Tadinya berjudul OTW Soleha- dibenarkan sesuai KBBI dan novel cetaknya Ayoo beli.
Hidup adalah pilihan, namun takdir adalah sebuah ketetapan. Bukankah kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita akan dilahirkan ? Begitulah yang selalu membuat Bening tidak pernah menyesali hidup yang di jalaninya
Dia besar dan tumbuh di pemukiman lokalisasi prostitusi, Jauh dari pendidikan moral,tata krama, apalagi agama. Yang dia tau, dia dan Ibunya adalah seorang Muslim. Tanpa dia pernah tau apa kegunaan agama itu sendiri hidupnya.
Dia selalu punya rumus berdamai dengan takdir, itu yang membuatnya mampu melewati lingkungan sosial yang menghina, mengucilkan dan selalu menganggapnya "Anak Haram".
Bening remaja mampu melewati badai kepahitan dan membalas semua hinaan dengan senyuman bangga. Bening berada di puncak karirnya sebagai seorang Fashion designer di usia belia.
Sampai pada satu titik balik yang membawanya jatuh dan hampa, sehingga dia mencari apa penyebabnya. Apakah takdir selalu berbaik hati mengiringi perjalanannya mencari jati diri ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FILOSOFI KEMBANG API
Matahari telah terbenam sempurna, garis jingga keemasan menandakan telah masuknya waktu berbuka. Lepas sudah dahaga manusia bumi yang sudah ditahan sejak terbit fajar tadi pagi. Bening, Mami, Bern dan Mr.Stuart meneguk segar perbukaan dari gelas masing-masing.
Usai berbuka puasa, Bening dan mami Sandra bergegas untuk segera menunaikan shalat magrib. Terlebih Bening, Ia sudah tak sabar ingin segera melahap nasi kebuli yang baunya sangat wangi.
Setelah selesai shalat di kamarnya, Bening keluar. Dia melihat Bern masih asik duduk di sofa memainkan ponselnya. Sementara Mr.Stuart duduk berjarak satu kursi dengannya.
"Kamu gak shalat,Bern?"
"Ha?" terkejut dengan kedatangan Bening dan meletakkan ponsel yang sedang dipegangnya. "Nanti aja Ning," jawabnya santai.
"Oh," gumam Bening membulatkan mulutnya. Dia tak ingin bertanya lebih jauh mengingat ibadah adalah privasi seseorang dan merasa dirinya belum pantas walau sekedar mengingatkan.
"Makan yuk Ning, aku udah laper," ajak Bern.
"Yuk, eh abis shalat isya nanti kita main kembang api tadi ya,"
"Iya...iya, yang penting sekarang makan dulu dong. Aku udah gak tahan nih nyium bau nasi kebuli."
Usai menikmati makan malam yang sangat nikmat. Mereka mengobrol hangat layaknya sebuah keluarga. Bening menyimpan haru dalam hatinya. Ini benar-benar Ramadhan terindah yang pernah dia lalui selama hidupnya. Dia ingin hari-hari berikutnya terus seperti ini.
"Bern, ini," mami Sandra mengulurkan sebuah paper bag yang berisi dua buah koko yang sudah terbungkus rapi. "Buat kamu dan Mr.Stuart. Semoga pas ya, tante cuma pake ukuran standar toko aja pas njahit,"
"Ini apa tante?" menerima bungkusan itu dan langsung membukanya.
"Buat lebaran nanti," jawab Sandra.
Bern segera membuka baju itu dari plastiknya. Dengan haru pula dia segera mengenakan ke badannya tanpa membuka pakaian sebelumnya. Pas, sangat cocok di tubuh tambunnya.
"Waaaaah, absolutely handsome! Cakep banget Bern." puji Bening tulus. "Mr.Stuart gak mau sekalian nyobain?"
"Terimakasih nyonya Sandra, saya akan mencobanya nanti dirumah."
"Aduh kok dirumah sih? Aku gak sabar mau lihat Mr.Stuart sesekali pake baju warna putih."
Mr.Stuart hanya tersenyum menanggapi celotehan Bening. Sementara Bern melanjutkan aktivitas tanpa menanggalkan baju itu seolah tak rela melepas sesuatu yang sangat berharga.
"Lepas dong Bern bajunya, itu kan buat lebaran kata mami,"
"Tapi aku suka banget Ning, sama baju ini."
"Iya..iya..tau kamu suka, gak ada juga yang mau ngambil, astaga. Yang ada nanti kotor dan gak bisa dipake pas lebaran."
"Iya juga yah, yaudah nih tolong dilipat lagi," Bern membukanya dengan hati-hati dan memberikannya pada Bening. Bening pun dengan teliti mengikuti lekuk lipatan sebelumnya dan memasukkan kembali ke dalam plastik.
***
Sesuai perjanjian, Bern menemani Bening bermain kembang api malam ini. Mr.Stuart membantu Bern menyalakan beberapa pelita kecil untuk diletakkan di sekeliling perkarangan rumah Bening. Satu pelita digunakan untuk menyalakan kembang api.
