Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Rencana.
...~•Happy Reading•~...
Dalam perjalanan pulang dari rumah Ambar, keluarga Rulof tidak tenang. Mereka menjadi gelisah ingat yang dikatakan Ambar.
Terutama Richo, suami Inge yang selama ini dibantu oleh Rulof. Dia mulai curiga terhadap ucapan Inge, bahwa Rulof memiliki beberapa bidang tanah dan tabungan di bank. Melihat Ambar yang bekerja, dia mulai berpikir. Jangan-jangan memang tidak ada tanah dan tabungan.
Setelah tiba di rumah, Inge dan Tiara berebutan untuk memilih sepatu dan sandal Rulof untuk suami-suami mereka. Melihat itu, Richo menjadi kesal dan marah.
"Apa yang kalian lakukan? Apakah itu bisa dijadikan uang untuk pulang ke Makassar? Bukannya mikir, bagaimana mendapatkan uang. Ini ribut untuk barang yang sudah ada di tangan." Richo jadi emosi.
"Pikirkan. Bagaimana bisa dapat bagian dari yang masih di tangan Ambar. Atau jangan-jangan benar, tanah dan uang itu tidak ada?" Tanya Richo kepada Inge.
"Kau tahu di mana saja tanah Rulof, yang kau bilang itu? Karna sebelum tahu tempatnya, kita tidak bisa kembali ke rumah Ambar." Ucap Richo kepada Inge.
"Aku tahu itu ada, karna Rulof pernah bilang padaku. Ataukah dia sudah jual tanah-tanahnya?" Inge jadi terkejut, begitu pun Richo yang mendengar pertanyaannya.
"Kalau sampai terjadi demikian, bagaimana kami bisa pulang ke Makassar? Sedangkan tiket dari Makassar saja, kami pinjam dari tetangga." Mama Rulof, yang dari tadi duduk diam melihat anak dan menantunya.
Mendengar ucapan mertuanya, Richo makin pusing dan panik. Mereka harus mendapatkan uang secepatnya agar mertua dan adik iparnya bisa cepat pulang.
Tiba-tiba dia teringat mobil Rulof yang tadi dilihatnya. "Sementara kau cari tahu tentang tanah dan tabungan, kita minta bagian dari yang ketahuan ada dulu. Kita minta mobilnya dijual dan dibagi dua." Ucapan Richo disetujui dengan wajah yang mulai cerah.
"Mama minta bantuan dari saudara yang aparat itu, agar lebih mudah menekan Ambar. Kalau kita datang, dengan polisi dia tidak mungkin melawan." Ucap Richo, yakin.
"Sebelum kita urus mobil, kalian bertiga menemui Ambar untuk minta bagian uang dari kantor Rulof. Tidak mungkin Ambar tidak dapat dari kantor Rulof." Ricko makin semangat ingat yang dipikirkan.
"Aku akan mencari orang yang mungkin mau beli mobil dalam waktu dekat ini, dan kalian ke rumah Ambar. Datangnya sebelum Magrib saja, supaya tidak menunggu lama. Sekalian bisa lihat, benar dia pulang kerja seperti yang dikatakan atau hanya akal-akalan saja." Richo mulai mengatur strategi.
Mama Rulof dan kedua anaknya, menyetujui ide Richo. "Mama ngga usah ikut kami, istirahat di rumah saja. Kami hanya sebentar bertemu Ambar. Supaya bisa berhemat, kami mau naik ojol." Ucap Inge. Suaminya mengangguk setuju.
"Tiara, ambil piring lalu mari kita makan, supaya bisa cepat istirahat." Inge membuka nasi goreng yang mereka beli di jalan. Sedangkan anak mereka sudah tidur bersama ART.
"Mas, apakah kita mau minta bantuan dari wanita itu? Sepertinya Ambar sangat tertekan jika kita bersama wanita itu. Mungkin dia cepat berikan bagian kita, jika datang bersama wanita itu." Usul Inge kepada Richo setelah mereka masuk kamar.
"Jangan dulu, kita belum tahu dapat berapa dari Inge. Kalau tidak seberapa, terus harus bagi empat, kita mau dapat berapa?" Ricko memikirkan harus membagi yang didapat.
"Ooh iya, aku tidak pikirkan itu. Hanya pikirkan yang penting, dapat." Inge menepuk dahinya.
"Kita pakai dia, jika memang harus diperlukan." Richo berkata tegas sebab sudah memikirkan kapan akan menggunakan wanita itu. Kemudian dia keluar kamar untuk membuat kopi.
~**
Ke esokan hari ; Setelah mandi dan berpakaian rapi, mereka duduk di meja makan untuk sarapan. Richo menyampaikan rencana yang sudah dipikirkan tadi malam kepada Mertua, Istri dan Iparnya.
"Hari ini, Mama coba hubungi saudara aparat itu. Bicarakan kesulitan dan kondisi yang kita hadapi. Apa saudara Mama bisa bantu atau tidak. Supaya kita bisa mencari alternatif lain." Mama Rulof mengangguk mengiyakan.
