Airin Daranize, wanita yang belum menemukan jodohnya di usianya yang ke 28 tahun.
Airin wanita mandiri yang membuka usaha butik yang cukup berhasil. Sehingga waktunya lebih banyak tersita ke butik nya.
Tiba- tiba saja Dika teman masa kecilnya muncul dan melamarnya. Tapi Airin menolak karena tidak mau menerima perjodohan.
Suatu hari Dika sakit, tanpa sengaja Airin tau kalau Dika sedang sekarat . Akankah Airin mau menerima lamaran Dika?
Apakah Dika sembuh dari penyakitnya?
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pagi begitu indah bersinar. Kilaunya yang kuning keemasan seolah memberi harapan baru bagi Airin.
Apa yang telah dilakukan Dika semalam, berupa pengakuannya yang mengakui, bahwa Airin adalah bagian dari hidupnya. Sungguh suatu hal yang di luar dugaannya, mengingat perlakuan suaminya paska operasi.
Karena amnesia, Dika menolak dirinya sebagai istrinya. Sikap dan prilakunya, acuh dan dingin. Tapi entah kenapa tiba- tiba berubah. Apakah karena ia hamil? Sehingga sikap suaminya berubah?
Ah, entahlah! Tapi untuk apa pula repot, memikirkan hal itu.Tidakkah lebih baik menikmati saja semua ini? Dengan begitu akan lebih mudah membawa suaminya, menyusuri jalan- jalan memorinya?
Airin membuka jendela kamarnya, merahup segarnya udara di pagi hari, sepuasnya. Senyumnya begitu sumringah, wajahnya memerah oleh jilatan nakal sang mentari.
Setelah mandi dan berdandan sekedarnya, Airin keluar dari kamarnya. Rencanya mau memasak makanan kesukaan suaminya. Sekalipun, mama dan mertuanya pasti sudah sibuk di dapur. Tapi Airin ingin menyiapkan sendiri makanan suaminya.
Seperti dugaannya, mama mertuanya sudah sibuk di dapur. Tapi mamanya tidak ada.
" Selamat pagi, Mama." sapa Airin.
" Selamat pagi, Ai, mau bantuin Mama masak, ya?"
" Udah, telat ya, Ma." Kekeh Airin. Mencomot sepotong tahu yang belum di campur, sambal.
" Gak juga, nih, masih banyak yang belum beres. Kalau mau bantu, tata saja makanan ini di atas meja." Bu Tia mengambil dua piring lauk untuk disusun, Airin. Airin menerimnaya, lalu menyusunnya dengan rapi.
Ketika Airin berbalik, Dika yang baru keluar dari kamarnya sambil menunduk, karena menggulung lengan kemejanya. Tanpa sengaja menabrak , Airin. Airin kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Hampir saja ia terjatuh dan menabrak sisi meja. Tapi Dika dengan sigap, meraih tubuh Airin. Sehingga Airin berada dalam pelukannya.
" Airin, hati- hati!" seru Dika kaget setengah mati. "Kamu tidak apa-apa, bagaimana dengan perutmu?" Cecar Dika khawatir, wajahnya nampak panik.
Bu Tia, ysng sempat melihat kejadian itu juga, panik. Setelah mematikan kompor dia bergegas menghampiri, Airin.
" Kamu tidak apa-apa, Ai?"
" Aku tidak apa- apa, Ma. Aku tidak sempat terbentur kok, karena keburu di tarik Bang Dika,"
"Oh, syukurlah kalau begitu. Kamu, sih, kalau jalan harus hati- hati." Dika mengaduh sakit, karena mamanya menjewer kupingnya.
" Adow, Ma! Kok malah Aku yang dijewer?" Ringis Dika mengusap telinganya yang terasa panas.
" Biar lain kali kalo jalan, jangan suka nunduk. Ada orang di depan main seruduk saja,"
" Dika lagi yang disalahkan terus, Ai, juga salah lo mam." Dika mengerling nakal ke arah Airin.
Airin yang sepertinya masih syok, hanya terdiam. Terlebih lagi saat melihat tingkah kocak suaminya, saat dijewer mama mertua. Sepertinya sikap asli Dika yang periang kembali lagi.
" Ai, kamu kenapa?" Dika menyentuh lembut bahu Airin. Mendadak Airin tersadar. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Malu, karena Dika memergokinya tengah melamun.
'Jangan- jangan, Dika salah faham dengan sikapnya," monolog hati Airin.
" Aku tidak apa- apa, kok." Airin menyeruput air putih di atas meja. Tak mampu bersirobok dengan manik mata Dika, yang menatapnya dengan tatapan....Ah, membuat hati tak tentu arah.
" Ayo, kita sarapan!" seru Bu Tia, memecah suasana kaku diantara anak dan menantunya . Bu Tia faham, Airin sepertinya bingung dengan sikap Dika yang di luar kebiasaannya selama beberapa bulan ini.
Sama seperti dirinya, juga bingung dengan tingkah putranya yang tiba- tiba saja berubah. Tapi jauh di dasar hatinya, Bu Tia senang atas perubahan Dika.
