Bertransmigrasi?
Satu kata yang mampu membuat Nala, mengumpat di tempat. Dia yang awalnya membenci tokoh utama pada sebuah novel karena bunuh diri akibat diselingkuhi mengakibatkan dirinya bertransmigrasi ke tubuh Carissa.
bagaimanakah jika Nala, si gadis super aktif mengubah hidup Carissa yang flat menjadi lebih heboh dan mengejutkan sekeluarga serta teman-temannya.
Ikuti kisah Nala yang akan mengubah alur hidup Carissa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya_Kim02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25| Siapa dia?
Tepat hari kamis, Carissa tengah duduk di depan makam Cakra. Dia tersenyum dan meletakan bunga lily putih.
"Selamat pagi Cakra, hari ini gue dateng lagi."
Untuk kesekian kalinya Carissa menghembuskan napas setiap kali berkunjung ke mari. Perasaannya selalu campur aduk ketika memasuki gerbang pemakaman. Matanya memanas, tetapi dia tidak boleh menangis.
"Lo tau gak, kenapa gue milih bunga lily putih?"
Carissa menatap bunga yang dia letakan di atas kuburan itu.
"Bunga lily putih ini punya makna cinta pada seseorang dan tanda kesetiaan. Gue cuma mau lo Cakra, bukan orang lain. "
Dia mengusap air matanya perlahan, Carissa sudah mengikhlaskan pria itu, tetapi entah kenapa dadanya masih saja sesak.
"Sesekali dateng, ya ke mimpi gue. Gue kangen sama lo, gue juga pengen ceritain banyak hal. Mulai dari papa yang udah berubah jadi lebih baik lagi, sampai Dina dan Lala yang pacaran mulu."
"Mereka kalau udah ngedate, pasti ngajak-ngajak. Gue selalu jadi obat nyamuknya, sepet ini mata lama-lama kalau liat mereka bucin mulu."
"Makasih, ya Cakra udah mau suka sama orang kasar kayak gue. Sejujurnya gue cewe yang dijauhin banyak cowo gara-gara terlalu kasar. Kata mereka cewe itu harusnya lemah lembut, padahal nggak juga. Cewe harus bisa kuat buat jaga diri mereka sendiri."
"Kayaknya gue bakalan telat ke sekolah, tapi nggak apa-apa. Soalnya masih kangen sama Cakra, hehe. Pokoknya nanti malam harus dateng ke mimpi gue. Nggak apa-apa kalau cuma saling tatapan, itu udah buat gue seneng. Gue pamit ke sekolah dulu Cakra, sampai nanti!"
Carissa mencium nisan makam Cakra dan beranjak dari sana. Tanpa dia sadari seseorang menatapnya dari arah jauh, dia menutupi bagian hidung dan mulut menggunakan masker hitam.
Setelah Carissa meninggalkan makam, orang itu berjalan mendekati makam Cakra. Detik berikutnya menatap gerbang masuk kuburan yang sepi. Dia melepas masker dan tersenyum miris.
"Cakra, lo punya seseorang yang setia kayak gitu, tapi kenapa harus pergi duluan?"
"Padahal dulu lo pernah janji bakalan sembuh dari penyakit itu dan dateng ke acara pernikahan gue, kayak yang udah kita rencanain dulu waktu SD."
"Gue baru punya waktu buat liat makam lo. Gue seneng akhirnya lo nemu seseorang yang bener-bener lo cinta, gitu juga sebaliknya. Lo udah nggak ngerasain sakit lagi setiap malam kamis, lo juga udah nggal ngadu lagi ke gue. Maaf, selama ini gue nggak pernah di samping lo. Gue selalu di paksa buat belajar mulu dan jarang megang hape."
"Gue bakalan jaga dia, tenang aja nggak bakalan gue rebut dia dari lo. Lagian dia juga kayaknya udah nggak tertarik sama siapapun kecuali lo. Tenang di sana, gue pergi dulu."
.
.
.
Di kelas, Carissa memperhatikan guru menjelaskan dengan seksama. Matanya menangkap sebuah halusinasi di mana saat guru tersebut menerangkan, dia justru melihat Cakra yang tersenyum manis ke arahnya.
Carissa dengan cepat menggelengkan kepala dan kembali fokus. Dia tahu, dirinya sedang merindukan pria itu. Setelah pelajaran usai, Carissa mengajak dua temannya itu untuk pergi ke kantin, kebetulan perutnya sudah mengamuk minta di isi.
Di kantin dia menyantap makanannya dengan lahap, detik berikutnya dia merasa seperti seseorang menepuk bahunya. Carissa langsung tersentak dan menengok ke arah belakang. Dina dan Lala memgernyit heran melihat tingkah gadis itu.
"Kenapa lo?" tanya Dina dengan menyerupit es tehnya.
"Ahaha, nggak. Nanti pulang sekolah kalian pada ke mana?" tanyanya mencoba untuk mengalihkan pikirannya sendiri.
"Nggak ke mana-mana, sih. Mau jalan?" tanya Lala kali ini yang diangguki oleh gadis di depannya.
"Kangen sama Cakra? Nanti kita ke tempat karaoke lagi. Nanyi sepuas lo, tapi lo harus bahagia. Janji sama kita, kalau ada apa-apa langsung kasih tau ke kita. Jangan biarin diri lo ngadepin semuanya sendirian, lo masih punya kita."
Carissa paham bahwa kedua temannya ini sudah sangat peka terhadap dirinya. Dia tersenyum manis sekaligus bersyukur.
"Makasih, ya. Kalian selalu peka sama gue, bahkan hal kecil sekalipun."