"Kalian berdua, besok sore baru ke tempat Ambar untuk menanyakan bagian dari yang didapat dari kantor Rulof. Hari ini, Inge ingat-ingat lagi di mana tanah itu, sekalian kalian membagi sepatu dan sandal Rulof yang dibawa." Ucap Richo kepada istri dan iparnya.
"Aku akan keluar untuk bertemu teman yang suka jual beli mobil untuk minta bantuannya." Richo mengatur, yang lain mengangguk mengiyakan.
~**
Ke esokan hari ; Inge dan Tiara tiba di depan rumah Ambar, lalu mengetuk pagar sambil memanggil Seni. "Ada apa lagi Bu Inge, Ibu belum pulang kerja. Jadi saya tidak akan membuka pagar." Ucap Seni, setelah keluar rumah dan melihat saudara majikannya datang lagi.
"Kau berani berdebat dengan kami? Buka pagarnya, sebelum ..." Ucapan Inge terhenti, ketika ojol berhenti di depan mereka dan Ambar turun dari motor.
Ambar melongo seakan tidak percaya melihat ipar-iparnya datang lagi. "Apa yang kalian lakukan di depan rumahku lagi? Apakah masih ada sendal yang ketinggalan?" Tanya Ambar, emosi.
"Seni, tidak usah buka pagarnya, dan ini bawa masuk tas saya." Ambar memberikan tas dan kantong bawaannya kepada Seni, melewati pagar.
Seni buru-buru mengambil bawaan nyonyanya, dan masuk. Dia tahu yang dibawa adalah makan malam mereka. Tadi Nyonyanya sudah kasih tau, akan bawa lauk untuk makan malam, jadi tidak perlu masak.
Melihat itu, Inge dan Tiara kesal. Karena tidak diizinkan masuk untuk minum atau makan sesuatu.
"Sekarang kalian bisa katakan apa yang kalian inginkan. Saya sangat lelah, mau istirahat." Ambar duduk di lantai depan pagar rumahnya. Dia sangat lelah, karena tadi tidak dapat tempat duduk di kereta.
Inge dan Tiara terkejut melihat apa yang dilakukan Ambar. Mereka tetap berdiri di depannya dan berbicara. "Kami sedang mencari tanahnya Mas Rulof, tetapi kami butuh uang. Kami minta bagian dari yang kau dapatkan dari kantor Mas Rulof." Ucap Inge.
"Bagian dari kantor Mas Rulof, apa kalian buta? Ini saya baru pulang kerja, kapan punya waktu urus sesuatu yang ngga jelas itu?" Ambar mulai emosi. Dia yang istrinya saja tidak memikirkan. Ini mereka lebih mengetahui darinya.
Pak Tony yang hendak ke Masjid untuk Sholat Magrib, terkejut melihat Ambar sedang duduk di depan pagar rumah. Beliau tidak mau bertanya, karena melihat suasana yang tidak kondusif dan mengenal wanita yang sedang berdiri di depan Ambar.
Pak Tony ingat kejadian di Rumah Sakit, saat Inge datang dan memarahi Ambar. Beliau terus berjalan ke Masjid, sambil menggelengkan kepala. Sebab heran melihat kelakuan mereka.
Ambar hanya tertunduk malu, melihat Pak Tony melewati tanpa menyapa. Ambar tahu, Pak Tony menyadari situasi dia bersama ipar-iparnya. Dan mungkin sudah mendengar apa yang dikatakan Inge.
"Kau jangan pura-pura tidak tahu, Rulof seorang pejabat. Mana mungkin tidak dapat uang duka dari kantornya?" Inge tidak mau kalah.
"Kalau begitu, silahkan kalian pikirkan itu. Saya mau bekerja untuk anak yang sudah tidak punya bapak. Kalau kalian tidak punya pekerjaan, silahkan pikirkan itu sepuasnya. Mungkin setelah itu, kalian bisa dapat sesuatu. Ada lagi yang mau kalian katakan?" Tanya Ambar, tawar.
"Kau mau mengusir kami?" Inge mulai emosi melihat sikap Ambar.
"Tidak usah bertanya ini atau itu, Kak Inge. Katakan saja apa yang mau dikatakan, kalau banyak yang mau dikatakan. Saya bisa duduk di sini sampai pagi untuk mendengarkan." Ucap Ambar tenang, menyembunyikan rasa kesalnya.
Seni yang duduk diam dibalik pagar, tersenyum mendengar yang dikatakan nyonyanya. Melihat sikap saudara Rulof, Seni meletakan bawaan Ambar di meja makan, lalu balik ke pagar tanpa suara. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Nyonyanya, sehingga dia bisa berteriak minta tolong pada tetangga.
"Ayoo Tiara, mari kita pergi. Nanti kita kembali lagi dengan yang lain untuk mengambil hak kita." Inge menarik tangan Tiara. Ambar berdiri sambil menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kuat.
...~●○♡○●~...