Ayu Lestari, gadis cantik yang ditinggal menikah oleh kekasihnya saat ini sadar kenapa pacaran dilarang, dan ia menyadari jika memang pacaran hanya membuang waktu dan tidak bermanfaat sama sekali, bahkan membuat pikirannya kacau.
Perlahan Ayu mulai memperbaiki diri. Hijrah menuju hal yang lebih baik, belajar tentang bagaimana cara menyalurkan fitrahnya sesuai dengan syari'at. Apakah Ayu akan menemukan pasangan yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Harsa
Hari ini sebelum berangkat ke kampus, Ayu lebih dulu mengantar Ajeng ke terminal. Sahabatnya itu sudah harus cuti untuk persiapan pernikahan. Ada rasa sedih dalam benar Ayu karena berarti hari ini juga menjadi hari terakhir kos berdua, namun lebih banyak bahagianya karena Ajeng akan menikah.
Layaknya roda, kehidupan terus berputar. Namun percayalah, semua hal di dunia ini tidak ada yang permanen dan suatu saat akan berlalu. Semua berjalan di setiap waktu, waktu berdetak ritme kehidupan berjalan. Berjalan sesuai kenyataan, dimana kita memiliki ruang dalam hidup kita, disitulah peran kehidupan dalam hidup kita.
"Hati-hati, lusa aku nyusul," ucap Ayu saat mengantar Ajeng sampai pada tempat duduk bus yang sudah dipesan.
"Doakan yah, semoga selamat sampai tujuan, selamat sampai menjadi istri mas Ilham," ucap Ajeng. Ayu mengangguk dan tersenyum. Mendoakan sahabat karibnya itu sudah pasti tanpa dipinta.
"Disana nanti jangan keluyuran, pamali calon manten pergi kesana kemari, pokoknya di rumah aja yah," ucap Ayu memberi pesan pada Ajeng. Sesuai dengan adat yang ada di kampungnya, jika calon pengantin sudah mendekati hari pernikahan, harus lebih banyak berdoa saja di rumah.
"Siap." Ajeng mengacungkan jempolnya. Kalau sudah di rumah, jelas dirinya juga akan dipingit oleh keluarganya.
Bus sudah akan berangkat, sebelum Ayu turun dari bus, sekali lagi dirinya memberi pesan pada Ajeng agar hati-hati di jalan.
Setelah melihat bus yang dinaiki Ajeng meninggalkan terminal, Ayu bergegas ke parkiran mengambil motornya. Dirinya langsung menuju kampus, hari ini ada jam kuliah pagi hingga Dzuhur nanti.
☘️☘️☘️
Sesampainya di kampus, saat baru saja melepas helmnya, seseorang menyentuh lengannya. Ayu langsung melihat ke arah orang tersebut, betapa mengejutkannya ketika dirinya melihat siapa yang kini tengah berdiri di hadapannya.
"Mas Harsa," ucap Ayu lirih.
"Kita perlu bicara, Yu," ucap Harsa sambil memegang lengan Ayu.
Ayu langsung menepisnya hingga tangan Harsa terlepas.
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, semuanya sudah selesai, mas mau apalagi sih?" Ayu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Rasanya dada semakin sesak jika melihat wajah lelaki yang ada di hadapannya itu.
"Aku tahu kamu mau balas dendam kan?"
Ayu terkejut dengan ucapan mantan kekasihnya itu. Kenapa bisa bicara demikian.
"Kenapa harus menikah dengan dia Ayu? apa tidak ada laki-laki lain, itu sama saja kita akan menjadi saudara dan itu sangat menyakitkan aku, apa aku sengaja? jawab Yu," ucap Harsa.
Ayu menghela nafas, ia sekarang sudah paham arah pembicaraan mantan kekasihnya itu.
"Jangan sok merasa tersakiti, Mas. Sadarilah, kamu yang sudah menyakiti aku, aku hanya sedang melanjutkan hidup, sesuai dengan takdir. Kalau mau protes, protes saja dengan Tuhan." Ayu masih gemas dengan sikap mas Harsa, kenapa susah sekali untuk menyadari kesalahan.
"Ayu, kita bisa memulai dari awal lagi, kan aku sudah bilang akan melepas Mira, aku hanya mau kamu, apa selama bertahun-tahun kita menjadi sepasang kekasih nggak ada sedikitpun rasa ingin memiliki aku?" ucap Harsa yang masih dengan keegoisannya ingin memiliki Ayu.
"Nanti setelah sama aku, gadis mana lagi yang akan kamu nikahi dengan alasan akan mengakhiri hubungan kita?"
"Nggak akan ada, tolonglah kamu pahami, selama ini kita menjalani hubungan jarak jauh, aku khilaf, mungkin aku merasa kesepian saat kamu lagi sibuk banyak tugas, telat balas pesan, bahkan sering nggak angkat telfon, dari situ komunikasi kita sangat jelek dan hadirlah Mira yang mencoba mencari perhatian, aku bisa apa?" cerocos Harsa mengungkapkan isi hatinya.