Suara percikan api, ledakannya di udara, ditambah suara tertawa dan teriakan Bening membuat anak-anak disekitar kediamannya keluar menyaksikan pesta kembang api itu dari teras rumah mereka masing-masing. Ya, awalnya hanya dari depan teras, semakin lama semakin dekat hingga kini mereka sudah sangat dekat dengan halaman rumah Bening.
Merasa dikerumuni oleh anak-anak tetangga, Bening memanggil mereka untuk bermain bersama. Walau mulanya mereka masih malu-malu, pada akhirnya mereka datang kepada Bening untuk ikut bermain. Satu jenis kembang api untuk satu anak. Mereka sangat girang dan bahagia menerima pemberian Bening.
"Mainnya hati-hati yah, jangan pada berantem," Bening mengingatkan, "Nanti sampahnya jangan dibuang di tanah, langsung dimasukkan ke tempat sampah,oke?"
"Oke kak!" seru mereka serentak.
Bening menghampiri Bern dan ikut duduk bersama di lantai teras depan, menyaksikan keceriaan anak-anak berlarian dengan kembang api masing-masing. Mr.Stuart dengan sangat terpaksa berada di dekat mereka, ikut membantu anak-anak itu menyalakan api dan mengawasi dari dekat. Sesekali rahangnya tampak terbuka membalas senyum dan tawa anak-anak disana.
"Bern, apa Mr.Stuart punya anak?" tanya Bening
"Ya, Mr.Stuart punya anak. Dulu, dia adalah seorang ayah yang hangat dan penyayang. Anaknya sekarang sudah tidak ada, dia punya masalah yang sulit dengan mantan istrinya," urai Bern sambil menatap Mr.Stuart dari kejauhan. "Aku menganggapnya sebagai sosok ayah, aku lebih membutuhkan Mr.Stuart daripada mami ku sendiri," jelasnya lagi.
"Tapi, kamu kan punya Daddy Bern. Kamu pernah bilang Daddy mu adalah orang baik dan selalu mencontohkan kebaikan pada mu," tanya Bening.
"Daddy Sam, dia memang sangat baik. Semoga dia selalu dalam keadaan terbaik."
"Apa dia, maksudku Daddy Sam tinggal bersama kalian?" Bening semakin penasaran. Sudah lama dia ingin tau gambaran kehidupan keluarga Bern.
"Sejak mengetahui rahasia momyy, Daddy Sam pergi meninggalkan mommy. Tapi dia tidak pernah meninggalkan ku. Dia meminta Mr.Stuart secara khusus untuk menjaga dan mengawasi ku. Daddy membangun sebuah rumah sakit beberapa tahun lalu saat negara ini terkena wabah virus dunia, dan untuk itulah mommy memaksa ku menjadi dokter, agar kelak kepemimpinan rumah sakit itu resmi jatuh ke tangan ku. Padahal sampai sekarang aku merasa itu bukan hak ku." urai Bern panjang lebar. Bening terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apakah dia seorang mantri?"
"Ahahha, Daddy Sam seorang dokter,Ning. Dia spesialis bedah,"
"Wah, kau juga pasti akan menjadi dokter yang keren seperti Daddy mu," Bening menepuk-nepuk pundak Bern. "Kamu harusnya bersyukur. Walau kedua orang tuamu tidak bersama, setidaknya kamu pernah mengenal dan tau informasi tentang mereka, sedang aku? mami pernah bilang daddy ku adalah seorang mantri." kenang Bening.
"Oh ya?"
"Iya Bern, Waktu aku masih TK sebenarnya mami bilang bahwa Daddy adalah seorang dokter. Tahukah kamu Bern, aku adalah bayi yang lahir dengan kelainan jantung bawaan. Dan waktu mau masuk SD penyakit itu membawa ku di ambang kematian. Aku pernah kritis, mungkin itu awal perkenalan Mami dan madam Ines. Saat aku sembuh aku bertanya pada mami," Bening bercerita hal-hal penting yang paling dia ingat dari masa lalunya.
"Bukankah Daddy seorang dokter, mengapa mami tidak membawa ku ke Sydney? membawa ku ke pada Daddy agar daddy bisa menolong ku,"
"Daddy tidak bisa menolong mu, dia hanya seorang mantri. Mami mencarikan dokter yang terbaik. Lihat sekarang, Bening nya mami sudah sembuh dan ceria lagi. Kamu tidak perlu bertanya tentang Daddy lagi,oke?"
"Aku berjanji untuk tidak menanyakannya lagi. Itu adalah potongan informasi terakhir yang aku tau. Lagi pula melihat perjuangan keras mami untuk ku, aku merasa tidak punya ayah bukanlah hal yang paling buruk di muka bumi ini. Yah, walau semua orang seenaknya mengatakan aku adalah anak dari tamu-tamu malam di lokalisasi,"
Bern mengulas senyum dan mengusap kepala Bening yang tertutup kain kerudungan. Tapi ekspresi Bern sama sekali tidak terkejut seolah sudah pernah mendengar cerita ini.
