuk meminta uang yang sangat banyak kepada adik iparnya itu. Agar dia tidak perlu lagi capek-capek bekerja.
"Kenapa bengong? Apa kamu gak butuh uang? Katakan saja jangan sungkan. 10 juta? 20 juta?"
"Mas? Apa-apaan ini?" Tanya Tere menoleh dan menatap wajah suaminya.
"Diam, sayang. Wanita kayak dia hanya akan diam jika di bungkam dengan uang."
Larisa seketika kembali tersenyum menyeringai.
"50 juta! Beri aku uang 50 juta sekarang juga, maka aku gak akan pernah ganggu ketenangan rumah tangga kalian," celetuk Larisa membuat Teresia seketika membulatkan bola matanya.
"50 Juta? Buat apa uang sebanyak itu, Kak? Astaga ... Itu namanya pemerasan.'' Ketus Tere penuh penekanan.
"Buat apa lagi, ya buat biaya hidup sehari-hari 'lah."
"Deal, saya akan memberikan uang sebanyak 50 juta sekarang juga. Tapi, kamu harus janji kalau kamu gak akan pernah ganggu istri saya lagi?'' David penuh penekanan.
"Iya-iya janji, ya elah ribet banget si. Buruan kasih aku uangnya. Ingat 50 juta, boleh lebih gak boleh kurang. Oke?"
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Promosi Novel malam ini ya, Reader. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian di sana ya, semoga kalian suka ya.