"Mama, dari mana?" tanya Airin saat melihat Mamanya muncul dari arah pintu samping. Kedua tangan mamanya menenteng tas kresek hitam.
" Mama pulang belanja, beli beberapa buah kesukaanmu. Kalian belum sarapan, ya?"
" Nungguin, Mama." sahut Dika.
" Lha, tadikan udah titip pesan, biar gak ditunggu," Bu Rasti menatap heran, sepertinya dia merasa telah ketinggalan cerita. Terlebih saat melihat wajah besannya seperti menahan senyum.
Setelah selesai sarapan, Dika telah pergi ke kantor. Airin juga telah pergi ke butik. Bu Rasti dengan tak sabar menghampiri Bu Tia, besannya yang tengah mencuci piring.
" Tadi itu kamu gak henti, senyum- senyum. Ada apa sih?" tanya Bu Rasti penasaran.
" Penasaran ya, Rasti?"
" Iya, saat aku datang tadi, kok mendadak kaku semuanya. Wajarkan aku merasa aneh." Sela Bu Rasti, sambil menyusun piring, ke rak.
" Tadi itu, Dika jalan gak nengok kanan kiri. Airin lagi nyusun makanan di atas meja. Yealah, malah nabrak Airin. Untung, Airin, gak apa- apa. Dika spontan nangkap Airin, hingga keduanya gini, nih." Bu Tia menirukan tanganya orang yang lagi pelukan. Diikuti tawanya yang pecah karena merasa lucu.
" Ah, yang benar? Sial, aku gak sempat nengok. Trus gimana lanjutannya?"
" Yah, keduanya jadi kaku dan salah tingkah. Untung saja tadi besan langsung datang," kedua sahabat itutergelak bahagia. Itu artinya anak menatu mereka akan baik lagi seperti semula.
***
Dika tidak bisa konsentrasi di kantor. Kejadian tadi pagi di rumahnya, terus bermain di pelupuk matanya. Ada yang terasa aneh, menjalari perasaannya. Aroma tubuh Airin, begitu menggoda dan sepertinya tidak asing baginya.
Dika merasa tak asing dengan aroma itu. Tapi dia tidak tau dimana. Karena selama ini, dia memang tak pernah sedekat itu, dengan Airin.
Saat memapahnya untuk periksa ke dokter kemarin, aroma farfum yang dipakai Airin juga beda.
Terutama saat tanpa sengaja, tangannya bersentuhan dengan perutnya yang mulai membucit. Darah Dika tersirap. Betapa hasrat hatinya inhin membelai dan menyapa bayinya di
dalam sana.
Tapi hatinya masih canggung, Airin juga seolah menjaga jarak. Ataukah sama seperti dirinya juga merasa canggung?
Ah, entahlah! Tadi Dika sempat melihat semburat merah di pipi, Airin. Sungguh menggemaskan hatinya. Dika benar- benar bingung dengan perasaannya, saat ini pada Airin. Seolah ada magnet yang menarik dirinya untuk lebih mendekat.
Tiba- tiba terdengar ketukan pintu.
" Masuk!" sahut Dika. Bella sekretarisnya masuk dengan tersenyum ramah. "Ada apa?"
" Ada tamu untuk , Bapak."
" Siapa?" delik Dika pada sekretarisnya. Karina muncul di ambang pintu. Memamerkan senyum terindahnya.
Wajah Dika langsung berubah. Dika tak menduga akan bertemu Karina di kantornya. Entah untuk urusan apa Karina menemuinya
" Permisi, Pak!" Bella undur diri.
" Silahkan duduk," ucap Dika seraya menunjuk ke kursi tamu. Karina mengikuti langkah Dika, dan duduk berseberangan.
" Ada apa kamu ke mari?" ucap Dika dingin.
" Aku penasaran, saat kamu bilang kamu menderita amnesia,"
" Hem, trus kamu mau apa?"
Karina pindah duduk, lebih dekat ke arah Dika.
" Dika, aku ingin menolongmu. Agar kamu lekas sembuh."
" Kamu pikir aku tidak berusaha untuk sembuh? Aku baru kenal kamu semalam, bukankah kamu itu terlalu turut campur masalahku?"
" Dika, aku hanya prihatin dengan kamu. Kamu tau gak, kita pernah punya masa lalu. Aku masih sayang padamu, Dika." Karina semakin mendekat,
bahkan ia menyentuh lengan Dika.
" Maaf, sekalipun kita pernah punya masa lalu. Aku tidak berharap untuk mengingatnya. Aku sudah menikah,"
Karina tiba- tiba terbahak, mendengar ucapan, Dika.
" Kamu gak lucu, Dika. Buat apa, sih, berbohong padaku. Aku sudah mencari info, kalau kamu itu masih lajang,"
" Aku tidak bebohong. Kamu boleh datang ke rumaku. Aku menikah di kampung dan belum mengadakan resepsi.Hanya orang terdekatku yang mengetahuinya," jelas Dika.
" Aku sakit dan harus di operasi. Paska operasi, aku malah menderita amnesia," sambungnya lagi.
Karina terkejut mendengar ucapan, Dika. Sekaligus merasa kecewa. ****