"Udah, ah lanjut makan. Ntar ngomongin yang sedih-sedih malah nangis," ketus Lala yang kemudian menyendokan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Dina dan Carissa hanya tertawa pelan melihat ekspresi Lala yang hampir menangis jika dia tidak cepat mengakhiri obrolan itu.
Sepulang sekolah, dia menatap jalanan yang dipenuhi dengan kendaraan. Carissa menolak untuk pulang bersama Abian dan ingin berjalan saja. Tidak ada salahnya mencoba untuk jalan kaki.
Tidak ada tempat yang spesial ataupun tempat biasa dia dan Cakra datangi, karena mereka bisa dibilang tidak terlalu banyak moment kebersamaan.
Carissa menyusuri jalanan yang lumayan ramai. Matanya menatap langit yang cerah, memberitahukan padanya bahwa perjalanan masih sangat panjang.
Bibirnya tersungging senyuman, dia lantas mempercepat langkah dan pergi ke toko es krim. Dia membeli beberapa macam es krim, lalu pulanh menggunakan taksi.
Setibanya di rumah, dia langsung menatap nanar pada dirinya di cermin. Semakin hari, rasa rindu pada Cakra kian membuncah. Membutnya tersiksa jika terus-terusan menahannya.
"Nggak, gue gak boleh begini. Cakra juga pasti bakalan sedih kalau gue murung terus. Semangat Carissa, lo pasti bisa!"
Sore harinya mereka telah berada di dalam bioskop. Dina menyarankan untuk menonton movie horor yang sedang naik daunnya. Begitu film terputar, mereka sangat serius dengan sesekali memakan pop corn.
Ketiganya sejak tadi terkejut akibat jumpscare yang bahkan hampir ada di setiap adegan menegangkan. Carissa mengumpat dalam hati ketika wajah setannya di tunjukan tepat di depan kamera.
Film berakhir tepat jam tujuh malam. Mereka memutuskan untuk pergi makan. Ketiganya sangat menikmati makanan tersebut, hingga mata Carissa tak sengaja melihat seseorang yang mirip dengan Cakra.
"Cakra?" gumamnya menatap orang yang baru saja pergi dari mejanya.
Carissa langsung berlari meninggalkan dua temannya dan menyusul pria tadi. Dina yang kaget lantas mengejar Carissa dengan Lala yang menunggu di meja mereka.
Carissa menarik jaket pria itu hingga topi yang dikenakan jatuh dan wajahnya terekspos. Hatinya langsung kecewa saat mengetahui bahwa dia bukan Cakra. Memang, wajahnya lumayan mirip, tetapi itu bukan Cakra.
"Ah, maafkan saya. Tadi saya kira anda pacar saya, sekali lagi saya minta maaf!" Carissa membungkuk berkali-kali, orang itu juga tak masalah dan langsung pergi saat Dina datang.
"Carissa, kenapa lo tiba-tiba lari, sih?"
Carissa menatap pintu keluar yang telah kosong. Orang itu sudah pergi, dia tersenyum miris dan berjalan kembali tanpa menjawab pertanyaan Dina.
"Carissa, lo nggak boleh begini. Cakra nggak mungkin masih hidup, lo liat sendiri waktu dia di makamin!" batinnya kesal sekaligus sedih.
"Maaf, ya tiba-tiba lari. Tadi gue kirain kak Abian, ternyata bukan. Ayo, lanjut makan!"
Sepulangnya dia, Carissa tiba-tiba mendapat sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Matanya menangkap foto dia dan Abian beberapa hari lalu saat sedang berbelanja. Pesan yang dikirim adalah berisi umpatan yang bahkan Carissa sendiri tak tahu maksud dan tujuan si pengirim ini apa.
"Maksud amat ini orang maki-maki gue?"
Dia tak membalas dan hanya meletakan ponsel di atas nakas. Dia memutar lagu berjudul 'last friday night' dengan kaki melangkah riang menuju kamar mandi. Dia harus mencuci wajah dan menggosok gigi sebelum pergi tidur.
Setelahnya dia kembali dan berdiri di depan cermin. Menyisir rambut sembari bernyanyi.
"Last Friday night. Yeah, we danced on tabletops, and we took too many shots. Think we kissed, but I forgot last Friday night. Yeah, we maxed our credit cards and got kicked out of the bar."
Saking hebohnya bernyanyi, Abian yang baru saja tiba langsung membuka pintu kamar Carissa dan memergoki gadis itu.
"Besok aja konsernya, sekarang udah setengah sepuluh. Tidur sana!"
Carissa cengegesan seperti tak ada dosa.
"Hehe, iya. Ini juga mau tidur."
Carissa mematikan musik dan mengunci pintu kamarnya.
Keesokan paginya, Carissa terlihat sangat cerah. Dia turun dengan menyanyikan lagu 'baby' membuat Abian hanya menggelengkan kepalanya.
"We just friend, what are you saying?"
Di meja makan, dia menatap roti yang sudah diberi selai kacang. Segera dia memakannya, entah mengapa suasana hato Carissa hari ini benar-benar bagus. Abian menyenggol lengan Wijaya, mengisyaratkan bahwa perempuan itu sedang dalam mood yang bagus dan sebaiknya jangan diganggu.
Pagi ini mereka bertiga berangkat bersama. Di dalam mobil, Carissa memasang earphone di telinganya sembari kepala dia gerakan. Musik yang di dengar benar-benar membuatnya merasa lebih baik lagi.
Bersambung...
mampir yuk ke novel aku yang berjudul transmigrasi jiwa Lien Hua
jangan lupa like & komen
saya tahu perasaan clarissa karena gw juga kesel pas bapak gw selingkuh ada mak gw