Mata Ayu berkaca-kaca, rasanya tidak menyangka jika hal sepele itu yang membuat mantan kekasihnya berselingkuh. Dirinya di sini sedang sibuk menuntut ilmu, bukan sedang bersenang-senang melupakan segalanya.
"Dulu, aku menunggu dan mencintaimu dengan sebuah ketulusan. Karena setiap nafasku selalu ada harapan yang kukembangkan. Menjadi lebih besar dan bermuara pada sebuah kenyataan. Namun kenyataan pahit, sangat pahit," ucap Ayu yang tak mau kalah mengungkapkan kekecewaannya juga.
Perasaannya pada mas Harsa dulu datang atas seizin Tuhan, mengalir begitu saja tanpa bertanya persetujuan si pemilik hati. Seandainya Ayu sendiri yang mengatur perasaan itu, maka saat ini Ayu sudah berpaling ke lain hati. Karena perempuan manapun akan sangat tersiksa bertahan sejauh itu tanpa adanya komunikasi yang intens. Rasa takut dan khawatir itu seakan menghantui dirinya setiap saat. Sampai Ayu sering menyumpahi jarak dan waktu yang dengan bahagianya masuk diantara ceritanya dengan Harsa.
Harsa menunduk, "Beri aku kesempatan lagi, aku datang jauh dari Jogja hanya ingin kamu tahu kalau aku selalu mencintaimu dan ingin seperti dulu lagi."
Ayu terkekeh, "Setiap wanita pasti ingin dicintai. Tak pernah mau disakiti apalagi dilukai. Ketika hati wanita tersakiti, caranya mencintai tak akan lagi sama."
Semua orang jelas ingin mendapatkan hidup yang bahagia. Hidup yang bisa dihabiskan bersama orang-orang tercinta. Menapaki jalan kehidupan dengan didampingi orang yang tulus mencintai. Tapi kadang perjuangan untuk cinta sejati itu begitu berliku dan penuh jatuh bangun, dan hari ini Ayu sudah mengatakan pada mantan kekasihnya bahwa pelabuhan cinta terakhirnya ada Bhumi bukan lelaki yang ada di depannya itu.
"Ayu." Harsa berusaha ingin meraih lengan Ayu namun ditepis.
"Sudah Mas, lebih baik pulang saja, fokus dengan keluarga kecilmu, bahagiakan anak istrimu."
"Nggak..." Harsa meninggikan suaranya hingga membuat Ayu terkejut.
"Mas, ini kampus, jangan membuat onar di sini," ucap Ayu memperingatkan.
"Apa perlu Yu, aku berteriak agar semua orang tahu kalau aku hanya mencintai kamu?"
"Sudah jangan melawak di sini."
"Yu, beri aku kesempatan lagi." Harsa tiba-tiba berlutut di depan Ayu.
"Cukup Mas, jangan seperti ini. Bagiku selingkuh dan berbohong tidak terjadi begitu saja. Itu adalah pilihan yang disengaja, jadi berhentilah bersembunyi di balik kata "kesalahan" saat kamu ketahuan."
Harsa menggelengkan kepalanya dengan posisi masih berlutut di depan Ayu.
Ayu yang sudah amat kesal berusaha untuk pergi dari parkiran, namun sayangnya kakinya di peluk oleh mantan kekasihnya itu.
Ayu berusaha melepaskan diri, "Mas jangan gila kamu."
☘️☘️☘️
"Ada apa ini?"
Ayu langsung melihat ke arah sumber suara yang ternyata ada pak Rudi dosennya.
"Pak ini tolongin saya."
Rudi langsung mendorong Harsa sehingga lelaki itu terjungkal begitu saja. Mata Harsa nampak merah dan berkaca-kaca.
"Kamu siapa?" tanya Harsa. "Jangan campuri urusan aku dengan Ayu."
"Ini area kampus, sebaiknya jangan membuat keributan di sini," ucap Rudi.
"Kamu tidak apa-apa Yu?" tanya Rudi pada wanita yang sedang ia taksir itu.
"Tidak apa-apa Pak, terimakasih sebelumnya."
Rudi mengangguk namun masih menatap gadis jelita itu. Harsa menyadari tatapan Rudi tak seperti menatap biasanya.
"Masuklah ke dalam, biar saya yang urus dia," ucap Rudi pada Ayu.
Ayu mengangguk, ia langsung bergegas meninggalkan parkiran. Pagi ini rasanya cukup menegangkan, ternyata begini tidak ada Ajeng, andaikan sahabatnya itu tadi bersamanya, pasti mas Harsa sudah dimaki habis-habisan.
☘️Bersumbang☘️
(Hayo, kira-kira Harsa dan Rudi ngobrol dulu apa langsung diusir yah?)
ehh jd halu 🤭