Berawal dijebak oleh teman sekelasnya, Anindira— gadis cantik idola kampus melakukan one night stand dengan orang asing. Menerima cacian begitu banyak orang. Image baik yang selama ini ia bangun seketika runtuh. Merasa hidupnya sangat berantakan. 5 tahun kemudian—akhirnya Anin diterima di perusahaan besar. Namun karena satu kesalahan lagi—bosnya meminta dirinya menjadi selingkuhan.
Kelvin Stewart adalah seorang CEO dari perusahaan REXTON. Selama 2 tahun telah menjalani pernikahan dengan wanita. Sampai datanglah seorang wanita yang membuatnya tertarik. Anindira—karyawan baru yang membuatnya terobsesi.
“Apa kau ingin bercinta denganku malam ini?”
Gila sangat gila—bosnya mengatakan hal itu disaat perayaan pernikahannya yang ke dua tahun. Anin terdiam tidak mengiyakan atau menolak ajakan gila bosnya.
Lebih parah lagi, semenjak kejadian itu Kelvin memaksa Anin menjadi selingkuhannya. Bagaimana kelanjutkan kisah mereka, yuk langsung baca!
❗update setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cahyaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
About Jayden
“Lepaskan aku!” teriak Anin.
Justru pria itu tertawa pelan. Ia menyentuh puncak kepala Anin, namun hanya sebentar karena Anin sudah mengibasnya kasar.
“Buka matamu.”
Anin membuka matanya. Akhirnya ia tahu siapa yang menculiknya. “Jayden? Jadi kau—“
Jayden duduk di samping ranjang. “Ya. Aku yang menculikmu.” Ia tertawa menampilkan deretan gigi rapinya. Sangat manis sempat membuat Anin lupa daratan. “Aku tidak butuh uangmu.”
Iya memang tidak butuh! Kau pasti jauh lebih kaya dariku! Anin mengucek matanya lagi. “Lalu kenapa membawaku ke sini? Pasti ada alasan. Tidak mungkin kau iseng hanya mengerjaiku.”
Jayden justru mengangguk. “Aku memang iseng.”
“Jayden…” geram Anin. “Aku akan melaporkanmu ke komnas perempuan karena menculik perempuan cantik yang tidak berdaya sepertiku.”
“Lakukan saja.” Jayden malah semakin tertawa nyaring dengan perkataan Anin.
Anin mendekat. Mengamati Jayden seksama. Benar apa kata David, pasti Jayden anak dari tuan Stewart. Wajah Jayden mengambil 30 persen dari wajah Tuan Stewart.
“Kenapa kau mengamatiku seperti itu?”
“Aku hanya ingin melihatmu lebih jelas lagi.”
“Tidak usah berusaha keras mengingat wajahku karena kita akan sering bertemu.”
Anin menyibak selimut. Beranjak dari kasur. “Pulangkan aku—jangan macam-macam padaku.”
“Nanti setelah aku membawamu ke sebuah tempat.” Jayden mengusap puncak kepala Anin pelan. “Jadi aku meminta waktumu sebentar.”
“Jayden—“
“Aku pergi dulu.”
“Jayden!” Anin berusaha mengejar Jayden. Namun sebelum kakinya menginjak lantai luar kamar.
Tubuhnya di dorong pelan oleh dua orang wanita. “Kami akan membantu Nona bersiap.”
“YAAAA! JAYDEN SIALAN!” umpat Anin sekeras mungkin agar pria itu mendengar kekesalannya sudah meluap-luap seperti lava yang keluar dari gunung.
Anggap saja Anin akan menjadi princess sehari. Pertama tubuhnya di pijat dengan perawatan wajah juga. Makser dan entah apa—yang pasti Anin merasa sekarang kulit wajahnya sedang dileser.
Usai menjalani proses perawatan yang sangat panjang. Anin merasa tubuhnya sangat ringan. Tubuh dan wajahnya terasa sangat segar. Ia melihat dirinya di depan cermin—kulit wajahnya menjadi sangat mulus. Lalu kulit tubuhnya sangat halus seperti mandi berliter-liter susu murni pilihan.
“Anda sangat cantik, Nona. Mangkanya Tuan muda Jayden memilih anda.” Puji salah seorang wanita yang mendampingi Anin menjalani perawatan.
“Siapa nama kamu?”
“Saya Nema. Saya pelayan tuan muda.”
Anin mengangguk. Sekarang wajahnya di rias. Tidak perlu lama-lama karena riasan yang digunakan Anin natural sehingga memancarkan kecantikannya yang sesungguhnya.
Tubuhnya di dorong masuk ke dalam ruang ganti. Anin keluar setelah dress berwarna merah marron ini melekat sempurna di tubuhnya.
“Sungguh—anda benar-benar sangat cantik, Nona. Benar-benra serasi dengan tuan Jayden.” Lagi, Nema memujinya.
Anin meringis pelan. “Kenapa mendadak malu begini, padahal biasanya malu-maluin.” Ia mendekat ke cermin. Ia tersenyum, mengangguk setuju dengan perkataan Nema. Dirinya memang cantik! Iya sangat cantik! Percaya diri aja dulu ya kan?!
~~
Perlahan turun dari tangga memutar. Seperti adegan Princess yang disambut oleh pangeran. Anin melangkah dengan anggun, berjalan ke arah Jayden yang sudah menunggunya.
“Jadi kita akan ke mana?” to the point Anin. Ia tidak bisa menahan lama-lama rasa penasaran yang terus menggerogoti hati dan pikirannya.
“Just dinner.”
“Tidak mungkin,” dengus Anin. Kenapa rasanya mencurigakan.
Jayden mengulurkan tangannya. “Lalu kau berharap apa?”