"Dan kamu tau Bern? Aku sangat bahagia dan bersyukur bisa bersama mu di detik-detik ini. Pergi dari hari-hari kelam dalam hidup ku dan mami, tinggal dan tumbuh di lokalisasi sangat menakutkan,"
"Ssst, sekarang kalian sudah disini, jangan diingat-ingat lagi,"
"Iya benar, dulu selama berada di pemukiman. Setiap kali memandang cermin. Aku seperti melihat kepedihan yang sedang berdandan lebih rapi,"
"Oh ya? Sekarang coba ngaca, tanyakan pada cermin siapa yang lebih bening dari Bening?" ejek Bern sambil tertawa, "Aahahhaa...ahahha. Pinter banget ngomong kamu tuh, anak kecil!"
"Ihh, aku serius padahal," Bening mencebik. "Aku sekarang cuma pengen jadi Bening yang soleha Bern, kamu jadi dokter yang soleh ya Bern, biar kita cocok nanti. Aahahhahaha" balas Bening tertawa lebih keras lagi.
Tapi Bern diam dan tidak menanggapi candaan Bening.
"Lusa, di hari raya pertama. Aku mau ngajakin kamu ke rumah. Kamu mau kan kenalan sama keluarga ku?"
Bening menatap Bern tak percaya. Setelah dua tahun, hari ini dia mengajak Bening menemui keluarganya.
"Memangnya dirumah mu ada siapa lagi selain mami?"
"Tidak ada, memang hanya kami berdua, Ehehehe. Kamu pengen tau mami ku kan?"
"Iya Bern. Aku siap ketemu calon mertua!"
"Bening jangan main-main!" ucap Bern serius.
"Ya kan siapa tau aja sih Bern, amin dong. Emang kamu gak mau aku jadi menantu mami mu?." Seloroh Bening.
"Mami ku bukan orang yang ramah,Ning. Dia jarang sekali bicara dengan orang yang belum pernah dikenalnya."
"Sepertinya tidak mudah, tapi aku akan mencobanya. Bern...?"
"Ya?" Jawab Bern.
"Selama masih ada kamu, aku tidak takut dan ragu menghadapi siapapun. Kenapa kamu memahami dan memperhatikan ku dengan begitu baik? Bern, kita sama-sama jadi lebih baik yuk. Gak masalah kalau harus belajar dari awal lagi,"
"Aku ngerti maksud kamu, Ning. Kamu nyuruh aku shalat kan?"
Bening hanya menjawabnya dengan senyum yang tertahan. Bukankah tadi sudah Bening katakan Bern memang paling memahami dirinya. Jadi dia tidak perlu berkata terus terang.
"Iya Ning, nanti aku shalat. Akan ada waktunya,"
"Bern, bukankah kalau mau melakukan kebaikan, kita gak boleh mengulur waktu?"
"Iya kamu benar, karena kita belum tentu punya banyak waktu. Nanti aku shalat isya di rumah. Puas?"
"Ehehe, kamu tau kok maksud ku bukan puas atau gak puas. Kata mentor ku, gak perlu nunggu terlalu baik dulu untuk mengingatkan kebaikan!"
Kembang api tadi sudah habis dimainkan. Keceriaan, warna-warni dan meriahnya percikan telah hilang. Sedih ya jadi kembang api? sebanyak apapun memberikan keindahan tapi pasti hanya akan jadi belerang. Ah tapi dunianya manusia ini memang penuh dengan semua yang semu kan?
"Yasudah, aku langsung pulang ya. Sana kamu masuk," Bern berdiri, menepuk-nepuk celana bekas duduknya.
Bening melakukan hal yang sama. Kemudian dia berjalan masuk dan membuka pintu rumahnya. Saat pintu itu akan di tutup kembali, dia memanggil Bern sebelum Bern benar-benar masuk ke dalam mobil.
"Bern!"
Bern berhenti dan menatap ke arah Bening.
"Jangan lupa shalat isya, ehehehehe."
"Iya Bening,aku pulang ya. Good Night cutie!" melambaikan tangannya.
Bern menutup pintu mobil dengan sempurna, namun fikirannya melayang entah kemana.
Andai aku bisa berbuat sesuatu, aku ingin membersa mu lebih jauh. Aku tak ingin menghambat impian mu menjadi shaliha. Apa kamu bisa memahami keadaan ku? Aku bukan laki-laki baik dan Shalih seperti impian mu. Aku hanya laki-laki biasa yang ingin menyayangi mu lebih lama dari selamanya.
Nangis terharu aku kak enka baca novel terindahmu, serasa aku diposisinya, semoga bisa menjadikan kita hamba yg selalu mencari jalan untuk selalu taat kepada Sang Pemilik Jiwa&Raga ❤
bern kakanya bening? 😯