“Tidak.” Anin segera menggeleng. Bukannya menyambut tangan Jayden—yang dilakukan Anin hanya mengusap telapak tangan Jayden sekilas.
“By the way… Yo look so beautiful and… Dangerous.” Karena Anin tidak ingin memegang lengannya. Sebagai gantinya—Jayden yang mengambil lengan Anin, mengapitnya.
“Jayden lepaskan aku.” keluh Anin tidak pernah berhenti.
“Nanti.”
“Di mana ponselku?”
“Jangan bermain ponsel dahulu.”
Anin mulai kehabisan kesabaran. “Kembalikan ponselku setelah itu aku akan menurut.”
“Masuk dulu, Princess.” Jayden membukakan pintu mobil untuk Anin.
Anin menghela nafas, setelah itu langsung masuk. Ia langsung mengecek ponselnya saat ponselnya dikembalikan Jayden. Kelvin sama sekali tidak mengirimnya pesan. Lalu apakah lelaki itu tidak bertanya ke mana saja ia seharian ini? Ah sudahlah, Kelvin manusia paling sibuk yang pernah ditemui Anin.
“Kenapa kau terlihat sedih?”
Anin menutup ponselnya segera. “Tidak.”
“Kau sudah punya kekasih?”
Anin berpikir sebentar. “Maybe—yess.”
“Jadi hubungan tidak pasti right?”
“Seperti itu.”
“Oke aku meminjam kekasih seseorang hari ini.” Jadyen bersindekap. Bersandar pada bangku mobil. Tapi sebelum itu—Anin melihat raut kecewa yang tercetak jelas di wajah lelaki itu.
Sampai di sebuah bangunan hotel bintang lima yang sangat tinggi. Anin keluar begitu juga dengan Jayden.
“Jayden jika kau berani macam-macam denganku—aku akan benar-benar melapor pada komnas.”
“Sudah kubilang laporkan saja, Anindira.” Jayden mengambil tangan Anin dan mengalunkannya di lengannya sendiri. “Tetap begini.”
“Ta—“
“Sebentar—hanya sebentar.”
Mengikuti permainan Jayden. Mereka masuk ke dalam, menaiki lift kemudian sampai di lantai paling atas. Beberapa pelayan menyambut mereka dengan sopan. Demi apapun—ini pertama kalinya Anin merasa diperlakukan benar-benar seperti Princess.
Satu dua tiga empat…. Anin melihat empat orang sedang berkumpul di meja makan. Kelvin, Liana beserta kedua orang tuanya, Erlando Stewart dan Briana. Briana dan Stewart kompak tersenyum saat Anin dan Jayden datang.
“Kamu datang juga akhirnya,” sambut Stewart pada putra bungsunya. “Siapa perempuan di samping kamu?”
“Dia orangnya—Dad.”
Anindira tidak tahu maksud Jayden. Jadi dia hanya tersenyum sebaik mungkin.
Briana mendekat. “Cantik. Kamu pintar milih.”
“Thanks, Mom.” Jayden tersenyum bangga.
Jadi sekarang Anindira terjebak di keluarga Stewart. Bagus Anin! Urusanmu saja belum selesai dengan Kelvin sekarang semakin bertambah. Apalagi terang-terangan menampakkan diri di keluarga kaya ini.
Semua orang makan dengan tenang. Anin sedari tadi berusaha mengabaikan tatapan tajam Kelvin. Bagaimanapun aura Kelvin bisa membuat lawannya gugup setengah mati.
“Jadi Anindira adalah perempuan yang kamu ceritakan bertemu di Anniversary kakakmu?” tanya Erlando.
“Iya, Dad. Aku tidak ingin mencarinya—tapi takdir sendiri yang menuntun kita akhirnya bertemu lagi.”
Erlando tertawa pelan. “Anindira kamu bekerja di Rexton.”
“Iya tuan.”
“Dia Asisten Kelvin, Dad,” sahut Liana. Ia setia menggenggam tangan Kelvin. “Aku sering melihatnya di kantor.”
Erlando mengangguk. “Umurmu berapa Anindira?”
“25 tahun, Tuan.”
“Kalian berdua sudah sangat pas menikah.” Erlando menatap Jayden dan Anin bergantian. “Jangan lama-lama menjalin hubungan yang tidak pasti.”
Anin menunduk. Jayden sialan! Gara-gara laki-laki itu dirinya terjebak seperti ini. Ia mendongak, tepat sekali Kelvin masih menatapnya. Sudah pasti laki-laki itu marah. Lihat sorot matanya sangat tajam. Bisa menghunus dan menguliti tubuh Anin tanpa menyentuh.
“Selamatkan aku dari amukan Kelvin!” jerit Anin dalam hati.
“Tentu, Dad. Aku hanya menunggu Anin siap.” Jadyen mengatakannya tanpa beban. Benar-benar ya lelaki itu.
“Kau yakin memilih Anindira?” tanya Liana begitu tiba-tiba.
“Memangnya kenapa, Kak?”
“Kau lulusan mana Anindira?” tanya Liana begitu menusuk. Tidak ada senyum ramah yang dulu sering Anin lihat.
“Universitas Nusa Bangsa, Miss.”
“S1 benar?”
“Iya.”
“Lulusan swasta dalam negeri. Hanya menempuh pendidikan S1 dan juga hanya pegawai biasa yang beruntung bekerja di Rexton,” terang jelas Liana.
Kelvin menahan amarahnya. Jika bukan karena statusnya yang serba salah—ia pasti sudah memasang badan membela Anin.
“Cukup!”
sudah cukup Thor cari wanita yg lebih baik dari tu s anin. memang d kiranya perempuan Dy doank yg bagus..